
“hehee..
Seperti adegan yang suka ada dalam drama aja.” Celetuk Ahreum sembari cengengesan untuk mencairkan atmosfer yang dipenuhi kabut hitam keluar dari sorot mata Ansell.
“ma.. maaf tuan, ini salah bibi, bibi yang sudah membiarkan nona Ahreum melakukan hal berbahaya.” Sesal bi Ijah saat Ansell masih terdiam dengan pandangan tajamnya ke arah Ahreum.
“tidak kok, aku yang memang bersikeras ingin membantu bi Ijah memasak, aku juga ingin belajar masak, biar nanti aku yang masakin semua makan siang dan malammu.” Tutur Ahreum yang membuat hati Ansell goyah kemudian menghembuskan nafas kasarnya serta melonggarkan dekapannya.
“pelan-pelan aja oke. Mulai dari hal kecil aja.” Ucap Ansell lembut yang kemudian mengusap kedua pipi Ahreum dan melepaskan helm yang dipakai Ahreum untuk melindungi wajahnya dari cipratan minyak goreng.
“hari ini cukup belajarnya.” Lanjut Ansell seraya memberikan helm Ahreum pada Abi yang baru saja bergabung diantara mereka.
Meski tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi namun Abi tetap menerima helm yang diberikan Ansell dengan raut wajah bingungnya.
“tapi aku belum..”
“bukannya kau ingin membantuku membersihkan masa laluku.” Potong Ansell yang kemudian merangkul Ahreum dan menariknya pergi dari area dapur meninggalkan bi Ijah dan Abi yang masih terdiam menatap kepergian keduanya.
Ahreum pun hanya bisa pasrah dan berhenti merengek.
“oke, aku akan membersihkannya sampai benar-benar habis tak tersisa sedikitpun.” Seru Ahreum seraya menunjukan 2 jemari yang ia satukan, jempol dan telunjuknya.
Ansell pun tersenyum tipis seraya mengusap lembut bagian atas kepala Ahreum ditengah perjalannnya menuju kamar utama.
“ada yang bisa saya bantu bi?” ucap Abi begitu melihat keduanya sudah memasuki kamar utama, Abi pun beralih pada bi Ijah yang hendak menyalakan kompor kembali.
“den Abi ngga main dengan pacar den Abi?” bi Ijah malah balik bertanya ditengah persiapannya mau memasukan adonan cumi tepung ke dalam minyak panas.
“amm.. nanti deh, aku mau sarapan disini dulu. Aku rindu masakan bibi hehee.” Celetuk Abi seraya bersandar ditepi meja memperhatikan bi Ijah yang tengah menggoreng.
“hmm.. oke deh. Den Abi bisa tolong pilih kembali sayur mayur yang ada didalam lemari pendingin, samakan dengan yang dimangkuk kaca isinya den.” Pinta bi Ijah seraya melirik sesaat ke arah Abi yang tengah melirik lemari pending sebelum akhirnya ia menarik langkah dan menjalankan permintaan bi Ijah.
__ADS_1
“memangnya yang ini kenapa bi? Masih kurang.” Kata Abi yang kemudian meletakan berbagai sayur mayur diatas meja dengan dialaskan baskom plastik, ia pun melihat sayur mayur basah seperti yang sudah dicuci yang berada didalam mangkuk kaca.
“Iya tadinya bibi mau pakai bahan sayur mayur yang itu, sudah bibi potongin dan tinggal dibersihkan aja. Gataunya tadi non Ahreum mencuci sayur mayurnya pakai sabun, hehee. Jadi ada aroma-aroma sabun gitu sayur mayurnya.” Cerita bi Ijah dengan diiring tawa renyahnya.
“ckckckck.. asataga..” Abi pun terkekh seraya menggeleng kepalanya mencoba membayangkan kelakuan random istri atasannya itu.
***
Sementara itu dikamar Ansell.
Mereka berdua terdiam sejenak didepan lemari besar milik Ansell, yang membuat Ahreum mengerutkan dahinya untuk mengekspresikan rasa bingungnya saat ini.
“kau menyimpan semuanya dilemarimu?” tebak Ahreum karena sedari tadi Ansell hanya menatap lekat pintu lemari besarnya itu dengan raut wajah bimbang yang membuatnya bertanya-tanay.
