
Di pekarangan kediaman Dirgantara.
Siluet tubuh ramping Ahreum yang tertimpa penerangan lampu taman tampak bergerak memasuki area pekarangan kediaman keluarga Dirgantara, dengan tatapan sendu dan tangis yang baru saja mereda ia tetap berusaha melangkahkan kakinya untuk kembali pulang.
“Ahreum..” panggil seseorang dari belakang yang membuat langkah gadis malang itu terhenti dan perlahan membalikan tubuhnya.
Tangis Ahreum pun lagi-lagi pecah kala melihat suaminya kini sudah berada 10 langkah didepannya. Ia pun berlari secepat mungkin menuju Ansell kemudian mendarat diatas dada bidangnya dengan tangisan perih yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
“Aku mencintaimu Ansell, hikksss!! Sangat.. sangat mencintaimu.” oceh Ahreum ditengah isak tangis yang sontak saja membuat Ansell terkejut.
“apa yang terjadi Ahreum?
Kenapa kau menangis?” panik Ansell seraya melepaskan tubuh Ahreum yang menempel kuat ditubuhnya kemudian memegang rahang istrinya serta menatapnya lekat.
“ada yang menyakitimu? Atau..”
“tidak.. Aku hanya ingin bilang jika aku sangat mencintaimu hikkss..” sela Ahreum bersamaan dengan deraian air mata yang kian deras mengalih membasahi kedua pipinya.
“Kau.. percaya padaku kan hikkksss?...” tambah Ahreum yang semakin membuat Ansell kebingungan menyikapi hal yang tak terduga ini.
Namun karena ia tak ingin istri mungilnya itu terus menangis, Ansell pun menganggukan kepalanya seraya menyeka linangan air mata Ahreum sejenak sebelum kembali memeluknya erat.
Begitu Abi memarkirkan mobil yang dikendarainya, ia pun kini ikut bergabung diantara atasan dan istrinya yang tengah berada dalam suasana tidak baik-baik saja. Dirinya pun merasa sangat kebingungan dengan sikap Ahreum yang tak seperti biasanya. Ada apa yang terjadi sebenarnya?’fikir Abi seraya menatap dalam Ahreum yang masih menangis tersedu-sedu dalam dekapan suaminya.
Sedang Ansell mengelus kepalanya penuh kasih sayang ditengah fikirannya yang mengembara mencoba memikirkan penyebab istrinya kini emosional.
Tak lama setelah menumpahkan tangisan pilunya Ahreum pun tiba-tiba tak sadarkan diri yang membuat tubuhnya kini melemah karena sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dengan sigap Ansell menggendongnya ala bridal kemudian dibawanya masuk ke kediamannya.
“biar saya panggilkan dokter Elios, pak.” Ujar Abi seraya berjalan menyusul langkah Ansell mencoba meminta persetujuannya.
“ya.” Jawab Ansell singkat ditengah langkah panjangnya menuju pintu utama.
***
Kamar Ansell.
Begitu Ahreum dibaringkan diranjang besarnya, Ansell masih tampak terduduk ditepi ranjang sembari menatapnya lekat dengan beribu pertanyaan yang tak bisa ia lontarkan pada istri mungilnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi Ahreum?” Ansell bergumam pelan seraya menyingkirkan beberapa helai rambut panjang ikal Ahreum yang menutupi wajahnya.
“Apa ada yang menyakiti hatimu? Ataukah aku sudah membuat kesalahan padamu?
Aku sangat mengkhawatirkanmu, sayang.” Gumamnya kembali dengan diakhiri panggilan sayang yang baru pertama kali ia lontarkan pada gadis yang dinikihanya beberapa bulan lalu.
BRUUGGGHH!!
__ADS_1
Suara bantingan pintu kamar membuat Ansell sontak melirik pelakunya yang kini tengah berdiri diambang pintu seraya menatap ke arah gadis yang tengah terbaring diatas ranjang.
“ada apa?!
Mama dengar menantu mama pingsan?! Yak! apa yang kau lakukan pada menantu mama Ansell!!” pekik Carrisa yang langsung saja masuk dan berlari kecil menuju keberadaan Ahreum yang masih tak sadarkan diri.
“Apa mama fikir ini kamarmu?
Kenapa mama masuk tanpa ijin.” Ketus Ansell yang tak suka dengan kehadiran ibunya saat ini.
“biar mama periksa. Mama ambil peralatan dulu.” Seru Carrisa begitu mengecek suhu badan Ahreum dengan menempelkan punggung tangannya didahi dan leher menantunya.
“tidak perlu, Abi sudah memanggil dokter Elios.” Sahut Ansell.
“yak! mama juga dokter kau tahu!” geram Carrisa seraya kembali membalikan tubuhnya dan menatap nanar wajah putranya yang masih belum teralihkan dari wajah cantik istrinya.
“hanya tolong buatkan bubur dan teh hangat saja.” Ucap Ansell seraya mengusap pelan pipi Ahreum.
Mendengar permintaan tulus dari putra itu, Carrisa pun mulai menstabilkan emosinya.
“oke.” Sahut mamanya yang kemudian pergi meninggalkan kamar.
***
Tok.. tok..
Selang beberapa menit Carrisa pergi, terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar yang membuat Ansell melirikan pandangannya pada pintu kamarny.
“nyonya meminta saya untuk membawakan kompresan tuan muda selagai menunggu tuan Elios datang.” Ucapnya seraya berjalan perlahan menghampiri keberadaan Ansell.
