Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 6 (Ancaman Ilona)


__ADS_3

Malam harinya, di kediaman keluarga Dirgantara.


Terlihat Ansell dan juga ibunya tengah menikmati makan malam yang telah disiapkan oleh beberapa juru masak keluarga Dirgantara.


Tak hanya 1 atau 2 hidangan saja, mungkin ada sekitar 10 hidangan yang tersaji di atas meja makan yang cukup besar tersebut.


Meski yang menyantap makan malam kali ini hanya ada putra dan ibunya, tidak membuat para juru masak tersebut mengurangi hidangan yang biasanya disajikan untuk makan malam keluarga Dirgantara.


“bukannya, Ahreum calon menantu kesayangan mama..?” ucap Ansell yang membuka pembicaraan seraya menyantap makan malamnya kala itu.


“iya tentu, kenapa memangnya..?!” sahut sang ibu seraya menatap sinis wajah putranya tersebut.


“kenapa mama ga menjenguk Ahreum dirumah sakit..?”


“APA..!!” kaget Carrisa dengan nada tingginya seraya menghentakan sendoknya ke meja.


“astaga..!” tak kalah terkejutnya kala sang ibu tiba-tiba membentaknya seperti itu.


“bukankah Abi sudah memberitahu mama siang tadi..?” tambah Ansell.


“astaga..! ponselku..!


BIBI.. BIBIIIII..!!” panggil Carrisa yang sudah tak lagi memperdulikan makan malamnya.


“iyaa.. iya ada apa nyonya..” sahut sang bibi seraya berlari kecil menghampiri Carrisa di meja makan.


“tolong ambilkan ponselku di atas meja riasku, cepat yaa..!!” perintah Carrisa yang sudah tak sabar ingin mengecek ponsel miliknya.


“bahkan dia dirawat dirumah sakit kita, mama tidak tahu..?” tambah Ansell seraya masih menyantap makan malamnya.


“astaga, hari ini mama benar-benar sibuk, Ansell, bahkan seharian ini mama menghabiskan waktu diruang operasi sampai tidak sempat membuka ponsel.


Lalu bagaimana keadaan Ahreum..?


Kenapa Ahreum bisa sampai dirawat..? dan kau sendiri, apa kau sudah menemuinya..?!” oceh Carrisa yang terus menghujani putranya dengan berbagai pertanyaan.


“ini nyonya ponselnya..” ucap sang bibi yang memotong pembicaraan Carrisa dengan Ansell.


Membuat Carrisa kini beralih pada ponselnya dibanding menunggu respon dari putranya tersebut.


“ASTAGA..!!


Tidak bisa, mama harus ke rumah sakit sekarang juga.”


“habiskan dulu makan malam nya mah..” ucap Ansell yang melihat ibunya ingin buru-buru pergi tanpa menghabiskan makan malamnya.


“Ansell..!!


Apa kau masih bisa makan di situasi seperti ini..? calon istrimu terluka dan dirawat dirumah sakit, seharusnya kau yang menemaninya sekarang.” omel sang ibu.


“disana sudah ada temannya yang menjaganya, lagipula dia sendiri yang bilang kalau dia lebih nyaman dengan Nayeon.” Katanya.


“kau pasti hanya beralasan, kau memang tidak bisa diandalkan.” Gerutu ibunya seraya bangkit dari tempat duduknya kemudan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


“ciihh..! mereka berdua benar-benar memiliki kepribadian ganda, kadang terlihat sangat baik kadang juga mengerikan.” Gumam Ansell yang masih menikmati sisa makan malamnya.


***


Kembali ke rumah sakit.


“RoFood nya sudah ada di loby, aku tinggal sebentar ya..” kata Nayeon seraya memandangi layar ponselnya lalu berjalan menuju pintu keluar.


“oke,” sahut Ahreum yang tengah terduduk di ranjangnya.


“jangan kemana-mana sendirian, tunggu aku aja oke.” Pungkas Nayeon sebelum menarik handle pintu.


