
Diarea pemancingan xxx.
Suasana hening sejenak setelah ketiganya berhenti melakukan percakapan dan kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi secara bersamaan sembari menengadahkan kepalanya mereka pun menghela nafas kasarnya serentak.
“apa keadaan Nayeon benar-benar buruk sekali?” Jeno bergumam seraya memejamkan kedua matanya sejenak.
“he’em, sangat buruk. Kurasa butuh waktu yang cukup lama untuk move on darimu.” Sahut Ahreum yang kemudian melipat kedua tangan diatas dadanya seraya menatap langit yang dipenuhi burung-burung melintas dengan riang gembira bersama kelompoknya.
“kau memang lelaki brengsek Jeno.” Celetuk Bennedict yang meletakan sikunya diatas kedua matanya untuk menghindari sinar matahari yang kian terik karena hari sudah mulai siang.
“berhenti mengumpatku, kau bahkan tidak lebih baik dariku. Dingin, kaku, dan tak pernah bisa romantis. Bahkan untuk memberikan bunga atau kejutan kecil dihari ulang tahun kakakku saja tak pernah kakak lakukan.” Balas Jeno tak kalah menusuk ke dalam hati.
“sudah hentikan..
Bagaimana, ini sudah siang, apa beluma ada tanda-tanda ikan nyangkut dipancingan kak Ben atau pancinganmu Jen?” seru Ahreum yang mencoba menengahi diantara kedua lelaki yang tengah berseteru tersebut, ia pun lantas kembali menegakan tubuhnya dan mengecek pancingan keduanya secara sesakma dengan harapan paling tidak salah satunya menangkap 1 ikan dari ribuan ikan yang berada disungai dalam itu.
“hmm.. kurasa sebaiknya kita beli saja. Apa kau sudah lapar?” tanya Benn yang kemudian ikut bangkit dari tidurannya sesaat dan mengecek pancingannya yang masih tampak terdiam tidak ada tanda-tanda ikan yang nyangkut dikailnya.
“begitu aja menyerah, tunggu aja sebentar lagi.” Celoteh Jeno yang juga ikut terbangun dari baringan sesaatnya.
“ini sudah lewat jam makan siang kau tahu! Perutku sudah keroncongan.”
“kalau begitu bagaimana kalau kita naik perahu aja, kita mancing lebih jauh kesana. Mungkin aja ikan-ikannya memang pada kumpul ditengah.” Saran Jeno yang kemudian ditanggapi beberapa kali anggukan pelan oleh Bennedict seakan setuju dengan saran yang diajukan adik iparnya itu.
“yaudah kalian berdua saja. Aku tunggu disini.” Kata Ahreum yang kemudian merogoh ranselnya untuk mengeluarkan ponselnya, karena sedari tadi asyik mengobrol dengan karib dan juga kakaknya ia sampai lupa mengecek ponselnya. Kalau-kalau saja ada pesan masuk penting yang tidak terdengar notifnya.
“eeyyy.. karena kau juga ada disini kau mesti ikut!” seru Jeno seraya bangkit dari tempat duduk kemudian membawa pancingannya untuk bersiap pindah area memancing. Sementara itu Ahreum masih tampak terdiam ditempat duduknya meski Jeno sudah menarik-narik lengannya agar bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
“ayooo kak Benn.. siapa duluan yang mendapat ikan, boleh membuat 1 permintaan.” Lanjut Jeno penuh ambisi yang membara membuat Bennedict pun merasa terntang dan lantas dengan gerakan cepat ia bangkit dari kursinya kemudian membawa pancingannya dan berjalan lebih dulu menuju perahu yang berada ditepi sungai.
“eyyyy.. tunggu dong!! Ayooo Ahreummm..” seru Jeno dengan meninggikan suaranya kemudian menarik lebih keras lagi hingga Ahreum pun hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauannya untuk ikut serta dalam aksi memancing ditengah sungai menggunakan perahu kecil.
Setelah selesai Bennedict berbincang dengan pemilik perahu yang akan menyewakan perahunya. Bennedict pun memutar tubuhnya dan memberikan tanda lets go pada Jeno dan Ahreum dengan tangannya.
Jeno tersenyum girang kemudian berjalan lebih cepat menuju tepi sungai sembari masih memegangi lengan Ahreum.
