
Di perjalanan menuju aparteman dan lebih tepatnya didalam mobil yang ditumpangi Ansell dan Ahreum.
Keduanya tampak hening, Ansell yang sedari tadi fokus dengan jalanan yang ada dihadapannya sedangkan istri mungilnya tampak terlihat sedikit murung dengan mengarahkan wajahnya ke luar jendela serta menopang dagunya dengan telapak tangannya, seolah ada suatu hal yang mengusik fikirannya.
“terimakasih karena sudah menyelamatkanku.” Gumam Ahreum seraya mengakhiri tatapannya ke balik jendela dan beralih melirik kearah suaminya lengkap dengan tatapan sendu.
“hmm.” Sahut Ansell dingin.
“kenapa kau tak bilang padaku, kalau kau akan pergi berkemah dengan teman-temanmu?” Ansell kembali bersuara seraya sesekali melirik kearah Ahreum yang tengah memandangi jalanan didepan.
“aku sudah nitip pesan kok pada bi Ijah, memangnya bi Ijah tidak bilang padamu.” respon Ahreum.
“tidak, bi Ijah malah berfikir kalau kau mau minggat dari rumah.” Sanggah Ansell.
“hmm, benarkah? Kalau begitu berarti bi Ijah udah mengisengimu.” Timpal Ahreum.
“ahh iya, tentang larangan tadi yang ku katakan pada Nayeon, aku bersungguh-sungguh, aku tak ingin melihat dia berada disekitarmu lagi. Mengerti?!” tegas Ansell lengkap dengan lirikan tajamnya sesaat kearah Ahreum.
“Nayeon.. tidak sejahat yang kau fikirkan, dia hanya mencoba melindungi apa yang menjadi miliknya meskipun memang caranya salah. Dan untuk kejadian tadi, itu bukan salah Nayeon, dia sendiri pun ga mengira kalau kejadian mengerikan ini sampai menimpaku.” Bela Ahreum.
“kau ini terlalu baik, atau memang bodoh?! Kau masih membelanya bahkan setelah apa yang dia lakukan padamu! pokoknya aku tidak mengijinkanmu untuk kembali berteman dengan Nayeon!” tegas Ansell lagi yang tak ingin menyerah dengan keputusan sepihaknya.
“kenapa?” gumam Ahreum.
“apa maksudmu?! Kenapa apanya?” seru Ansell seraya mengernyitkan dahinya.
“kenapa kau bersikeras sekali memutuskan pertemananku dengan Nayeon. Padahal aku lebih dulu mengenalnya daripada dirimu.” Sahut Ahreum lengkap dengan tatapan lekatnya yang mengarah pada samping wajah Ansell.
“kau istriku, dan aku berhak melarangmu untuk menjauhi siapapun jika hal itu membahayakanmu, meski dia adalah teman baikmu sekalipun!” seru Ansell lagi lengkap dengan nada tingginya serta tatapan mengintimidasinya berharap jika istri mungilnya itu bisa menuruti perintahnya.
__ADS_1
“apa kau mencintaiku?” ucap Ahreum yang membuat Ansell tiba-tiba saja membulatkan kedua bola matanya karena tidak menduga Ahreum akan menanyakan hal tersebut.
“jika tidak, maka hentikanlah, jangan membuatku bingung dengan sikapmu yang seolah perduli dan memiliki perasaan padaku.
Cukup berpura-pura baiknya padaku, aku sudah tahu semuanya mengenai taruhan yang kau lakukan dengan kak Abi dibelakangku.” ucap Ahreum.
“aku.. aku juga tak bermaksud melakukan hal itu pada awalnya, tapi kau sendiri yang mendorongku untuk melakukannya. Aku muak dengan sikapmu yang tampak acuh dan jual mahal padaku, jika kau memang menyukaiku kenapa harus bertindak seolah kau tidak membutuhkanku!! Ciihh..” belanya dengan nada yang lebih tinggi serta memalingkan wajahnya ke balik jendela sesaat.
“aku menyukaimu, memangnya siapa gadis yang akan menolak lelaki tampan, pintar, dan juga sudah sukses diusia yang cukup muda.” Sahut Ahreum yang membuat Ansell lagi-lagi membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan pengakuan Ahreum secara tiba-tiba.
“tapi..” lanjut Ahreum.
“aku menahannya, karena aku tak ingin kembali terjatuh. Bukan hanya dirimu yang memiliki trauma dimasa lalu, luka yang ku miliki pun masih sangat membekas hingga sampai saat ini.
Dulu aku juga sempat mengira jika ada lelaki yang bersikap baik padaku, artinya dia memiliki perasaan yang lebih, hingga akhirnya aku pun berharap banyak padanya sampai rela menunggu bertahun-tahun lamanya seperti orang bodoh.
