Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 223


__ADS_3

Kembali ke SMA xxx Jakarta.


1 jam kemudian  usai pertandingan tim yang dipimpin oleh Raffael usai, Nayeon pun memutuskan mengajak Rihanna dan kak Abi untuk menyudahi kegiatan menonton pertandingan basketnya.


Mereka pun berjalan beriringan dikoridor sekolah sembari sesekali memperhatikan area sekitar yang mereka lalui.


“hmmm.. Aku jadi merindukan sekolah lagi.” Celetuk Hanna seraya merangkul karibnya Nayeon yang juga ikut mengamati beberapa kelas kosong yang dilewatinya, sementara 1 tangan lainnya menggenggam erat tangan kekasihnya yang berada disampingnya.


“bagaimana denganmu? Apa kau ingin kembali ke masa-masa sekolah.” Lanjut Hanna yang kembali mengajak Nayeon berinteraksi.


“tidak..


Bagiku tak ada kenangan baik semasa SMA. Tak ada yang mau berteman denganku karena aku adalah putri dari seorang mafia.” Ungkapnya lirih yang membuat Rihanna merasa tak enak hati karena sudah membawa ingatan kelam karibnya.


“hmm.. Maafkan aku.” Katanya seraya mengusap lembut bahu Nayeon untuk sekedar menghiburnya, Nayeon pun hanya membalasnya dengan senyum seadanya.


“yak! Nayeon Christine!” panggil seseorang dari belakang yang membuat Nayeon, Rihanna dan Abi memutar tubuhnya ke belakang serempak.



Nayeon tampak membulatkan kedua matanya kala mendapati sosok wanita yang familiar kini tengah berdiri dihadapannya lengkap dengan raut wajah songongnya, serta 2 temannya yang berdiri disisi kanan dan kirinya yang juga ikut menatap ke arah Nayeon dengan pandangan penuh ejekan.



“siapa mereka?” bisik Hanna pada Nayeon karena merasa tidak mengenal ketiga gadis songong tersebut.


“ayo kita pergi saja.” Ajak Nayeon yang lebih memilih untuk tidak meladeni ketiga gadis tersebut dan hendak pergi melanjutkan perjalanannya.


“Aughh shi****!!


Apa kau mengabaikanku?!” pekik wanita itu kembali yang meradang karena Nayeon mengacuhkannya.


“siapa sih dia? Apa aku mengenalnya.” Oceh Hanna yang kembali melirik ke belakang karena merasa sangat terusik dengan tingkah ketiga wanita dibelakangnya.


“sudah tak perlu diingat-ingat.” Sahut Nayeon seraya merangkul tubuh Hanna agar tidak menoleh lagi ke belakang.


Bruukkkk!!!


Suara sepatu yang menghantam bagian belakang kepala Nayeon yang sontak saja berhasil membalikan kembali tubuh Rihanna, lantaran tidak terima dengan perlakukan bar-bar wanita gila itu pada karibnya.


“arrghh..” ringis Nayeon sembari mengusap bagian belakang kepalanya.


“Aughhh sial!!


Ini cewe siapa sih, sudah gila apa ya!” geram Hanna yang hendak menyerang ketiga wanita tersebut yang kini mulai melangkahkan kakinya serempak mendekat ke keberadaannya lengkap dengan raut wajah songongna.

__ADS_1


“sudahlah, tidak perlu diladeni. Hanna.” Cegah Nayeon seraya menahan tubuh Rihanna.


“kau baik-baik saja Nay?” tanya Abi khawatir seraya mengecek keadaan bagian belakang kepala Nayeon yang terkena lemparan sepatu milik salah satu gadis yang tengah berdiri beberapa langkah dihadapannya.


“Iya aku baik-baik aja kok kak Abi, mari kita pergi aja.” kata Nayeon kembali yang tetap tak ingin meladeni para berandalan itu.


“cihhh!!


Kau.. menjalani operasi plastik dimana Nay?! Hahahaa. Aku hampir tidak bisa mengenalimu tadi.” Lanjutnya lagi yang kian menambah atmosfir menegangkan.


“Aku tak menyangka kau bisa menurunkan berat tubuhmu sampai sekurus ini, padahal dulu rupamu sudah seperti babi gemuk yang doyan berguling-guling di lumpur, Ahhhahhhaaa!!” tambahnya lagi disertai dengan lengkingan tawa penuh ejekan keji.


“astaga.. aughh!!” geram Hanna yang hendak melayangkan pukulannya ke arah pipi wanita yang baru saja mengoceh panjang lebar, namun gerakannya langsung dihentikan oleh Nayeon.


“aduhh apa sih!


Kau ini beg*o apa du*ng*u, mau saja dirisak oleh 3 kurcaci ini.” amuk Hanna yang kesal karena sedari tadi Nayeon hanya terdiam dan tak berniat untuk membalas ejekan dari ketiga gadis tersebut.


“bagaimana mungkin kau bisa bicara sekasar itu pada temanmu sendiri.” timbrung Abi yang kini melibatkan diri ditengah perseteruan yang terjadi.


“Kurcaci?!!


Aughh sia**ll!! Siapa kau berani-beraninya ikut campur huh?! Jongosnya si babi gemuk ini hhahhaa!!” cibirnya lengkap dengan tatapan menyalak dan kedua lengan yang terlipat diatas dadanya.