“ahh iyaa, aku mau tanya dari tadi, kurasa saat awal aku kesini pintu tidak seperti ini.” Ucapnya seraya memperhatikan posisi pintu yang tampak miring sebab engsel bagian atas pintu sudah rusak.


“Ansell yang membanting pintu hingga seperti itu..” responnya membuat Nayeon reflex menganga seraya membulatkan kedua matanya.


“ooh myyy..!! calon suamimu itu, benar-benar sesuatu Ahreum. Hiih..” katanya seraya menggelengkan kepala lalu berlalu pergi.


Sedangkan Ahreum hanya bisa tersenyum kala mengingat kembali kejadian tadi siang yang membuat pintu ruangannya memiliki nasib tragis seperti itu.


 


Selang beberapa menit Nayeon meninggalkan Ahreum untuk mengambil pesanan makanannya di loby rumah sakit, pintu ruangan Ahreum kembali terbuka.


Ahreum yang tengah memainkan ponselnya pun reflex mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuknya.


Tampak seorang gadis yang memakai setelan serba hitam, dilengkapi dengan topi, masker juga kacamata yang menutupi seluruh wajahnya.


Gadis itu melangkah perlahan mendekati ranjang Ahreum seraya membawa bucket bunga dalam dekapannya.


“kau siapa..? haciiiiww..!” tiba-tiba saja hidung Ahreum merasa gatal bukan main, seiring bucket bunga itu semakin mendekat padanya membuat hidung dan matanya berair.


“ooh maaf, apa kau alergi bunga..?” ucap seorang gadis tersebut yang kemudian menjauhkan bucket bunga yang dibawanya dari Ahreum, ia pun menaruh bucket bunga tersebut disudut ruangan agar jauh dari keberadaan Ahreum.


“kau siapa..?” Ahreum kembali bertanya seraya menggosok hidungnya yang masih terasa gatal.


“aku Ilona..” ucapnya seraya membuka masker juga kacamatanya, hingga Ahreum bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang tengah berada dihadapannya tersebut.



“tolong maafkan perbuatanku, Ahreum, aku benar-benar khilaf, aku tak bermaksud untuk menyakitimu, hanya ingin menakutimu saja. Tolong maafkan aku.” Ilona terus memohon seraya memegangi lengan Ahreum.

__ADS_1


“aku.. aku tak ingin masuk penjara, tolong bujuk Ansell untuk mencabut tuntutannya Ahreum, ku mohon padamu..hikss..” rengeknya lagi dengan air mata yang mulai keluar dari pelupuk matanya, membuat Ahreum merasa kasihan pada mantan kekasih Ansell tersebut.


“tapi apa yang kau lakukan itu salah, bagaimana pun juga kau harus menerima hukumannya.” Tegas Ahreum seraya menarik lengannya dari genggaman Ilona.


PLAAAKKK..!! satu tamparan keras pun mendarat di salah satu pipi Ahreum, membuat pipinya itu memerah seketika.


“YAAK..!!


apa yang kau lakukan juga salah, kau adalah orang ketiga dalam hubunganku dengan Ansell..!! semuanya baik-baik saja sebelum kau datang menghancurkan impianku untuk selalu bersama dengan Ansell, kau tahu..!!” bentak Ilona lengkap dengan tatapan tajamnya.


Tak sampai disitu Ilona pun semakin menjadi-jadi, dengan menarik paksa rambut Ahreum hingga ke belakang, membuat Ahreum meringis kesakitan.


“asal kau tahu, wanita sepertimu itu tak pantas bersama dengan Ansell, bahkan menikah dengannya, kau hanya akan mempermalukan Ansell dan keluarganya, jadi lebih baik kau menyerah saja.


Sebelum aku bertindak lebih jauh lagi, MENGERTI..!!”