Tapi kenyataanya dia memang hanya menganggapku sebagai seorang teman atau adik perempuannya, nggak lebih.
Mobil pun berhenti diparkiran baseman aparteman bersamaan dengan berakhirnya kalimat panjang lebar Ahreum yang kala itu mampu membungkam mulut Ansell.
Mesin mobil pun dimatikan disusul dengan suara terbukanya kunci mobil. Ahreum pun bersiap melepas safety belt yang melekat diatas dadanya.
Begitu melepas safety belt, Ahreum hendak menarik handle pintu kemudian mendorongnya. Sementara Ansell masih tampak terdiam sembari memandangi kemudi dengan wajah penuh penyesalannya.
“jika kau tak bisa mencintaiku, tidak apa.” tambah Ahreum saat pintu sudah sedikit terbuka, Ansell pun melirik ke arahnya untuk menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan oleh Ahreum.
“kita masih bisa berteman, meski aku tak bisa berjanji, tapi mari kita berjuang untuk saling menyembuhkan luka yang kita miliki dimasa lalu. Kita.. pasti bisa melewatinya.” Pungkas Ahreum dengan diakhiri senyuman hangatnya kemudian pergi lebih dulu meninggalkan Ansell yang masih memandanginya dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca karena terharu dengan apa yang dikatakan istri mungilnya tersebut.
Tak lama setelah kepergian Ahreum, ponsel Ansell pun berdering, segera ia pun merogoh saku jas nya untuk menerima panggilan tersebut.
“maaf, sepertinya aku tak bisa menjadwalkanmu kembali dengan dokter Oliver dalam waktu dekat ini. Menurut informasi terbaru dokter Oliver sudah berangkat ke Jepang beberapa jam yang lalu. Dan akan kembali beberapa bulan kemudian.” Papar seseorang dari dalam ponsel Ansell.
__ADS_1
“hmm, gak apa-apa, kurasa aku sudah lebih baik sekarang.” Balas Ansell mantap.
“kau dimana?” tanya Ansell mengubah topik pembahasan.
“dipanti, tadi aku minta om Yudha menjemputku.” Jawabnya.
“oke, istirahatlah dulu untuk 1 minggu ke depan disana, kau tak perlu ikut denganku ke Amerika, aku akan pergi dengan Ambar.” Kata Ansell seraya mematikan sambungan telfonnya dengan asisten pribadinya tersebut.
***
Sementara itu didalam mobil yang dikendarai oleh Bennedict, dengan formasi Bennedict sebagai pengemudi, Rihanna duduk disampingnya kemudian Nayeon dan Jeno duduk dikursi belakang dengan posisi saling berjauhan, karena keduanya menempati kursi dimasing-masing sudut.
“ahh iya, bagaimana kau bisa menemukan lokasi Ahreum?” ucap Bennedict seraya mengarahkan pandangannya pada Hanna sejenak sebelum kembali terfokus pada jalanan didepannya.
“hanya instingku saja.” Celotehnya seraya memainkan ponselnya.
“hmm..” respon Benn seraya menggelang kepalanya.
“sudahlah Nay, jangan nangis terus seperti itu! aku yakin Ansell tidak sungguh-sungguh kok, dia hanya emosi sesaat aja untuk melampiaskan kekesalannya. Lagipula Ahreum juga mana mungkin mengiyakannya begitu aja. Gausah khawatir.” Seru Hanna yang sedari tadi terus mendengar isakan Nayeon.
“hmm.. kakak memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian, tapi melihat reaksi yang diberikan Ansell tadi sepertinya cukup membuat kakak terkejut, sebenarnya hal apa yang sudah kau lakukan pada Ahreum? Bukankah kalian teman dekat, Nay.” Timbrung Bennedict yang sudah tak bisa lagi menahannya dan akhirnya membahas hal yang sedari tadi mengusik fikirannya.
“maafkan aku kak Benn..” ucap Nayeon ditengah isakannya.
“tidak.. tidak.. bukan permintaan maaf, tapi penjelasan Nayeon, benar kau sudah menyakiti Ahreum?” tegas Bennedict lengkap dengan sorot mata tajamnya yang mengarah pada kaca didepan agar bisa melihat wajah Nayeon yang sudah dipenuhi air amta.
“sudah cukup kak, kita bahas lagi nanti.” Ucap Hanna yang mencoba menengahi diantara Bennedict dan Nayeon.
Melihat Nayeon yang seperti itu membuat Hanna tidak tega dan mencoba menghentikan pembahasan yang akan menyudutkan gadis malang tersebut.
***
__ADS_1
Bersambung...