
Kembali ke 1 jam yang lalu.
_Lode wood_
Setelah wahana kapal bajak laut, mereka berdua pun berpindah ke area lain, yaitu roller coaster yang tak kalah ekstremnya dari wahana sebelumnya.
Tentunya kali ini pun Nayeon yang terus menyeret Jeno dengan tenaga yang ia miliki hingga Jeno pun mau tak mau hanya bisa pasrah mengikuti semua keinginan wanitanya itu.
Tidak seperti sebelumnya yang masih bisa berdiri dengan tegak, setelah turun dari roller coaster yang membuat tubuhnya terkoyak Jeno pun merasa mual dan lemas.
Ia berjalan cepat menuju pagar dengan langkah terhuyung sembari memegangi perutnya yang sedang tak baik-baik saja.
“oeeekk.. oeeekk!!” namun Jeno hanya mengeluarkan suara-suara saja tidak dengan isi perutnya.
Dengan sigap Nayeon pun bergegas menuju keberadaan Jeno kemudian memijat-mijat pelan bagian lehernya agar kekasihnya itu merasa lebih baik, tentunya dengan diselingi tawa jahilnya.
“oeeekkk.. aku.. sudah tak sanggup lagi main yang seperti itu, aku menyerah.” Ujar Jeno dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal.
“oke.. okee.. hehehee. Kita kesana aja yuukk!!” ajak Nayeon yang kemudian menarik kembali lengan Jeno setelah ia berhasil menstabilkan tubuhnya kembali.
“ehhhh.. tunggu, mau kemana?” respon Jeno yang sebenarnya masih agak pusing.
Sesampainya ditempat tujuan Nayeon.
Tempat penjual aneka pernak-pernik seperti bando, kacamata, topi dan aksesoris lainnya.
Setelah melihat pernak pernik dari ujung 1 ke ujung yang lainnya, Nayeon pun menjatuhkan pilihannya pada 1 bando kelinci yang langsung dipakainya kemudian bando harimau yang ia pakaikan pada Jeno yang berada disampingnya.
“ehhh.. kita sudah bukan anak-anak lagi tau.” Tolak Jeno seraya hendak mengambil kembali bando yang sudah berada diatas kepalanya.
Namun karena melihat reaksi Nayeon yang langsung cemberut Jeno pun mengurungkan niatnya dan kembali membenarkan bandonya.
“hehehee, kau tampan sekali sih, uuuhhh my honey body sweetyyyy muaachh!!” puji Nayeon dengan diakhiri kecupan manis dipipi Jeno yang membuat pedagang tersebut melongo karena adegan mesra yang tiba-tiba tayang dihadapannya.
"ayo kita foto dulu!!" serunya seraya merogoh ponsel yang berada dalam tas kecilnya, kemudian langsung mengoperasikan ponselnya ke mode swafoto.
Cekrekk.. Cekrekk..
__ADS_1
Beberapa foto pun diambil yang membuat senyuman Nayeon kembali mengembang menghiasi wajah berserinya.
“hhehe, maaf ya pak, jadi berapa?” ucap Jeno pada pedagang yang masih syokk tersebut, selagi Nayeon memeriksa hasil jepretannya.
“i..iya.. 150.000.” sahutnya dengan diiringi senyum seadanya.
“bagaimana kalau kita sekarang ke bianglala aja, sekalian nostalgia juga heheee.” Seru Nayeon seraya kembali menggandeng lengan Jeno dan menarik langkah menuju keberadaan wahana bianglala yang menjadi tujuannya saat ini, setelah memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
“oke.. oke.. tapi gak perlu berlarian juga Nay.” Kata Jeno yang sudah mulai merasa lelah.
…..
Di bianglala.
“kenapa dari tadi dia diam aja sih, apa bukan disini ya tempatnya..” Nayeon kembali membatin sembari terus tersenyum bahagia ke arah Jeno.
“apa kau ingat tempat ini?” ucap Nayeon yang mengawali percakapannya disaat Jeno sedari hanya menatap ke arah luar seakan tengah menimbang-nimbang sesuatu dalam fikirannya.
“hmm..” sahut Jeno yang kembali mengarahkan pandangannya pada Nayeon yang tampak antusias itu.
“disini, tempat kau mengajakku berkencan dulu hehee, lebih tepatnya saat kita berada dipuncak. Awalanya aku kaget sih ga nyangka juga, karena yang ku tahu kau selalu bersama dengan Ahreum. Kukira kalian memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman hehehee.
Alih-alih menanggapi ungkapan tulus Nayeon, Jeno malah terdiam seribu bahasa dan hanya bisa memandangi wajah cerah kekasihnya itu dengan tatapan sendunya.
