
Keesokan paginya.
Ceklek…,
Mendengar suara pintu kamar terbuka, refleks semua yang berada dalam ruangan pun menoleh ke arah pintu, kemudian disusul dengan kemunculan Carrisa yang membawa bucket bunga besar, ia perlahan masuk ke dalam diiringi senyum tipisnya lantaran takut jika besannya itu langsung mengusirnya.
“ha.. halo semuanya,” sapa Carrisa ragu-ragu.
“halo tante,” balas Hanna yang langsung bangkit dari ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Ahreum.
Sedang Enzy yang saat itu tengah terduduk dikursi disamping ranjang putrinya sembari mengupas buah apel hanya tersenyum ramah menanggapi sapaan teman baiknya itu.
“taruh disana aja tante,” pinta Rihanna seraya menunjuk sebuah nakas yang berada disudut ruangan.
“hmm, i.. iya,” Carrisa tergagap sebelum akhirnya menarik langkah menuju nakas untuk menaruh bucket bunga yang dibawanya.
“Aku keluar sebentar bu,” ujar Bennedict yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Carrisa, ia pun lantas memutuskan untuk pergi dari ruangan.
“mau kemana Ben?” sahut ibunya seraya menghentikan sejenak aktivitas mengupas buahnya.
“mau makan dulu,
Kau tak akan ikut?” tanya Bennedict yang mengalihkan pandangannya pada Rihanna setelah menjawab pertanyaan ibunya.
“ikut dong, tunggu!” kata Rihanna yang kemudian menyambar ikat rambutnya yang ia letakan diatas nakas disamping ranjang tidurnya, kemudian mengikat rambutnya ala ekor kuda selagi kakinya sibuk mencari sandal dan berlari kecil mengejar Bennedict yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan.
“Putra sulungmu benar-benar mengerikan ya jika sedang marah,” celoteh Carrisa lirih seraya menatap pintu yang sebelumnya dilalui oleh Bennedict, kemudian berjalan menghampiri karibnya yang tengah menyuapi putrinya sepotong buah segar.
“hmm, bahkan dia lebih mengerikan dari ayahnya,” sahut Enzy.
“kau sudah lebih baik Ahreum?
Huffft, malang sekali nasibmu sayang, maafkan putra mama ya,” ucap Carrisa seraya mendudukan bokongnya dipinggir ranjang lalu meraih kedua lengan Ahreum yang masih tampak menikmati potongan buah segar yang terus disuapi oleh ibunya.
__ADS_1
“mama juga gak tahu apa yang sebenarnya merasuki fikiran Ansell hingga tega melakukan hal ini padamu, maafkan mama ya sayang, mama benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain meminta maaf padamu,” sambungnya dengan nada lirihnya.
“maah,” ucap Ahreum yang akhirnya bersuara setelah menelan habis potongan buah yang memenuhi mulutnya.
“hmm,” respon Carrisa lengkap dengan senyum simpulnya seraya mengusap lembut punggung tangan menantunya.
“Aku baik-baik saja, anggap saja ini hanyalah ujian untuk pernikahanku dengan Ansell. Ansell tidak benar-benar melukaiku seperti yang mama bayangkan, kita memang sedang terlibat konflik yang cukup rumit, mungkin karena dia sedang dikuasai amarah saat aku hendak meraih tangannya secara refleks dia menepisnya. Dan seperti yang mama lihat tubuhku sangat kurus bahkan sedikit doronganpun bisa membuatku terlempar sangat jauh.
Itulah yang membuatku mendapat luka memar seperti ini karena tubuhku membentur meja mah, bukan seperti KDRT sungguhan yang suka mama lihat di sinetron hehee.” Papar Ahreum dengan diakhiri senyum manisnya hingga membuat Carrisa yang mendengarnya pun terenyuh dan menitikan air mata harunya.
“bahkan setelah rasa sakit yang telah Ansell berikan, kau masih tetap memihaknya, terimakasih, terimaksih Ahreum, karena sudah mencintai putra mamah sepenuh hatimu dan juga maafkan mama,” tuturnya lagi yang kemudian menarik tubuh Ahreum masuk ke dalam pelukan hangatnya.
“Iyaa mah, aku sudah memaafkannya kok, sudah mama jangan nangis lagi dong, hehee. Lagipula aku juga sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Ansell,” ungkap Ahreum seraya menepuk-nepuk punggung mamanya agar berhenti menangis.
