
Di taman kota.
Sesampainya diarea taman kota, Ansell pun langsung mengarahkan pandangan tajamnya pada Ahreum yang tengah berpura-pura tidur dikursinya, ia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya.
“yak! Berhenti berpura-pura tidur, cepat turun!” perintah Ansell dengan nada yang sangat tidak ramah.
Namun sepertinya gadis itu tak memperdulikannya, ia malah mencoba untuk mencari posisi ternyamannya dengan menaikan kedua kakinya ke atas kursi lalu memiringkan tubuhnya hingga membelakangi suaminya.
“ciihh!!
Jika kau tidak turun dalam hitungan ke tiga, aku akan..”
“apa?! Apa?!
Huhh!!.. bisanya hanya mengancam wanita lemah saja.” Dumel Ahreum seraya membalikan tubuhnya secara cepat, lalu membulatkan kedua matanya ke arah Ansell seolah gadis mungil itu tengah menantang seorang preman yang berada dihadapannya sesaat sebelum ia kembali memutar tubuhnya, kemudian mendorong pintu untuk turun dari mobil seperti yang diperintahkan suaminya.
Setelah berhasil membuat Ahreum turun dari mobil, dengan helaan nafas singkat Ansell pun keluar dari mobil seraya menghampiri Ahreum yang masih tampak cemberut dengan menyandarkan tubuhnya dipintu mobil.
“ayoo!!” ajak Ansell lengkap dengan gerakan kepala yang meminta Ahreum untuk mengikuti dirinya pergi.
“kemana?” dumel Ahreum seraya mengikuti langkah Ansell dengan malas.
“kita lakukan peregangan dulu disana.” Respon Ansell.
“tak perlu, aku bisa langsung lari aja, byee!!” seru Ahreum yang kemudian memutuskan untuk berlari mendahului Ansell agar kegiatan jogging dipagi hari ini cepat selesai, tanpa harus membuang waktu untuk melakukan stretching atau peregangan.
“astaga, gadis itu benar-benar membuatku sakit kepala!” gumam Ansell seraya menggelang kepalanya kemudian mengambil langkah seribu untuk mengejar Ahreum yang sudah jauh meninggalkannya.
“yak! Ahreum! Peregangan dulu, tubuhmu bisa kram nanti!” teriak Ansell seraya terus mempercepat langkah kakinya untuk menangkap istrinya yang bandel itu.
Alih-alih berhenti dan mengikuti intruksi dari suaminya, Ahreum malah cekikikan dan terus mempercepat laju kakinya karena tak ingin tertangkap oleh Ansell.
“yak! Ahreum! Kau ini ya!!” geram Ansell yang akhirnya berhasil mencengkram erat tudung hodie yang dikenakan Ahreum dan membuatnya berhenti berlari.
“ayoolaah, aku ingin ini cepat berakhir agar aku bisa tidur kembali, tak perlu membuang waktu untuk peregangan segala, yaa.. yaa.” Rengek Ahreum lengkap dengan raut wajah yang dibuat-buat agar terlihat menggemaskan dimata suaminya tersebut.
“tidak! Peregangan sebentar aja, ayoo!” perintah Ansell yang kemudian langsung memutar-mutar kepalanya sebagai step pertama dalam kegiatan peregangannya.
__ADS_1
“ciihh!!” dengusnya kesal karena akhirnya dia lagi-lagi hanya bisa mengalah pasrah mengikuti perintah dari suaminya itu, namun bukan Ahreum namanya jika melakukannya dengan benar, iya.. meskipun Ahreum mengikuti intruksi suaminya akan tetapi gerakan itu hanyalah sebuah formalitas saja pada kenyataannya gadis itu tidak benar-benar melakukan peregangan seperti yang kini tengah suaminya lakukan.
10 menit kemudian setelah dirasa cukup untuk melakukan peregangan agar otot-otot tidak kaku, juga mencegah terjadinya kram. Mereka berdua pun akhirnya memulai berjogging mengitari taman kota.
Karena ini bukan hari libur, jumlah para pengunjung yang berjogging diarea taman kota pun tidak terlalu banyak, hingga mereka berdua bisa leluasa berjogging tanpa harus berdesakan dengan pengunjung lainnya.
“auugh, aku sudah lelah..” keluh Ahreum seraya menghentikan langkahnya dan memegangi bagian pinggang yang terasa sedikit sakit.
“siapa bilang kau boleh berhenti?! Ini baru 2 putaran, ayoo cepat!” perintahnya seraya menarik tudung hodie yang dikenakan Ahreum.
“2 putaran huh..hahh.. bagiku huh.. haaah.. sudah cukup, setidaknya huh..hah.. aku sudah menggerakan tubuhku dipagi hari.” Ucap Ahreum dengan nafas yang tersenggal-senggal sebab ia harus dipaksa kembali berlari meski tubuhnya sudah benar-benar ingin berhenti.
“tidak bisa! Lari lagi!! Sebelum aku yang menyuruhmu berhenti, kau tak bisa berhenti semaumu!” tegas Ansell yang kini beralih menarik lengan baju hodie istrinya agar tetap berlari bersamanya.
“apa kau ingin membunuhku?!” pekik Ahreum.
