Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 254


__ADS_3

Siang harinya dikamar Ahreum, setelah selesai pemeriksaan ulang, Ahreum kembali ke kamarnya dengan seorang perawat yang menemaninya sampai didepan ruangannya.


“Oke makasih ya kak Rachel,” ucap Ahreum begitu menarik handle pintu dan hendak masuk ke dalam kamarnya.


Dengan senyum ramah dan anggukan kepala pelan perawat yang bernama Rachel itu lantas pergi begitu tugasnya selesai.



“Halo tante Ahreum!!” sapa Xena lengkap dengan lambaian tangan dan senyum bahagianya ketika melihat Ahreum sudah kembali ke kamarnya.



“Haaiiii Nanaaaa!!” balas Ahreum tak kalah cerianya, ia pun berlari kecil dan langsung memangku Xena yang tengah duduk dipinggir ranjang.


“Kau sendirian aja disini?


Dimana kak Vivian (pengasuh Xena)?” Ahreum duduk dipinggir ranjangnya dan membawa Xena ke dalam pangkuannya.


“hhehhee, aku kabur darinya, mungkin sekarang kak Vian sedang sibuk mencariku,” sahutnya disertai cengirannya yang membaut Ahreum ikut tertawa gemas.


“Eyyyy, kau nakal sekali,” kata Ahreum seraya menoel ujung hidung gadis cilik tersebut.


“hihihihi…, maaf ya, Nana baru bisa menjenguk tante hari ini, ayah hanya memperbolehkan Nana bermain saat akhir pekan aja, heeuuu!” rengeknya manja seraya memeluk erat tubuh mungil Ahreum.


“Iya gak apa-apa kok sayang,” respon Ahreum seraya mengeratkan pelukannya mencoba menumpahkan seluruh kasih sayangnya pada Xena yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


“Nana kangen banget deh sama tante, cepet sembuh ya, biar kita bisa main bersama lagi. Bagaimana kalau ke pantai lagi seperti waktu itu, hehehe!!” seru Xena kecil seraya melapaas pelukannya dan beralih menatap lekat wajah Ahreum, wanita yang selalu ada didalam hatinya dari awal bertemu hingga sampai saat ini.


Meski ia tahu wanita dewasa itu adalah istri dari pamannya sendiri, namun tetap saja ia tak bisa membohongi perasaan terdalamnya jika dirinya tetap berharap Ahreum lah yang kelak akan menjadi ibu sambungnya.


Sementara itu diruangan sebelah, Ansell sudah memperhatikam sedari tadi interaksi hangat antara istri dan keponakannya melalui tablet yang berada dalam genggamannya.


“Jadi mereka tidak hanya berdua saja,” gumam Ansell.


“sudah ku bilangkan jangan berburuk sangka dulu,” celetuk Abighail yang juga ikut-ikutan menonton rekaman istri atasannya yang berada dikamar sebelah.


Tak lama kemudian kedua mata Ansell yang tadinya berbinar kini berubah menajam seketika kala melihat sosok rivalnya muncul dan bergabung dalam kebahagiaan yang terjadi diantara istri dan keponakannya itu.


...****************...



“Haii!” sapa Elios seraya melambaikan tangan disertai senyum lebarnya.


“Haii juga dokter El,” respon Ahreum lengkap dengan senyum simpulnya.


“Nanaa nakal ya, kak Vian nyariin Nana dari tadi sampai minta bantuan security untuk cek CCTV,” omel Elios dengan nada lembutnya seraya mengusap-usap bagian atas kepala putri kecilnya itu yang masih berada dalam dekapan Ahreum.


“Hehhehe, ayah sudah selesai?” sahut Xena sembari cengengesan.

__ADS_1


“Iya sudah,” respon ayahnya lembut sebelum memfokuskan pandangannya pada Ahreum kembali.


“Kau akan dipulangkan besok ya?” tanya Elios yang kemudian mengangkat tubuh Xena dari pangkuan Ahreum dan menurunkannya, lantaran takut Ahreum kelelahan memangku putrinya sedari tadi.


“Iya,” jawab Ahreum singkat masih dengan senyum manisnya.


“Maaf ya, karena aku, kau jadi begini,” kata Elios lirih seraya menggenggam lengan mungil putrinya yang kini berdiri disampingnya.


“Aku baik-baik aja kok dokterl El, kau tak perlu merasa bersalah, karena ini hanya kesalahpahaman aja,” tutur Ahreum yang kemudian turun dari ranjang dan menatap Elios lekat.


Bruukkkk!!



Suara bantingan pintu kamar membuat keduanya terkejut dan melempar pandangan bersamaan pada sosok lelaki yang kini berdiri penuh emosi diambang pintu.


“Haiii om Ansell!!” sapa Xena yang mencoba mencairkan suasana, ia tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya pada Ansell yang mulai menarik langkah panjang menuju keberadaan mereka.


“Iya, bagaimana kabarmu Nana, sudah lama om tidak melihatmu,” balas Ansell ditengah emosi yang bergejolak dalam hatinya, berusaha mungkin ia tersenyum dan bersikap ramah didepan keponakan kecilnya itu.


“Nonn Xenaaa!!” seru Vivian sang pengasuh yang ikut bergabung diantara mereka semua.


“Kakak nyariin non Nanaa kemana-mana iih, dikira kak Vian non diculik, kak Vian khawatir sekali,” paniknya seraya menurunkan tubuhnya dan menatap putri majikannya itu yang sedang cengengesan karena berhasil mengerjai pengasuhnya.


