Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 84


__ADS_3

“sebentar, aku mau ke ruangan ibu dulu sekalian mau ketemu dengan Sammyyyy!!” Seru Ahreum ditengah perjalanannya menuju pintu lift lengkap dengan senyuman cerianya karena tak sabar ingin bertemu dengan adik kecilnya.


“oke.” Sahut Hanna setuju.


***


Di bus, tepatnya diperjalanan Ahreum dan Hanna menuju ke tempat yang sudah ditentukan. Seperti biasa mereka selalu duduk disudut, dengan Ahreum yang duduk diposisi dekat jendela.


“sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu mengenai Ansell.” Ucap Hanna yang mengawali pembicaraan diantara keduanya.


“apa?” sahut Ahreum seraya mengarahkan pandangannya pada Hanna selagi menunggu kelanjutan dari kalimatnya.


“hmm.. apa Ansell memperlakukanmu dengan baik?” lanjut Hanna seraya melirik sesaat ke arah Ahreum.


“entahlah, kadang dia terlihat baik kadang juga dia tampak menakutkan bagiku, moodnya selalu berubah-ubah membuatku bingung.” Respon Aherum yang kembali mengarahkan pandangannya keluar jendela.


“hmm..”


“kau kenapa sih dari tadi narik nafas terus, ada yang ingin kau bicarakan lagi? Katakan aja?” protes Ahreum saat Hanna kembali menarik nafas berat seolah ia tengah bergumul dengan dirinya sendiri.


“apa kau ingat saat Nayeon dulu dijadikan bahan taruhan sama senior kita?”


“iya, memangnya kenapa? apa kumpulan lelaki brengsek itu muncul lagi?” seru Ahreum yang terkejut karena Hanna tiba-tiba membahas masa lalu.


“engga, engga gitu, aku hanya ingin tanya, bagaimana jika hal itu terjadi padamu?” Hanna menjelaskan lebih detail maksud dari kalimatnya itu.


“aku?” ulang Ahreum lengkap dengan kerutan didahi seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


“iya, ini hanya seandainya aja, bagaimana jika hal itu menimpamu? Apa yang akan kau lakukan.” Lanjut Hanna dengan wajah seriusnya ia menatap kedua mata Ahreum untuk menantikan reaksi dari karibnya tersebut.


“maksudmu, Ansell yang membuat taruhan itu?” sahut Ahreum.


“iya, jika seandainya ya seandainya ini mah, Ansell dan kak Abi membuat taruhan itu, apa yang akan kau lakukan pada mereka?” imbuh Hanna.


“hhahahaa!! Itu ga mungkin terjadi, untuk apa Ansell membuat taruhan yang kekanak-kanakan seperti itu, lagipula yang kulihat kak Abi bukanlah pria yang suka mempermainkan perempuan, mana mungkin kak Abi setuju dengan ide konyol seperti itu.” celetuk Ahreum seraya diiringi tawa renyahnya.

__ADS_1


“auughhh!! Kau benar-benar, aku serius! Bagaimana jika mereka berdua bersekongkol untuk mempermainkanmu dibelakang. Membuatmu lebih dulu jatuh cinta pada Ansell, kemudian mereka akan mentertawakanmu dibelakang karena berhasil menaklukan dirimu.” Ucap Hanna panjang lebar.


“sudahlah berhenti mengarang cerita Ahh iya, kemana mobilmu?” tanya Ahreum yang tak ingin meneruskan pembahasan tersebut.


“huffft!! Pokoknya kau ga boleh terlihat menyukai Ansell, tunggu sampai dia benar-benar tulus menyukaimu lebih dulu, kau harus hati-hati padanya, ingat itu, aku sudah memperingatkanmu ya!”


“hhahaa.. oke, okee, suka-sukamu sajalah.” Pungkas Ahreum yang ingin mengkhiri perdebatan mengenai ketakuan Hanna yang tak berdasar itu seraya memejamkan kedua matanya sejenak.


***


Siang harinya, kembali ke rumah sakit Haneul.


Ceklek.. suara pintu kamar terbuka, Nayeon yang tengah berdiri dibalik jendela kamarnya lantas membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya seraya memegang tiang infus yang berada disisinya.


“sedang apa kau berdiri disitu?” tanya Jeno seraya menutup kembali pintu kamar kemudian melanjutkan langkahnya mendekati Nayeon dengan totebag yang berada dalam genggamannya.


“hanya bosan aja diam dikamar terus, kau bawa apa?” tanya Nayeon seraya menatap totebag yang dibawa kekasihnya itu.


