Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 23


__ADS_3

“apa kau masih bisa tertawa setelah melakukan hal mengerikan seperti itu Nayeon?!” pekik Jeno seraya menajamkan pandangannya kala melihat Nayeon keluar dari kamar mandi wanita.


“hal mengerikan apa maksudmu?” tanya Nayeon lengkap dangan raut wajah kebingungannya.


“berhenti berpura-pura, itu perbuatanmu kan!” tukas Jeno yang sudah tak dapat menahan emosinya kembali seraya mengepalkan kedua tangannya.


“aahhh lampu gantung itu maksudmu, hahaha!!


Kenapa? Kau mau memarahiku sekarang,  bukankah kau bilang aku bebas melakukan hal apapun yang aku inginkan?!” timpal Nayeon lengkap dengan balasan tatapan yang tak kalah tajamnya dengan Jeno.


“kau benar-benar sudah tidak waras, Nayeon.” Gumam Jeno seraya menggelengkan kepalanya.


“tidak waras?


Yak!! Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku, karena dengan begitu kau bisa memastikan perasaan Ahreum padamu, disaat kau dan Ansell dalam bahaya siapa yang akan ia selamatkan?


Tapi yang tadi itu tidak menyenangkan bukan? karena..”


PLAAAK, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayeon, membuat gadis yang tengah mengoceh tersebut terdiam seketika.


“kau tahu,


kau mulai menakutkan, Nayeon.” Pekik Jeno yang sudah tak bisa lagi menahan amarah yang bergejolak dalam hatinya.


“YAAK!!


Apa kau tak sadar, KAULAH YANG MEMBUATKU SEPERTI INI JENO!!


Kau membiarkanku melakukan semua hal yang aku inginkan, bahkan jika itu salah kau hanya berkata tidak apa-apa, asalkan kau bahagia lakukan saja. Sampai akhirnya aku benar-benar tak bisa membedakan kembali mana yang benar dan salah!


Kenapa?


KENAPA!!! Hanya Ahreum yang kau lihat, padahal akulah kekasihmu.” ucap Nayeon seraya terisak dalam tangis yang pecah kala tamparan itu mendarat disalah satu pipinya.


“maafkan aku..” ucap Jeno seraya menurunkan tatapannya.


“apa? Maaf untuk apa?!”


“maafkan aku..” ulang Jeno, seolah tak ada lagi kata ataupun kalimat yang bisa mewakili seluruh perasaannya saat ini.

__ADS_1


“tidak, maaf untuk apa?!” respon Nayeon yang mulai panik, sebab ia takut pembahasan ini akan mengarah pada hal mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumny.


“sepertinya aku sudah tak bisa lagi meneruskan hubungan kita.” Lanjut Jeno yang kembali menatap kedua mata Nayeon yang sudah banjir air mata.


“tidak!!


Aku tidak mau!! Sampai kapan pun aku tak akan pernah MELEPASKANMU!!” Nayeon menolak dengan tegas keputusan sepihak Jeno yang tiba-tiba saja ingin mengakhiri hubungannya kala itu.


“maafkan aku, Nay..” ucapnya lagi sebelum membalikan tubuhnya untuk pergi meninggalkan gadis malang tersebut.


“YAAK!!


Kau fikir, kau bisa pergi dariku begitu saja, JENO!!” teriak Nayeon seraya berjalan cepat untuk menyusul langkah panjang Jeno yang bersikeras meninggalkannya.


“Jeno.. Jeno.. tidak.. Jeno!! Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Jeno!!” bentak Nayeon yang terus mengikuti langkah Jeno menuju baseman.


“oke.. oke.. maafkan aku, aku yang egois, aku tak akan melakukan hal seperti itu lagi, Jeno, maafkan aku, oke, aku tak mau berpisah denganmu, JENO!!” bentak Nayeon kala lengan Jeno hendak menarik handle pintu mobil, hingga membuatnya kembali berbalik dan menatap Nayeon yang tampak sangat putus asa.


“cukup Nay, hentikan, kau tahu, kau semakin menakutkan, aku hampir tak bisa membedakan perasaanmu saat ini, cinta atau obsesi.” Ujar Jeno yang kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada pintu mobil yang hendak dibukanya.


Lalu ia pun mengambil ponselnya yang berada didalam mobil.


Saat Nayeon akan menyusul Jeno kembali, samar-samar ia mendengar suara yang tak asing dari arah belakang, hingga ia pun membalikan tubuhnya untuk memastikan apa yang terjadi.


Emosinya kembali memuncak kala ia melihat Ahreum tengah digendong mesra oleh Ansell yang berjalan menuju keberadaan mobilnya.


