Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 230


__ADS_3

Basseman aparteman Bougenville, begitu Abi mematikan mesin mobilnya buru-buru ia melepas safety belt hendak membukakan pintu untuk Ahreum dan juga Ansell.


“kak Abi tidak perlu turun, aku bisa membuka pintuku sendiri. Terimakasih kak Abi.” Ucap Ahreum yang membuat gerak Abi terhenti kemudian menoleh ke belakang.


“baik nona.”sahut Abi seraya menundukan kepalanya sampai Ahreum turun dari mobil.


“sepertinya terjadi sesuatu.” Gumam Abi seraya memandangi Ahreum dan Ansell yang tengah berjalan menuju pintu belakang aparteman.


***


Sesampainya diaparteman.


Ahreum langsung melenggangkan kakinya masuk ke dalam kamar tanpa sepatah kata, hingga membuat Ansell terdiam sesaat melihat sikap aneh istrinya.


Mungkinkah begini cara dia mengekspresikan kekecewaaannya?


Ataukah dia memang tidak perduli.


Berulang kali ia berusaha mengartikan sikap istrinya itu namun tak juga menemukan jawabannya. Sampai ia pun memutuskan untuk mengambil langkah cepat menuju kamar istrinya.


Ceklek.. Ansell membuka pintu kamar Ahreum kemudian menghampiri istrinya yang tengah terduduk dikursi didepan meja riasnya sembari melepas perhiasan yang menempel ditubuhnya.


Ansell menatap tajam ke arah cermin yang memantulkan wajah istrinya yang datar itu.



“Jika ada yang ingin kau bicarakan, sebaiknya besok saja. Aku lelah, ingin tidur.” Ucap Ahreum seraya melepas anting-antingnya kemudian menaruhnya dikotak perhiasan.


“bukankah seharusnya kau bertanya padaku, Ahreum?!” pekik Ansell.


“karena aku percaya padamu.” respon Ahreum yang berlanjut melepas kalung berliannya yang melingkar dilehernya.


“apa?!” timpal Ansell dengan nada ngegasnya.



“Kau yakin?


Bukannya kau hanya tidak perduli?” tuding Ansell yang membuat Ahreum pun menghela nafasnya dalam, lantaran tak ingin terpancing emosional dalam menghadapi suaminya yang memiliki peringai buruk.


“Kau yakin, benar-benar mencintaiku Ahreum?” sambung Ansell lagi.


“Kau meragukan perasaanku padamu, Ansell.” sahut Ahreum masih dengan nada lembutnya, ia pun bangkit dan menatap dalam suaminya yang kini berdiri 5 langkah dihadapannya.


“Lantas bagaimana aku bisa mengartikan sikapmu Ahreum?!


Bukankah seharusnya kau berteriak, ataupun merajuk padaku, meminta penjelasan bagaimana bisa aku berakhir berciuman dengan wanita lain.


Apa kau sama sekali tidak cemburu?!” racau Ansell penuh kekesalan.


“ciuman?


Bukankah itu hanya insiden yang tidak disengaja. Kenapa kau harus melebih-lebihkannya.” Jawab Ahreum santai. “lebih tepatnya kita sedang dijebak oleh permainan wanita licik itu, Ansell.” sambung Ahreum dalam batinnya.


“Apa?!


Bagaimana mungkin kau bisa bersikap sesantai ini Ahreum, aku sama sekali tidak melihat rasa cemburu ataupun kecewa dari sorot matamu. Kau benar-benar datar.


Jujur padaku, apakah Elios orangnya?!” sambung Ansell yang mendadak mengubah topic pembhasannya.


“dokter Elios?


Apa maksudmu.” Sahut Ahreum yang masih belum mengerti apa yang dimaksud suaminya.

__ADS_1


“Pria yang menyukaimu. Yang sempat menggoyahkan perasaanmu.” Jelas Ansell yang membuat pupil Ahreum membulat.


“kenapa tiba-tiba membahasnya, kurasa ini tidak ada hubungannya dengannya. Bukankah sudah ku bilang jika aku mencintaimu, aku sudah melupakan pria itu sejak lama.” Balas Ahreum.


“Jadi benar, dia rupanya.


Kalian sudah bermain-main dibelakangku selama ini. Kenapa harus Elios?!” serang Ansell hingga membuat Ahreum terdiam beberapa saat, sebab kini suaminya tengah dipuncak emosi percuma jika menjelaskan semuanya, pada akhirnya Ansell hanya akan percaya pada apa yang ingin dipercayainya saja.



