
“ini ahh, gak ada yang ku suka, kau saja sana yang couple an sama Nayeon.” Ketusnya seraya mengembalikan ponsel milik Ahreum, lalu melanjutkan lagi menyemil makanan rinagnnya.
“hmm, iya terserah kau sajalah.” Sahut Ahreum.
Selesai membahas tentang piyama, Ahreum pun memutuskan untuk kembali pada tujuan awalnya sebelum dikirimi gambar piyama oleh Nayeon, yaitu menghubungi Abi untuk meminta ijin membagikan kontaknya dengan karibnya.
“halo kak Abi.” Sapa Ahreum begitu panggilan tersambung, mendengar nama Abi disebut membuat Hanna yang tadinya asyik menyemil kini beralih memandangi Ahreum dengan tatapan serius mencoba mendengarkan percakapan antara Ahreum dan Abi.
“ahh.. ini kak Abi, aku mau minta ijin, boleh ga kalau aku membagikan kontak kak Abi ke Hanna.” Lanjutnya lagi setelah selesai saling menyapa ia pun langsung menyampaikan tujuannya tanpa basa-basi.
“iyaa Hanna, Rihanna temanku kak.” Imbuhnya.
“ahh begitu oke oke baik kak, makasih ya, sebelumnya maaf sudah mengganggu.” Pungkas Ahreum yang kemudian langsung mematikan ponselnya.
Namun saat ia kembali meluruskan pandangannya pada Hanna, ia melihat kedua mata karibnya itu tengah memandangi ke arah sampingnya, membuat Ahreum pun ikut penasaran dengan apa yang tengah dilihat karibnya tersebut.
Begitu Ahreum menengokan kepalanya ke samping, dilihatnya seorang lelaki tengah berdiri tegap seraya memegang kantung kresek besar berisikan beberapa bahan makanan dan lainnya.
“dokter Elios.” Ucap Ahreum begitu ia melihat sosok yang tengah dilihat karibnya sedari tadi, Ahreum pun bangkit dari kursinya dan meletakan ponselnya diatas meja.
“kau habis olahraga?” tanya Elios, melihat setelan trainning yang tengah dipakai Ahreum membuatnya langsung berfikir jika gadis itu mungkin saja habis berjogging.
Ahreum pun menanggapinya dengan dehaman juga senyum manis yang menghiasi wajah mungilnya. Sementara keduanya saling bertukar sapa, Hanna hanya bisa menjadi penonton sebelum dirinya dikenalkan secara resmi pada Elios oleh karibnya.
“ayaah!” panggil seorang gadis kecil yang berlarian dari arah belakang, membuat Elios pun reflex memutar tubuhnya untuk menyambut kehadiran gadis kecil tersebut.
“ayaah lama sekali sih belanjanya, aku sudah lapar nih.” Gerutu gadis kecil itu seraya menggenggam tangan Elios dan mengguncangkannya layakanya seorang bocah yang tengah merajuk.
“ahh, iya ini ayah sudah selesai kok.” Sahut Eliso seraya menunjukan jinjingan belanjaannya di tangan yang lainnya pada gadis kecil yang ternyata adalah putrinya yang bernama Xena.
“apa ini Xena?” tanya Ahreum dengan nada ragu-ragu.
__ADS_1
Elios pun mengangguk seraya mengeratkan genggamannya dan mengusap lembut pungung tangan putri kecilnya itu dengan ibu jarinya.
“siapa ayah?
Apa ini tante Ahreum?” tanya Xena seraya melirik ke arah ayahnya untuk menunggu jawaban dari sang ayah.
“iya nana, kenalkan ini tante Ahreum.” Respon Elios pada putrinya.
“hei Xena..” sapa Ahreum seraya menurunkan tubuhnya sedikit dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan gadis kecil tersebut.
Namun tiba-tiba saja raut wajah ceria gadis kecil tersebut berubah menjadi dingin, ia pun melepaskan secara paksa genggaman ayahnya dan mundur 1 langkah dari Ahreum yang mendekatinya.
“tidak, aku tidak suka dengan tante Ahreum!
Tante Ahreum sudah melanggar janji.” Serunya dengan nada tinggi dan juga tatapan yang jelas sekali penuh dengan kemarahan.
“janji.” Ahreum kembali berdiri tegap setelah Xena mundur 1 langkah darinya kemudian melirik ke arah Elios, sebab ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis kecil tersebut.
“tante Ahreum sudah berjanji pada ayah akan ikut ke pernikahan om Ansell, dan setelah itu akan bermain denganku dan ayah ke tempat wisata, tapi tante berbohong! Tante tidak datang, aku benci orang dewasa yang tidak bisa menepati janjinya.” pekik Xena yang kemudian berlari pergi meninggalkan Elios juga Ahreum yang masih tampak kebingungan.