“Hhehheee, maaf ya kak Vian,” timpal Xena sembari memasang senyum jahilnya.


“Ahh iya benar! Tapi ayah masih harus bertemu dengan rekan kerja ayah dulu, bagaimana kalau sekarang Nana berangkat dengan pak supir, nanti pulangnya baru ayah jemput?” ujar Elios seraya mengusap kepala putrinya lembut.


“Oke!” seru Xena yang merasa tak keberatan dengan saran yang diajukan ayahnya itu.


“Anak pintar,” puji Elios yang kemudian mencubit manja pipi gembil putrinya.


“Mamiiii, Nana pamit les ballet dulu ya, hehhee, byeeee Mamiiiii!!” seru Xena yang kemudian ngabrut pergi sembari menarik lengan pengasuhnya keluar dari kamar Ahreum.


“Apa? Mamiii?!!” pekik Ansell lengkap dengan tatapan menyalaknya melihat jalanan yang dilalui oleh Xena kecil.


Ansell melirik tajam ke arah Elios yang masih berdiri ditempatnya seakan enggan meninggalkan ruangan Ahreum.


“Kau sudah melepas infusmu?” tanya Elios yang kembali mengalihkan perhatiannya pada Ahreum.


“He’em sudah dilepaskan dari subuh tadi, karena aku sudah merasa lebih baik juga, nafsu makanku juga sudah kembali hehehe,” timpal Ahreum disertai senyum manisnya yang membuat Ansell terbakar api cemburu, lantaran istrinya itu menebar senyum pada pria lain.


“Berhenti tersenyum seperti itu!” ketus Ansell lengkap dengan tatapan sinisnya.


Dengan cepat Ahreum merubah raut wajahnya menjadi mengerut setelah mendapat protes dari suaminya. Ia pun perlahan memundurkan tubuhnya dan naik ke atas ranjang sembari memperhatikan kedua pria yang tengah beradu tatap dihadapannya.


“Aku ingin bicara dengan paman,” kata Ansell dengan nada tidak ramah dan tetap memasang wajah sangarnya.


“Oke,” sahut Elios yang langsung menyiyakan ajakan keponakannya.

__ADS_1


“Apa kalian berdua akan berkelahi?” celetuk Ahreum seraya memandangi Ansell dan Elios secara bergantian.



“Ini urusan pria! Kau tak perlu ikut campur,” ketus Ansell seraya melirik tajam sesaat ke arah Ahreum untuk membuatnya gadis mungil itu diam.


“Ayo!” seru Ansell yang mulai menarik langkah mendahului Elios untuk memimpin jalan.


Tanpa berkata lagi Elios langsung bergegas menyusul langkah Ansell dan pergi meninggalkan Ahreum begitu saja.


“Astagaaaa,” Ahreum bergumam seraya menggeleng kepalanya.


...****************...


Atap rumah sakit Haneul Jakarta.


Mereka berdua bersandar ditepi dinding pembatas atap sembari mengarahkan pandangan lurus ke depan.



“Jika paman berfikir bisa merebut istriku, sebaiknya paman menyerah dari sekarang, karena aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi,” tegas Ansell tajam yang langsung menuju intinya.



“hhahaaa… (terdengar suara tawa renyah Elios menanggapi perkataan serius keponakannya itu)


Tidak mau tuh! Selama ini paman sudah mengalah dan membiarkan ibumu mengambil alih rumah sakit yang seharusnya menjadi milikku, tapi paman tak mempermasalahkannya karena memang paman sadar ibumu lebih pantas mendapatkannya.


Berbeda dengan Ahreum, paman tidak bisa menyerah begitu saja, melihat perlakuanmu pada Ahreum yang tega membuat Ahreum terluka seperti sekarang, bukankah sangat membuktikan jika kau tidak benar-benar mencintainya?!


Mungkin sekarang Ahreum masih mencintaimu, tapi…, apa kau fikir perasaan itu akan tetap bertahan selamanya, mengingat peringaimu yang sangat buruk. Sebelum kau membuatnya terluka lebih dari ini, paman akan berusaha merebutnya darimu!” ancam Elios, ia mengakhiri kalimat panjang lebarnya dengan sorot mata tajam dan senyum smirk, sebelum pergi berlalu meninggalkan Ansell yang seketika membeku, kala pamannya itu menyinggung perbuatannya yang telah menyebabkan banyak luka disekujur tubuh istri mungilnya beberapa waktu lalu.



Meski merasa kesal dan ingin menghantamkan tinjunya pada wajah menyebalkan Elios, namun jauh dari lubuk hatinya ia sendiri merasa tertampar dengan fakta yang dilontarkan oleh pamannya sendiri. Sehingga membuatnya hanya bisa terdiam sembari mengepal kedua tangan dengan tatapan menyalaknya mencoba menahan emosionalnya.


...****************...


Di baseman rumah sakit Hanel Jakarta, lagi-lagi Xena kabur dari pengawasan pengasuhnya, seakan sudah menjadi kesenangan tersendiri baginya ia selalu saja membuat pengasuhnya kewalahan dengan kenakalan-kenakalan bocah pada usianya.


Xena bersembunyi dibelakang sebuah mobil yang terparkir dibasemen sembari cengengesan dan memindai hal sekitar, kalau-kalau pengasuhnya itu berhasil menemukan keberadaannya ia akan bersiap kabur kembali.



“Halo, gadis kecil,” sapa seseorang yang terdengar seperti suara wanita dewasa, refleks Xena kecil pun memutar tubuhnya untuk merespon panggilan wanita yang berada dibelakangnya tersebut.


...****************...


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2