“roti kesukaanmu.” Seru Jeno sembari mengangkat totebag tersebut lengkap dengan senyuman lebarnya.


“aku mencintaimu.” Gumam Nayeon tepat disamping telinga Jeno.


Alih-alih langsung merespon pernyataan cinta Nayeon, Jeno lebih memilih untuk mengelus bagian kepala belakang Nayeon lebih dulu seraya tak hentinya tersenyum melihat tingkah menggemaskan kekasihnya yang selalu manja padanya, kemudian mengecup keningnya satu kali.



“iya aku tau..” timpal Jeno.


“tapi bagaimana jika nanti kedua orang tuamu meminta kita berpisah?” Nayeon kembali bergumam namun kali ini nada suaranya sedikit goyah, layaknya seseorang yang tengah menahan tangisnya.


“kita bisa menghadapinya bersama, kau percaya padaku kan.” sahut Jeno yang kemudian menaruh totebag ke atas ranjang Nayeon lalu memeluk gadis yang tengah dilanda kecemasan itu dengan kedua tangannya.


Nayeon pun menganggukan kepalanya bersamaan dengan derai air mata yang sudah tak bisa ditahannya lagi, kini ia biarkan mengalir hingga membasahi kemeja kekasihnya.


***

__ADS_1


Next, kita pindah ke tempat dimana Ahreum dan Nayeon berada ya, sesuai dengan tujuan awal, mereka berdua hendak menemui sang agen property yang akan membantu Hanna mencarikan tempat tinggal sesuai dengan keinginannya.


“bukankah kau bilang mau cari rumah, ini sih aparteman.” Celetuk Ahreum yang berjalan disamping Hanna seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling sudut ruangan, selagi sang agen property menuntunnya menuju salah satu aparteman yang kosong.


“setelah ku hitung-hitung, uangku tak cukup banyak untuk membeli sebuah rumah.” Sahutnya seraya terus menscroll ponselnya yang tengah menampilkan bebepa bagian dalam aparteman tersebut yang sebelumnya dikirimkan oleh agen property saat dalam perjalanan kemari.


“ya kalau kau menginginkan rumah seperti yang dulu kau tempati, tentu ga akan cukuplah, yang sederhana aja Rihanna! Lagipula kau hanya akan tinggal sendiri kan.”


“ga bisa, aku ga suka yang sederhana-sederhana.” Tolak Hanna yang masih serius memandangi layar ponselnya.


“astaga..” keluh Ahreum pelan seraya memutar kedua bola matanya.


“silahkan masuk.” Ucap sang agen property seraya membukakan pintu untuk keduanya.


Hanna pun menghentikan aktifitas memandangi layar ponselnya kemudian dimasukannya ponsel ke dalam tas kecilnya, Hanna pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam diikuti dengan Ahreum yang berjalan 1 langkah dibelakangnya.


“dilihat-lihat dulu aja ya, semua perabotannya sudah ada, jadi nona ga perlu repot-repot membeli perabotan baru.” Ucap sang agen seraya mengikuti kemana langkah Hanna pergi.


“oke, amm, tapi maaf aku orangnya agak selektif bu, jadi mungkin akan memakan waktu lama untuk memutuskannya.” Sahut Hanna pada sang agen lengkap dengan senyuman ramahnya.


“ahh iya baik, kalau begitu saya menunggu diluar aja ya.” Pamit sang agen seraya menyunggingkan senyum ramahnya sebelum undur diri dari hadapan Hanna dan Ahreum yang membalasnya dengan senyuman ramah juga.


“kalau kau akan pilih aparteman kenapa ga diaparteman Bougenville aja, biar lebih dekat denganku.” Celetuk Ahreum seraya mengikuti langkah Hanna yang hendak memasuki sebuah ruangan.


“yak! Apa kau tahu harga aparteman suamimu itu berapa?” ucap Hanna seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar untuk mengamati suasana kamar tersebut.


“berapa memangnya?” sahut Ahreum seraya mendudukan bokongnya diranjang lalu menekan-nekannya dengan bokongnya untuk mengetahui seberapa empuk kasur tersebut.


“setara dengan harga rumahku dulu.” Imbuh Hanna seraya menurunkan handle pintu kamar mandi kemudian mendorongnya.


“APA?!” kaget Ahreum saat mengetahui harga aparteman yang kini ditempati dirinya dan suaminya itu lengkap dengan kedua mata yang hampir keluar dari cangkangnya.


Bersambung…


*** 

__ADS_1


__ADS_2