
Setibanya Ansell ditempat tujuan, ia pun langsung saja memarkirkan mobilnya diantara mobil lain yang sudah terparkir disisi kanan dan kirinya. Sementara Ahreum masih terlelap dalam tidur singkatnya.
“Kita sudah sampai.” Ucap Ansell seraya mengusap bagian atas kepala istrinya untuk membangunkannya begitu ia mematikan mesin mobilnya.
“ahh.. sudah sampai? Hoaamm.. dimana ini?” tanya Ahreum yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya ditengah peregangannya.
“Pantai, biasanya para gadis selalu ingin bermain-main dipantai.” Sahut Ansell yang kemudian melepas safety belt dan mempersiapkan diri untuk turun dari mobil, selagi Ahreum masih tampak terdiam sembari menelusuri area pantai seakan ia tengah mengingat sesuatu dalam benaknya.
“memangnya pantai ini cukup populer ya, sampai Ansell pun mengajakku kemari.” Ahreum membatin kala memorynya telah sampai pada ingatan dimana dirinya kemari bersama dengan Elios dan Xena beberapa waktu lalu.
“kau tak akan turun?!” ketus Ansell yang terlihat kesal sebab sedari tadi istrinya terdiam dengan tatapan kosong seolah jiwanya telah mengembara entah kemana.
“ahh.. iya.. iya.. aughh, kau ini ga sabaran banget, sebentar.” Timpal Ahreum yang buru-buru mengambil ponsel miliknya yang berada didasbor kemudian turun dan berjalan menghampiri suaminya yang masih tampak cemberut.
“ayoo!!” seru Ahreum seraya menautkan tangannya ke lengan kekar Ansell dan mulai menarik langkah memasuki area pantai.
“apa ada yang mengganggumu?
Kau seperti tidak fokus hari ini, apa fikiranmu sedang berada ditempat lain?” protes Ansell ditengah perjalanannya.
“ahh.. engga, aku hanya, hanya ga percaya aja kau bisa bersikap semanis ini. Pertama kau membawaku menemui Mama, dan sekarang kau membawaku bermain ke pantai.
Kurasa hubungan kita semakin dekat aja, aku menyukainya.” Tutur Ahreum yang sebenarnya dibumbui dengan kedustaaan karena memang ada hal yang mengganjal yang tak bisa ia ungkapkan pada suaminya.
Sesuatu yang bahkan masih belum bisa ia pecahkan.
“ciihhh!!
Apa kau sedang merayuku.” Timpal Ansell masih dengan nada sarkas seperti biasanya.
“Hhheehe, ammm.. aku sedikit ngantuk bisa kau belikan aku coffee?” pinta Ahreum lengkap dengan senyum simpulnya yang membuat pipi Ansell bersemu merah.
“ayo.” Ajak Ansell.
“tidak.. tidak.. kau aja, aku akan menunggu disini.” Kata Ahreum seraya melepas tautan tangannya dan memasang wajah so imutnya agar Ansell bisa menuruti keinginannya itu.
“Aiishh.. Jadi secara tidak langsung kau menyuruhku begitu?” ketus Ansell, sebab ia memang tipe orang yang tidak suka diperintah.
“uuuhhh.. ayolaaahh.. aku tunggu disini ya. Kedai kopinya ga jauh kok, tuh disana ya.. ya.. aku mau caramel late.. ya.. yaa..” bujuk Ahreum lagi seraya meraih kedua lengan suaminya kemudian menggoyang-goyangkannya manja yang membuat dinding pertahanan Ansell pun runtuh lantaran tak bisa menolak permintaan dari gadis yang dicintainya itu.
“oke.. oke..” Ansell pun menyerah lalu pergi membeli kopi seperti yang diinginkan istri mungilnya.
__ADS_1
Begitu Ansell jauh dari pandangannya, buru-buru Ahreum merogoh ponsel dari saku rok celananya lalu mengklik 1 angka yang langsung terhubung pada seseorang diseberang sana.
Selagi menunggu Ansell, Ahreum pun memilih untuk duduk ditepi pantai sembari mencoba menghubungi seseorang.
“Kak Ben..” panggil Ahreum begitu telfonnya tersambung.
“hmm.. Ada apa?” tanya Ben dengan nada dinginnya, ya sikapnya hampir sebelas 2 belas lah ya sama si Ansell.
“Bisakah kakak mencari informasi pribadi seseorang?” pinta Ahreum.
“tentu bisa, tapi itu melanggar aturan. Kau juga tahu itu, Ahreum.” tegas Bennedict.
“tapi ini kasusnya beda kak, wanita ini sangat berbahaya. Kurasa dia adalah seorang bos mafia, atau semacamnyalah sama seperti ayahnya Nayeon.
Kakak ingat wanita yang berada digedung tua, tempatku diculik dulu.” Sambung Ahreum kembali yang mencoba bernegoisasi dengan kakaknya.
“Iya, kenapa?
Dari catatan yang kakak baca dia adalah putri angkat dari keluarga Jansen Cullen, tidak ada yang aneh dalam catatannya. Dan saat itu dia memang diculik oleh orang suruhan pesaing bisnis ayahnya.
Dia cukup beruntung karena kita kebetulan sedang mencarimu, jika bukan karenamu dia mungkin tidak akan bisa selamat. Karena tidak ada yang mengetahui keberadaannya saat itu.” jelas Ben panjang lebar.
“tidak.. tidak..
Dialah penjahat sebenarnya kak. Dan juga, dia.. bukanlah putri angkat sebenarnya keluarga Jansen, karena putri angkat yang sebenarnya telah tiada.” Ungkap Ahreum yang tentu saja membuat kakaknya itu sangat kebingungan.