Karena ingin cepat mengakhiri cengkraman kuat dirambutnya, Ahreum pun lebih memilih menganggukan kepalanya menandakan jika ia akan menuruti perintah Ilona.


Ilona pun tersenyum penuh arti seraya melepaskan cengkraman tangannya dari rambut panjang Ahreum, kemudian menoyor kepala Ahreum untuk mengakhiri penyiksaan tersebut.


Setelah puas mengancam Ahreum, dirinya pun kembali memakai kacamata juga maskernya, namun saat ia hendak berjalan keluar langkahnya tiba-tiba berhenti, seolah ada hal yang terlupakan ia kembali berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil bucket bunga yang dibawanya.


Dengan senyum penuh kemenangan ia pun kembali berjalan menghampiri Ahreum bersama dengan bucket bunga yang digenggamnya, kemudian melemparkannya tepat mengenai wajah Ahreum hingga membuat alergi Ahreum pun kembali kambuh.


“hacciiiww..!!” Ahreum tak bisa menahan bersinnya, membuat perutnya yang terluka semakin terasa amat menyakitkan.


“ahahaha..” tawa Ilona membahana dalam ruangan Ahreum, ia merasa sangat puas sekali karena sudah menyiksa gadis yang telah merebut Ansel darinya.


***


Baseman rumah sakit.


Ketika Ansell hendak memarkirkan mobilnya, sekilas ia melihat Ilona yang berjalan dikejauhan, meski wajahnya tertutup oleh kacamata dan masker, namun perawakannya yang ramping kecil, cara berpakaian, dan cara berjalan tampak jelas sekali seperti mantan kekasihnya tersebut.


Membuat Ansell seketika mencemaskan keadaan Ahreum, mungkinkah Ilona datang menemui Ahreum.


“SIAL..!!” umpat Ansell seraya buru-buru memarkirkan mobilnya.


“ada apa Ansell..?” Tanya sang ibu keheranan sebab tiba-tiba saja ia mendengar umpatan yang keluar dari mulut putranya tersebut.


Seolah tak mendengar ibunya berbicara Ansell pun langsung bergegas keluar dari mobil setalah selesai memarkirkan mobilnya, disusul ibunya yang berlari kecil mengejar putranya tersebut menuju pintu lift rumah sakit.


Ansell pun mengeluarkan ponsel dalam saku celananya, mencoba untuk menelfon seseorang yang dikhawatirkannya. Namun sepertinya seseorang tersebut tak juga menganggakat panggilannya membuat dirinya semakin cemas dan gelisah.


Sampai saat pintu lift terbuka, baik Ansell maupun Carrisa langsung masuk ke dalam dan menekan tombol lantai tujuan mereka berdua.


“ada apa sih Ansell..?


Kau membuat mama bingung aja.” Keluh ibunya yang tak mengerti dengan sikap putranya tersebut.


“aduhhh ada apa sih sebenarnya..!” geram Carrisa seraya berlari menyusul Ansell.


Dan benar saja sesampainya diruangan Ahreum, ia tak menemukan siapapun disana, baik Ahreum maupun temannya yang bernama Nayeon.



"dimana pasien yang bernama Ahreum Nathania..?!" tanya Ansel pada perawat yang tengah menulis dimeja kerjanya.


"apa ada yang memindahkan Ahreum..?" timbrung Carrisa pada perawat tersebut.


"se.. selamat malam dok.." sapa sang perawat yang sedikit terkejut hingga membuatnya tergagap.


"DIMANA AHREUM..!" tanya Ansell kembali yang sudah tak sabar menunggu jawaban dari sang perawat.


"Ansell.." ucap sang ibu, mencoba menegur Ansell karena sudah membentak seorang perawat yang tidak mengerti apa-apa.


"aah iya.. Nona Ahreum baru saja dibawa ke ruang operasi, pak Ansell." responnya.


Ansell pun tertawa setelah mendengar kondisi Ahreum saat ini, kemudian menggebrak meja sang perawat tersebut, membuatnya semakin ketakutan.


