
Pantai xxx , tampak Nayeon tengah terduduk ditepi pantai sembari memeluk kedua kakinya sedari tadi ia hanya termangu memandangi air laut yang sesekali menyiram kedua kaki mulusnya.
Sampai tak lama kemudian Franky pun muncul dengan membawa 2 ice Americano, kemudian diberikannya pada Nayeon setelah ia mendudukan bokongnya disamping Nayeon.
“Kenapa tiba-tiba kau mengajakku kemari?” tanya Nayeon yang menerima kopinya dari Franky seraya meliriknya sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
“Amm…, karena kurasa kau butuh penghiburan, hehee,” jawab Franky sekenanya kemudian menyedot beberapa kali kopinya.
“hmm…,” Nayeon hanya menghela nafas panjang untuk menangapi sahutan karibnya yang sekarang merangkap menjadi supir pribadinya.
Beberapa jam yang lalu di pekarangan aparteman Rihanna, sesaat setelah kepergian Rihanna ke rumah sakit Haneul.
“Halo,” sapa Franky yang baru saja sampai diarea pekarangan aparteman Rihanna.
“Frank, Ahreum dibawa ke rumah sakit hari ini,” papar Rihanna yang sontak saja membuat Franky terkejut dan menghentikan langkahnya sesaat.
“Apa? Ahreum sakit apa?” tanya Franky lengkap dengan raut wajah khawatirnya.
“Ammm, nanti ku ceritakan kembali, dan tolong rahasiakan ini dari Nayeon, aku gak mau menambah beban fikirannya lagi, dia sudah cukup menderita saat ini.
Jika dia menanyakan aku, bilang saja aku sedang berlibur dengan Abi ke kota xxx, karena selama 3 hari ke depan aku akan menemani Ahreum dirumah sakit.
Tolong jaga Nayeon ya, aku percayakan dia padamu, bawa dia jalan-jalan untuk mengalihkan fokusnya, oke,”
...****************...
Kembali ke saat ini, setelah beberapa saat Franky termenung memberikan tatapan dalam pada Nayeon yang sedang menyedot kopinya, ia pun tersadar kemudian menghembuskan nafas kasarnya hingga membuat Nayeon terusik.
“Kenapa?” tanya Nayeon seraya mengangkat 1 alisnya ditengah bibirnya masih menyedot kopi.
“Engga, kau mau cemilan?
Disana ada resto yang jual makanan khas korea, seperti kotoki…,”
“Toppoki,” Nayeon membenarkan.
“Iya itulah, terus ada Jambe juga, kau tahu kan yang bahan dasarnya itu mie bihun terus dicampur aduk sama sayur wortel, dag…,”
“Japchae,” sahut Nayeon kembali namun dengan nada sedikit meninggi dari sebelumnya.
“ahh iya, abis sulit-sulit banget sih namanya, terus yang ditusuk seperti sate yang bentuknya mirip handuk gitu, muk.. muk apa gitu, Ahreum pernah memberitahuku dulu,”
“eomuk!!
Aissshh, sudahlah, tak perlu kau diktekan 1 1, ayoo kita makan aja,” ajak Nayeon yang langsung bangkit kemudian menarik langkah lebih dulu menuju resto yang Franky maksud sebelumnya, tak ingin ditinggal, Franky pun bergegas menyusul Nayeon.
“tunggu aku!!” seru Frakny seraya berlari kecil.
...****************...
Malam harinya.
__ADS_1
Diruangan Ahreum, berbeda dengan Ahreum yang sudah terlelap dalam mimpinya, Rihanna dan Bennedict terlihat tengah terduduk disofa sembari mengamati ponselnya masing-masing.
“amm.., tante Enzy ngga jadi kesini kak?” tanya Rihanna seraya menurunkan ponselnya dan melirik ke arah Bennedict.
“Iya, kakak meminta ibu kemari besok saja,” gumam Bennedict tanpa melepas pandangannya dari layar ponselnya.
“ke.. napa?” tanya Rihanna lagi dengan nada canggungnya yang membuat Bennedict mengangkat 1 alisnya kemudian melirik dingin ke arah Rihanna yang langsung nyengir.
“Apa? Kau sedang merencanakan sesuatu Rihanna,” tudingnya yang membuat Rihanna semakin canggung dan memilih untuk melempar mukanya ke arah lain.
“enggak kok, aku hanya penasaran aja, kenapa ibu ga jadi kemari, dan kakak juga emang ga sibuk gitu seharian ini dirumah sakit,” oceh Rihanna yang berusaha mungkin menutupi rasa kikuknya.
“Berhenti mengoceh kepalaku pusing, sudah sana tidur diranjang, kakak juga mau tidur,” usir Bennedict seraya mendorong-dorong tubuh Rihanna agar menyingkir dari sofa.
“Eyyy, tumben sekali kakak memiliki banyak waktu, biasanya pekerjaan selalu yang utama bagi kakak, huhh,” sindir Rihanna yang kemudian bangkit dari sofa dan menatap Bennedict yang mulai membaringkan tubuhnya dengan menutup setengah wajahnya menggunakan sikut tangannya.
Belum sampai 5 detik Bennedict memejamkan kedua matanya, tiba-tiba saja suara bantingan pintu kamar mengejutkan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut.
Bruukkk!!!
Yang sontak saja membuat Ahreum terbangun, begitu juga Bennedict yang langsung bangun dan menatap sang pelaku yang masih berdiri diambang pintu sembari memandangi seseorang yang berada diatas ranjang.
Sama hal nya dengan Rihanna, yang juga ikut membalikan tubuhnya dan membulatkan matanya begitu melihat sosok lelaki yang baru saja muncul.