Perlahan Nayeon pun menarik tubuh Jeno agar lebih mendekat padanya, lalu melingkarkan tangannya dileher Jeno sebelum mencondongkan wajahnya seiring dengan wajah Jeno yang kini juga mulai mendekat padanya.
Sampai akhirnya bibir mereka pun saling bertabrakan hingga membuat tubuh Nayeon semakin terbawa suasana dengan masuk lebih dalam ke dekapan Jeno.
Nayeon terhentak kala bulir air mata tiba-tiba berderai membasahi pipi Jeno, hingga membuatnya refleks menyudahi pertemuan bibir hangat yang terjadi diantara keduanya, kemudian memundurkan tubuhnya sedikit dengan raut wajah bingungnya karena tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Berbagai fikiran negatife dan positif pun berkecamuk dalam benaknya, ia benar-benar tak mengerti bagaimana harus menafsirkan air mata Jeno saat ini.
“maafkan aku Nay..” ucap Jeno yang akhirnya berniat memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang menjadi pertimbangannya sedari tadi.
Nayeon mengerutkan dahinya karena semakin tak mengerti, apa yang sebenarnya ingin Jeno sampaikan padanya.
Namun mendengar kata maaf, membuat dirinya sedikit gelisah tanpa alasan.
__ADS_1
“mari.. kita hentikan aja.” Sambung Jeno seraya mengangkat wajahnya dan menatap lekat kedua mata Nayeon yang tampak bergetar menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menusuk tepat ke bagian dadanya.
“apa.. apa yang kau katakan? Aku tak bisa mendengarnya.” Ucap Nayeon dengan nada getirnya serta built air mata yang mulai bermunculan dari pelupuk matanya.
“mari kita sudahi aja hubungan kita. Seberusaha apapun aku mencoba, kurasa aku bukan lelaki yang pantas untuk kau cintai Nay.”
Nayeon tersenyum dalam lukanya mendengar kalimat klise yang selalu diucapkan oleh lelaki brengsek dalam drama-drama.
“harus seberapa rendah aku menurunkan harga diriku dihadapanmu Jeno?
Agar kau bisa melihat ketulusan dan kesungguhanku benar-benar mencintaimu. Aku sudah memberikan segalanya padamu, bahkan kini kurasa aku sudah tak memiliki harga diri lagi. Karena terlalu sering mengemis cinta padamu.
Harus sejauh inikah kau menyakitiku?!
Jatuh bangun aku mempertahankan hubungan kita selama ini, dan terus berpura-pura tak melihat kebrengsekanmu karena hanya kau... hanya kau yang ku inginkan. Jeno.”
“maafkan aku, Nay..” respon Jeno ditengah pergulatannya menahan isak tangis yang terus berderai membanjiri seluruh wajahnya.
“apa hanya kalimat itu yang bisa kau ucapkan padaku?” timpal Nayeon dengan suara paraunya.
“kedua orang tuaku akan kembali akhir pekan ini. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga janjiku padamu, Nay.. Aku benar-benar naïf, berfikir bisa melawan kedua orang tuaku. Karena nyatanya mendengar kabar mereka akan kembali pun sudah membuatku takut.. maafkan aku karena telah membohongimu Nay.” Paparnya seraya meraih kedua tangan Nayeon lengkap dengan raut wajah penyesalannya.
“baik.. aku mengerti.
Jika ini tentang kedua orang tuamu. Lantas aku bisa apa.
Sebenarnya.. aku sendiripun tidak meminta untuk dilahirkan dikeluarga penjahat, bahkan ibu kandungku pun entah berada dimana.
Mimpiku terlalu tinggi untuk bisa terus bersamamu Jeno. Karena level kita terlalu jauh berbeda. Maafkan aku.. sudah menahanmu terlalu lama dan juga terimakasih untuk semua kebahagiaan yang singkat ini.” ucap Nayeon dengan diakhiri senyum getirnya.
Jeno pun mengangguk pelan seraya menyeka air mata yang masih berderai dipelupuk mata Nayeon. Karena permainan akan segera berakhir membuat keduanya pun mengatur pernafasan dan menstabilkan emosi mereka karena tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya nanti.
“Jeno..” panggil Nayeon kala keduanya kembali menginjakan kakinya diaspal setelah berputar-putar diwahana bianglala.
Jeno pun menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik menanggapi panggilan Nayeon.
“aku haus, bisa tolong belikan aku air.” Pinta Nayeon yang berusaha mungkin terlihat baik-baik saja di depan Jeno.
__ADS_1
“oke. Kau tunggu dibangku itu saja ya.” Kata Jeno seraya mengusap bagian atas kepala Nayeon lengkap dengan senyum hangatnya, Nayeon pun mengangguk setuju yang membuat Jeno langsung bergegas mencari toko yang menjual minuman.
Bersambung...