Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 251


__ADS_3

Kembali ke kamar Ahreum, “sepertinya kakakmu ga akan kemari malam ini,” celetuk Hanna yang tengah berbaring diranjang bersama dengan Ahreum, seraya melirik jam dinding yang menempel diatas televisi.


“hmm, mungkin ada hal yang tidak bisa ditinggalkan, gak apa-apa, disini juga kan sudah ada kau dan Jeno,” sahut Ahreum sembari memainkan ponsel milik Rihanna dan melirik sesaat ke arah Jeno yang sudah tertidur lelap diranjang lainnya.


“Siapa ini?” tanya Ahreum kala ia menemukan sebuah foto Rihanna dan seorang wanita paruh baya yang belum pernah dilihatnya selama ini.


“bunda Anna, ibu panti asuhan Cameron, tempat dimana kak Abi dibesarkan sebelum diadopsi oleh keluarga Dirgantara,” jawab Rihanna seraya ikut memperhatikan sosok wanita yang pernah ditemuinya beberapa hari lalu.


“waaahh, kak Abi sepertinya mau serius denganmu,” komen Ahreum.


“bagaimana menurutmu?” tanya Rihanna seraya bangkit dari tidurannya dan menatap Ahreum lekat, menunggu tanggapan dari karibnya yang masih ingin memperhatikan sosok wanita paruh baya tersebut dengan seksama.


“hmm,” Ahreum ikut terbangun, “apa kau bahagia?” Ahreum malah mengajukan pertanyaan lain alih-alih menanggapi pertanyaan Rihanna, seakan ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum memberikan pendapatnya.



“GGgggrrrrrr!!” suara dengkuran Jeno tiba-tiba menghancurkan suasana mellow yang tengah terjadi antara Ahreum dan Rihanna, membuat keduanya langsung menatap sinis Jeno yang sudah berada dalam mimpinya.



“aiiisssh!!” dengus Rihanna.


“kita bicara diatap aja, ayoo!” ajak Rihanna yang kemudian turun dari ranjang dan menarik tiang infusan Ahreum.


“tunggu, kau yakin tidak apa-apa kita keluar? Sudah tengah malam juga, kurasa para perawat akan melarangnya,” tahan Ahreum yang membuat Hanna kembali berbalik dan memandangi raut khawatir karibnya.


“ya, ya.. jangan sampai ketahuan dong, hihihi! Ini pakai mantelmu dulu,” kata Rihanna diiringi tawa nakalnya seraya memakaikan mantel ke tubuh Ahreum.


“sudah ayooo, kau belum pernah melihat atap rumah sakit kan?


Pemandangannya sangat indah loh! Kau bisa melihat ramainya ibu kota Jakarta dari atas,” bujuk Hanna seraya mengenggem erat tangan Ahreum lalu menariknya untuk mulai berjalan keluar dari ruangan.

__ADS_1


“aku sudah pernah melihatnya, saat Ansell menarik paksa tanganku, karena kesalahpahaman,” Ahreum membatin ditengah perjalanannya.


“tunggu…,” tahan Rihanna seraya menghentikan langkahnya dan menepi ke dinding karena melihat sekilas ada beberapa perawat yang tengah berjalan ke arahnya, buru-buru Rihanna menarik lengan Ahreum dan juga tiang infusnya untuk bersembunyi disamping mesin minuman otomatis.


“padahal kita bukan maling, tapi kenapa berasa…,”


“ssssttt.. sudah mereka sudah pergi, ayo cepat!” seru Hanna seraya kembali menarik tangan Ahreum dan mulai mengendap-endap melalui lorong yang sepi sebab para perawat tampaknya tengah berkeliling memantau para pasien.


Setelah melewati saat-saat menegangkan akhirnya mereka berdua pun tiba dilantai yang menghubungkan ke pintu atap, langsung saja Rihanna membuka pintu mendahului Ahreum masuk seraya masih menggenggam erat lengan karibnya.


“Lihat! Indah bukan?


Wuaaahh, kebetulan sekali ada banyak bintang bertaburan dilangit hahaaa, ayoo kita ke tepi pembatas,” ajak Rihanna setelah menoleh sejenak ke arah arah Ahreum ia pun kembali mempercepat langkahnya menuju tepi dinding pembatas atap.


Ahreum hanya ikut tersenyum lebar melihat kebahagian yang terpancar dari wajah Rihanna.


“Jadi, apa semua keluarga kak Abi menyukaimu?” tanya Ahreum yang mencoba menyambung pembahasan sebelumnya begitu mereka berdua telah bersandar ditepi dinding pembatas.