Iya lelaki itu tak lain adalah Jeno Alexander, melihat karibnya yang terbaring diatas ranjang membuat pupilnya membesar dan langsung saja berlari menghampiri pinggiran ranjang.
Kenapa kau bisa begini?
Siapa yang membuatmu menjadi seperti ini hah? Siapa?! Katakan padaku!” seru Jeno yang kemudian duduk dipinggir ranjang Ahreum dan membantu Ahreum bangun dari tidurnya.
“yak berisik, kita sedang berada dirumah sakit Jeno!” pekik Rihanna seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan mengarahkan pandangannya pada Jeno.
“Apa yang kau lakukan disini Jeno?” timbrung Bennedict yang kembali terbangun dan terduduk tegap disofa.
“Kenapa kau diam saja Ahreum, apa kau kehilangan pita suara juga?” lanjut Jeno yang memilih mengabaikan pertanyaan tak penting dari kakak ipar dan juga karibnya.
“Aku baik-baik aja Jen,” ucap Ahreum seraya menurunkan kedua lengan Ahreum dari pipinya kemudian menggenggamnya erat.
“Aku tak buta Ahreum! Bagaimana mungkin dengan kondisi tubuhmu yang seperti ini, kau bilang baik-baik saja!” balas Jeno dengan nada ngegasnya.
“yak kau mengabaikan kami?” timbrung Rihanna yang tak terima jika dirinya dianggap debu halus oleh karibnya itu.
“ciihh!!
Tentu saja aku harus kemari bukan, teman baikku dirawat masa aku tidak berkunjung,” sahut Jeno seraya melirik sesaat ke arah Rihanna sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada Ahreum.
“ya tapi gak harus malam-malam juga kan Jeno,” timpal Rihanna kembali.
“Aku juga pengennya pagi tadi kemari, hanya saja…,”
__ADS_1
Belum sempat Jeno menjelaskan situasinya tiba-tiba pintu kamar Ahreum kembali terbuka, kali ini dengan perlahan, kemudian disusul dengan kemuculan seorang wanita yang muncul dari balik pintu, yang membuat Bennedict bangkit dari sofa.
“halo, malam semuanya,” sapa wanita tersebut yang perlahan masuk ke dalam ruangan diiringi senyum hangatnya.
“kenapa kau kemari?” ucap Bennedict yang berjalan menghampiri wanita tersebut yang tak lain adalah istrinya Winter Flower.
“hehee maaf ya, tapi aku benar-benar mengkhawatirkan Ahreum,” sahut Winter yang kemudian beralih pada gadis yang tengah terduduk diranjang rumah sakit.
“hai Ahreum, lama tak berjumpa, aku sangat merindukanmu,” tutur Winter yang mulai emosional kala mendapati kedua mata Ahreum yang sembab dan juga goresan-goresan kecil yang membuat Winter semakin tak kuasa menahan isak tangisnya.
Begitu Jeno mundur dari posisinya seakan peka dengan situasinya, langsung saja Winter menghambur ke pelukan Ahreum bersamaan dengan tangisan pilu bercampur dengan kerinduan yang sudah tak dapat ia bendung lagi.
Dreeddd… dreedddd..
Ditengah isak tangis yang terjadi diantara Winter dan Ahreum, mendadak ponsel Rihanna bergetar tanda ada panggilan masuk, buru-buru ia merogoh saku celananya untuk mengecek siapakah gerangan yang menelfonnya malam-malam.
Pupilnya melebar kala membaca sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya.
Ia pun menarik langkah keluar dengan perasaan canggung kalau-kalau ada yang menyadari gerak-gerik mencurigakannya.
“mau kemana?!”
Benar saja, meski Bennedict tampak terfokus dengan suasana haru yang tengah berlangsung diantara istri dan adiknya, kedua mata elangnya langsung bisa menangkap gerak-gerik mencurigakan Rihanna yang diam-diam ingin keluar dari ruangan untuk menerima telfon.
“amm.. aku mau ke toilet hehee…,” dalih Rihanna yang berusaha mungkin bersikap natural dan kembali melanjutkan perjalanannya.
“toilet ada didalam Rihanna, untuk apa kau keluar?!” timpal Bennedict lagi seraya memutar tubuhnya menatap tajam punggung adiknya itu.
“ammm.. hehhee, aku mau ke kantin, hehhe, aku lapar,” tak ingin berlama-lama menghadapi situasi menegangkan itu, Rihanna pun memutuskan langsung ngacir aja keluar tanpa menunggu persetujuan dari Bennedict.
“yak Rihanna!! Augghhh!! Pasti dia sedang merencanakan sesuatu dibelakangku,” celetuk Bennedict yang hanya bisa menggeleng kepala kala Rihanna telah berhasil keluar dari ruangan.
“Apa yang dia rencanakan?” sahut Jeno yang kini berdiri disamping Bennedict sembari ikut memperhatikan pintu yang baru saja dilalui oleh Rihanna.
Alih-alih menjawab pertanyaan adik iparnya, Bennedict malah meliriknya dengan tatapan julid kemudian pergi meninggalkannya.
***
Sementara itu dikantin rumah sakit Haneul Jakarta.
Setelah membeli kopi late Rihanna pun terduduk dimeja kantin sembari mencoba menghubungi kembali seseorang yang menelfonnya sebelumnya.
“halo,” sapa Rihanna.
“YAK!! KAU MAU MENIPUKU?! KATANYA MALAM INI AKU BISA BERTEMU DENGAN AHREUM!! TAPI KENAPA SAMPAI SEKARANG KAU MASIH BELUM MENGHUBUNGIKU?!”
Teriak seseorang disebrang sana hingga Rihanna pun harus menjauhkan speaker telfon dari telinganya.
***
Bersambung…
__ADS_1