Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 71


__ADS_3

“Dimana gadis itu? Bukankah seharusnya dia kesini!” seru Hanna pada Bennedict yang tengah menatap layar komputernya seraya mengetikan sesuatu diatas keyboardnya, setelah Jeno dan Nayeon pergi meninggalkannya sendiri.


“dia sudah pergi.” Jawab Bennedict masih dengan tatapan yang terfokus pada layar komputernya.


“pergi?


Aughh shi***t! berkat dia aku jadi tahu sekarang bagaimana rasanya menjadi seorang tahanan, huh!” dumelnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“bukankah sudah ku bilang untuk tidak memprovokasinya, Rihanna!” tukas Benn seraya melirik kearah Hanna yang masih berdiri didepan meja kerjanya.


“ciih!.. sekarang kak Benn juga mau menyudutkanku karena hal ini?! 


Dengar ya! dari dulu sampai sekarang pun selalu Nayeon yang memulai pertengkaran itu tapi kenapa Ahreum hanya berteriak padaku?! Kenapa hanya aku yang disalahkan. Kalian berdua benar-benar membuatku muak!” pekik Hanna yang kemudian pergi berlalu tanpa menunggu respon dari Bennedict yang masih mentapnya lekat.


Bennedict hanya bisa menghela nafas seraya menatap kepergian gadis yang tengah murka padanya.


*** 


Malam harinya.


Ditaman kota, setelah berjalan mengelilingi taman kota untuk menghilangkan beban difikirannya, Ahreum pun beristirahat sejenak disebuah bangku taman seraya menengadahkan wajahnya ke atas langit dengan sesekali mengayunkan kakinya secara bergiliran kedepan dan kebelakang.


Mendengar sebuah nama yang sudah dilupakannya selama bertahun-tahun, membuat dirinya kini seolah dibawa kembali pada masa-masa terkelamnya dahulu. Meski yang dikatakan Bennedict cukup bisa membuat hati Ahreum terluka, namun ia melakukan itu untuk kebaikan Ahreum juga.


Iya, selain ibu kandung Ahreum, satu-satunya orang yang mengetahui riwayat medis Ahreum saat ini adalah Bennedict yang sudah seperti keluarga baginya.


Dreeedd.. dreedd.. ponsel yang berada dalam saku celananya bergetar, membuat dirinya terhentak dalam lamunanannya kemudian mengarahkan pandangannya pada saku celan seraya merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


“halo.” Sapa Ahreum pada sang penelfon.


“kau dimana? Sudah pulang?” sahut penelfon dengan nada khawatirnya.


“belum, aku ditaman.” respon Ahreum.


“maafkan kakak, karena terlalu keras padamu tadi.” Ucap Bennedict dengan nada lembutnya.

__ADS_1


“engga, kakak gak salah.” Lirihnya seolah tengah berusaha menahan tangis pilunya.


“tunggu, kakak akan menjemputmu.” Pungkas Bennedict seraya mengkhiri panggilannya, lalu bergegas menuju taman kota untuk menemui gadis malang yang tengah menyendiri ditengah gelapnya malam kala itu.


***


Ditempat berbeda, yaitu di RSJ (rumah sakit jiwa) tempat dimana ibu Rihanna dirawat.


Suasana diruangan tersebut begitu hening, karena ketiga pasien lainnya sudah tertidur sejak beberapa jam yang lalu, begitu juga ibu dari Rihanna yang kini tampak terlelap dalam tidurnya setelah seharian ini banyak melakukan kegiatan yang cukup menguras tenaganya.


Iya kegiatan yang dibuat oleh pihak rumah sakit sebagai media penyembuhan untuk semua pasiennya dan juga untuk menyalurkan hobi bagi sebagian pasien, kegiatan tersebut meliputi senam dipagi hari, lalu melukis, menyanyi dilanjut makan siang, kemudian diakhiri dengan sesi konsultasi secara bergiliran pada setiap pasien.


Rihanna berjalan menuju sudut ruangan, tempat dimana ranjang ibunya berada, ia pun mendudukan bokongnya dikursi masih dengan tatapan yang mengarah pada wajah ibunya yang sudah berada dalam alam mimpi.


Perlahan lengan mungilnya meraih tangan ibunya, kemudian menempelkannya pada salah satu pipinya, dengan kedua mata yang mulai berair sebab sudah tak sanggup menahan rasa sedihnya kala sisi lemahnya mulai menguasai tubuhnya.


“mamiih, Hanna disini miih, maafkan Hanna.. karena Hanna baru bisa datang sekarang.” Ia bergumam dalam isak tangis yang semakin menjadi-jadi.


“hiikksss.. hikssss.. maafkan Hanna, miih, maafkan Hanna.” Ujarnya yang terus mengucapkan kalimat yang sama berulang kali seraya menumpahkan semua tangis pedihnya dimalam itu.


***


Sampai kedua matanya pun kini mulai memerah, namun rasa sakit yang menjalar ditubuhnya tak kunjung mereda, meski ia sudah mencoba mengendalikan dirinya, namun usaha itu sia-sia kala seseorang muncul dari kejauhan.


Seseorang yang ditunggunya sejak tadi, Bennedict berjalan cepat untuk menghampiri Ahreum yang tengah menatapnya dengan tatapan sendunya.