“Apa?” respon Benn.
“Apa sih yang kau bicarakan Ahreum?!” gerutu Benn yang semakin dipusingkan oleh teori yang dituturkan adik perempuannya itu.
“Kakak akan menghadiri pesta dikediaman kak Winter kan?
Kita bertemu disana, aku akan menceritakan semuanya.” Kata Ahreum lagi.
“tidak..
Kakak sedang tugas malam.” Sahut Benn.
“aissshh!
Kakak lebih mementingkan pekerjaan daripada bertemu dengan istri kakak sendiri!” geram Ahreum yang tak habis fikir bagaimana mungkin kakak nya itu masih mementingkan pekerjaan daripada bertemu dengan istrinya yang sudah lama terpisah.
“bukan begitu, kau tahu kan keluarga S.L Group tidak mungkin sembarangan mengundang orang, para tamu perlu menscan barcode jika ingin masuk.
Kau fikir maminya akan mengirimkan barcode undangannya pada kakak.” Bennedict beralasan.
“ciihh!! Alasan aja.
__ADS_1
Kakak kan bisa masuk bersamaku, setiap pasangan hanya perlu 1 kali scan barcode.” Jelasnya dengan nada ngegasnya.
“kau dapat undangannya rupanya.” Respon Benn lemas lantaran merasa iri, sebab sedari dulu kedua mertuanya itu hanya memandang ke arah adiknya saja sedangkan dirinya hanya dipandang sebelah mata, karena statusnya yang hanya anak angkat.
“Iya.
Sudah ya, pokoknya ku tunggu kakak diparkiran nanti, jangan sampai gak datang. Bye.” Tutup Ahreum begitu melihat suaminya yang kini berjalan ke arahnya dengan 2 es kopi dalam genggamannya.
Buru-buru Ahreum memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana roknya karena tak ingin mengundang kecurigaan suaminya.
“Kau habis menerima telpon?” tanya Ansell seraya menyerahkan es kopi pesanan istrinya kemudian ikut duduk disampingnya.
“Iya, dari kak Ben. Mau lihat riwayat telfonku?” sahut Ahreum yang hendak merogoh kembali ponselnya.
“ngga usah, aku percaya padamu.” tolak Ansell yang kemudian menyedot es kopinya seraya menatap lurus ke arah gelombang ombak ditengah pantai.
“oke, thank’s.” respon Ahreum yang mengurungkan niatnya untuk mengambil ponselnya dan kini ikut menyedot es kopi miliknya sembari menikmati pemandangan indah lautan yang terbentang dihadapannya.
“Ansell..” panggil Ahreum tanpa melepas pandangannya dari air laut.
“hmm..” sahut Ansell seraya melirik sesaat ke arah Ahreum dan kembali menyedot es kopinya.
“Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita?” lanjut Ahreum yang kemudian menaruh es kopinya dibawah lalu menyenderkan tubuhnya ke bahu Ansell serta menautkan tangannya ke dalam tangan Ansell.
“Kau kan yang menubrukku.” Celetuk Ansell yang membuat Ahreum tak dapat menahan tawa lucunya.
“Hhhaaaha.. Kakimu tergelincir karena menginjak botol kaleng lalu menubrukku yang kebetulan tepat berada didepanmu tahu! Kau ini, suka memutar balikan fakta. Hahaa!” papar Ahreum seraya mencubit manja pinggul Ansell ditengah tawa riangnya.
“Ingatanmu cukup bagus rupanya. Kau hanya berbohong mengenai tidak mengenalku saat pertemuan kedua kita.” timpal Ansell yang langsung membungkam mulut Ahreum seketika.
“ahhh itu..
Aku hanya, hanya tidak ingin sok kenal aja hehee. Lagipula aku juga sedikit kesal padamu, karena jelas sekali kau menunjukan rasa keberatanmu dengan perjodohan yang diatur kedua orang tua kita. Kufikir setidaknya kau bisa lebih ramah.” Ungkap Ahreum lirih yang membuat Ansell menghela nafas, kemudian menarik lengannya dari tautan Ahreum dan beralih merangkul tubuh Ahreum agar masuk dalam dekapannya.
“maksudku, yaa aku mengerti perasaanmu, tiba-tiba dijodohkan dengan orang asing lalu diminta menikah secepatnya pasti sangat sulit. Tapi, bukan hanya kau yang menjadi korban, aku pun sama. Setidaknya kau bisa menunjukan sikap ramahmu sedikit saja.” Rengek Ahreum lagi yang mulai merasa diatas angin sebab pada akhirnya dirinya bisa menjinakan lelaki dingin dan ganas tersebut.
“Iya, maafkan aku.” Ucap Ansell lembut seraya mengusap bahu Ahreum kemudian mengecup keningnya.
“dan juga terimakasih Ahreum.” sambung Ansell.
“untuk?” jawab Ahreum seraya menarik tubuhnya dari rangkulan Ansell dan menatapnya lekat menantikan penjelasan lebih lanjut dari suaminya.
“karena sudah mencintaiku lebih dulu.” Ungkap Ansell yang dilanjut dengan senyum manis yang terukir diwajah tampannya.
Ahreum pun membalas senyuman Ansell dengan senyum termanis yang ia miliki. Membuat Ansell mendekatkan wajahnya seakan ada magnet yang menariknya kuat, dan mendaratkan bibir sexy nya di bibir merah muda istrinya yang telah siap dilu**mat.
__ADS_1
***
Bersambung…