"tenangkan dirimu, Ansell.." ucap sang ibu seraya memegangi bahu putranya.


"SiAL..!!


PANGGILKAN KEPALA KEAMANAN SEKARANG JUGA..!!" perintah Ansell pada sang perawat tersebut.


Perawat tersebut pun langsung mengambil gagang telfon dan memencet tombol telfon kepala keamanan rumah sakit dengan jemarinya yang gemetaran.


Selagi menunggu kepala keamanan, Ansell kembali merogoh ponsel dalam saku celananya, untuk menghubungi seseorang.


"CARI WANITA ****** ITU SEKARANG JUGA..!! JIKA SAMPAI BESOK KALIAN MASIH BELUM BISA MENEMUKANNYA. KU HABISI KALIAN SEMUA..!!" teriak Ansell dalam telfon, lalu membanting ponselnya setelah selesai memberikan perintah pada anak buahnya.


"pada saat seperti ini, seharunya aku bahagia, karena aku bisa melihat jika Ansell mulai menyukai Ahreum, tapi kenapa aku malah merasa takut pada putraku sendiri." batin Carrisa, seraya terus memperhatikan putranya melampiaskan kemarahannya.


"pak Ansell memanggil saya..?" tanya sang kepala keamanan yang akhirnya datang menhadap Ansell.


"bawakan aku rekaman kamera CCTV yang mengarah ke pintu masuk ruangan VVIP..! SEKARANG..!!" perintahnya.


"Ansell.." panggil seseorang dibelakangnya.


Refleks Ansell pun langsung membalikan tubuhnya, dilihatnya Ahreum tengah terduduk diatas kursi roda dengan Nayeon yang memegang kursi roda tersebut.


Kedua sudut bibirnya pun terangkat kala melihat gadis yang dikhawatirkannya itu kini berada dihadapannya.


Ia pun berjalan cepat untuk menghampiri Ahreum.

__ADS_1


"kenapa kau bisa masuk lagi ke ruang operasi, Ahreum..?


Apa sesuatu terjadi..?!" tanya Ansell lengkap dengan raut wajah khawatirnya.


"tidak, hanya jahitanku ada yang terlepas jadi, dokter menyarankanku untuk dijahit kembali." paparnya.


"kenapa bisa terlepas..?


Apa dokter yang menjahitmu itu dokter amatir..!! Akan ku pecat sekarang juga." geramnya.


"Ansell, aku lelah, aku hanya ingin tidur sekarang." pinta Ahreum seraya menggenggam lengan Ansell untuk menenangkannya.


"oke, baiklah,


Minggir..!! Biar aku yang membawanya." ketus Ansell pada Nayeon.


Sementara Nayeon hanya pasrah kala Ansell mengambil alih kursi roda yang diduduki Ahreum.


Saat Nayeon hendak menyusul karibnya itu, lengan Carrisa mencoba menahannya.


"kau temannya Ahreum..? Yang bernama Nayeon.


Apa yang sebenarnya terjdi sebelum kita datang, Nay..?" tanya Carrisa.


"amm.. itu.."


Sebelumnya..


Saat Nayeon kembali memasuki ruangan Ahreum, ia sudah melihat Ahreum tengah meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.


"kau kenapa, Ahreum..?" panik Nayeon seraya berlari menuju Ahreum.


Namun Ahreum tak merespon pertanyaannya, seolah rasa sakit itu membuatnya kesulitan untuk bicara.


"kau kenapa, Ahreum, bicara dong jangan membuatku takut seperti ini.." ulangnya lengkap dengan wajah kebingungannya, sebab sebelum ia meninggalkan Ahreum, karibnya itu tampak baik-baik saja.


Tapi kenapa begitu ia kembali, Ahreum menjadi seperti ini.


Sampai kedua matanya melihat rembesan darah yang mengenai baju seragam rumah sakit yang dipakai Ahreum, membuatnya semakin panik.


