
“apa?!
Lantas apa tujuan sebenarnya dia melakukan hal se ekstrim itu. Kau bahkan hampir terbunuh oleh penembak runduk. Jika dugaanmu benar, sebaiknya kau berhenti mengusiknya Ahreum, aku takut itu hanya akan menjadi boomerang bagimu.” Pinta Hanna seraya memegang erat kedua bahu Ahreum lengkap dengan tatapannya yang dalam.
“kau tahu diriku yang sebenarnya bukan?” respon Ahreum seraya menepis pelan kedua tangan Hanna dari bahunya. “aku bahkan bisa lebih menyeramkan darinya, Hanna.” Imbuh Ahreum dengan sorot mata tajamnya sebagai tanda jika dirinya bersungguh-sungguh ingin mengorek identitas gadis misterius tersebut.
“tapi Ahreum..”
Tookkkk!! Tookkk!! “apa yang kalian lakukan didalam, hah?! Ahreum buka pintunya!!”
Mereka berdua pun hanya bisa menghela nafas pasrahnya kala suara ketukan pintu nyaring terdengar dari balik pintu, tanda percakapan mereka mau tak mau harus berakhir sampai disini.
“aughhh!! Pria itu benar-benar menyebalkan.” Gerutu Hanna seraya melirik ke arah pintu kamarnya.
“aku akan tetap pada rencana, begitu Ansell berangkat ke Amerika, aku juga akan pergi ke kota xxx.” Teguh Ahreum yang kemudian bangkit dari tepi ranjang dan mulai menarik langkah mendekat ke arah pintu.
“aku ikut..” seru Hanna seraya menahan sejenak lengan Ahreum hingga membuat keduanya saling melempar tatapan sesaat.
“aku tak akan mungkin membiarkanmu mengatasinya sendirian.” Sambung Hanna lagi mantap seraya menyunggingkan senyum tulusnya.
“YAK!! APA KALIAN TULI!! CEPAT BUKA PINTUNYA!! APA YANG KALIAN RENCANAKAN DIDALAM!!” teriak Ansell yang semakin menjadi-jadi.
Ceklek.. pintu pun terbuka, hampir saja kepalan tangan Ansell mendarat dikening Ahreum kala gadis tersebut menarik handle pintu.
“hmm.. bisa santai sedikit gak Ansell?” ucap Ahreum yang kemudian menurunkan kepalan tangan Ansell yang berada tepat didepan wajahnya.
“Iya nih! Baru juga ditinggal berapa menit doang. Lebay banget sih!” dengus Hanna. “minggir..” tambahnya lagi seraya mendorong tubuh Ahreum keluar agar dirinya bisa melangkah lebih dulu.
“apa yang kalian berdua rencanakan?!” pekik Ansell yang membuat Hanna pun menghentikan langkahnya sejenak kemudian kembali memutar tubuhnya ke belakang.
“tidak ada kok, aku hanya mendiskusikan sesuatu aja dengan Hanna, hanya masalah perempuan aja.” Dalih Ahreum seraya menyunggingkan senyum palsunya.
“gak usah ikut campur, lagipula seorang istri juga butuh privasi, ga semua hal mesti diceritakan pada suaminya.” Timpal Hanna yang malah membuat suasana semakin memanas.
“dengar Ahreum! Aku tak suka kau berteman dengannya, dia akan membawa pengaruh buruk padamu.” keluh Ansell seraya memandangi manik istrinya itu lekat dan mengabaikan Rihanna.
“aughhh!! Si***al!!” umpat Hanna jengah seraya melipat kedua tangan diatas dada dan memutar bola matanya.
“Sial kau bilang?!
Berani sekali kau mengumpatku.” Pekik Ansell lengkap dengan tatapan tajam setajam silet.
Namun alih-alih merasa terintimidasi Hanna malah membalas tatapan tajam Ansell tanpa rasa takut sedikitpun.
__ADS_1
“sudah cukup hentikan.” Ucap Ahreum menengahi seraya menggenggam erat lengan suaminya.
“Yak! kau memihak padanya Ahreum!” ketus Ansell seraya melepas paksa genggaman Ahreum dan beralih menatapnya sebal.
“bukan begitu..” sanggah Ahreum namun Rihanna kembali ikut bersuara.
“tentu saja dia akan memihakku!! Memangnya kau siapa?
Jika bukan karena perjodohan, kalian mungkin tidak akan pernah bertemu. Dan Ahreum akan menemukan pria yang 100 kali lebih baik darimu tau!”
“Apa katamu!!
Yak! Jaga bicaramu Rihanna, atau aku akan menggunakan kekuasaanku untuk membuat hubunganmu dengan Abi berakhir!!” ancam Ansell dengan pandangan menyalak seakan ingin melahap Rihanna hidup-hidup.
“breng***sek!! Hal buruk apa yang sebenarnya kau lakukan dimasa lalu Ahreum, hingga kau mendapatkan suami seperti dirinya!!” balas Hanna seraya melirik ke arah Ahreum yang sudah frustasi menghadapi pertikaian yang selalu saja terjadi dihadapannya.
“baiklah, kalian teruskan saja, aku benar-benar lelah dan lapar. Bye.” Pamit Ahreum yang menyerah dan melenggangkan kakinya meninggalkan suami dan karibnya yang masih tampak bersitegang tak ada yang mau mengalah.
