
1 jam kemudian, tiba saatnya Ansell dan Abi berangkat tepat pukul 06:30 WIB.
Terlihat semua orang termasuk para pelayan sudah berjejer dipekarangan depan Villa untuk melihat kepergian majikannya.
Ansell mengerutkan dahinya kala para pelayan dan teman-teman istrinya itu berdatangan dari balik pintu utama Villa, lantaran situasi ini cukup canggung dan membuatnya curiga sebab baginya hanya dengan istrinya yang melihat dirinya pergi pun sudah cukup.
Orang-orang yang tak penting tak perlu ikut-ikutan memberikan perhatian lebih padanya.
“kau tidak merencanakan sesuatu yang buruk kan?!” tanya Ansell lengkap dengan tatapan yang dipenuhi kecurigaan terhadap istrinya yang tengah merapihkan dasi suaminya itu.
“ehehee.. enggak dong. Naah sudah rapih, sekarang waktunya kau pergi.” Ucap Ahreum begitu menyelesaikan tugasnya sebagai istri yang berbakti, ia menepuk-nepuk area bahu Ansell untuk sekedar menepis debu halus yang bersarang dijas suaminya itu.
Namun alih-alih memutar tubuhnya dan menarik langkah menuju mobil, Ansell malah masih terdiam sembari menatap tajam manik istrinya seakan ia tidak percaya sama sekali dengan senyuman istrinya yang dipenuhi misteri.
“sudah.. Jangan berfikir yang macam-macam, sebaiknya kau pergi sekarang, atau kau akan terlambat.” Ujar Ahreum seraya memutar paksa tubuh suaminya yang besar kemudian mendorongnya agar mulai berjalan menuju keberadaan mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya kini berdiri.
Sedangkan disisi lain Abi tampak tengah berpamitan dengan kekasihnya dengan kecupan didahi lalu diakhiri pelukan hangat sebelum Abi pergi meninggalkannya. Dan menyusul atasannya yang kini sudah menempati kursi dibelakang pengemudi.
Iya begitu Ansell mendudukan bokongnya dikursi dan Ahreum hendak membantu menutupkan pintu mobil, dengan cepat Ansell menahannya kemudian kembali membuka pintu tersebut lengkap dengan sorot mata tajam mengerikan yang mampu membuat siapapun yang melihatnya akan terkencing-kencing. Hehee.
“dengar Nathania!
Jika aku mendengar kau berulah lagi, aku tidak akan segan-segan mengurungmu dikamar!
Kau tahu!.. Aku bahkan sudah membuat terallis dari besi yang cukup kuat dijendela kamarmu. Sehingga kau tak akan bisa kabur lagi melalui jendela seperti sebelumnya.
Jadi jangan coba-coba merencanakan sesuatu dibelakangku. Mengerti!” tegas Ansell yang langsung dibalas anggukan pasrah serta senyum setengah hati oleh Ahreum.
Begitu mendapat respon yang memuaskan dirinya, Ansell pun lantas tersenyum menyeringai sebelum ia memutus pandangannya dengan Ahreum lalu menutup kembali pintu mobil dengan sedikit bantingan membuat Ahreum terhentak.
Ancaman tersebut berhasil membuat Ahreum membeku seketika sembari masih memandangi mobil yang mulai berderu kemudian melaju dari hadapannya yang membuat helaian rambutnya berterbangan kearah mobil yang sudah pergi jauh meninggalkan area pekarangan.
Dan bersamaan dengan menghilangnya kendaraan yang dinaiki oleh Ansell dan Abi, kini giliran Ahreum yang tersenyum penuh arti kemudian dengan cepat membalikan tubuhnya dan mengarahkan pandangan penuh artinya pada para pelayan yang tengah berdiri disamping kanan dan kiri Arya, lelaki utusan Ansell yang bertugas untuk mengawasi istri mungilnya selama dirinya dinas ke luar negeri.
Seakan mendapat signal dari gadis yang tengah tersenyum penuh arti itu, ketiga pelayan tersebut lantas melancarkan misinya dengan memegangi erat kedua tangan dan tubuh Arya, selagi pak Jimmi yang berada dibelakang Arya mencoba membungkam mulut dan hidungnya memakai sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius.
__ADS_1
“kurasa.. ini.. uhh.. tidak akan berhasil nona, uhh.. mas Arya sangat kuat.” Keluh pak Jimmi yang tetap berusaha menumbangkan Arya dengan sapu tangannya.
“Iya nonaa uhh.. mas Arya kuat sekali!” tambah Arini yang juga hampir kewalahan memegangi tubuh Arya yang terus saja meronta dengan ganas.
Disaat yang lain masih mencoba berfikir keras apa yang mesti mereka lakukan, dengan langkah percaya diri Nayeon mendekati tempat kejadian perkara seraya mengeluarkan sebuah kain yang tampak seperti kaus kaki lusuh dari saku piyamanya yang entah kepunyaannya siapa.
“biar aku saja..” perintah Nayeon yang langsung dibalas anggukan oleh pak Jimmi, seakan ia mengerti maksud dari tujuan Nayeon datang padanya.
Hanya berselang 1 detik, begitu hidung Arya terbebas dari sapu tangan yang dipenuhi cairan obat bius, kini hidungnya kembali dihantam oleh bau busuk menyengat yang berasal dari kaos kaki lusuh, tak butuh waktu lama, iya.. hanya dalam waktu 3 detik lelaki berbadan kekar itu terkulai lemah tak berdaya dan terjatuh ke belakang hingga menimpa pak Jimmi yang tak sanggup menopang tubuh besar Arya hingga dirinya pun kini ikut terjatuh ke aspal bersamaan dengan tubuh Arya yang mendarat diatas tubuhnya.