“letakan disana.” Perintah Ansell seraya melirik ke atas nakas dengan sorot mata tajamnya, yang langsung saja dipatuhi oleh pelayan tersebut.
“kalau berkenan, boleh saya gantikan pakaian nona muda dengan piyamanya, tuan.” Sambung pelayan tersebut seraya melirik sekilas ke arah Ahreum yang masih tertidur pulas dengan pakaian lusuhnya.
“tidak perlu. Saya yang akan menggantikannya. Keluar!” perintah Ansell.
Pelayan itu pun pamit undur diri meninggalkan kamar setelah penawaran baik hatinya ditolak mentah-mentah oleh tuannya.
***
30 menit kemudian.
Setelah sebelumnya Ansell menggantikan pakaian istrinya dengan piyama tidurnya, ia pun langsung bergegas membersihkan tubuhnya selagi menunggu istrinya terbangun.
Begitu ia keluar dari kamar mandi, ia sedikit terkejut mendapati istrinya kini tengah terduduk serta bersandar disandaran ranjang, dengan pandangan yang mengarah pada gorden besar yang berterbangan kesana kemari mengikuti hembusan angin yang menimpanya.
“kau sudah bangun?” buru-buru Ansell menghampiri Ahreum dan terduduk ditepi ranjang sembari memperhatikan wajah istrinya yang kini beralih menatapnya.
“he’em, apa aku terlihat seperti sedang tidur?” sahut Ahreum yang sontak saja mengundang decakan kesal dari suaminya yang sedari tadi terus saja mengkhawatirkannya.
“aisssh!!”
__ADS_1
Ahreum hanya terkekeh melihat raut wajah kesal suaminya.
“kau.. wangi sekali. Aku suka aroma tubuhmu yang berbaur dengan aroma sabun mandi.” Oceh Ahreum seraya tersenyum simpul dan menggenggam erat lengan suaminya yang dingin.
Perlahan Ansell mendekatkan wajahnya hendak menyeruput bibir mungil istrinya, namun jari telunjuk Ahreum lebih dulu menahannya, hingga ia pun menarik kembali tubuhnya lengkap dengan raut wajah merajuknya.
“tubuhku sedang demam, aku tak ingin menularinya padamu.” tutur Ahreum seraya memajukan tubuhnya kemudian memeluk tubuh suaminya, iya, alih-alih merespon ciuman suaminya ia hanya ingin memberikan pelukan kasih sayang padanya.
“Jujur padaku, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Ansell.
“Apa kau bisa berjanji 1 hal padaku Ansell?” bukannya menjawab pertanyaan Ansell ia malah mengajukan pertanyaan lainnya yang membuat Ansell pun menaikan 1 alisnya.
“apa?” ketus Ansell, yang sebenarnya masih kesal karena Ahreum masih tak mau buka suara mengenai arti dari tangisan dirinya sebelumnya.
“Kau selalu menyimpulkan yang terjadi menurut versimu sendiri, tanpa ingin mendengar lebih dahulu penjelasan orang lain. Aku ingin kau menghilangkan sikap burukmu itu Ansell.
Maukah kau memberikanku kesempatan untuk menjelaskan terlebih dahulu jika terjadi kesalahpahaman?
Aku tak ingin kau membabi buta, berkata kasar bahkan sampai tak sadar melukaiku hanya karena emosi sesaatmu.” Ungkap Ahreum yang masih berada dalam dekapan hangat suaminya.
“apa kau ingat, saat kau menyeretku ke atap rumah sakit, kau banyak melontarkan perkataan kasar dan juga tanpa sadar sudah mencengkram kuat pergelangan tanganku sampai membiru.
Aku ingin sekali membalas perkataanmu, tapi.. melihat amarahmu yang meledak-ledak membuat lidahku keluh dan hanya bisa terdiam menerima perlakuan apapun yang kau berikan padaku.
Dan saat kau mempermainkan perasaanku, kau bilang bermalam dengan gadis itu padahal sebenarnya kau berada dikantor polisi.
Aku ingin sekali mengeluarkan uneg-uneg ku, memakimu, berkata kasar padamu. Tapi.. aku tak bisa. Awalnya aku tak mengeti kenapa aku selalu terdiam dan hanya menerima perlakuan kasarmu, padahal aku bisa saja membalas atau pergi meninggalkanmu.
Tapi sekarang aku mengerti kenapa aku bisa selemah ini jika berhadapan denganmu…” papar Ahreum panjang lebar yang kemudian berhenti sesaat untuk memberi jeda selagi melapas pelukannya dan menatap dalam kedua manik suaminya yang hanya terdiam memandanginya menunggu dirinya kembali bersuara.
“karena aku sudah mencintaimu. Ansell.” sambung Ahreum diiringi senyuman merekah yang membuat Ansell hendak kembali menyerang bibir mungil Ahreum, namun..
Tok.. tok..
Gerakannya terhenti kala pintu kembali berbunyi, disusul dengan dorongan pintu yang perlahan terbuka, sebelum akhirnya munculah sosok pria tinggi yang terpaku melihat kedekatan Ansell dan Ahreum disudut ranjang.
Bersamaan dengan membulatnya pupil Elios, Ahreum pun ikut terkejut mendapati kehadiran Elios yang secara tiba-tiba.
Sementara Ansell memberikan tatapan tajamnya pada Elios karena merasa kesal pamannya hadir disaat yang tidak tepat.
***
Bersambung...
__ADS_1