Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 152


__ADS_3

Dirumah sakit Haneul Jakarta.


Seperti biasa suasana rumah sakit dipagi itu masih ramai dengan sejumlah pasien dan juga pengantarnya, ada yang berlalu lalang disekitaran meja perawat ada juga yang tengah duduk manis dikursi panjang untuk menunggu giliran antriannya.


Tak hanya para pasien yang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, para perawat dan juga staff non medis lainnya terlihat begitu fokus menjalani tugasnya hari ini untuk melayani para pasien yang semakin bertambah disetiap jam nya.


Disalah satu meja perawat yang menangani pasien anak-anak. 1 perawat baru saja bergabung seraya membawa beberapa berkas dalam dekapannya kemudian duduk dikursi yang berada disebelah rekan perawatnnya yang lain.


Setelah beberapa detik mendudukan bokongnya dikursi perawat itu pun menghembuskan nafas berat seraya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan kasar, membuat 2 teman perawatnya yang berada disisi kiri dan kanan meliriknya secara bersamaan.


“ada apa sih?” tanya 1 temannya sementara 1 temannya yang lain kembali memfokuskan pandangannya pada berkas pasien yang mesti cepat-cepat ia isi.


“kenapa sih dokter El mesti membawa putrinya yang nakal itu. Padahal aku menginginkan pagi yang damai dan menyenangkan hari ini karena akhirnya aku bisa berpasangan dengan dokter El. Huffftt..”


“eyyy.. Seharusnya kau tak boleh begitu, kalau kau menyukai ayahnya kau juga harus menyukai putrinya bukankah itu hal dasar yang harus kau ketahui. Jika kau tak ingin direpotkan, pilih pria yang lajang aja.” Nasehat temannya seraya kembali dengan aktifitasnya.


“yaa tapi kann!!


Gadis kecil itu benar-benar menyebalkan, masa dia bilang aku kayak badut hanya gara-gara aku merias wajahku sedikit. Menurutku ini riasan natural kok, coba liat deh, benar kan ini ga terlalu berlebihan?!” rengeknya seraya kembali menegakan tubuhnya dan menarik lengan kedua temannya untuk melihat ke arahnya dan meminta penilaian mengenai riasan natural diwajahnya.


“kau pakai shadow?


Dan apa ini merah dibawah mata, Kau pakai blush on dibawah matamu? bukankah tempat blush on itu dipipi ya.”  Komen 1 temannya yang lain seraya mencolek bagian yang terkena blush on dengan jemari telunjuknya untuk memastikan jika warna merah tersebut adalah benar blush on.


“aiissshh!! Ini tuh trend korea tau! Memang pakainya dibawah mata untuk memberikan kesan fresh gitu. Kau norak banget sih gitu aja ga tau.” Celetuknya lengkap dengan wajah julidnya karena diberikan komen negative seperti itu.


“kau yang norak, pekerjaan kita untuk melayani orang-orang yang memiliki masalah dengan kesehatan, bukan ingin menghibur. Jika ingin terlihat fresh cukup pakai lipstick tipis saja gak perlu pakai shadow, eyeliner, bulu mata palsu dan blush on. Mau ngelenong emangnya?! Aughhh..” tambah 1 temannya yang lain seraya menggeleng kepala kemudian beranjak dari kursinya untuk kembali memulai dengan rutinitasnya sehari-hari.


Sementara itu temannya yang lain terlihat cekikan selagi perawat yang memakai riasan itu merenungi kalimat panjang lebar dari temannya yang telah pergi.


Selang tak berapa lama tiba-tiba saja seorang gadis kecil muncul dari samping mejanya kemudian menatap lurus ke arah perawat yang tadi membicarakannya.

__ADS_1


Iya ternyata sedari tadi Xena bersembunyi disamping meja perawat dengan berjongkok dan menyimak dengan khusus setiap kalimat keluhan yang dilontarkan oleh perawat yang sempat menjaganya beberapa jam yang lalu.


Sontak kedua perawat itu pun membulatkan matanya kala Xena kecil muncul dengan tatapan penuh amarahnya.


“Xe.. Xenaa.” Ucap perawat yang berdandan menor itu, ia benar-benar tak menduga jika gadis kecil itu ternyata mengikutinya sedari tadi.


Xena pun lantas berlari setelah menatap sang perawat cukup lama bahkan tanpa mengatakan 1 kata pun.


“yak! cepat kejar dia.” Seru temannya seraya menyikut lengan perawat menor itu.


“aiissh.. mati aku.” Gumamnya seraya beranjak dari kursi kemudian pergi berlari mengejar gadis kecil yang tengah merajuk.