Hingga membuat ketiga pelayan muda itu berteriak histeris lalu mencoba sebisa mungkin memegangi tubuh Arya agar terjatuh dengan perlahan dan tidak menimpa langsung ke tubuh pak Jimmi yang sudah renta itu.
“astagaa.. pak Jimmiiiiiii..” teriak ketiganya secara bersamaan.
Tak hanya ketiga pelayan muda, Ahreum, Hanna dan Franky pun ikut menghampiri keberadaan pak Jimmi yang kini sudah terhimpit oleh tubuh besar Arya.
Berusaha mungkin mereka semua mengangkat tubuh Arya dan memindahkannya ke samping agar pak Jimmi bisa keluar dari saat-saat kritisnya.
“hahaaa, darimana kau mendapatkan kaus kaki itu, sekali hirup langsung tepar ahahaaa!” celetuk Franky begitu mereka berhasil memindahkan tubuh Arya menjauh dari atas tubuh pak Jimmi.
Pak Jimmi pun lantas bangun dari tidurnya seraya masih mencoba menstabilkan pernafasannya sehabis tertimpa Arya yang beratnya hampir 2 kali tubuhnya.
Bona pun mengangguk lalu bangkit dan berlari masuk ke dalam Villa.
“kau lupa?! Kaus kaki ini kan milikmu.” Respon Nayeon seraya menyodorkan kaus kaki lusuh yang ternyata adalah kepunyaan Franky.
“apa?!!” kaget Franky seraya membulatkan kedua matanya seketika kala mengetahui jika kaus kaki mematikan tersebut adalah miliknya sendiri, yang kemudian disambut tawa renyah semua orang yang berkumpul mengelilingi pak Jimmi dan Arya yang masih tak sadarkan diri dengan posisi telungkup.
“aaahhahaaa!!! Aku penasaran bau busuk seperti apa yang ditimbulkan dari kaus kakimu sampai bisa mengalahkan obat bius Frank.” Ledek Hanna seraya memegangi perutnya karena tak kuat menahan ledakan tawanya.
“Iya nih, kok bisa sih nona Nayeon kefikiran pakai kaus kaki mas Franky, padahal aku mengira misi kita akan gagal.” Tambah Arini.
“nona Nayeon keren, bisa memikirkan segala kemungkinan yang ada.” Puji Laras seraya mengacungkan kedua jempolnya yang membuat Nayeon pun tersipu malu.
“heheeehe..” Nayeon hanya bisa nyengir malu-malu.
__ADS_1
“sudah, sudah jangan kebanyakan dipuji, nanti dia jadi besar kepala lagi.” Celetuk Hanna yang langsung menghancurkan kebahagiaan Nayeon dalam sekejap.
“aiisshhh!!” decak Nayeon kesal. “sebenarnya awalnya aku juga gak yakin sih dengan ideku ini, Cuma ya setidaknya kita mesti punya rencana cadangan kan, kalau-kalau obat bius itu tidak mempan, jadi aku curi deh kaus kakinya Franky diam-diam, hehee.
Lagian sebau apa sih kaus kakimu sampai bisa membuat pria berotot itu tumbang..” celotehnya disertai dengan rasa penasaran yang amat sangat sehingga membuat dirinya tak bisa menahan godaan untuk tidak mencoba mencium aroma busuk dari kaus kaki tersebut.
Dan alhasil, tak sampai 1 detik, begitu aroma kaos kaki telah sampai ke indra penciumannya, gadis yang tengah berdiri dengan percaya diri itu terjatuh seketika lalu mendarat diatas punggung Arya yang keras.
“aughhh!! Baru juga dipuji sebentar sudah bikin repot lagi aja ni bocah.” Dumel Hanna, sedangkan Ahreum hanya bisa menghela nafas panjang dan menggeleng kepalanya.
“gimana nih?
Siapa dulu yang mau kita gotong?” tanya Franky seraya menatap 2 tubuh yang saling bertumpuk diatas aspal.
***
Sebelumnya, sekitar 30 menit yang lalu diarea dapur.
Begitu selesai menyantap sarapan pagi. Ansell dan Abi lebih dulu meninggalkan area dapur karena ada hal yang mesti mereka urus.
Sementara yang lainnya masih tampak anteng diatas kursinya masing-masing.
“dengar, aku punya rencana.” Ucap Hanna dengan nada setengah berbisik pada ketiga temannya yang tak lain Ahreum, Nayeon dan Franky.
“bagaimana?” tanya Ahreum yang langsung saja mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa lebih dekat dengan wajah Rihanna.
Kemudian diikuti oleh kedua temannya yang lain, yang ikut mendekatkan kepalanya ke tengah-tengah.
“tapi aku juga butuh bantuan kak Laras, kak Arini, kak Bona dan pak Jimmi untuk menjalankan misi penting ini.” bisiknya lagi seraya melirik ke arah ketiga pelayan yang kini tengah membereskan alat makan yang sudah tak terpakai diberbagai sudut meja.
Meski pada awalnya mereka ragu sembari saling melempar tatap satu sama lain, namun akhirnya ketiganya serempak mengangguk setuju kemudian bergabung ditengah konferensi meja bundar tersebut hehehe.
Iya mereka membentuk sebuah lingkaran sembari saling merangkul satu sama lain dengan Hanna yang memimpin misi rahasia tersebut.
Sampai tak lama kemudian pak Jimmi pun muncul lengkap dengan kerutan didahinya, sadar akan kehadiran pak Jimmi. Franky dan Arini yang posisinya paling dekat dengan pak Jimmi pun lantas menarik dengan cepat tangan pak Jimmi agar bergabung dengan briefing yang tengah berlangsung diantara mereka bertujuh.
__ADS_1
***
Bersambung…