
Dilain tempat.
Disebuah resto yang keberadaannya tidak terlalu jauh dari kantor KT. Group, Jeno tampak sudah lebih dulu menempati kursinya disudut resto, dengan beberapa botol minuman yang berjejer diatas meja lengkap dengan cemilan untuk menemaninya minum-minum malam ini.
Selang beberapa menit kemudian, terlihat seorang pria berjas tengah berjalan menghampiri mejanya lengkap denagn sorot mata tajamnya, ia langsung tahu keberadaan orang yang telah memanggilnya kemari.
“mau apa kau memintaku untuk datang kesini!” ketus Ansell yang masih berdiri disamping meja seraya menatap tajam ke arah Jeno.
“Ahreum..” ucapnya lalu kembali meneguk minumannya sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
“apa yang ingin kau katakan! Cepat aku tak punya waktu untukmu.” Pekik Ansell seraya meletakan lengan dipinggangnya.
“apapun yang terjadi kau tak boleh meninggalkannya, berjanjilah kau akan selalu bersamanya.” Lanjut Jeno seraya terus meneguk minumannya.
“yak! Apa kau sudah mabuk? Ciihh!!” ketus Ansell kemudian membalikan tubuhnya hendak meninggalkan Jeno yang tengah meracau itu, sebab ia merasa sudah menyia-nyiakan waktunya yang berharga untuk mendengarkan perkataan dari seseorang yang tengah mabuk.
“apa yang kau lihat saat ini, bukanlah kepribadian Ahreum yang sebenarnya.” tambah Jeno lagi kala Ansell baru melangkahkan satu kaki jenjangnya.
Hingga Ansell pun kembali berbalik lalu menatap Jeno dengan sorot mata tajamnya.
“apa ini caramu untuk membatalkan pernikahanku dengan Ahreum?!” ucap Ansell dengan nada suara yang masih sama, tidak bersahabat.
“ciihh! Yak! Jika aku mau, aku sudah mengencaninya sedari dulu, tak perlu bersaing denganmu sudah pasti Ahreum akan memilihku.” Ucapnya percaya diri dengan keadaan kedua mata layaknya orang mabuk ia terus saja mengoceh tentang gadis mungil yang akan menjadi istri pria yang berdiri dihadapannya tersebut.
“apa maksudmu!” Ansell pun memutuskan untuk duduk dikursi yang bersebrangan denagn kursi Jeno, sebab tampaknya ia mulai penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh pria mabuk itu.
“aku memang sudah menyukainya sedari dulu, tapi saat dia mulai menunjukan dirinya yang sebenarnya aku mulai takut, dia bahkan lebih mengerikan dari Nayeon, kau tahu!” Paparnya sembari terus meneguk minumannya hingga dirinya kini hampir hilang kesadaran.
__ADS_1
“kau lihat ini.. (lanjut Jeno seraya menunjukan bekas luka memanjang disalah satu pipinya pada Ansell) ini adalah perbuatan Ahreum, saat itu aku hanya iseng mengejeknya karena tiba-tiba dia memakai heels dan juga merias wajahnya. Ahreum pun langsung melayangkan heelsnya tepat ke wajahku hingga membuat luka goresan yang cukup dalam dan akan selalu membekas selamanya.”
“dan juga ini.. (masih belum puas menunjukan bekas luka yang terdapat di salah satu pipinya, kini ia beralih pada luka yang berada diatas kepalanya yang kini sudah banyak ditumbuhi rambut lebat hingga luka jahitan itu tidak begitu jelas terlihat oleh Ansell)
Kepalaku sampai dapat 18 jahitan karena terjatuh dari permainan tangga besi, saat aku sudah mencapai puncak gadis itu mendorongku cukup keras hingga aku terjatuh ke aspal, dan kau tahu reaksi apa yang ia tunjukan saat itu, pada bocah lelaki yang terbaring lemah tak berdaya dengan darah yang mulai mengalir dari kepalanya,
dia hanya menatapku dengan raut wajah datarnya tanpa merasa bersalah sama sekali, dan dia.. dia melakukan hal mengerikan itu hanya karena aku mengejeknya gendut, hahahaa!!” tak sampai disitu, setelah beberapa menit Jeno menghentikan cerita panjangnya, sementara Ansell tak memberikan respon apapun ia hanya terdiam seraya menyimak keseluruhan cerita tentang gadis yang akan menjadi calon istrinya, Jeno pun kembali mengoceh dengan sisa tenaga yang ia miliki, rupanya ia masih ingin meluapkan unek-uneknya pada Ansell.