Singkat cerita, begitu mereka sudah berada ditengah sungai dengan Bennedict yang berada diposisi terdepan, Ahreum ditengah dan terakhir Jeno duduk dikursi belakang. Dan tentunya mereka juga sudah memakai jaket pelampung ya, sebagai perlengkapan keselamatan yang memang wajib digunakan oleh para pengunjung yang menyewa perahu.
Masih dengan pandangan lekatnya ke arah sungai yang tampak tenang. Keduanya mulai merasakan jenuh lantaran sudah 30 menit mengarungi sungai namun masih juga belum menemukan tanda-tanda adanya keberhasilan pada usahanya sejauh ini.
“coba kita dayung lagi kak Ben, mungkin disebelah sana ada ikannya.” Kata Jeno yang masih belum ingin menyerah, ia pun beralih ke tongkat dayungnya sejenak untuk mendorong perahunya ke area yang dirinya maksud.
Begitu pun dengan Bennedict yang hanya pasrah saja menuruti perintah adik iparnya itu.
“sebentar lagi, sebentar lagi aja oke. Kakak akan memasakanmu sushi yang paling lezat yang pernah kau makan diseumur hidupmu.”
“btw..
Tapi disini ga ada ikan tuna kak. Yang ada hanya ikan mas dan nila aja, bagaimana kakak bisa memfilletnya?” sahut Jeno yang tengah fokus mendayung dibelakang.
“aiisshhh.. hikkssss.. aargghhh.. aku ingin pulang ajaaa, aku mau makannnnn!!” rengek Ahreum yang kian tak terkendali seraya menendang-nendang papan sekat perahu hingga membuat perahu pun bergoyang seketika.
Sontak saja kedua pria yang berada didepan dan dibelakang itu panik dibuatnya.
“yak! .. yak!.. hentikan, kau bisa menggulingkan perahunya Ahreum.” seru Jeno dengan raut wajah cemasnya sembari memegangi pinggiran perahu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“yak! Jeno, dimana dayungmu?” seru Bennedict saat menyadari jika dayung milik Jeno telah menghilang dari genggaman Jeno.
Mendengar pertanyaan tersebut Jeno malah semakin panik lalu mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan dayungnya.
“apa kau menjatuhkannya? Aughhh kau ini ceroboh sekali. Bagaimana kita bisa kembali hanya dengan 1 dayung, kita juga sudah terlalu jauh dari daratan.” Dumel Bennedict.
“aku punya cara agar kita bisa kembali dengan cepat.” Seru Ahreum yang antusias sekali ingin mengajukan ide yang tiba-tiba saja muncul disaat genting.
“tidak.. tidak.. kakak tidak percaya dengan pemikiranmu Ahreum.” cegah Bennedict seraya menggelengkan kepalanya tanda jika dirinya benar-benar tidak setuju dengan ide apapun yang hendak Ahreum ajukan.
“tenang aja, ini pasti akan berhasil kok. Goyang-goyangkan aja seperti ini perahunya.” Lanjut Ahreum seraya memulai aksi gilanya, yaitu menggoyangkan pinggiran perahu secara bergantian hingga membuat perahu pun beberapa kali oleng kesana kemari.
“yak! yak! apa kau sudah gila?! Bagaimana mungkin hal ini kau sebut ide brilliant?!” seru Jeno yang semakin panik kala perahu bergoyang kian kencang hingga membuatnya kalang kabut.
“tidak.. jangan.. Ahreum hentikan!” tambah Bennedict yang juga ikut cemas takut jika perahunya tiba-tiba terbalik.
Dan benar saja setelah Ahreum melakakuan aksi gilanya tanpa henti, perahu pun terbalik dan ketiganya tercebur ke dalam sungai.
Beruntung karena mereka sudah dilengkapi jaket pelampung yang melekat dalam tubuhnya mereka pun kini hanya mengambang dipermukaan sungai.
“hahhaahaaa!!!” terdengar tawa Ahreum pun menggelegar kala kepala mereka menyembul 1 per satu setelah beberapa detik sempat tenggelam, mereka pun kembali naik ke permukaan berkat jaket pelampung yang mereka kenakan.
“lihat! Sudah ku bilang bukan jika cara ini akan berhasil.” Lanjut Ahreum saat melihat 2 orang yang terlihat seperti penjaga area pemancingan tersebut muncul dengan perahu motornya kemudian bergegas memacu kendaraan airnya agar cepat sampai dikeberadaan 3 orang yang baru saja tercebur ke dalam sungai yang cukup dalam.
***
Bersambung...
__ADS_1