Benar saja, tangis itu pecah kala Bennedict telah sampai dihadapan Ahreum, ia pun langsung memeluknya erat seakan ingin menenangkan gadis yang tengah dilanda kesedihan itu.


“aku takut.. aku takut kak..hikksss..” ucap Ahreum disela isak tangis yang tak hentinya keluar dari pelupuk matanya, seraya meremas pakaian Bennedict untuk melampiaskan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya.


“kakak ada disini, kau tak perlu takut Ahreum, kau percaya pada kakak bukan? Kakak tak akan pernah membiarkanmu kembali ke masa menyakitkan itu.” ucap Bennedict seraya mengusap lembut bagian belakang kepala Ahreum.


Mendengar hal itu membuat hati Ahreum sedikit lebih tenang dari sebelumnya, hingga gadis yang tengah berada dalam dekapan Bennedict itu pun menghembuskan nafas leganya beberapa kali, untuk mencoba membuat dirinya rileks.


15 menit kemudian, setelah dirasa cukup mencurahkan sisi emosionalnya pada Bennedict, Ahreum pun sudah jauh lebih baik sekarang dan bisa melepas pelukan hangat lelaki yang sudah dianggap sebagai seorang kakak baginya.

__ADS_1


Keduanya pun menatap lurus ke depan, sebelum ada salah satu yang membuka pembicaraan.


“sepertinya Hanna sangat kesal padamu.” ucap Bennedict seraya melirik sesaat kearah samping.


“kakak gak usah khawatir itu tak akan berlangsung lama, besok juga dia sudah melupakannya.” Sahut Ahreum percaya diri seraya masih menatap langit malam yang dipenuhi taburan bintang.


“lalu bagaimana kisah cintamu dengan Jeno?” celetuk Benn lengkap dengan tawa renyahnya seolah tengah menggoda adik kecilnya itu.


“ciihh!.. tak perlu membahasnya, aku bahkan menyesal pernah menangisinya huhh.” Balas Ahreum seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman kemudian melipat kedua tangan diatas dadanya.


“hahaa!! Kakak kan sudah pernah bilang padamu, dia itu lelaki yang tidak bertanggung jawab, setelah membuat seorang gadis tergila-gila padanya, dia akan langsung merasa bosan dan meninggalkannya. Coba saja kau hitung berapa mantan kekasihnya sejauh ini, termasuk kedua teman bodohmu itu.” paparnya seraya kembali melirik kearah samping wajah Ahreum yang masih asyik meluruskan pandangannya ke depan.


“1 kak, Nayeon masih bersamanya, belum menjadi mantannya.” Ahreum merevisi perkataan Bennedict seraya membalas tatapan lelaki yang tengah berada disampingnya itu.


“tidak akan lama lagi hubungan temanmu itu juga akan berakhir.” Ucap Bennedict yang kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


“kenapa?” tanya Ahreum lengkap dengan kerutan didahinya karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bennedict.


“Winter sudah pulih, rencananya dia dan kedua orang tuanya kembali pada akhir bulan ini. Kau tahu kan bagaimana kedua orang tua Jeno, sudah pasti mereka tak akan membiarkan putranya itu terus berhubungan dengan Nayeon.” Jelas Bennedict.


“ahh iya, untuk sesaat aku lupa akan hal itu hmm, tapi setidaknya hubungan yang mereka jalin sudah hampir 3 tahun, kurasa Jeno kali ini akan berusaha untung memperjuangkan cintanya.” Timpal Ahreum seraya menaruh kedua tangannya dibangku dan kembali mengayunkan kedua kakinya dengan gerakan kedepan dan belakang.


“kau yakin selama 3 tahun itu Jeno benar-benar mencintai Nayeon? Bukan Nayeon yang tetap bersikeras untuk mempertahankan hubungan itu.” bantah Bennedict yang mencoba untuk menyuarakan opsi lain yang tidak pernah terfikirkan oleh Ahreum.


Ahreum hanya menghela nafasnya sebab tak tahu harus berkata apa, “hmmm.. sudah ahh, aku mau ke ruamh sakit, tolong antarkan aku kesana kak.” Pinta Ahreum seraya bangkit dari tempat duduknya dan mengakhiri pembahasannya mengenai nasib dari kisah asmara karibnya.


“kau tidak pulang? Apa suamimu tidak mencarimu?” ucap Bennedict yang ikut bangkit dari tempat duduknya, lalu keduanya pun mulai menarik langkah untuk meninggalkan taman.


“aku hanya ingin bersama dengan ayah dan ibuku sekarang.” Katanya lagi seraya menautkan lengannya ke dalam lengan Bennedict yang berjalan disampingnya.


“ahh iya, memangnya kakak masih berhubungan dengan kak Winter?


Eeyy.. kakak harus move on, kakak gak ingat bagaimana kedua orang tua Jeno memarahi dan memaki kakak waktu itu.” tambah Ahreum lagi.


“masalah itu hanya ada diantara kakak dan kedua orang tuanya, bukan dengan Winter, lagipula sampai saat ini pun kakak masih belum menyetujui surat perceraian itu.” katanya seraya melepas tautan tangan Ahreum dan beralih merangkul tubuh kecilnya seraya mengusap bagian atas kepala Ahreum dengan lembut.

__ADS_1


Bersambung...


***


__ADS_2