“tapi setelah kepergian ibunya, dia sudah lebih baik, dia bisa mengendalikan emosinya dan tak pernah menyakiti siapa pun lagi. Namun tetap saja aku masih tak berani jika harus berkencan dengannya, jadi aku hanya berada disisinya tanpa ingin merubah statusku dengannya dari lebih sekedar teman.”
“aku hanya takut jika suatu saat nanti gadis kecil itu akan kembali melakukan hal yang mengerikan, membayangkannya saja sudah membuatku...” Pungkasnya yang kemudian menjatuhkan kepalanya ke atas meja, karena sudah tak kuasa menahan efek mabuk berat yang kini tengah ia rasakan, bahkan ia pun belum menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Mendengar seluruh cerita panjang Jeno, membuat Ansell kembali mengingat sebuah kalimat yang pernah Ahreum lontarkan disaat pertemuan keduanya, tepat setelah acara pertemuan keluarga disebuah toko serba ada.
“kau tak pernah mendengar ada sebuah pepatah yang bilang, jika manusia itu memiliki 3 topeng. Pertama topeng yang ditunjukan pada semua orang, kedua untuk teman dekat juga keluarga, dan yang ketiga..”
“yang kau lihat saat ini..”
***
Setelah selesai berbicara panjang lebar, kedua sahabat itu pun berjalan-jalan disisi trotoar seraya saling merangkul satu sama lain dengan keadaan sedikit mabuk, sebab pada akhir percakapan mereka, mereka memutuskan untuk minum (alcohol) beberapa kaleng.
“apa kau sudah siap untuk hari esok?!” seru Hanna penuh dengan antusias.
“SIAPPP.. SANGAATTT SIAAPP!!” balas Ahreum tak kalah nyaringnya disela cekikikannya.
“kau harus selalu ingat perkataanku OKE!! Jangan sampai ditindas oleh pria angkuh itu, kau harus tunjukan padanya jika dirimu tidak selemah seperti gadis-gadis bodoh yang pernah ia kencani!” serunya kembali seraya mengeratkan rangkulannya pada bahu Ahreum.
__ADS_1
“augghhh tentuuu, memangnya dia siapa sampai berani menindasku, Ahhahahaaa!! Aku AHREUM NATHANIA kau tahu!! Sebelum dia mengintimidasiku, sebaliknya aku yang akan membuat dirinya jatuh cinta terlebih dahulu padaku, YEAHH!!” sahut Ahreum penuh percaya diri seraya mengacungkan jari telunjukanya sejenak untuk menambah semangat juangnya dimalam itu.
“yak! 1 lagi, kau sudah janji untuk melemparkan bucket bunganya ke arahku ya, awas saja kalau kau malah melemparkannya pada Nayeon, akan ku hancurkan pernikahanmu!!”
“AUGHH SHITT!! Kurasa sebaiknya kau tak perlu datang deh, ahahahahaa!!” seru Ahreum yang melepas paksa rangkulan Hanna kemudian berlari pergi meninggalkan Hanna yang tampak terkejut ketika mengetahui jika Ahreum tak akan benar-benar memenuhi janjinya.
“YAAKKK!!! Ini tidak benar, kau tidak boleh ingkar janji Ahreum!!!! Pokoknya kau harus melemparkan bunganya padaku, kau sudah berjanji Ahreum!” bentak Hanna yang berhasil menangkap tubuh Ahreum kemudian memeluknya erat dari belakang seraya menggelitik tubuh karibnya tersebut.
“ahhahahaa, oke oke baik, akan ku lakukan.” Sahut Ahreum yang akhirnya menyerah sebab sudah tak sanggup lagi menahan geli yang disebabkan oleh Hanna yang terus menggelitiknya.
Mereka berdua pun kembali berjalan santai sembari merangkul satu sama lain.
“tapi kau tahu..” gumam Ahreum yang kembali membuka percakapan.
“hmm..” respon Hanna.
“bucket bunga itu kurasa tidak akan berfungsi dengan baik untukmu.” Paparnya.
“kenapa?”
“karena aku kan pakai bunga plastik hahahahhaha!!!” ungkapnya.
“ahhahahahhaa!!”
Mereka pun kembali tertawa bersama ditengah ramainya orang-orang yang berlalu lalang, bahkan tak sedikit yang memperhatikan mereka berdua, namun tampaknya keduanya tidak perduli sama sekali dengan hal itu.
Karena mereka sungguh menikmati kebersamaan yang tengah mereka rasakan saat ini.
__ADS_1
***
Bersambung…