
“cepat bawa nona Ahreum ke rumah sakit, mas!” perintah Abi yang langsung dibalas anggukan oleh Elios.
Elios pun mengangkat Ahreum dan menggendongnya ala bridal kemudian membawanya keluar dari aparteman.
Meninggalkan Ansell yang kian menggila lantran istrinya dibawa kabur oleh pamannya.
“YAK! APA KAU SUDAH GILA?!
APA YANG KAU LAKUKAN!!”
“KAU YANG SUDAH GILA ANSELL!!
KAU TAK LIHAT SELURUH TUBUHNYA DIPENUHI LUKA, KAU INGIN MENGULANGI KESALAHAN YANG SAMA?! SEPERTI YANG PERNAH KAU LAKUKAN TERHADAP NONA ILONA!!” bentak Abi yang tak kalah ganasnya setidaknya teriakan itu bisa membuatnya terdiam beberapa saat.
“dengar.. aku akan menjelaskannya padamu.” imbuh Abi yang menurunkan nada suaranya sebab kini Ansell tampak sudah lebih tenang.
“Apa kau bilang?
Menjelaskan? Jadi kau tahu mengenai hubungan Ahreum dan Elios selama ini?!” sahut Ansell.
“tidak.. bukan begitu, dengarkan aku dulu Ansell, ini tidak seperti yang kau bayangkan.”
“Apa?! Memangnya apa yang berbeda, bagaimana pun alur ceritanya, pada akhirnya tetap sama mereka berselingkuh dibelakangku.” Kekeuh Ansell.
“situasi nona Ahreum berbeda dengan Ilona dahulu, Ansell. Mereka tak pernah sengaja janjian bertemu ataupun saling menghubungi 1 sama lain secara diam-diam dibelakangmu.
Dan nona Ahreum pun tetap menjaga kehormatannya untukmu.” Papar Abi yang berusah menengahi konflik rumit yang terjadi antara Ansell dan Ahreum.
“lalu bagaimana kau menjelaskan situasi ini!!” tukas Ansell tajam seraya merogoh dan melempar ponselnya yang menampilkan sebuah foto pelukan Ahreum dengan Elios.
“minggir!!” Ansell mendorong tubuh Abi yang tengah fokus memandangi foto didalam layar ponsel atasannya.
“tunggu! kau mau kemana Ansell?!” cegah Abi seraya mengejar kemudian menahan lengan Ansell.
Ansell hanya menatapnya tajam.
“kau ingin membawa nona Ahreum kemudian menyiksanya kembali seperti yang kau lakukan kemarin-kemarin?!” sambung Abi.
“Apa perdulimu?!” balas Ansell seraya menepis kasar tangan Abi dan hendak melanjutkan langkahnya.
Namun lagi-lagi Abi menggenggam erat tangannya dengan sorot mata tajamnya seakan tengah memberikan peringatan terakhir untuk Ansell.
“lepaskan!! Apa kau berpihak pada gadis itu sekarang, hah?!” oceh Ansell yang mencoba berontak dari genggaman erat asistennya.
Bruuggghhh!!!
Karena sudah tak bisa lagi menahan emosionalnya, akhirnya Abi melayangkan tinjuan mautnya hingga membuat Ansell terjatuh tersungkur dengan darah yang mengalir dari 1 lubang hidungnya. Ansell tampak terkejut sekali melihat amarah Abi yang tak pernah dilihatnya selama ini.
Sorot mata tajam itu menyiratkan kemarahan yang sudah tak terbendung lagi, membuat Ansell terdiam membeku seraya menatap Abi yang masih mengepalkan tangannya dihadapannya.
“Aku melakukan ini karena aku perduli padamu , Ansell!!
Sudah kubilang bukan untuk menahan emosionalmu sebelum benaar-benar mengetahui kebenarannya!
Kau selalu saja menyimpulkan semuanya semaumu! Kau tak belajar dari kesalahanmu saat menyudutkan Ilona bahkan sampai mencekiknya. Pada akhirnya luka atas kematiannya dihadapanmu membuat trauma yang sangat mendalam bagimu, bukan!
Bukankah butuh waktu yang cukup lama untuk pulih Ansell?
Kau ingin kembali terjatuh dilumpur yang sama?!
Aku tak memihak siapapun, baik kau, nona Ahreum maupun mas Elios.
Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu video ini.” ujar Abi seraya merogoh ponselnya kemudian memberikannya pada Ansell.
Layar ponsel Abi menunjukan sebuah potongan gambar yang tampak seperti rekaman video antara Elios dan Ahreum.
Untuk beberapa saat Ansell hanya menatapnya dalam, tak dapat dipungkiri ia benar-benar takut jika rekaman video itu hanyalah berisi kemesraan istrinya dengan pamannya.
“putar video itu, Ansell.
__ADS_1
Dan kau akan tahu seberapa banyak nona Ahreum mencintaimu.” tambah Abi, yang akhirnya membuat Ansell pun memberanikan diri mengklik tombol play.
...----------------...
