
“memangnya kapan Jeno mulai merokok?
Selama ini kakak gak pernah melihat Jeno merokok, apa kau merokok diam-diam dibelakang kedua orang tuamu saat SMA?” timbrung Bennedict sebelum Jeno sempat menjawab pertanyaan Ahreum tentang alasannya kembali menyentuh hal yang bisa mempengaruhi kesehatannya.
“Jeno pertama kali merokok saat tragedi dimalam itu kak, yang membuat kak Winter dirawat selama berminggu-minggu dirumah sakit. Katanya sih merokok bisa meredam beban difikirannya, tapi gak lama sih hanya bertahan selama 1 bulanan.” Jelas Ahreum yang mewakili Jeno untuk menjawab rasa penasaran Bennedict.
“intinya setiap dia mengalami konflik batin yang cukup berat, dia pasti berakhir dengan menghisap rokok sampai 4 bungkus sehari untuk menenangkan fikirannya. Dan kurasa kali ini karena hubungannya yang berakhir dengan Nayeon.” Tambah Ahreum seraya melirik ke arah Jeno dengan tatapan penuh simpatinya.
Melihat dengan tatapan belas kasih seperti itu membuat Jeno merasa terganggu hingga ia pun membalas lirikan Ahreum dengan sorot tatapan tajamnya seolah ingin memberikan peringatan pada Ahreum untuk berhenti mengkhawatirkannya.
“kau tidak ikut membenciku?
Hanna bahkan sampai memakiku berulang kali sampai membuat telingaku muak mendengarnya. Mudah saja dia berkata untuk tidak menyerah dan bahkan memprovokasiku untuk melawan kedua orang tuaku agar memperjuangkan hubunganku dengan Nayeon.” Ujarnya seraya menghentakan kembali abu rokok ke tepian asbak sebelum kembali menghisapnya.
“Itu karena dia tidak berada diposisiku. Membuat ibuku mengerti tentang cinta dan kasih sayang itu sangat sulit sekali. Baginya anak adalah sebuah asset yang mesti ia gunakan untuk menambah luas area bisnisnya. Dengan begitu anak baru dikatakan berbakti pada kedua orang tuanya.” Tambahnya lagi seraya menumpangkan kakinya serta bersandar dengan nyaman disandaran kursi.
“Kak Ben juga merasakan sendirikan bagaimana sulitnya memperjuangan kak Winter dengan tuntutan-tuntutan yang tak masuk akal dari kedua orang tuaku.
Tapi akhirnya mereka bisa menyerah dan membiarkan kak Ben menikahi putrinya karena om Seno setuju memberikan 10% saham diperusahaannya.
Bukan karena melihat seberapa besar cinta kak Ben untuk kak Winter.
Lantas bagaimana dengan Nayeon?
Ibuku pasti hanya akan merendahkannya, meski kondisi finansialnya cukup lumayan. Tapi bagaimana aku menjelaskan profesi ayahnya?” katanya lagi seraya melirik ke arah Ahreum dan Bennedict sejenak sebelum kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan masih sembari menikmati sebatang rokok manisnya.
“Oke, memang yang kudengar dari Nayeon sekarang ayahnya sudah tidak berada dalam organisasi gangster itu, lalu sekarang profesi ayah Nayeon apa sebenarnya?
Dia sendiri pun bahkan tidak tahu, pekerjaan ayahnya di solo. Lalu ibunya.. bagaimana jika ibuku menanyakan pekerjaan atau hal yang dilakukan ibunya?
__ADS_1
Haruskan aku bilang jika ibunya telah tiada?!
Itu tidak benarkan, karena ibunya masih hidup, hanya saja entah berada dimana, dirinya sendiri pun tidak tahu.” Tutup Jeno yang kemudian mengakhiri keluhan panjang lebarnya dengan mematikan rokoknya ke dalam asbak.
“jika kau tahu akan berakhir seperti itu seharusnya kau tidak mencoba menariknya masuk ke dalam hidupmu Jeno.” Komen Ahreum yang sontak saja membuat Jeno terkejut hingga kembali memberikan tatapan tajamnya pada Ahreum.
“jadi kau juga menyalahkanku sekarang?
Aku juga gak tahu jika semuanya akan serumit ini.” rengek Jeno.
