Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 80


__ADS_3

“sepertinya ada yang sedang patah hati jadinya hujan gede.” Celetuk Ahreum, yang tiba-tiba teringat momen pertama kali ia bertemu dengan Ansell didepan aparteman.


“kau sedang meledekku ya.” Sinis Ansell yang kemudian langsung menggelitik pinggang Ahreum.


“hhehee, hentikan geli.” Rengek Ahreum seraya menahan jemari nakal suaminya itu, kemudian memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Ansell.


Dilihatnya wajah suaminya yang tengah memandanginya juga dengan tatapan lembut, membuat dirinya kembali mengangkat kedua sudut bibirnya. Bersamaan dengan itu Ansell pun mengecup kening Ahreum sekali lalu menarik tubuh Ahreum agar masuk ke dalam dekapan tubuhnya yang besar.


***


“kenapa tubuhmu kurus sekali, aku seperti sedang memeluk triplek.” Goda Ansell seraya membelai lembut bagian kepala belakang Ahreum.


Karena tak ada respon dari Ahreum, Ansell pun menurunkan pandangannya sampai ke wajah Ahreum, dilihatnya kedua mata Ahreum sudah terpejam membuat sudut bibirnya naik sejenak sebelum kembali mengeratkan pelukannya hingga menenggelamkan wajah kecil Ahreum ke dalam dada bidangnya.


***


Dilain tempat.


Lebih tepatnya disebuah kedai makan yang berada dipinggir jalan, sudah sejak sore tadi keduanya berada disana.


Dengan keadaan meja yang sudah dipenuhi botol minuman (alcohol) keduanya pun tampak sempoyongan dan berkali-kali menjatuhkan wajahnya ke atas meja karena tak sanggup menahan rasa pusing yang menyerang kepalanya.


“jujur saja, sebenarnya kau masih berharap kembali pada Jenoku kan?!” seru Nayeon yang kembali menegakan tubuhnya dan berusaha menajamkan pandangannya pada gadis disebrang meja yang tengah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


“ciihh!!.. Jenomu?! YAK!! akulah yang pertama mengenalnya, kau tahu, kau bicara seperti itu seolah akulah yang menjadi orang ketiga diantara kalian.” Kesal Hanna seraya menghentakan gelas yang masih berisi minuman hingga sebagian isinya muncrat mengenai tangannya.


“kau benar-benar gadis yang tak tahu malu ya!


YAK!! (Nayeon bangkit dari kursinya sembari menggebrak meja dengan tubuh sempoyongannya)


KAU YANG LEBIH DULU MENCAMPAKANNYA!! Dan sekarang kau ingin semua kembali seperti pada awalnya? Jangan bermimpi.” Seru Nayeon yang berusaha memfokuskan pandangannya pada Hanna, namun karena kedua kakinya tak mampu menahan tubuhnya terlalu lama ia pun hampir terjatuh, tapi berkat cengkraman kuatnya ke sudut meja membuatnya kembali berdiri tegak.

__ADS_1


“AUGGHH SHITT!! Yak! berhenti membahas masa lalu, karena kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Balas Hanna tak kalah ngegasnya seraya bangkit dan menatap tajam kedua manik Nayeon, berbeda dengan Nayeon yang masih sempoyongan Hanna kini tampak sudah lebih baik.


“1 hal lagi, seharusnya yang kau takuti itu bukan aku, tapi keluarga Jeno sendiri, kau fikir mereka akan dengan senang hati menerimamu sebagai bagian dari keluarganya nanti?! Tidak Nay.. pada akhirnya Jeno hanya akan dijodohkan dengan keluarga yang setara dengan keluarga mereka.” Paparnya yang membuat Nayeon kontan mengerutkan dahinya.


“apa?” sahut Nayeon yang tampak kebingungan.


Mendapati reaksi seperti itu dari Nayeon, membuat Hanna juga ikut mengerutkan keningnya.


“yak! apa yang kalian lakukan?” seru Jeno yang baru saja bergabung diantara perseteruan yang terjadi malam itu.


“kau tak memberitahunya?” tanya Hanna seraya mengarahkan pandangannya pada Jeno yang berdiri disampingnya.


“memberitahu apa?” sahut Jeno lengkap dengan raut wajah bingungnya karena baru saja datang ia langsung ditodong pertanyaan yang sama sekali tak ia mengerti mengarah kemana.


“Yak Jeno! Bukankah kau pernah bilang jika keluargamu sangat ingin sekali bertemu denganku, kau menunjukan fotoku pada mami dan kakak perempuanmu, kau bilang mereka semua menyukaiku kan?!” sambar Nayeon yang tampak cemas begitu mengetahui kebenaran lain yang disampaikan oleh Hanna beberapa menit yang lalu.


