
Beberapa jam berlalu. –KT. Group.
Tepatnya diruangan Ansell Dirgantara, tampak Ansell tengah terduduk dikursi kebesarannya dengan kacamata bacanya ia memindai kata demi kata yang berasal dari lembaran kertas diatas meja kerjanya.
Sesekali ia mengetuk-ngetukan bolpoin yang berada dalam apitan jemarinya kemudian memutarnya beberapa kali ditengah otaknya yang bekerja keras mempelajari proyek yang kini sedang berlangsung.
Sampai..
Took.. took
Suara ketukan pintu dari luar mengalihkan pandangannya sesaat. “Masuk!” perintah Ansell nyaring.
Pintu ruangannya pun terbuka seiring dengan kemunculan asisten pribadinya yang tak lain Abighail pramudya. Pria itu berjalan dengan langkah panjang menuju tepi meja atasannya.
“ada apa?” tanya Ansell.
“karena tuan Andrew masih berada di Jepang, rapat kali ini bersama dengan pak Jansen, pak Ansellah yang menghandle.” Tutur Abi yang membuat Ansell pun lantas menyandarkan punggungnya disertai kernyitan kening, menyatakan dengan tegas rasa enggannya.
“bukankah jadwal rapat bersama dengan pak Jansen esok siang?” timpal Ansell seraya melirik sebuah kalender kecil yang ia letakan disamping telfon.
“Iya, pak Jansen merubahnya menjadi hari ini pak. Infonya pak Jansen harus kembali ke Inggris malam ini. Jadi rapatnya dipercepat dari jadwal yang sudah ditentukan.” Jelas Abi.
“tidak professional sekali!” dengus Ansell yang kemudian bangkit dari kursi kebesarannya.
“dimana dia?!” Imbuh Ansell seraya meraih jas kerjanya yang tergantung disudut ruangan, kemudian mengenakannya.
__ADS_1
“pak Jansen dan putrinya saat ini sudah berada diruang meeting 1 pak.”
Ansell pun langsung bergegas begitu mengetahui keberadaan dari partner bisnisnya tersebut.
Meski kesal dengan perubahan jadwal yang tiba-tiba, namun dirinya tidak memiliki pilihan lain sebab proyek yang akan di jalani bersama dengan pak Jansen bernilai Trilliunan rupiah.
…..
Setibanya didepan ruang meeting.
Sudah ada Ambar sang sekretaris yang menunggu di depan pintu, ia pun membuka pintu untuk atasannya lalu disusul dengan dirinya yang hendak masuk menyusul Ansell. Namun langkahnya terhenti kala Abi menahan lengannya.
“biar saya aja, kau bisa kembali ke tempatmu.” Ucap Abi seraya meminta tablet dan beberapa berkas lainnya yang kini tengah didekap oleh Ambar agar diberikan padanya.
…..
Ansell terkejut bukan main kala pandangannya menangkap sosok gadis yang familiar baginya, ia sampai menghentikan langkahnya dan hanya menatap gadis yang tengah tersenyum itu selama beberapa detik.
“Cassandra..” Ansell bergumam pelan.
Sementara Abi yang baru saja tiba dibelakang Ansell, sama terkejutnya dengan Ansell hingga ikut terdiam sampai Ansell pun kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang bersebrangan dengan partner bisnisnya saat ini.
“Halo pak Ansell.
__ADS_1
Apa kabar?” sapa Jansen seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian mengulurkan tangannya ke arah Ansell.
Dengan senang hati Ansell pun membalas jabat tangan tersebut, ditengah matanya yang masih sesekali curi-curi pandang pada gadis yang berada disamping Jansen.
“ahh iya. Perkenalkan ini putri saya Cassandra Leticia. Hehee.” Ucap Jansen bersamaan dengan bangkitnya gadis tersebut yang kemudian ikut mengulurkan tangannya pada Ansell setelah tangan Ansell terlepas dari tangan ayahnya.
“Halo Ansell.
Senang bisa bertemu denganmu kembali.” Sapa Cassandra lengkap dengan senyuman merekahnya yang membuat Ansell seketika terdiam seolah tengah berusaha mencerna situasi yang aneh ini.
“bertemu kembali?
Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jansen yang ternyata baru mengetahui jika putrinya itu memang sudah mengenal partner bisnisnya.
“Iya pih, papih ingat saat aku diculik oleh segerombolan gangster beberapa waktu lalu, Ansell pria yang menyelamatkan aku. Bersama dengan anak buahnya, mereka melumpuhkan para gangster yang terkenal dengan kebengisannya.
Aku bersyukur akhirnya kita bisa bertemu kembali. Hehee.” Tuturnya panjang lebar yang diakhir senyum selebar mungkin.
***
Bersambung…
__ADS_1