“maaf ya Ahreum atas perkataan putriku tadi, kau tak perlu khawatir aku akan menjelaskan yang sebenarnya pada Xena.” Ucap Elios yang merasa tidak enak dengan Ahreum karena sikap kasar putrinya tersebut.
“kurasa dokter Elios harus cepat mengejar Xena, sepertinya dia sudah berlari cukup jauh.” Timpal Ahreum yang masih memperhatikan kemana gadis kecil itu berlari.
“kau tidak perlu khawatir rumahku didekat sini kok, Xena pasti akan langsung pulang ke rumah dan mengunci dirinya lagi dikamar seperti kemarin, hehe.” Sahut Elios.
“sekali lagi aku minta maaf atas ketidaknyamanan ini Ahreum, seharusnya aku tidak terburu-buru menceritakan tentang dirimu pada Xena, hingga membuat Xena ikut berharap padamu.”
“iya tidak apa-apa dokter, tapi jika Xena memang butuh teman, aku tidak keberatan kok jika harus bermain dengannya.” Tawar Ahreum lengkap dengan senyuman tipisnya.
“terimakasih ya, aku pamit.” Ucap Elios sekaligus menjadi kalimat penutup sebelum dirinyabenar-benar pergi meninggalkan Ahreum.
__ADS_1
-----
“sudah ngobrolnya? Sampai lupa ada aku disini, kau tak berniat mengenalkanku pada pria itu?” dumel Hanna, begitu Ahreum kembali mendudukan bokongnya dikursi.
“kurasa dia juga tak ingin berkenalan denganmu.” Balas Ahreum yang kembali meraih ponselnya diatas meja kemudian menempelkan jempolnya pada layar ponsel untuk membuka kunci ponselnya.
“ciihhh, tapi sepertinya kau sudah memiliki ruang dalam hati gadis kecil itu, aku iri padamu karena selalu dikelilingi pria-pria tampan.”
“ruang pantatmu, apa kau tidak lihat tadi, Xena sangat marah padaku dia bahkan membenciku sekarang.” Sahut Ahreum yang masih memainkan ponselnya.
“justru itu Ahreum! Kau ini bego sekali sih, jika gadis itu tidak menganggapmu special dihatinya, dia tidak mungkin semarah itu padamu, dia pasti akan bersikap biasa aja dan tak perduli padamu, tapi tadi kau lihatkan, dia menunjukan emosinya, itu artinya dia sudah berharap banyak pada dirimu.” Katanya panjang lebar membuat Ahreum menghentikan sesaat aktifitas mentouch ponselnya.
“ahh sudahlah berhenti mengoceh, aku mau ke rumah sakit, kau mau ikut tidak?!” ucap Ahreum setelah beberapa saat terdiam, ia pun lebih memilih untuk tidak terlalu memperdulikannya.
“ahh iya, adik kecilmu itu sudah lahir ya?” sahut Hanna yang langsung teringat pada ibu tiri Ahreum yang yang dibawa ke rumah sakit kemarin siang.
“iyaa kemarin tengah malam, dimana mobilmu? Ayoopergi!” ajak Ahreum yang terdengar seperti sebuah perintah seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku celana trainningnya.
“di parkiran kampusmu,
Yak! aku belum menjawabnya kenapa kau main pergi saja!” seru Hanna seraya memasukan beberapa cemilan kembali ke dalam kantung kresek untuk dimakannya nanti, dan tak lupa juga ponsel yang ia letakan di atas meja kini ia masukan ke dalam tas kecil miliknya, lalu bergegas mengalungkan tas nya dan menjinjing kantung kresek yang berisikan makanan juga minuman. Kemudian berlari kecil menyusul Ahreum yang sudah lebih dulu hendak menyebrang menuju kampus.
“aku tidak butuh persetujuanmu, karena kau harus ikut denganku.” Ujar Ahreum kala karibnya itu telah berhasil menyusulnya dan kini tengah menyebrang bersamaan dengan dirinya.
“ciihh!! Apa kau takut aku membuat keributan dengan Nayeon?!” gerutu Hanna lengkap dengan raut wajah merajuknya.
“hentikan, kau ini berisik sekali, btw.. berani sekali kau memarkirkan mobil dikampusku, kau bahkan bukan mahasiswa disini.” Celetuk Ahreum, begitu mereka memasuki area pekarangan kampur Royal collage of music.
“lalu jika bukan diparkiran kampus, aku harus memakirkan mobilku dimana?! Tengah jalan.” Dumelnya.
Bersambung…
__ADS_1
***