
“kau membeli ponsel baru Ahreum?” tanya Jeno seraya menatap ponsel Ahreum dari kejauhan disela kunyahannya.
“ponsel baru?
Tumben, bukannya kau tidak suka mengikuti trend mode.” Timbrung Bennedict yang ikut memperhatikan ponsel baru Ahreum.
“ponselku yang sebelumnya rusak kecebur ke danau.” Sahut Ahreum yang kemudian kembali dengan aktivitas makannya.
Bennedict meletakan sejenak mangkuknya diatas tikar kemudian bangkit dan berjalan menuju kotak besar yang berisikan segala kebutuhannya selama diarea pemancingan. Termasuk kotak P3K atau obat-obatan, yaa hanya untuk berjaga-jaga saja.
Ia pun membuka kotak yang berisi obat-obatan, freshcare dan juga minyak kayu putih. Kemudian mengambil minyak kayu putih dari dalam kotak tersebut dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih dipenuhi beberapa remah nasi.
Begitu mengambil barang yang dibutuhkannya, ia kembali berjalan dan bergabung diatas tikar.
“coba hirup minyak kayu putih, agar hidungmu merasa lebih baik.” Suruh Bennedict seraya menyodorkan minyak kayu putih pada adiknya begitu ia mendudukan bokongnya kembali diatas tikar.
Dengan senang hati Ahreum pun menerimanya lalu menghirupnya sesekali ditengah mengunyah makanannya. Setidaknya hal itu bisa membuat dirinya kini lebih baik.
“lagian pake ngebalikin perahu segala sih. Kena batunya sendiri kan.” celetuk Jeno lengkap dengan muka julidnya.
“kalau dari awal kau menuruti perkataanku untuk membeli aja, kita juga ga perlu menaiki perahu itu.” balas Ahreum yang tak mau mengalah.
“ciihhh.. Apa kau tak tahu konsep dari berjuang..” oceh Jeno yang sebenarnya ingin menjiplak kalimat yang sebelumnya dilontarkan Bennedict namun Ahreum keburu memotongnya.
“berjuang pantatmu!!
Kau saja gak becus memperjuangkan cintamu sendiri.” ketus Ahreum dengan nada tingginya.
***
Malam harinya.
__ADS_1
Kembali ke area pusat Jakarta, dimana sebelumnya Rihanna dan Nayeon berjalan-jalan setelah menyantap makan siang.
Namun kini mereka terpisah, iya sejak Rihanna memilih mampir sebentar ke toko kelontong untuk membeli tisu basah dan kering.
Rihanna semakin khawatir kala hari sudah mulai gelap namun dirinya masih juga belum menemukan karibnya itu, padahal ia hanya terpisah selama beberapa menit tapi karibnya itu sudah menghilang sangat jauh entah kemana.
Ditambah ponselnya yang sulit sekali dihubungi, telfonnya memang tersambung tapi entak kenapa Nayeon tidak mengangkatnya bahkan setelah beberapa kali Hanna mencoba menghubunginya Nayeon tetap tidak mengangkatnya.
Sehingga fikiran negativenya pun kini mulai menyelimuti dirinya, ditengah usahanya yang terus mencoba berjalan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar dan juga masuk ke beberapa toko yang tak luput dari pencariannya untuk menemukan karibnya yang kembali menghilang itu.
Orang-orang disekitar hanya menatapnya dengan bingung karena Rihanna beberapa kali keluar masuk toko yang berbeda lengkap dengan raut wajah cemas juga bingungnya serta ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya.
Sampai akhirnya ponselnya pun berdering sesaat setelah panggilan Nayeon terputus karena tidak diangkat.
“halo.” Ucap Hanna dengan bibir yang bergetar karena dilanda kecemasan yang luar biasa.
“kau kenapa?” tanya Abi yang menyadari jika ada yang tidak beres dengan kekasihnya.
“aku sedang berjalan-jalan dengan Nayeon dipusat kota kak, lalu aku hanya meninggalkannya sebentar. Tapi sekarang dia menghilang, bagaimana ini?.. aku takut dia melakukan hal..”
***
Kembali ke area pemancingan.
Tampak mereka bertiga tengah tiduran diatas tikar seraya memandangi langit malam yang dipenuhi jutaan bintang dan 1 bulan penuh yang membuat malam itu terasa sangat terang benderang.