"kupanggilkan dokter, sebentar yaa.." seru Nayeon yang kemudian berlarian keluar ruangan seraya memanggil dokter.


“jadi begitu tante, aku juga belum sempat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ahreum, maaf tante aku tidak bisa menjaganya dengan baik, maafkan aku..hikss..maafkan aku..” lirihnya seraya terisak dalam tangisnya.


Carrisa pun langsung memeluk Nayeon untuk menanangkannya seraya mengusap-usap punggungnya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.


“sudah tidak apa, Nay, ini bukan salah mu kok, yang terpenting sekarang Ahreum sudah baik-baik saja.” Ucapnya lembut,


Namun Nayeon masih saja tak bisa menghentikan tangis penyesalannya, sebab merasa tidak becus menjaga karibanya tersebut. Hingga Ahreum harus kembali melakukan operasi.


Di ruangan Ahreum.


Setelah sampai di depan ranjangnya, Ansell langsung berjalan ke depan Ahreum dan menggendong Ahreum sampai pada ranjangnya dengan hati-hati. Kemudian meletakan bantalnya di balik punggung Ahreum agar Ahreum bisa bersandar dengan nyaman.


“kenapa kau kembali lagi kesini..?” tanya Ahreum.


“tadi aku hanya ingin mengantar mama kesini, tapi saat aku melihat Ilona di baseman aku langsung teringat padamu.” Ucapnya seraya duduk disamping ranjang Ahreum.


“Ilona..?” ulang Ahreum seraya menunjukan raut wajah bingungnya.


“kau tidak bertemu dengan Ilona..?” tanya Ansell seraya menatap wajah Ahreum lekat.


“tidak ada siapa-siapa disini, selain Nayeon.” Dustanya, membuat Ansell menaikan 1 alisnya.


“kau tidak bohong kan Ahreum..?!” tanya Ansell dengan menaikan nada suaranya.


“iya..” sahutnya lengakap dengan raut wajah yang sangat mendukung.


“lalu ada perlu apa dia kemari.” Gumam Ansell seraya memalingkan wajahnya dari Ahreum.


“mungkin dia sakit..?” ucap Ahreum asal.


“Ahreum..” panggil Ansell seraya menatapnya tajam.


“hmm..” respon Ahreum lengkap dengan senyum tipisnya.


“sebaiknya kau jujur padaku, Ilona datang kemari atau tidak..?!” tukasnya tajam.


“kau tidak percaya padaku..?” ucap Ahreum seraya menujukan raut wajah kecewanya pada Ansell.


“mungkin di ruangan ini tidak ada CCTV, Ahreum, tapi diluar ruanganmu, juga di koridor, kamera itu akan menyorot siapa yang keluar masuk ke ruanganmu.


Jika sampai aku tahu Ilona yang menyebabkan semua ini…” Ansell pun bangkit dari ranjang Ahreum masih dengan tatapan tajamnya sebelum ia mengakhiri kalimatnya.


“aku akan melakukan hal yang sama padanya, bahkan lebih sakit dari luka yang kau rasakan saat ini..!!” lanjutnya, membuat tubuh Ahreum bergidik seketika.


“tidak.. Ansell..!!” panggil Ahreum kala Ansell berjalan meninggalkan ruangannya. “Anselll..!!” panggilnya lagi, namun Ansell tak menghiraukannya, ia tetap melangkah keluar dari ruangannya.


Membuat Ahreum kalang kabut, jika saja ia tidak terluka, mungkin ia sudah berlari dan menahan Ansell, namun kini kondisi tubuhnya tidak mendung untuk melakukan hal tersebut.


Meski Ilona sudah berbuat jahat padanya namun tetap saja ia tak ingin Ansell membalas dengan kekerasan juga.


Sampai ia pun memutuskan untuk memecahkan gelas yang berada di meja disamping ranjangnya, untuk membuat Ansell kembali padanya.


__ADS_1


***


__ADS_2