Alih-alih merespon perkataan kekasihnya, Jeno malah mengalihkan pandanganya pada Hanna. “apa yang kau katakan pada Nayeon, Hanna?!”


“lebih tepatnya kebohongan apa yang kau janjikan pada Nayeon, Jeno!” pekik Hanna yang tak kalah tajamnya.


“AARGGGHHH!!” teriak Nayeon yang tiba-tiba saja membalikan meja yang berada dihadapannya hingga semua botol yang berada dimeja pun berjatuhan menghantam lantai.


“Nayeon tenanglah aku tak bermaksud membohongimu Nay..” ucap Jeno seraya mencoba mendekati Nayeon yang masih dipenuhi aura hitam disekujur tubuhnya.


“BERHENTI!!” bentak Nayeon yang kembali mundur 1 langkah.


Nayeon mengambil pecahan botol yang berada disamping kakinya kemudian mendekatkannya ke area pergelangan tangannya (lebih tepatnya diarea urat nadinya). Yang membuat suasana kembai menegang.


Karena saat itu sudah larut, jadi tak banyak pengunjung yang berada dikedai, mungkin hanya ada 1 pasang saja yang tengah menikmati cemilan malam seusai bergelut dengan pekerjaannya seharian ini.


Tak ingin terlibat dengan situasi kacau yang tengah terjadi, para pengunjung hanya bermigrasi ke meja sudut agar tidak terkena imbas dari perseteruan yang terjadi, sembari meneruskan berbincang dengan rekan kerjanya disela menyantap cemilan malamnya dan tak ingin terpengaruh oleh kekisruhan yang terjadi.

__ADS_1


Berbeda dengan pemilik kedai, melihat mejanya dibalikan secara sadis oleh seorang gadis gila, membuat dirinya mau tak mau harus ikut melibatkan diri ke dalam perseteruan yang terjadi. Karena bagaimana pun juga hal itu terjadi didalam kedainya.


“ada apa ini? nona kau tak boleh seperti ini.” timbrung sang pemilik kedai dengan celemek yang masih melekat ditubuhnya.


“letakan pecahan botol itu Nay, aku janji, aku janji akan tetap mempertahankan hubungan kita apapun yang terjadi oke! Percayalah padaku.” Bujuk Jeno.


“DIAMLAH!!” bentak Nayeon lagi seraya mencengkram kuat pecahan beling yang berada dalam genggamannya, hingga darah segar pun mulai bercucuran membasahi lantai kedai.


“nona tanganmu berdarah, kau tidak boleh seperti ini nona, tanganmu akan terluka.” Panik sang pemilik kedai begitu melihat tetesan darah yang berasal dari telapak tangan Nayeon.


“sudah kubilang un..” belum sempat Nayeon menyelesaikan kalimatnya, seseorang yang muncul dari belakang lebih dulu memukul leher Nayeon lebih tepatnya ia memukul ke titik dimana seseorang bisa langsung tak sadarkan diri.


Begitu Nayeon akan terjatuh lelaki itu sudah siap untuk menangkap tubuh Nayeon dari belakang, bersamaan dengan terjatuhnya pecahan botol kaca yang berada dalam genggaman Nayeon.


“kak Abi.” Gumam Hanna begitu Nayeon terjatuh ke pelukan Abi yang berada tepat dibelakang Nayeon.


Abi pun mengangkat tubuh Nayeon yang sudah tak sadarkan diri. “saya akan membawa nona Nayeon ke mobil terlebih dahulu.” Ucap Abi seraya mengarahkan pandangannya pada Hanna yang masih berdiri menatapnya.


“ahh i.. iya, terimakasih, aku yang akan membereskan kekacauan disini.” Sahut Hanna.


“kau susul kak Abi.” Perintah Hanna pada Jeno, begitu Abi memutar tubuhnya dan mulai berjalan keluar dari kedai dengan Nayeon yang berada dalam gendongannya.


“tapi kau..”


“tenang aja, aku bisa membereskannya, kau pergi saja duluan.” Kata Hanna lagi.


Jeno pun bergegas pergi menyusul Abi keluar, meninggalkan Hanna sendirian yang akan membereskan kekacauan yang telah mereka perbuat.


“jadi, bagaimana nona akan membereskannya?” tanya sang pemilik kedai lengkap dengan tatapan sinisnya yang mengarah pada Hanna, Hanna hanya bisa nyengir mendengar hal itu.


Bersambung...

__ADS_1


***


 


__ADS_2