“Kau tahu kan, aku bukan type orang yang mudah bersosialisasi, aku selalu menaruh curiga pada siapapun yang mencoba mendekatiku, aku tak pernah menganggap mereka benar-benar ingin berteman denganku.


Bagiku manusia adalah hal yang paling menyeramkan selain zombie, mereka bisa berpura-pura baik didepan kita, memuji kita, bahkan terlihat seperti benar-benar tulus ingin berteman tanpa mengharapkan apapun.


Namun pada kenyataannya kehidupan tidak berjalan sesederhana itu, mereka yang mendekatiku selalu menginginkan sesuatu dari diriku, entah barang-barang milikku, atau memanfaatkanku untuk membayar semua pengeluaran saat kita sedang bermain bersama.


Dan disaat aku berada dititik terbawah, mereka semua berbalik mengejekku, menjauhiku, bahkan mengabaikanku, karena aku sudah tidak memiliki apapun yang bisa ku banggakan.


Hal itu yang membentuk kepribadianku menjadi seperti ini, gadis kasar, arrogan dan liar. Mereka memandangku sebelah mata karena penampilanku yang selalu tampil terbuka.


Mereka mengasihani kedua orang tuaku karena memiliki putri yang liar sepertiku, mereka…, hanya bisa menghakimi dan menyalahkanku, tanpa tahu hal berat apa yang sudah ku lalui untuk sampai dititik ini.


Tapi…, tatapan itu, tatapan yang diberikan oleh bunda Anna, benar-benar menghangatkan hatiku, aku bahkan tak pernah melihat tatapan sehangat itu dari mamiku sendiri.

__ADS_1


Begitu aku tiba, bunda Anna tersenyum dan memelukku dengan penuh kasih sayang, hal yang tak pernah ku bayangkan sama sekali.


Setelah kita makan malam bersama, bunda Anna mengajakku berbincang dipekarangan depan panti asuhan,”


...****************...


Flashback beberapa hari yang lalu, di pekarangan panti asuhan Cameron, Rihanna duduk dibangku yang sama dengan bunda Anna sembari menikmati hangatnya teh manis yang dibuat oleh bunda Anna sebelumnya.


“bunda, tidak membenciku?” Rihanna berumam pelan sembari menatap permukaan teh yang dipenuhi kepulan asap.


“kenapa bunda harus membencimu?” bunda Anna malah bertanya balik seraya mengusap paha Rihanna lembut disertai senyuman teduh seorang ibu pada umumnya.


“dengan kepribadian kak Abi, sepertinya kak Abi bisa mendapatkan seorang perempuan yang lebih baik dariku, bukankah penampilanku sekarang terlihat seperti seorang gadis yang penuh kebebasan bunda, aku tidak terlihat seperti gadis baik-baik,” Lirihnya yang kemudian mencoba memberanikan diri menatap wajah bunda Anna yang terlihat begitu tenang dengan senyum tipisnya.


“siapa bilang kau bukan gadis baik-baik Hanna?


Bunda sangat percaya pada pilihan putra bunda, jika dia sudah mengajakmu kemari bertemu dengan keluarganya, itu artinya kau sangat istimewa baginya, Hanna.


Kau…, adalah gadis pertama yang dia bawa kemari untuk menemui kami semua, jangan berkecil hati dan memandang rendah dirimu sendiri hanya karena segelintir orang yang tidak menyukaimu.


Bagi bunda kau hanyalah seorang gadis manis yang sangat dicintai oleh putra bunda, (tuturnya lembut seraya membelai rambut panjang Rihanna)


Setiap malam sebelum tidur, Abi selalu menelfon bunda. Sebelum dia mengenalmu, dia hanya akan bercerita tentang pekerjaannya atau tentang Ansell. Tapi setelah kau hadir ke dalam kehidupan Abi, ceritanya hanya dipenuhi namamu Rihanna, termasuk tentang keadaan keluargamu,”


Rihanna terhentak dan mulai emosional kala bunda Anna menyinggung keluarganya, membuat kedua matanya memerah karena mencoba menahan air mata kesedihannya.


“kau tak perlu berpura-pura kuat jika sedang bersama bunda, anggap saja bunda sebagai ibu keduamu, bunda akan mendengar semua keluh kesahmu, rasa sakitmu, apapun itu bunda akan mendengarnya, Hanna.


Kau adalah gadis terkuat yang pernah bunda temui, kau sudah melaluinya dengan baik, kini bunda harap hanya akan ada kebahagiaan yang akan terus menyertaimu,” 


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2