Sementara Enzy hanya bisa menghela nafas panjang ditengah keharuan yang terjadi antara Ahreum dan karibnya.
...****************...
Hingga tanpa terasa bulir bening mengalir dari sudut mata Abi karena tak kuasa menahan emosionalnya.
“sreeekk, sreeekkk…,” Abi menarik kembali ingus yang hampir keluar dari lubang hidungnya, sontak saja hal itu langsung menarik perhatian Ansell.
“Apa yang kau lakukan?” sinis Ansell.
“Hatimu tidak tersentuh mendengar ungkapan kasih sayang nona Ahreum padamu, Ansell? nona Ahreum benar-benar tulus mencintaimu,” ocehnya seraya menyeka air matanya.
“Aku tidak bisa fokus mendengar Ahreum bicara jika kau menarik ulur ingusmu itu disampingku!” ketus Ansell yang kemudian menarik earphone yang sedang dipakai Abi dan menyantolkannya ke telinganya, lalu memutar tubuhnya dan membelakangi Abi.
“astaga,” Abi hanya menghela nafas panjang menghadapi sikap kasar karibnya itu yang memang tidak akan pernah bisa berubah sampai kapanpun.
“Aku mau pulang dulu, kau ingin ku belikan apa nanti?” tambah Abi seraya merapihkan kaos oblongnya.
__ADS_1
“pudding strawberry,” sahut Ansell yang masih terfokus pada layar tablet yang tengah menayangkan wajah cantik nan mungil istrinya.
“bukannya kau tak suka strawberry,” timpal Abi lagi seraya mengeritkan keningnya kemudian meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
“untuk istriku, bodoh!” ketus Ansell yang semakin membuat Abi geram dengan sikap angkuhnya.
Meskipun begitu memangnya Abi bisa apa, dia hanya mencoba sabar, menggeleng kepala seraya menghembuskan nafas kasarnya.
“Ahh iya, jangan lupa siang nanti kau ada meeting zoom dengan nona Cassandra, aku sudah menyiapkan semua berkas yang kau butuhkan diatas meja, tinggal kau tinjau ulang saja,” Abi mengingatkan jadwal padat atasannya itu, meski sedang berada dirumah sakit pun tak lantas membuatnya terbebas dari beban pekerjaan yang cukup menguras otak.
“aisshh!!!” dengus Ansell seraya memutar balik tubuhnya dan menatap Abi tajam.
“sudah kubilangkan, aku hanya akan berbisnis dengan pak Jansen, bukan putrinya, apa kau tak menyampaikannya dengan benar?!” keluh Ansell seraya membanting tabletnya ke atas ranjang, dan melipat kedua tangan diatas dadanya.
“Justru itu, pak Jansen sudah mengalihkan proyek ini pada nona Cassandra, jika kau tidak bisa bekerja sama maka proyek ini akan dibatalkan. Kenapa?
Apa kau merasa tidak sanggup bertemu dengannya karena wajahnya mengingatkanmu kembali pada mendiang nona Ilona?
Kau masih belum bisa melupakannya juga, Ansell?” tuding Abi.
“tidak, bukan begitu, aku hanya merasa tak nyaman saja berada didekatnya, tatapannya benar-benar menyiratkan sesuatu, seperti de ja vu,” ungkap Ansell ditengah helaan nafasnya.
“iya itu artinya kau masih terbayang-bayang nona Ilona, hatimu belum pulih sepenuhnya Ansell, karena kau masih terasa sakit ketika melihat wajah yang mirip dengan nona Ilona,” kekeh Abi yang kemudian meraih gelas yang berisikan air mineral diatas nakas, kemudian meneguknya beberapa kali selagi menunggu Ansell merepon perkataannya.
“kubilang tidak ya tidak!!
Bukan perasaan seperti itu yang ku rasakan, aarrghh!! Sudahlah kau tak akan mengerti, sudah sana pergi!!” tukas Ansell tajam yang kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya yaitu mengamati istri tercintanya dari layar tabletnya.
“hmmm…,” lagi-lagi Abi hanya bisa menggeleng kepala dan menghela nafas panjang sebelum akhirnnya pergi meninggalkan ruangan Ansell.
...****************...
Bersambung…
__ADS_1