“kenapa kau diam, hah?!


APA DIA PRIA ITU, AHREUM!!” bentak Ansell seraya meraih lampu tidur yang berada diatas meja kemudian melemparnya ke sembarang arah hingga beberapa serpihan kaca lampu terpental mengenai punggung tangan Ahreum.


Rembesan darah pun seketika mengalir bersamaan dengan suara rintihan kecil Ahreum.


“arrgh..” sebisa mungkin Ahreum berusaha menahan rasa perih serpihan kaca yang menggores punggung tangannya dengan mengempalkan lengannya dan tetap tenang.


“JAWAB AKU!!


APA KALIAN SERING BERTEMU DIBELAKANGKU HAH?! KAU BERMAIN-MAIN DENGANNYA SAAT AKU TAK ADA?!!” teriak Ansell kembali kian tak terkendali.


“Aku.. ingin sekali mempercayaimu Ahreum!!


Tapi ada banyak hal yang sangat mencurigakan bagiku, dirumah Abu, dan dipantai. Pria yang bersamamu itu adalah Elios bukan?!


Berani sekali kau membodohiku dengan CINTA PALSUMU AHREUM!!


Dimana lagi kalian menghabiskan waktu bersama hah?! Hotel? Atau kediamannya?!” tukas Ansell yang tak hentinya menyudutkan Ahreum yang terlihat mulai menitikan air mata pilunya.


“Serendah itukah aku dimatamu Ansell?” timpal Ahreum yang mulai bersuara ditengah pergulatan rasa sakit yang kini mengkoyak bagian terdalamnya.


“Iya, memang Elios pria itu, hanya saja, kita tidak pernah bertemu secara sengaja. Kita selalu bertemu secara kebetulan. Pertama dan terakhir kalinya aku menghubungi Elios adalah saat kau terluka beberapa bulan yang lalu, saat kau menyakiti dirimu sendiri..”


“Apa?!


Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu, jika kau sudah berbohong sejak lama Ahreum!! Apa aku lelucon bagimu!!” pekik Ansell yang semakin menyalak.


“Aku tidak bilang padamu karena aku takut kau salah paham padaku Ansell.” kilah Ahreum yang tetap mempertahankan nada lembutnya disaat suaminya semakin menggila, ia pun mencoba melangkah mendekati suaminya perlahan.


Ditengah percakapan yang kian memanas tiba-tiba ponsel Ansell bergetar, hingga membuatnya teralihkan beberapa saat. Ia pun merogoh ponselnya dan mengecek notifikasi apa yang masuk ke dalam ponselnya.


Tatapan itu, seringaian itu benar-benar membuat bulu kuduk Ahreum menari, karena ia tahu betul itu adalah sebuah pertanda buruk baginya.


“Ahhaahaaa..” lengkingan tawa yang menyeramkan hingga mampu membekukan tubuh Ahreum seketika.


“Kau ingin bilang jika takdir yang selalu mempertemukan kalian hah?!


Lantas bagaimana kau ingin menjelaskan ini!!” pekik Ansell yang kemudian membanting ponsel ke lantai dekat kaki Ahreum berpijak.


Layar yang masih menyala itu menampilkan sebuah foto Ahreum tengah berpelukan mesra dengan Elios.


Perlahan Ahreum menurunkan tubuhnya untuk meraih ponsel suaminya yang baru saja dibantingkan ke lantai.



“Apa kau masih bisa berkilah sekarang?


Cinta? Setia? Hahhaahaa!!


Betapa bodohnya aku bisa percaya untuk kesekian kalinya.” Racau Ansell kembali seraya memegangi kepalanya.


“Aku bisa menjelaskannya Ansell, ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Ucap Ahreum yang hendak meraih lengan suaminya.

__ADS_1


Namun dengan cepat Ansell menepisnya sekuat tenaga hingga membuat Ahreum terbanting melewati serpihan kaca lampu yang berserakan dilantai kemudian berakhir mendarat ditepi meja yang tajam.


“arghh..” Ahreum lagi-lagi meringis kesakitan kala perutnya menghantam keras sudut meja yang tajam ditambah kedua kakinya yang terluka karena serpihan kaca lampu, membuat tenaganya terkuras habis.