“Ahh iya.. iya aku ingat sekarang, kau gadis yang selalu menempel dengan Ahreum kan seperti parasite Ahhhahhaa!!


Dan ku dengar ibumu juga jadi gila kan setelah mendapati suaminya berselingkuh dengan janda kaya wkwkwkwkk!!!” tak sempat menikmati tawa ejeknya cukup lama, Nayeon keburu membungkam mulutnya dengan menamparnya cukup keras sampai meninggalkan bekas merah dipipi gadis tersebut.


PLLLAAAKKK!!


“kau boleh mengejekku tapi tidak dengan temanku!! Bi**tch!!” umpat Nayeon yang mulai naik pitam gegara kelakuan ketiga gadis yang pernah merisaknya dulu.


“Wuuahhh.. Amazing!! This’s you!! I like this hahhaaa!!” seru Hanna seraya memukul-mukul bagian punggung Nayeon tanda bangganya pada karibnya yang kini telah membalas perlakuan keji ketiga gadis bar-bar tersebut.


“SIA**LAN!! YAK!!


KAU BOSAN HIDUP HUH?!!” bentak gadis yang ditampar tadi sembari mendorong keras bagian dada Nayeon hingga terhempas dan membentur dinding.


“Aiisshh, breng**sek!!” balas Hanna yang kemudian menjambak rambut gadis yang sudah mendorong karibnya.


Perseteruan semakin sengit kala Nayeon kembali bergabung kemudian ikut menyerang kedua gadis yang lainnya, ditengah aksi anarkis yangt terjadi Abi mencoba sebisa mungkin untuk memisahkan kekasihnya lebih dulu dengan gadis yang diyakini adalah bos dari kedua gadis yang kini tengah saling menjambak dengan Nayeon disisi lain.



“Sudah cukup hentikan, apa sih yang kalian lakukan, seperti anak kecil saja.” Ujar Abi seraya mencoba memisahkan kekasihnya dari amukan gadis asing itu.

__ADS_1


“Aiishhhh!!” amuk gadis asing itu yang kemudian melepaskan 1 tangannya dari rambut Hanna, dan beralih menjambak rambut pendek Abi hingga akhirnya Abi pun ikut meringis kesakitan.


“YAK!! Berani sekali kau menjambak rambut kekasihku.” Bentak Hanna yang kemudian melepas jambakannya dan beralih menghantamkan tinjunya tepat ke area wajah gadis tersebut, yang membuatnya kalah telak, ia melepas cengkraman kuat tangannya dari rambut Abi maupun Hanna seketika, lalu mundur seraya memegangi hidungnya yang terasa ngilu serta rembesan darah mulai mengalir membasahi vitrumnya.


“yak, Mirra kau baik-baik saja.” Panik temannya yang langsung menyudahi aksi jambakannya dengan Nayeon kemudian berlarian menghampiri Mira yang kini terlihat sangat kesakitan akibat layangan tinju yang cukup keras dari Rihanna.


“Dasar wanita ja**la*ng!!


Yak!! Kau fikir dirimu masih hebat seperti dulu huh?


Kau tak lebih sama seperti dirinya!! Gadis rendahan yang..”


Hampir saja 1 tamparan keras Nayeon kembali mendarat dipipi gadis yang tengah meracau itu, namun tangannya keburu ditahan oleh seseorang yang entah muncul darimana.



“Jangan kau kotori tanganmu untuk menyentuh kotoran seperti mereka, Nay.” ucap Raffa yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan setelan casual usai pertandingan selesai dengan kemenangan berturut-turut untuk tim nya.


“kotoran?!


Yak, Raffa sejak kapan kau berpihak padanya?! Kau lupa ayahnya penyebab kematian ayahmu.” Berang gadis tadi dengan amarahnya yang meluap-luap.


“sudah cukup, jika kau tak ingin ku laporkan perbuatanmu kemarin pada paman Carlie sebaiknya kalian pergi.” Tukas Raffa pada ketiga gadis tersebut seraya menurnkan lengan Nayeon perlahan namun tetap menggenggamnya erat.


“Augghh breng**sek!!


Lihat saja akan ku adukan ini pada ibumu!” ancamnya.


“silahkan saja, kau fikir aku tak memiliki kartu untuk membalasmu, Mirra.” Balas Raffa yang tak kalah garangnya membuat Mirra pun akhirnya hanya bisa mendengus kesal dan pergi bersama dengan kedua antek-anteknya.


“kalian baik-baik saja?


Maafkan perbuatan ketiga gadis itu ya. Kau baik-baik saja Nay?” tanya Raffa seraya memindai keseluruhan tubuh Nayeon dari atas sampai ujung, sebelum kembali memandangi  kedua maniknya yang tampak mulai berkaca-kaca.


“Nay.. Kau kenapa?” panik Raffa kala buliran bening mengalir dari sudut kedua matanya.


“Nay.. Apa kau terluka?” timbrung Hanna seraya menarik tubuh Hanna dan memposisikannya dihadapannya.



“bagaimana ayahku bisa menjadi penyebab kematian ayahmu, Raff?” tanya Nayeon dengan nada getirnya seraya mengarahkan pandangannya yang sudah banjir air mata pada Raffa yang masih tempak terdiam membisu.


***


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2