Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 158


__ADS_3

Dipusat kota.


Setelah sambungan telfon terputus Hanna pun kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.


“benarkan dia gadis yang pernah dikucilkan itu, yang ayahnya seorang gangster.” Celetuk seseorang yang berjalan bersama dengan temannya melewati keberadaan Rihanna.


“iya, memangnya siapa lagi. Sepertinya dia mewarisi kekuatan ayahnya hahaha.” Balas temannya sembari cengengesan.


“yak!” bentak Hanna seraya menoyor kepala kedua gadis tersebut, sontak saja kedua gadis itu berputar serempak untuk melihat siapa orang yang sedang mencari gara-gara dengan mereka.


“apa sih lo! Kenal juga kaga maen toyor aja seenak jidat lo!” geramnya seraya mendorong keras  bahu Hanna lengkap dengan sorot mata penuh amarahnya.


Sementara 1 temannya lagi hanya mengusap bagian kepalanya yang sebelumnya ditoyor oleh Hanna sembari menatap Rihanna dengan tatapan anehnya.


“dimana gadis yang kau bicarakan tadi!” balas Hanna tak kalah garangnya ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk membuat kedua gadis itu merasa terintimidasi.


“aughh shi**ttt!! Jadi kau temannya si anak mafia itu!!” sahutnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


Sedangkan 1 temannya hanya terdiam sembari memantau keadaan sekitar, karena banyak sekali masyarakat yang tengah berlalu-lalang membuat mereka kini menjadi pusat perhatian, dan tak sedikit juga yang mulai memvideokan perseteruan yang terjadi diantara mereka.


“iya!! Lantas kau mau apa hah?!!” seru Hanna lantang seraya membalas dorongan bahu gadis tersebut.


“Elea sudahlah, tak baik jika diteruskan, banyak orang yang memvidokan sekarang.” bisik 1 temannya yang mencoba menengahi diantara keduanya karena tak ingin situasi semakin tak terkendali.


“Nayeon ada di T*me zone. Disudut jalan sana.” Katanya lagi seraya menarik lengan temannya yang masih emosi untuk menjauh dari Rihanna.


“sudah cukup, jika wajahmu virall itu hanya akan membuat situasi sulit untuk ayahmu. Kau tak ingat sebentar lagi ayahmu akan mencalonkan diri sebagai Gubernur.” ujarnya lagi seraya mengusap punggung temannya untuk mencoba meredam amarah temannya itu yang masih sesekali menengok ke arah Rihanna.


Tanpa menunggu lagi Hanna pun bergegas pergi menuju lokasi yang disebutkan oleh salah satu gadis yang ditoyor olehnya barusan, dan berharap jika karibnya itu masih ada dilokasi yang disebutkan tadi.


Sesampainya di T*me Zone.


Begitu Hanna mendorong pintu kaca dan hendak masuk ke dalam, kedua matanya berbinar begitupun dengan bibirnya yang mengembang kala menemukan Nayeon tengah meninju mesin arcade boxing dipojokan.


“ciihhh..

__ADS_1


Tentu saja dia bisa mencapai angka tertinggi, bagaimana tidak, kan ayahnya seorang mafia. Dia pasti mewarisi kekuatannya itu dari ayahnya haha.” Ledek seseorang seraya melirik sesekali ke arah Nayeon berada sembari terus mencoba memasukan bola basket ke dalam ring.


“kau mengenalnya?” sahut temannya yang lain yang juga tengah fokus memasukan bola basket ke dalam ring disamping temannya tersebut.


“hmm.. tentu saja. Dia gadis yang menyedihkan dari kelas kami, karena tak ada yang berani mendekatinya, dia selalu sendirian. Bahkan kalau ada pelajaran yang mengharuskan kami membuat kelompok. Dia tetap sendiri. karena tak ada 1 pun dari kami yang mau menerima gadis mengerikan itu. hihihi.” Celetuknya lagi lengkap dengan tawa mengejeknya.


…..


“Nay..


Ayo kita pulang, sudah larut. Aku mencarimu kemana-mana sejak tadi.” Ujar Hanna begitu langkahnya sampai ditempat Nayeon berada.


“kau menghilang begitu aja. Kukira kau meninggalkanku.” Respon Nayeon yang kemudian kembali meninju samsak yang berada dihadapannya dengan segenap kekuatan yang ia miliki hingga mendapatkan nilai 878 poin, cukup tinggi untuk ukuran seorang gadis kurus seperti Nayeon.


“kau tak ingat, wajahku belepotan ice cream karenamu tau. Jadi aku beli tisu dulu ke toko klontong, saat aku kembali kau sudah tidak ada. Ayoo.. kita harus cepat-cepat keluar dari sini.” Ajak Hanna seraya menarik lengan Nayeon dan bergegas pergi.