“uhuuk..uhuukk..” Ahreum terbatuk kemudian menundukan kepalanya, bersamaan dengan itu pula mengalir darah segar yang keluar dari mulutnya.


Karena posisi Ahreum yang kini membelakangi Ansell, membuat Ansell tidak mengetahui keadaan Ahreum yang sangat mengkhawatirkan.



“Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku, Ahreum?


Bahkan setelah ku katakan jika aku mencintaimu, apa kau masih tak bisa melepaskannya?


Kau sangat tahu rasa kecewa, sakit dan traumaku pada Ilona, kau juga tahu bagaimana berusahanya aku untuk melupakan bayang-bayang Ilona dan bangkit dari keterpurukanku.


Karena aku percaya pada cinta tulusmu. Aku percaya kau berbeda dengannya.


Tapi apa ini? apa semua ini Ahreum?!


Kau menipuku?! Hah. Jika kau saja bisa membodohiku, lantas siapa lagi yang bisa kupercaya.” sambung Ansell, namun kali ini dengan nada yang sangat berbeda.


Ia tak lagi meninggikan suaranya, melainkan terisak dalam tangis pilu menyedihkan. Perlahan pertahanannya runtuh kemudian terduduk ditepi ranjang dengan tangisan yang mampu mengiris hati bagi siapapun yang mendenagrnya.


Sementara itu, Ahreum berusaha menyeka mulutnya yang dipenuhi cairan merah yang kini sudah berhenti mengalir. Perlahan ia pun bangkit dengan berpegangan erat pada meja agar bisa kembali berdiri tegak.



Ia melihat suaminya tengah meraung dan merintih kesakitan, tidak seperti dirinya, luka yang terlihat jelas disekujur tubuhnya, berbeda dengan suaminya yang memiliki luka didalam. Memang tidak terlihat namun rasa sakitnya melebihi rasa sakit yang Ahreum rasakan saat ini.


Bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya hatinya telah dipatahkan oleh orang yang dicintainya sepenuh hati. Membuat rasa sakit dan kekecewaannya sudah tak terbendung lagi.


Dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya sembari menunduk dan memegangi kepalanya. Selagi Ahreum melangkah mendekatinya.



“Sudah cukup puaskah kau sekarang Ahreum? Membuatku terjatuh untuk yang kesekian kalinya.” sambung Ansell dengan nada getirnya ia mendongakan kepalanya ke atas agar bisa melihat wajah Ahreum yang juga telah banjir air mata.


“Maafkan aku Ansell. Aku benar-benar minta maaf.” Ucap Ahreum yang kemudian bersimpuh dihadapan suaminya sembari menggenggam erat kedua tangan suaminya yang mulai bergetar hebat.


“Aku.. sudah mengatakannya bukan?


Jika aku mencintaimu, aku sudah mencintaimu Ahreum. Tapi kenapa kau masih melihat ke arahnya? Apa aku tak cukup baik bagimu?


Aku sudah berusaha mencintaimu sepenuh hatiku, memperlakukanmu dengan baik. Tapi.. kita berasal dari keluarga yang berbeda Ahreum.


Kau yang hidup dengan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuamu, yang menjadikan pribadimu penuh kelembutan dan juga kehangatan. Lain hal nya denganku, keluargaku tidak sebaik yang kau kira.


Ada saat dimana aku merasa jika aku tidak memiliki kedua orang tua, karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku bahkan tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya masakan seorang ibu atau kalimat semangat dari seorang ayah.


Aku.. seperti hidup sendiri dalam istana itu Ahreum selama beberapa puluh tahun. Bisa kau bayangkan seberapa dinginnya hatiku?!


Aku tak pernah sekalipun mendapat cinta kasih seperti yang kau dapatkan dari kedua orang tuamu.


Sekarang, apa yang harus aku lakukan, ketika kau saja yang selalu mengungkapkan cinta padaku malah mengkhianatiku seperti ini?


Aku harus bagaimana?”


“tidak, Ansell.. hikksss.. Aku sungguh-sungguh  mencintaimu. hiksss!!”


“BOHONG!!” teriak Ansell yang kembali diselimuti amarah, ia pun mendorong kasar istrinya bersamaan dengan bangkitnya dari ranjang.


“Aku tak ingin melihatmu lagi Ahreum.” lirihnya kemudian pergi meninggalkan kamar istrinya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2