“justru sebaliknya, aku ingin membuatmu sehat dengan melakukan olahraga dipagi hari.” Timpal Ansell.
“daya tahan tubuhmu itu lemah, karena kau tidak pernah berolahraga.” Tambah Ansell lagi.
“lalu kenapa kau pingsan kemarin?” ujar Ansell yang membuat Ahreum tak dapat berkata-kata.
“itu.. tak perlu membahasnya.” Pungkas Ahreum.
Selang beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan putaran yang ke 3.
Bruugghhh!!.. tiba-tiba saja Ansell menghentikan laju larinya hingga membuat Ahreum yang tengah mengikutinya dari belakang menghantam punggung keras Ansell.
“aarrgh!” ringis Ahreum seraya memegangi bagian hidungnya yang terhantam cukup keras mengenai punggung suaminya itu.
“kenapa berhenti tiba-tiba sih?” protes Ahreum seraya memandangi Ansell yang tengah terdiam dengan wajah serius yang mengarah pada suatu tempat.
“ada apa?” tanya Ahreum kembali seraya mengarahkan pandangannya pada hal yang kini tengah menjadi focus suaminya.
“dia kenapa sih.” gumam Ahreum yang tak berhasil menemukan apa yang tengah dilihat suaminya itu, ia pun kembali memperhatikan suaminya yang masih terdiam dan tak beraksi apapun sedari tadi.
Tak ingin ambil pusing, akhirnya Ahreum pun memutuskan untuk meninggalkan Ansell dan menjadikan ini sebuah kesempatan untuk kabur dari suaminya yang terus saja menyuruhnya berlari, padahal ia sudah benar-benar kelelahan setengah mati.
__ADS_1
Dengan senyum penuh arti Ahreum pun langsung berlari secepat kilat, berharap jika Ansell masih belum sadar sampai dirinya menghilang dari pandangan suaminya.
Dalam penglihatan pria yang tengah terdiam itu, bukan tanpa alasan dirinya kini hanya terdiam dan menatap ke satu arah, iya.. sebenarnya ia menangkap sosok wanita berbaju hitam yang tengah berdiri cukup jauh darinya disamping pohon besar, wanita itu pun sepertinya tengah memperhatikan dirinya sedari tadi dari kejauhan.
Wajah yang tak asing baginya, namun penampilannya sangat jauh berbeda dengan gaun pas body berwarna hitam juga rambutnya yang terurai, ditambah tatapan tajam yang mengarah padanya membuat Ansell terdiam seketika, mencoba untuk mencerna apa yang kini tengah dilihatnya.
Mungkinkah ini hanya halusinasinya ataukah wanita itu benar nyata, ingin sekali ia melangkah mendekatinya namun hati kecilnya tetap menjaga kewarasannya, sebab tak mungkin wanita yang sudah mati kembali hidup.
Jika wanita itu hanya mirip, tapi kenapa dia melihatku dengan tatapan seperti itu?
Apa aku benar-benar sudah gila?! Ansell membatin sembari mengepalkan kedua tangannya.
***
Dihalte, dekat kampus Royal collage of music.
Terlihat Ahreum turun dari bus yang membawanya ke halte yang berada dekat dengan kampusnya. Ia pun berjalan santai menuju toserba diseberang kampus, namun kedua matanya menyipit kala ia mendapati sosok yang tak asing tengah terduduk dikursi tempat biasa dirinya bersantai.
“sejak kapan kau ada disini?” tanya Ahreum pada sosok tersebut yang tak lain adalah Rihanna.
“baru saja sampai.” Sahutnya yang kemudian mencoba membuka botol air mineral yang baru saja dibelinya bersamaan dengan 1 kresek penuh cemilan yang diletakannya diatas meja.
Melihat temannya itu kesusahan untuk membuka botol air mineral, dengan sigap Ahreum pun mengambil alih botol tersebut kemudian membukanya dan kembali memberikannya pada Hanna setelah berhasil terbuka.
“ini masih pagi, mau apa kau berkeliaran disini.” Ucap Ahreum yang kemudian mendudukan bokongnya dikursi seberang karibnya tersebut, dan mengambil botol mineral yang lain dalam kresek milik Hanna, kemudian membuka dan meneguknya hingga terasa cukup untuk mengaliri kerongkongannya yang kering sehabis berolahraga.
“kau berolahraga? Tumben sekali.” Timpal Hanna setelah meneguk beberapa kali air mineralnya, kemudian meletakannya diatas meja, melihat setelan training yang dikenakan Ahreum membuat dirinya langsung berfikir jika karibnya itu baru saja melakukan aktivitas yang melelahkan.
“iya, Ansell yang memaksaku, aku tak bisa menghindarinya.” Sahut Ahreum seraya menaikan kedua kakinya ke atas kursi untuk membuat dirinya nyaman selagi berbincang bersama karibnya.
“ahh iya, kau belum menjawabku, untuk apa kau berkeliaran disini pagi-pagi?” lanjut Ahreum seraya menaruh kembali botol air mineral yang tinggal setengah dimeja.
“aku ingin menemui Jeno.” Responnya.
bersambung...
***
__ADS_1