“hmm…” Ansell menghembuskan nafasnya sebelum menarik handle pintu lemarinya seolah tengah membuka pintu ke dunia lain. Hehehe.
Dan….
Ahreum pun dibuat melongo kala Ansell mendorong gantungan kemeja kerjanya, tampak sebuah lukisan bocah kecil yang terlihat sedang tertawa lepas diatas rerumputan.
Ansell melirik sejenak ke arah istrinya yang tampak terdiam membisu dengan 2 mata yang masih membulat karena tak menduga jika ada ruangan lain dibalik lemari besar milik Ansell. Sebelum akhirnya Ansell menggenggam lengan Ahreum dan menariknya masuk ke dalam lemari untuk menuju ruangan lain yang lebih seperti ruangan rahasia.
Setelah melewati lemari besar, mereka kini berada dalam sebuah lift dengan pintu seperti pagar besi. Mereka berdua pun dibawa turun sampai lantai dasar ruangan tersebut.
“apa ini.. aku tak pernah tahu kau memiliki ruangan rahasia seperti ini?
Waaaahhh luar biasaa! Apa aku sedang bermimpi sekarang.” Celoteh Ahreum begitu pintu lift terbuka ia pun bergegas menarik langkah keluar seraya menelusuri setiap sudut ruangan dengan mulut sedikit menganga.
“ini.. ini seperti yang ada didrama drama hhahaaa!! Aku tak tahu jika aparteman ini memiliki fasilitas yang luar biasa.” Celoteh Ahreum seraya berjalan perlahan dengan kedua mata yang tak hentinya memindai seluruh ruangan.
“berhenti mengoceh, ruangan rahasia ini hanya ada diunitku saja. Kau tak akan menemukannya diunit yang lainnya.” Jelas Ansell yang kemudian langsung menuju salah satu ruangan disusul dengan Ahreum yang juga mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
“kenapa?” tanya Ahreum penasaran dengan pandangan yang terarah pada dinding tempat dimana beberapa lukisan dipajang.
“karena aku sendiri yang mendesign ulang unitnya.
Sudah ayo cepat selesaikan sebelum makan siang.” Seru Ansell seraya kembali merangkul tubuh istrinya agar berjalan lebih cepat dan berhenti melihat-lihat.
“kenapa?” tanya Ahreum lagi.
“kau tak mau ikut bergabung bermain dengan teman-temanmu?” lanjut Ansell yang sesekali melirik ke arah Ahreum.
“Hanna, Nayeon?” ucap Ahreum mencoba memastikan teman-teman yang dimaksud suaminya.
“Iya, setelah makan siang rencananya aku mau mengajakmu ke Villa yang berada dikota xxx.” Tambah Ansell lagi begitu langkahnya telah sampai didepan sebuah pintu.
“aah.. seperti salam perpisahan begitu, karena kau mau pergi ke Amerika.” Celetuk Ahreum ngasal.
“salam perpisahan?!
Yak!! kau fikir kita tidak akan bertemu kembali.” Protes Ansell yang mengurungkan niatnya sesaat untuk menarik handle pintu setelah mendenagr celotehan tak masuk akal istrinya.
“hehehee. Ayoo lets goo. Mulai dari mana yang harus aku hancurkan?” seru Ahreum.
Begitu pintu terbuka..
Seolah ada yang menusuk hatinya, kakinya tiba-tiba saja melemah dan senyum cerianya redup seiring dengan rasa sakit yang berasal dari seluruh benda yang berada didalam ruangan tersebut.
Perlahan ia pun melangkah ke dalam mendahului Ansell lengkap dengan raut wajah sendunya yang tak bisa tutupi.
Ahreum tak pernah membayangkan jika ternyata bukan hanya pakain, sepatu atau tas mewah dari mendiang yang masih tersimpan diaparteman tempatnya tinggal. Namun beberapa lukisan, dan puluhan foto Ilona yang berpose sendiri maupun berdua bersama Ansell masih tertata rapih diruangan tersebut seakan tak pernah tersentuh dan hanya dibiarkan seperti semula.
“apa kau sebegitu mencintainya..
__ADS_1
Aku iri sekali dengan dia, bisa membuatmu tertawa lepas seperti ini.” gumam Ahreum seraya mengusap sebuah foto Ilona bersama Ansell yang berukuran besar disudut ruangan dengan mata sendunya.
Bersambung...