Iya, begitu selesai menyantap makan sore dan membereskannya segalanya. Hingga kini tikar pun kembali bersih membuat mereka bertiga merasa sedikit lelah dan memutuskan untuk berbaring beberapa menit sebelum akhirnya kembali pulang ke rumah masing.
“lihat.. bukankah bintag-bintang itu seperti membentuk seekor pari.” Celetuk Jeno seraya menggambarkan bentuknya dengan menarik garis pada bintang-bintang yang tampak lebih terang hingga membentuk seekor pari menurut pandangan Jeno.
Sementara itu Ahreum yang berbaring diantara Jeno dan Bennedict hanya bisa memperhatikannya dengan serius seakan tengah mencoba membayangkan seekor ikan pari yang terbentuk dari gugusan bintang diatas langit.
__ADS_1
“itu hanya bintang-bintang yang bertaburan dilangit, kau sendiri yang memutuskan akan seperti apa bentuknya dengan menarik beberapa bintang sampai terjadi bentuk yang kau inginkan.” Sahut Bennedict yang tidak tertarik dengan pembahsan tentang ilmu perbintangan.
“iya juga sih, kau bisa membentuk apapun dengan imajinasimu sendiri hehe.” Tambah Ahreum seraya melirik ke arah Ben lengkap dengan tawa renyahnya.
“ciihhh..
Berarti kau juga tidak tahu ya, kalau orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang dilangit.” Celoteh Jeno lagi seraya memiringkan tubuhnya ke arah Ahreum.
“omong kosong macam apa itu.” balas Bennedict, sementara Ahreum hanya terdiam memandangi langit malam seakan tengah memikirkan dengan serius perkataan Jeno barusan.
“kenapa Ahreum?
Apa kau percaya dengan omong kosong si Jejen.” Sambung Bennedict seraya bangkit dari tidurannya dan menatap wajah adiknya yang tiba-tiba murung ketika mengungkit mendiang mamanya yang telah tiada.
“yak! sudah ku bilang jangan pernah memanggilku Jejen lagi, kak Ben!” protes Jeno kesal karena Bennedict mengolok-olok namanya.
“hal itu memang tidak masuk akal. Tapi aku ingin sekali mempercayainya, karena jika itu benar mungkin sekarang mama sedang melihatku dari atas. Aku sangat merindukannya kak.” Lirihnya seraya melambaikan 1 tangannya pada bintang-bintang dilangti seolah tengah menyapa mamanya lengkap dengan raut wajah sendu yang dipenuhi kerinduan pada sang mama.
Melihat Ahreum melambaikan tangannya ke langit, Benn pun lantas ikut menengadahkan kepalanya ke atas.
“yak! aku tidak bohong. Itu bukan hanya sekedar mitos. Itu tuh.. itu mama Veronica.. bintang yang paling terang dari semua bintang dilangit. Itu pasti mama Ica.” Seru Jeno seraya menunjukan salah satu bintang yang terlihat lebih terang dari ribuan bintang lainnya.
“sudah cukup, berhenti membualnya Jejen.” Tegas Bennedict kala melihat Ahreum yang mulai menitikan bulir air matanya.
“aku tidak mem..” belum sempat Jeno meneruskan racauannya, Ahreum keburu memeluknya dengan isak tangis yang sudah tak dapat ia tahan lagi karena kerinduang pada mendiang mamanya.
“hikkksss.. hikssss.. aku sangat.. sangat.. hikssss merindukan mama.” Isak Ahreum dalam dekapan hangat karibnya itu.
“aku juga sangat merindukan mama Ica, Ahreum. Karena hanya mama Ica yang bisa mengerti diriku dengan baik. Aku bahkan berharap dikehidupan berikutnya akan terlahir sebagai putra mama.” Ucap Jeno seraya mengusap-usap punggung Ahreum untuk membuat gadis mungil itu merasa lebih baik.
“hmm.. kau mau menemui mama besok, Ahreum.” ujar Bennedict seraya ikut mengusap bagian kepala Ahreum dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“AHREUMM!!” terdengar suara panggilan menggelegar yang membuat ketiganya sontak menengok ke arah sumber suara.
Bersambung...