***


Area pemancingan xxx.


Tampak Jeno dan Bennedict yang sudah nangkring dikursi yang berada ditepian sungai. Begitu memastikan keberadaan karib dan kakaknya ia pun lantas bergegas menghampiri mereka berdua.


Ahreum pun menatap lekat ke arah Jeno yang tengah bersandar dikursinya selagi menunggu pancingannya bereaksi.


“aku hanya menemani kak Ben aja.” Sahutnya santai seraya memasukan kedua tangannya ke dalam jaket tebalnya karena memang suasana disana sangat dingin sampai jika kita bicara ada asap tebal yang keluar dari mulut. 


“kau mulai merokok lagi?” tanya Ahreum yang melihat Jeno mengeluarkan 1 bungkus rokok serta pemantiknya dari saku jaket tebalnya.


“hmm..” Jeno hanya meresponnya dengan dehaman seraya menarik sebatang rokok dari wadahnya kemudian ditaruhnya diantara kedua bibirnya dilanjut dengan menyulutnya dengan pemantik api.


“kau tidak menyapa kakakmu.” Timbrung Bennedict yang seakan diabaikan oleh adiknya sendiri.


“ahh iya, aku hampir lupa jika ada kakak disini juga hehe.” Cengir Ahreum seraya memutar tubuhnya ke arah kakaknya yang tengah fokus memandangi sungai yang terbentang luas didepannya.


“ciihh..

__ADS_1


Kau mau coklat panas?” tawar Benn yang beralih dari pancingannya sejenak untuk menuangkan coklat panas dari termos kecil yang dibawanya ke dalam cangkir plastic.


“boleh, banyak sekali yang kakak bawa, ada peralatan memasak juga ternyata. Memangnya kakak yakin akan mendapat ikan hari ini?” celetuk Ahreum dengan nada yang terdengar seperti meremehkan.


“kau ini, berfikiran sempit sekali. Jika kita tidak dapat ikan dari sungai, kita bisa membelinya disana.” Jawab Bennedict percaya diri seraya menunjukan tempat yang dirinya maksud dengan sorot matanya selagi menuangkan coklat panas untuk adik perempuannya itu.


“hahahaa.. kalau begitu dari awal saja kita beli disana, daripada lama nungguin yang gak pasti iya kan.” balas Ahreum dengan diiringi tawa renyahnya.


“apa kau mengerti konsep sebuah perjuangan? Kau mesti berjuang sampai titik darah penghabisan sebelum akhirnya kau menyerah.” Katanya lagi seraya memberikan cangkir yang sudah berisikan coklat panas pada adiknya.


“wkwkwk.. tapi seharusnya kita bisa realistis dan melihat kemungkinan mana yang lebih dominan terlihat. Kemenangan atau kegagalan.” Sahut Ahreum ditengah aktivitas meniup coklat panasnya sebelum mulai menyeruputnya secara peralahan.


“apa kau menyindirku?” sambar Jeno setelah membuat beberapa bentuk asap rokok dengan mulutnya yang dimonyong-mongongkan.


“uppss sory, kalau kau tersindir hehee.” Respon Ahreum lengkap dengan wajah julidnya.


Jeno pun menghentakan ujung rokoknya ke atas asbak yang ia letakan bawah disamping kursinya. Sebelum kembali melakukan percakapan dengan Ahreum.


“sebaiknya kau berhenti merokok Jeno, rokok tidak baik untuk kesehatanmu.” Nasehat Bennedict pada Jeno yang kembali menghisap rokok yang berada diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.


“Iya nih, apa kau seperti ini karena berpisah dengan Nayeon?” tebak Ahreum.


“ciihhh.. memangnya kapan aku pernah galau hanya karena putus dengan seorang gadis.” Celotehnya masih dengan menikmati manisnya sebatang rokok dimulutnya.


“lantas kenapa kau mulai merokok lagi?”


“memangnya kapan Jeno mulai merokok?


Selama ini kakak gak pernah melihat Jeno merokok, apa kau merokok diam-diam dibelakang kedua orang tuamu saat SMA?” timbrung Bennedict sebelum Jeno sempat menjawab pertanyaan Ahreum tentang alasannya kembali menyentuh hal yang bisa mempengaruhi kesehatannya.


“Jeno pertama kali merokok saat tragedi dimalam itu kak, yang membuat kak Winter dirawat selama berminggu-minggu dirumah sakit. Katanya sih merokok bisa meredam beban difikirannya, tapi gak lama sih hanya bertahan selama 1 bulanan.” Jelas Ahreum yang mewakili Jeno untuk menjawab rasa penasaran Bennedict.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2