“ada apa sih, buru-buru banget. Santai aja bisa kan.” keluh Nayeon ditengah perjalanannya menuju pintu keluar.


“tidak bisa, ayooo cepat!!” seru Hanna lagi yang semakin mempercepat langkahnya.


“duuhh.. apa sih ini kok bisa tali sepatuku terikat dikaki mesin?! Mana sakit banget lagi lututku hiksss..” rengek gadis tersebut seraya meratapi kondisi sepatunya yang terikat mati dengan kaki mesin.


Yang dimaksud terikat mati adalah ikatan yang kuat dan tidak mudah dilepaskan, solusi satu-satunya untuk melepas tali mati adalah dengan menggunting tali tersebut.


“kurasa gadis itu deh Mon, karena kulihat tadi dia jongkok lama sekali disampingmu.” Celetuk temannya seraya menunjuk ke arah Hanna yang masih berdiri diambang pintu tengah memperhatikan keduanya dari jauh.


Sadar dirinya telah ketahuan, Hanna pun lantas mengambil langkah 1000 untuk meninggalkan tempat tersebut, seraya masih menggenggam erat lengan karibnya yang tampak kebingungan dengan situasi yang terjadi.


Setelah dirasa cukup jauh, akhirnya Hanna pun menghentikan laju larinya seraya mencoba menstabilkan kembali pernafasannya.


“huhh.. haah.. kau kan.. hah.. yang jahil.. huh.. pada gadis itu.” tuduh Nayeon dengan nafas yang masih terengah-engah seraya memegangi bagian pinggangnya.


“huh.. hah.. tidak, jahil huh.. apanya.. hah.. hehe?” dusta Hanna dengan diselingi tawa cengengesannya.


“astaga.. kau.. kekanak-kanakan sekali.” kata Nayeon seraya menggeleng kepalanya.

__ADS_1


“Rihanna..” panggil seseorang dari belakang yang membuat keduanya pun langsung memutar tubuhnya serempak.


“kak Abi.” Respon Hanna dengan senyuman yang mengembang menghiasi wajah cantiknya.


“kenapa kak Abi bisa ada disini?” imbuh Nayeon yang kebingungan mendapati asisten Ansell tersebut yang tiba-tiba muncul dari belakangnya, masih dengan setelan jas rapih bernuansakan biru tua.


“untuk menjemputku dong, hehe. Iya kan bep.” Celoteh Hanna manja seraya mencubit pipi Abi gemas.


Situasi yang membuat Nayeon kembali mengerutkan dahinya.


“kau sudah menemukan nona Nayeon.” Ucap Abi lembut seraya melepaskan cubitan manja Hanna dari pipinya.


“he’em, dia malah asyik main tinju-tinjuan di T*me zone. Ciihhh.. gak perduli dengan orang yang mencarinya kesana kemari. Aku bahkan sudah berfikiran buruk tentangmu tau!” geram Hanna dengan tatapan sinisnya.


“tunggu sebentar.. jadi kau menghubungi kak Abi tadi?” ujar Nayeon seraya melirik ke arah Abi sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada karibnya yang tengah memasang wajah masam dan melipat kedua tangan diatas dadanya lantaran masih kesal terhadap Nayeon yang menghilang tiba-tiba.


“iyalah, memangnya kenapa?” ketus Hanna.


“ahh iya, bagaimana dengan makan malamnya?” tanya Hanna yang langsung beralih pada Abi kala ia tersadar akan janji makan malam yang ditawarkan Abi pada siang hari.


“amm itu.. karena aku takut akan memakan waktu lama untuk mencari nona Nayeon, jadi aku sudah membatalkannya. Gak apa-apa ya?


Bisa lain hari kita kesana. Ada salam dari Bunda Anna untukmu.” Ucap Abi masih dengan nada yang sama sembari mengusap lembut bagian atas kepala Hanna, yang membuat Nayeon lagi-lagi mengerutkan dahinya karena merasa awkrdd dengan situasi aneh yang kini terjadi dihadapannya.


“he’em. Kalau begitu aku ingin makan ramyeon aja sekarang, ramyeon bludak yang ada didepan SMA ku dulu. Hehe.” Seru Hanna seraya menautkan tangannya ke dalam siku Abi.


Abi pun mengangguk tanda ia setuju dengan keinginan kekasihnya itu, kemudian mulai berjalan menuju keberadaan mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya kini.


“yak! kau akan terus diam disitu, ayoo!!” seru Hanna yang kembali berbalik dan menatap ke arah Nayeon yang masih terdiam tak bergeming seakan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.


Sampai akhirnya Hanna sendiri yang kembali menarik lengan Nayeon untuk ikut bersamanya.


Iya tangan kanan ia tetap tautkan pada sikut Abi sedang 1 lainnya menggenggam erat lengan karibnya.


*** 

__ADS_1


__ADS_2