“YAK!! tunggu Ahreum!!” panggil Ansell yang lantas memilih mengejar istrinya dibanding terus melayani tatapan tajam Hanna.
Disusul dengan Hanna yang juga ikut berlari kecil, begitu Ansell berjalan melewatinya.
“Ahreum..” panggil Ansell lagi seraya menggenggam lengan istri mungilnya itu yang melangkah dengan cepat menuju tempat dimana karibnya yang lain sudah berkumpul.
“hmm.. bisakah kau berhenti bertengkar dengan teman-temanku.” ucap Ahreum ditengah perjalanannya.
“bukan begitu Ansell..”
“ciihhh!!” dengus Ansell kesal seraya melepas genggamannya kemudian mempercepat langkahnya dan meninggalkan Ahreum yang bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Sementara itu Ahreum hanya bisa menghembuskan nafas dan menggeleng kepala, mencoba bersabar menghadapi peringai buruk suaminya.
“aughh!! bagaimana kau bisa berakhir dengan pria seperti itu Ahreum. Kau yakin bisa menanganinya?” celetuk Hanna yang berhasil menyamai langkahnya dengan Ahreum.
“berhenti memancing emosinya Hanna.” Respon Ahreum seraya melirik sesaat ke arah karibnya yang kini tengah berjalan bersamanya.
“aiisshh!! Saat aku beradu mulut dengan Nayeon, kau selalu berada dipihaknya begitupun dengan Ansell. Kau ga asyik sekali Ahreum!” kesal Hanna yang kemudian mengambil langkah panjang dan ikut meninggalkan Ahreum.
Ahreum menghentikan langkahnya sejenak. “huffftt.. Ampuni aku ya Tuhan atas segala dosa-dosaku dimasa lalu. Atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.” Ucapnya lengkap dengan gerakan salib pada umumnya, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju pekarangan Villa setelah berdoa dan menghela nafas beratnya.
***
Area pekarangan belakang Villa.
__ADS_1
Tampak semuanya sudah duduk ditempatnya masing-masing kecuali Ahreum yang masih berjalan santai menuju tempat yang masih kosong disamping Ansell.
“udah pada mateng Frank?” tanya Ahreum seraya mendudukan bokongnya.
“udah dong, kau abis ngapain, lama amat.” Sahut Franky seraya melahap daging sapi yang berada diatas panggangan ke mulutnya yang lebar.
“ngapain nanya-nanya?! Bukan urusanmu.” ketus Ansell lengkap dengan lirikan tajamnya.
Ahreum menggaruk sudut alisnya meski sebenarnya tidak gatal, sebagai ungkapan rasa frustasinya menghadapi suaminya yang emosian.
“oke.. oke.. sory hehe.” Cengir Franky. “apa suaminya Ahreum cemburuan sekali?” bisik Franky pada Nayeon yang tengah menikmati makan malamnya setelah beberapa waktu lalu menangis sejadi-jadinya.
“Iya, bukan hanya itu, dia juga sangat protective sekali, lebih seperti dictator.” Balas Nayeon yang juga berbisik pada Franky.
“Yak!! Aku mendengarnya!!” pekik Ansell bersamaan dengan hentakan tangannya diatas meja membuat semua orang terkejut.
“kau ken..” belum sempat Hanna meracau, Abi keburu membungkan mulutnya dengan daging sapi yang cukup besar hingga membuat dirinya sulit berbicara.
“ssttttt..” Abi menempelkan jari telunjuknya dibibirnya kala Hanna melempar tatapan sebalnya pada Abi.
“aaaaaaa…” ucap Ahreum seraya menyodorkan selembar daging sapi yang sudah dibalut dengan selada ke hadapan mulut suaminya.
“ayoo dong buka mulutmu, tanganku pegal nih..” rengek Ahreum yang mencoba menstabilkan kembali emosi Ansell yang kian tak terkendali.
Ansell pun akhirnya membuka mulutnya lebar setelah menghembuskan nafas kasarnya. Disusul dengan senyum Ahreum yang mengembang kala suapannya telah mendarat didalam mulut suaminya.
“aku mau pajeon.. (pancake daun bawang)” pinta Ansell disela kunyahannya.
“hehehee, oke. Apa sih yang ngga untuk suamiku.” Goda Ahreum yang akhirnya berhasil meredam emosi lelaki berdarah dingin itu, ia pun lantas meraih sendok yang berada diatas piringnya kemudian membawa sesuap pajeon ke dalam mulut suaminya.
“eoohhh..” cibir Hanna yang geli melihat interaksi antara Ahreum dengan Ansell.
“sweet banget sih, andai aja ada Jeno disini.” Gumam Nayeon seraya menghembuskan nafasnya.
“kan ada aku Nay.” Celetuk Franky lengkap dengan senyum lebarnya.
“ciihhhh..
Btw.. kau tidak merasakan sakit-sakit gitu Frank disekujur tubuhmu?” ujar Nayeon yang tentu saja langsung membuat semua yang mendengarnya melempar tatapan serius padanya, seakan tengah menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai pertanyaan yang dilontarkannya barusan.
“sakit? Kenapa?” sahut Franky.
“sakit karena kebanting oleh ketampanan Ansell dan kak Abi.” Lanjut Nayeon.
__ADS_1
“AAhhhhaahahhahahaaa!!!!” gelak tawa Ansell pecah kala Nayeon melontarkan lelucon yang menusuk pada Franky.
Bersambung...