“hmm..” Ahreum hanya bisa menarik nafas panjang kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi karena merasa ikut dipusingkan oleh konflik karibnya yang kini tengah terjadi.
“apa Winter menghubungimu tadi malam?” tanya Bennedict seraya melirik ke arah adiknya yang tengah memijat-mijat kepalanya.
“he’em.. kak Winter bilang sudah ga sabar ingin cepat-cepat pulang dan bertemu kakak.” Sahut Ahreum yang kemudian menengokan wajahnya ke samping.
“ciihh..
Begitu mereka pulang, mereka akan langsung menyiapkan pesta mewah yang akan dihadiri oleh rekan-rekan bisnisnya se asia. Kurasa kali ini kisah cinta kak Ben dan kak Winter sudah berada diujung tanduk. Sulit untuk diselamatkan.” Paparnya panjang lebar.
“apa?.. bagaimana mungkin. Secepat itukah?...” komen Ahreum yang kemudian langsung menoleh ke arah Bennedict. “kakak sudah tahu hal ini?” tambahnya.
“he’em. Winter sudah menceritakan tentang rencana maminya pada kakak.” Sahut Bennedict.
“lalu apa rencana kakak?” tanya Ahreum yang kini beralih mengkhawatirkan kakak lelakinya itu yang tampak murung.
“tidak tahu.
Kakak merasa seperti ini adalah sebuah hukuman bagi kakak. Kakak sudah pernah diberi kesempatan sekali oleh mami, tapi kakak malah mengecewakannya.
__ADS_1
Bukan hanya mengecewakan mami, tapi juga telah merenggut impian Winter. Kakak bingung mesti bagaimana. Jika kakak bersikeras ingin tetap bersama dengan Winter, bukankah kakak hanya akan menjadi pria yang tidak tahu malu?
Sudah menghancurkan impian wanitanya tapi masih memaksa wanitanya untuk tetap tinggal. Jika bersama dengan pria lain adalah yang terbaik untuknya, maka kakak hanya akan merelakannya aja.” Lirihnya seraya menghembuskan nafas kasarnya diakhir kalimat.
“apa? bukannya kakak bilang, setidaknya kakak harus berjuang sampai titik darah penghabisan, kenapa sekarang malah mau menyerah begitu aja?” sahutnya dengan nada ngegasnya seakan tidak setuju dengan keputusan kakaknya yang memutuskan untuk menyerah pada keadaan.
“setelah tragedi yang menimpa Winter, kakak merasa tidak layak untuk tetap berada disampingnya.” Responnya masih dengan nada yang sama.
“lalu bagaimana jika kak Winter yang tetap bersikeras ingin bersama dengan kakak? Apa yang akan kakak lakukan.”
“kakak akan menghindarinya.” Pasrah Bennedict seraya menundukan kepalanya kebawah.
“apa?! jadi kak Ben akan mencampakkan kakakku?! Berani sekali kakak menyakiti perasaan kakakku.” Terdengar ledakan amarah dari sisi lainnya yang membuat keduanya pun refleks menoleh ke arah sumber suara.
***
Kembali ke aparteman Rihanna.
Seperti yang diceritakan diepisode sebelumnya, Rihanna akhirnya mengijinkan karibnya itu untuk membuat sarapan paginya sendiri dengan bahan-bahan yang ada dilemari pendinginnya.
Karena merasa percaya aja dengan keteguhan Nayeon yang ingin memasak sendirian, Rihanna pun lantas meninggalkan Nayeon didapur dan membiarkannya memasak apapun yang diinginkannya.
Sementara dirinya lebih memilih membersihkan ruang tamunya yang sudah seperti kapal pecah, sampah makanan berserakan dilantai dan juga diatas meja, belum lagi keberadaan bantal kursi yang tidak pada tempatnya membuat dirinya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Begitu selesai memungut sampah dan menaruhnya ke kresek hitam besar ia pun lantas pergi dan meninggalkan Nayeon sendirian diapartemannya untuk membuangnya.
Dan..
Kedua matanya membulat kala ia melihat kepulan asap tebal yang menyapu wajahnya begitu ia menarik handle pintu aparteman.
__ADS_1
Dengan langkah paniknya ia pun langsung berlari menuju dapur untuk melihat apa yang sebenarnya Nayeon telah lakukan.
Bersambung...