“ku yakin kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku dokter El, karena memang sejak awal pun hubungan kita, perasaan yang kita miliki sudah salah. Meski pernikahanku berlandaskan perjodohan tapi bukan berarti perasaan ini bisa dibenarkan.
Aku sangat menyesal dan bersalah pada Ansell karena pernah goyah oleh pria lain. Maafkan aku.” paparnya seraya hendak menarik langkah pergi meninggalkan Elios, namun Elios tidak membiarkannya begitu saja, entah mengapa lengan panjangnya langsung meraih lengan Ahreum dan menarik tubuh mungilnya masuk ke dalam dekapannya.
“tolong jangan seperti ini dokter, aku mohon hiksss.. hikssss!!” tangis Ahreum pun pecah seiring dengan pelukan Elios yang kian menenggelamkan tubuh mungilnya.
“Maafkan aku Ahreum, semakin aku mencoba menahannya semakin aku tak bisa membiarkanmu pergi. Sepertinya aku sudah benar-benar mencintaimu.”
“KUMOHON!!...” teriak Ahreum seraya menarik tubuhnya dengan paksa keluar dari dekapan erat Elios. “kumohon.. hikkkksss.. hentikan.. Aku sudah memiliki suami, dokter El.. hikssss!! Aku tak ingin menghancurkan kepercayaannya, karena aku sangat mencintainya. Aku sungguh-sungguh.
Ku harap takdir tidak akan pernah mempertemukan kita kembali.”
...----------------...
Beeepp.. video pun berhenti dengan kepergian Ahreum.
“Bukankah seharusnya kau menyelidiki siapa yang mengirimkan foto itu padamu, sudah jelas bukan jika dia ingin menghancurkan rumah tanggamu dengan menyebarkan foto yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Sekarang bagaimana kau akan memperbaiki situasi kacau ini?
Kau fikir kedua orang tuanya akan mengijinkanmu bertemu putrinya setelah apa yang sudah kau lakukan padanya?...,”
Ditengah ocehan Abi yang masih berlangsung dihadapannya, Ansell lantas bangkit kemudian berlari keluar dari aparteman.
“yak.. yak.. kau mau kemana Ansell?!” seru Abi yang kemudian mengejar Ansell yang sudah jauh meninggalkannya.
...****************...
Sementara itu dirumah sakit Haneul Jakarta.
“Ada apa ini, kenapa Ahreum bisa seperti ini bu?” seru Bennedict kala langkahnya telah sampai diruang inap adik perempuannya.
Enzy yang sedari tadi terduduk dikursi kecil disamping ranjang sembari memegangi tangan Ahreum pun menoleh ke arah putra sulungnya itu.
“Bennn…,” ucap Enzy yang tak dapat menahan isak tangisnya begitu melihat putra sulungnya, ia pun lantas beranjak dari kursi kemudian menghambur ke pelukan putranya.
“Maafkan ibu Benn..
Semua ini salah ibuu, maafkan ibuuu hiksss..” rintih Enzy yang dipenuhi penyesalan.
“tidak.. bisa tolong jelaskan lebih dulu, apa yang sebenarnya terjadi bu.” Sahut Bennedict yang tampak kebingungan dengan situasi yang terjadi saat ini.
“Ibu.. ibuu yang salah karena sudah melibatkan Ahreum pada perjodohan yang diamanatkan oleh kedua orang tua ibuu, maafkan ibuu, Benn.. hiksss.. ibu yang salah.” Jelas Enzy seraya melepas pelukannya dan beralih memegangi kedua tangan Bennedict.
“Apa?!
Maksud ibu, Ansell yang melakukan semua ini pada adikku?!” kaget Bennedict yang tidak pernah menyangka Ansell akan melakukan perbuatan keji seperti itu pada adiknya, lantaran beberapa hari lalu terakhir kali ia melihat Ahreum dan Ansell dipesta yang diadakan dikediaman keluarga Stevan lew, keduanya tampak sangat bahagia bahkan tak malu mengumbar kemesraannya didepan dirinya.
Lalu bagaimana mungkin ini bisa terjadi?’fikirnya.
“sudah berapa lama Ahreum tak sadarkan diri?” tanya Bennedict yang kemudian berjalan mendekati adiknya yang masih tak sadarkan diri sejak kedatangannay beberapa jam yang lalu.
“sudah…,”
Bruughhhh!!!
Belum sempat Enzy menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara hantaman keras dari balik pintu, seperti seseorang yang tengah berkelahi.
Sontak saja hal itu langsung mengalihkan perhatian Bennedict, dengan sorot mata tajamnya ia berjalan menuju pintu untuk memastikan apa yang sedang terjadi diluar.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan disini?!” pekik Bennedict kala mendapati Ansell yang tengah mencengkram kuat kerah baju seorang dokter yang tak lain adalah Elios.
Baik Ansell maupun Elios keduanya tampak kacau, dengan luka lebam dan goresan disudut bibirnya masing-masing.
