
“halo.” Sapa Ahreum begitu telfon tersambung seraya mengucek matanya yang masih terasa berat sekali.
“apa kakak mengganggumu?” sahut seseorang didalam telfon.
“tidak, ada apa memangnya?” timpal Ahreum.
“tidak.. hanya aja tiba-tiba kakak merindukanmu. Apa yang kau lakukan?”
“aku.. hoaammm.. baru saja terbangun saat mendengar dering telfon dari kakak.” Jawabnya seraya memutar lehernya untuk meregangkan otot-otonya.
“kau sudah tidur?”
“he’em..” respon Ahreum yang kemudian bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur sembari menggaruk-garuk bokongnya yang sebenarnya ga gatal sih.
“yaudah kalau begitu lanjutkan aja tidurmu, Ansell juga pasti terganggu.” Ucapnya yang hendak mengakhiri sapaan singkatnya.
“Ansell sedang dinas ke luar negeri kak, dan aku sekarang sedang berada dirumah Omma.” Tuturnya yang kemudian berdiri ditepi meja makan.
“nona mau minum?” tanya pelayan yang melihat pandangan Ahreum mengarah pada teko air mineral yang berada disudut meja.
Ahreum pun mengangguk lengkap dengan senyum ramahnya, langsung saja pelayan tersebut pun menyicikan air mineral ke gelas dan diberikannya pada Ahreum.
“terimakasih.” Balas Ahreum namun tanpa suara pada pelayan tersebut, pelayan itu pun mengangguk tanda ia mengerti dengan isyarat bibir Ahreum, kemudian undur diri untuk kembali melanjutkan tugasnya.
“apa? dengan siapa kau pergi ke banten?” seru Bennedict.
“dengan teman-temanku, Rihanna, Nayeon dan Franky.” Katanya lagi usai meneguk beberapa kali minumannya.
“apa suamimu tahu?”
“tidak, jika dia tahu, mungkin dia akan mengamuk.” Ujarnya seraya mencoba mencicipi cumi krispi yang berada diatas mangkuk.
“kenapa? Apa dia sangat protective padamu.” tebak Ben.
“hmm kurasa. Ahh iya.. bagaimana dengan kak Winter, apa kak Winter sudah menghubungi kakak lagi?” Ahreum mengalihkan pembahasan ditengah antengnya mengunyah cumi krispi.
***
Keesokan harinya.
Dikamar yang ditempati oleh Ahreum, Rihanna dan Nayeon. Berbeda dengan kedua temannya yang masih terlelap, Ahreum terbangun kala ponsel yang berada dibawah bantalnya terus bergetar tanpa henti, seakan menandakan jika panggilan tersebut sangat penting sekali.
“aughh!!” dengus Ahreum kesal yang kemudian meraba bagian sisi bantalnya mencoba mencari ponsel miliknya yang terselip dibawah bantal.
“halo!” sapa Ahreum dengan nada meninggi dan kedua mata yang masih terpejam.
“nona maaf nona!!” seru seseorang didalam telfon yang langsung saja membuat Ahreum membuka kedua matanya seketika.
“mas Arya sedang dalam perjalanan menyusul ke Banten nona!” paniknya lagi yang membuat Ahreum kini terbangun dari tidurnya kemudian berjalan menuju balkon kamarnya.
“bagaimana dia bisa keluar dari kamar? Kalian tidak mengunci pintunya.” Sahut Ahreum yang mencoba tetap tenang selagi pandangannya menyapu area pekarangan kediaman neneknya.
“jadi gini ceritanya nona.. bla..bla..bla..” Arini memaparkan kejadian yang terjadi di Villa dengan sedetail mungkin sementara Ahreum hanya mendengarkan dengan serius.
__ADS_1
“apa kau melihat dia menelfon Ansell sebelum dia pergi?” timpal Ahreum kembali kala cerita panjang Arini berakhir.
“tidak nona, mas Arya langsung pergi begitu saja.”
“oke baik. Maaf sudah melibatkan kalian ke dalam rencanaku. Tapi aku pastikan Ansell tidak akan melakukan apapun pada kalian. Terimakasih kak Arini.” Tandas Ahreum yang lalu menutup sambungan telfonnya.
“siapa?” ucap Hanna yang tiba-tiba saja muncul dibelakang Ahreum saat Ahreum hendak memutar tubuhnya, sontak saja Ahreum pun terkejut bukan main karena kehadiran Hanna yang tidak diundang itu.
“AUGHHH SHI****!! Astaga!!” umpatnya lancar seraya memegangi bagian dadanya yang berdegup kencang.
“yak!” sentak Ahreum lengkap dengan kepalan tangan yang ingin sekali ia layangkan pada Hanna yang telah mengejutkannya.
“apa sih! hoaaammm.. Siapa yang menelfonmu pagi-pagi buta begini.” Tanya Hanna kembali disela menguap lebar.
“mas Arya kabur, dan dia sedang dalam perjalanan kemari.” Tutur Ahreum.
“apa?! kok bisa.
Lalu apa dia sudah melaporkan kita pada Ansell. Bisa gawat nih, aku juga pasti akan di kheeuukk oleh suamimu.” Celetuk Hanna seraya memperagakan leher ditebas seperti yang selalu dilakukan Franky.
“aisshh.. Semengerikan itukah Ansell dimatamu.” Balas Ahreum yang tak terima karena teman-temannya selalu memiliki pandangan negative terhadap suaminya.
“Yups.” Sahut Hanna tanpa berfikir panjang.
Dreeddd.. dreeddd..
Belum sempat Ahreum membuka mulut untuk menanggapi karibnya yang menyebalkan itu, ponsel miliknya keburu bergetar kembali yang membuat fokusnya beralih pada ponsel yang masih dalam genggamannya itu.