Tak ingin momen bahagia karibnya itu terus berlanjut, otaknya pun mulai bekerja untuk memunculkan sebuah ide yang bisa menghancurkan momen romantis tersebut. Ia pun naik ke mobilnya, lengkap dengan kedua tatapan yang dipenuhi amarah ia pun menyalakan mesin mobilnya.


Mendengar suara mesin mobil yang dinyalakan, Jeno yang saat itu tengah berjalan mengarah ke pintu keluar baseman langsung menoleh sejenak ke belakang.


Terlihat mobil dirinya yang baru saja dinyalakan oleh Nayeon tampaknya akan melaju ke arah Ansell yang tengah menggendong Ahreum.


“tidak, Nayeon..!” gumam Jeno yang kemudian langsung mengambil langkah seribu untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Nayeon.


Sementara itu disisi lain, karena Ansell dalam posisi berjalan membelakangi mobil yang Nayeon kendarai ia tidak melihat saat mobil itu akan melesat ke arahnya. Ditambah sisi jalan yang luas disampingnya membuat ia tidak berfikir jika jalannya bisa menghalangi laju mobil yang berada dibelakanganya kala itu.


Dirinya hanya berfikir jika suara mobil yang melaju dibelakangnya tersebut hanyalah mobil yang akan melewati jalur yang berada disampingnya bukan mobil yang hendak menghantam dirinya juga Ahreum yang berada dalam gendongannya.


“Nayeon..” ucap Ahreum lengkap dengan raut wajah terkejutnya, kala ia baru menyadari jika mobil yang akan melaju ke arahnya adalah sebuah mobil yang dikendarai karibnya, dan didiyakini jika mobil itu memang mengarah kepadanya.

__ADS_1


Sementara didalam mobil, lengan Nayeon mulai gemetar, kedua kakinya pun melemah kala kedua mata Ahreum menatapnya, seolah ada yang menggerakan 1 kakinya, tiba-tiba saja ia menginjak pedal rem yang membuat mobilnya dipaksa berhenti disaat ban mobil tersebut masih melaju begitu kencang.


Flashback sekitar 6 tahun yang lalu, yang berlatarkan di sekolah menengah atas Kirin school Jakarta.


Tepatnya disebuah taman yang berada dipekarangan Kirin school Jakarta, saat itu Nayeon tengah makan siang sendiri dibangku taman dengan bekal yang dibawanya dari rumah.


Sampai beberapa menit kemudian, Ahreum datang lalu duduk disebelahnya dengan jemari dan juga kedua mata yang sibuk menatap layar ponsel yang digenggamnya.


“kau makan sendiri lagi?” ucap Ahreum tanpa menoleh.


“memangnya kenapa?


Apa aku juga dilarang untuk berada ditaman?” sahut Nayeon yang tengah menyantap makan siangnya seraya melirik sesaat ke arah Ahreum.


“kalau kau bersikap seperti ini, semua murid lain akan berfikir kau memang pantas dikucilkan, dan mereka akan semakin semena-mena terhadapmu.” Lanjut Ahreum yang masih terfokus pada layar ponselnya.


“kenapa?” tanya Nayeon dengan tatapan sendunya.


“kenapa apanya?” Ahreum malah balik bertanya dengan mengangkat satu alisnya kemudian meilirik ke arah Nayeon yang masih menatapnya.


“kau bisa saja seperti mereka yang mengucilkanku, tapi kau malah terus datang menemaniku. Apa kau tak takut akan ikut dihindari mereka juga jika terus bersamaku?”


“hey,


Kenapa juga aku harus takut, mereka bahkan tidak memiliki kontribusi apapun dalam hidupku, dan juga mereka melakukan hal seperti itu, karena memang kau yang lemah mereka fikir mengasyikan jika mengganggu orang yang lebih lemah dari mereka.


Dengar ya, yang melakukan kejahatan itu adalah ayahmu, bukan dirimu, jadi kau harus bersikap tegas pada mereka yang sudah mengucilkanmu hanya karena ayahmu ketua gangster.


Tegakkan kepalamu, dan jangan menghindar lagi seperti seorang pengecut! Mengerti.” Ujar Ahreum panjang lebar lengkap dengan tatapan tajamnya ia mencoba untuk menyemangati Nayeon ditengah konflik yang terjadi.


“tapi..”


“atau kau ingin terus dikucilkan untuk hal yang tak kau lakukan?!” pekik Ahreum seraya bangkit dari tempat duduknya masih dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Nayeon yang tampaknya masih bimbang.


“baiklah, terimakasih Ahreum.” Ucap Nayeon yang akhirnya tersenyum ke arah Ahreum.


“ingat ya, meski seluruh teman menjauhimu, tapi aku akan tetap selalu ada disampingmu.” Imbuh Ahreum yang kemudian menyunggingkan senyum cerahnya untuk karibnya tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2