Perlahan Ansell pun melepas cengkramanya dari kerah baju Elios kemudian berjalan perlahan mendekati kakak iparnya itu seraya menundukan kepalanya sebagai rasa bersalah dan penyesalannya yang sangat mendalam.
“bagaimana dengan Ahreum, kak?” tanya Ansell yang perlahan mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap kakak iparnya yang tengah memberikan tatapan tajam padanya.
“Brengsek!!” Bennedict melayangkan tinjunya pada adik iparnya itu bersamaan dengan umpatan kasarnya, yang dilanjut dengan pukulan lainnya membuat Ansell kewalahan lalu jatuh tersungkur membentur kursi panjang yang biasa diduduki oleh para pengunjung.
“Sudah mas.. mas.. hentikan, kita sedang berada dirumah sakit.” Cegah Elios yang mencoba menahan amukan Bennedict yang terus saja merisak Ansell, tidak hanya dengan kepalan tangannya namun juga dengan tendangan mautnya yang membuat Ansell lantas terbatuk dengan rembesan darah yang mengalir dari sudut mulutnya.
“Beraninya pada perempuan!! Apa kau seorang pecundang hah!!” seru Bennedict yang berusaha lepas dari pertahanan Elios.
Berhasil menyingkirkan Elios dari hadapannya, Bennedict kembali menyerang Ansell yang bahkan tidak melawannya sama sekali, ia hanya terdiam menerima semua pukulan dan tendangan yang diberikan oleh Bennedict.
Mendengar keributan yang kian memanas, akhirnya beberapa perawat lelaki pun berdatangan lalu mencoba menarik tubuh Bennedict dari Ansell yang sudah lemah tak berdaya dengan darah yang terus mengalir keluar dari mulutnya.
Sedang 1 lainnya mencoba membantu Elios berdiri disudut lainnya.
Masih belum puas menyalurkan kemarahannya meski sudah membuat Ansell babak belur, ia tetap berontak ditengah pertahanan 2 perawat tersebut.
“yak! hubungi keamanan!” perintah salah satu perawat yang tengah memegangi tubuh Bennedict.
Baru saja perawat itu ingin menekan kontak kepala keamanan rumah sakit, gerakannya langsung dihentikan oleh seseorang yang tiba-tiba saja muncul disampingnya.
Ia menggengam tangan perawat itu kemudian menggelengkan kepalanya untuk memberikan isyarat jika ia tak perlu memanggil pihak keamanan.
“kak Benn.. sudah cukup.” Tahan gadis tersebut yang tak lain adalah Rihanna, ia memegang erat tangan kakaknya seraya menatapnya dalam.
“tidak!!
Aku tak akan berhenti sebelum bajingan itu MATI!!” serunya penuh dengan amarah yang bergejolak dalam jiwanya.
“ku yakin Ahreum pun tak menginginkan itu terjadi. Walau bagaimana pun dia tetap adik iparmu.”
“Apa?!
Jadi kau berada dipihaknya, Rihannna!!” tukas Bennedict tajam tak terima.
“bukan begitu..”
Ceklekk..
“Benn.. Ahreum sadar.” Seru Enzy diambang pintu yang langsung membuat perhatian Bennedict teralihkan kemudian berlarian masuk ke dalam ruangan untuk mengecek keadaan adik perempuannya.
“panggilkan dokter Arya.” Perintah Elios pada salah satu perawatnya begitu mendengar Ahreum telah siuman, ia pun lantas pergi bersama 3 perawat lainnya begitu situasi telah aman terkendali.
Ansell yang ikut senang mendengar kabar baik tersebut mencoba bangkit dan hendak masuk ke dalam ruangan istrinya.
“Sebaiknya kau obati dulu luka-lukamu Ansell. Kau.. juga sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Kakimu bahkan tidak bisa berjalan dengan baik.” Cegah Hanna yang berhasil membuat Ansell menghentikan langkahnya.
“tidak.. Aku harus memastikan jika Ahreum benar baik-baik saja.” kekeuh Ansell.
“tolong.. Jangan kerasa kepala, oke. Kau ingin Bennedict mengamuk lagi seperti tadi, dia tidak pernah main-main dengan ucapannya, Ansell. Kau bisa mati ditangannya.”
“ada apa ini? kenapa kau…,” kaget Abi yang baru bergabung diantara keduanya.
“Aku bicara seperti ini sebagai temanmu. Jadi tolong untuk saat ini, kau lebih baik menjauh dari keluarga Ahreum, terutama Bennedict. Dia…, lebih mengerikan dibanding om Seno.” Imbuh Rihannaa yang kemudian pergi meninggalkan Ansell dan Abi.
“kau dipukuli oleh Mas Benn?” tanya Abi seraya meraih lengan Ansell kemudian diletakannya dibelakang tengkuknya dan membawanya pergi dari area depan ruangan Ahreum.
“Aku memang pantas mendapatkannya…,” ucapnya lirih seraya mencoba berjalan dengan 1 kaki yang terluka parah akibat tekanan keras dari kaki besi Bennedict.
...****************...
Bersambung…
__ADS_1