“kakak, ada apa lagi.” Gumamnya.
“Halo.” Sapa Ahreum.
“Ahreum, kau masih dirumah Omma?” tanya Benn dengan nada yang tak seperti biasanya.
“he’em, kenapa?” tanya Ahreum lagi.
“kau harus kembali ke Jakarta sekarang juga!” perintah Benn yang membuat Ahreum dan Hanna saling melempar tatap bingung.
“ada apa kak?”
“pagi tadi ada seorang pembunuh bayaran yang berhasil kabur dari penjara. Begitu para polisi menggeledah barang pribadinya, mereka menemukan foto seorang gadis dan juga foto dirimu yang dicoret spidol merah. Kurasa dia sedang dalam perjalanan untuk menemukanmu. Kau harus cepat kembali ke Jakarta Ahreum!
Karena jika dia berhasil menemukanmu, bukan hanya kau yang terluka, tapi semua orang yang berada disekitarmu.
Para polisi setempat sudah berpencar untuk mencari keberadaan buronan itu, dan untuk jaga-jaga kakak juga sudah mengutus 1 orang polisi disana yang akan mengawalmu kembali ke Jakarta. Mungkin dia sudah dalam perjalanan menuju keberadaan Omma.
Jika dia datang katakan pada Omma jika dia supirmu, jangan membuat Omma dan Oppa khawatir. Mengerti.” Jelas Bennedict yang membuat Ahreum dan Rihanna tentu saja terkejut mendengar berita buruk tersebut.
“I.. iya kak.” Sahut Ahreum.
“kau tak perlu khawatir, semua akan baik-baik aja oke. Kakak dan para polisi disini juga sedang dalam perjalanan melacak keberadaan buronan itu. Sebaiknya kau bergegas Ahreum.” tandas Bennedict sebelum percakapan itu benar-benar berakhir.
“mungkinkah pembunuh bayaran itu orang suruhan Ilona?” tebak Rihanna begitu Ahreum menurunkan ponsel dari telinganya.
__ADS_1
“tidak salah lagi.” Ahreum bergumam masih dengan wajah shocknya.
“tunggu apa lagi!
Kalau begitu ayo kita kembali ke Jakarta.” Seru Hanna yang hendak menarik langkah meninggalkan area balkon.
“tunggu!” cegah Ahreum yang membuat langkah Hanna terhenti dan kembali berbalik pada karibnya yang tengah memasang wajah serius seolah tengah memikirkan sesuatu dalam benaknya.
“apa lagi?!
Kita tidak memiliki banyak waktu, Ahreum.” katanya ngegas.
“mungkinkah foto gadis lain yang dimaksud kak Benn, adalah foto Rene?” tebak Ahreum yang sontak saja membuat kedua mata Rihanna membulat tanda ia juga setuju dengan pemikiran Ahreum.
“Jika begitu dia juga dalam bahaya sekarang.” Timpal Rihanna.
Tanpa berlama-lama lagi Ahreum pun memutuskan untuk menghubungi gadis yang baru saja dikenalnya kemarin dengan perasaan harap-harap cemas.
“aku akan membangunkan Nayeon dan Franky, kita harus bersiap sekarang juga!” seru Hanna yang kemudian pergi lebih dulu dan meninggalkan Ahreum yang masih mencoba menghubungi Rene.
15 menit kemudian, Ahreum pun masuk ke dalam kamar dan mendapati Hanna tengah terduduk ditepi ranjang sembari menyilangkan kakinya. Sedangkan Nayeon masih anteng membersihkan tubuhnya dikamar mandi setelah 10 menit lalu dipaksa bangun oleh Rihanna.
“bagaimana?” tanya Hanna begitu Ahreum muncul dari balik pintu penghubung balkon kamarnya.
Ahreum pun menggelengkan kepalanya sebagai pertanda buruk darinya.
Ceklek!!
Pintu kamar mereka terbuka seiring dengan munculnya sosok pria dari balik pintu.
“ada apa? Apa ada yang tidak beres?” tanya Franky yang kemudian berjalan cepat menuju keberadaan kedua karibnya disisi lain.
“kurasa kita harus memastikan sendiri keadaan Rene dihotelnya.” Ungkap Ahreum.
“memangnya apa yang terjadi?
Tak bisakah salah satu dari kalian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?! Rihanna hanya menyuruhku cepat-cepat bangun dan mandi. Karena kita harus kembali ke Jakarta sekarang juga. Tapi kenapa?
Bukankah kita masih memiliki waktu sampai Ansell kembali.” Protes Franky lantaran ia seperti orang bego yang tidak tahu apa-apa.
“akan kuceritakan saat Nayeon selesai mandi.” Tutur Ahreum seraya menaruh ponselnya diatas nakas.
“kenapa?!” keluh Franky lagi.
“aisshhh!!
Karena nanti pun Nayeon akan menanyakan hal yang sama sepertimu. Aku tak ingin menjelaskannya 2 kali!” bentak Ahreum yang membuat Franky terdiam seketika lantaran gadis yang biasanya ramah itu tiba-tiba berubah menjadi ganas.
“aku mau mandi dikamar mandi bawah.” Lanjut Ahreum yang lalu berjalan menuju koper besarnya untuk membawa beberapa pakaian yang akan dikenakannya nanti.
Bruukk!! Ahreum membanting pintu kamar yang membuat Franky semakin terkejut.
“syukurin! Makanya jangan banyak nanya ahahaha.” Cibir Hanna diiringi dengan tawa puasnya pada Franky yang kini tengah menatapnya sinis.
__ADS_1
***
Bersambung…