Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 248


__ADS_3


“Menyerahkan? Kau fikir aku barang, hahhaa!” canda Ahreum yang membuat Ansell mendengus kesal ditengah keseriusannya mencoba memikirkan nasib pernikahannya yang diujung tanduk.


“ciiihh!! Aku sedang serius Ahreum,” ketus Ansell.


“hhehee, berartiii, yang selama ini selalu muncul dihadapanmu itu, Cassandra,” ucap Ahreum yang kembali membuka kedua matanya.


“Iya, dia ingin mempermainkanku dengan berpura-pura menjadi Ilona, untuk membuat mentalku down dan berakhir menjadi gila karena terus berhalusinasi Ilona yang telah tiada bangkit kembali.” Papar Ansell yang kemudian memejamkan kedua matanya lantaran mulai mengantuk.


Selang 15 menit kemudian, “Ansell,” panggil Ahreum lembut.


“hmm,” sahut Ansell setengah sadar.


“Ada yang ingin ku ceritakan padamu, tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana,” sambung Ahreum dengan nada yang dipenuhi keraguan.


“Ya sudah nanti aja kalau begitu, aku ngantuk, beberapa hari terakhir ini aku tak bisa tidur dengan baik,” sahut Ansell seraya memiringkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya.


“he’em…,” Ahreum hanya mengiyakannya dengan dehaman.


“Padahal aku selalu meminta kisah cinta yang sederhana, sosok suami seperti ayah, bicara lembut tidak pernah membentak mama ataupun ibu, penuh kasih sayang, dan kesabaran seluas samudra.


Tapi…, kenapa yang kudapatkan malah kebalikannya, kisah cintaku sangat, sangat jauh dari kata sederhana,” Ahreum membantin lalu diakhiri dengan hembusan nafas kasar yang membuat Ansell terusik.


“Kenapa?” tanya Ansell yang masih belum bisa masuk ke alam mimpi sepenuhnya.


“hmm, engg, engga, kau belum tidur,” respon Ahreum seraya mengusap punggung lebar suaminya untuk membantunya tertidur lelap selama beberapa jam sebelum Bennedict kembali memisahkannya.


“hmmm,” gumam Ansell yang masih berusaha terlelap.


Ahreum mencoba keluar dari pelukan erat suaminya, kemudian mengangkat wajahnya agar bisa sejajar dengan wajah suaminya yang masih mencoba untuk masuk ke dalam dunia lain.


“muuacch,” Ahreum mengecup kening Ansell.


“bagaimana? Apa cara ini bisa membuatmu tertidur?” imbuh Ahreum yang dibalas tawa kecil oleh Ansell masih dengan kedua matanya yang terpejam.


“muaacchh,” Ahreum kembali mencium Ansell, namun kali ini bukan mendarat dikening melainkan dibibir sexy Ansell yang yang tentu saja malah membuat Ansell tak sedikitpun ingin tertidur.



“Ahreum, hentikan,” kata Ansell seraya membuka kedua matanya serta tertawa renyah dan kembali memeluk Ahreum untuk menghentikan aksi nakalnya.


“kenapa? muacchh, tak boleh?” goda Ahreum yang lagi-lagi mengecup bibir Ansell.


“hentikan, atau aku tak bisa menahannya lagi, Ahreum,” Ansell kembali memperingatkan istrinya yang suka ngeyel itu.

__ADS_1


“nahan apa emang?” lanjut Ahreum yang kini malah beralih menyenggol bagian sensitive Ansell dengan lututnya.


“Ahreum!!!” pekik Ansell lantaran tak kuasa menahan godaan istrinya yang kian menguji kesabarannya yang hanya setipis tissue dibagi 2. Hihihi.


...****************...


Dilain tempat, masih diarea rumah sakit Haneul, lebih tepatnya taman yang berada disisi barat rumah sakit Haneul.


Rihanna dan Bennedict tengah menikmati sarapan paginya dibangku taman, setelah berdiskusi mengenai menu sarapan pagi beberapa saat lalu, akhirnya mereka berdua menjatuhkan pilihan pada sandwich dan ice Americano.


“kak,” panggil Hanna yang langsung dibalas dehaman oleh Bennedict.


“hmm,”



“kakak tidak menyesal sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama kembali dengan kak Winter?


Setidaknya Jeno sudah berkorban bukan untuk kakak,” katanya disela kunyahannya.



“kakak akan lebih menyesal jika harus merebut kehidupan Jeno demi kebahagiaan kakak sendiri,” tuturnya mantap yang membuat Rihanna tersenyum bangga karena memiliki kakak berhati malaikat sepertinya.


“tapi bagaimana dengan kak Winter?


“Iya, dia bilang tak perlu khawatir, karena kita sudah pernah melalui hal seperti ini sebelumnya, kita hanya perlu melaluinya sekal lagi.” Sahut Bennedict lengkap dengan senyum simpulnya.


“kak Abi…,” Rihanna bergumam kala melihat sosok kekasihnya yang berjalan tak jauh dari tempatnya berada, hingga membuat Bennedict pun ikut mengarahkan pandangannya pada sosok yang dilihat Rihanna.


“KAK ABI!!” panggil Rihanna lantang agar terdengar oleh Abi.


Abi pun menoleh dan mencari arah sumber suara yang memanggilnya, lelaki manis itu tersenyum hangat kemudian bergegas menghampiri kekasihnya yang tengah melambaikan tangan padanya lengkap dengan senyum merekahnya.


Tentu saja hal itu membuat Bennedict cemburu dan mengerutkan bibir kecilnya.



“kakak sudah sarapan?” tanya Rihanna seraya bangkit dari bangkunya untuk menyambut kedatangan kekasihnya, lain hal nya dengan Bennedict yang bahkan enggan melihat kekasih adiknya itu yang sedari tadi sudah tersenyum ramah padanya.



“Selamat pagi mas Bennedict,” sapa Abi seraya membungkukan tubuhnya sedikit untuk memberi hormat pada lelaki yang melempar tatapannya ke arah lain.


“kakak tak akan membalas sapaannya?” ketus Hanna seraya menepuk lengan Bennedict.

__ADS_1


Terpaksa Bennedict melirik sejenak ke arah Abi untuk membalas sapaannya.


“Astaga, dia kenapa sih,” dumel Rihanna pelan seraya menggelang kepalanya melihat sikap aneh kakaknya yang tiba-tiba bad mood setelah kemunculan Abi.


“Apa aku menganggu kalian?


Kalau begitu sebaiknya aku pergi,” pamit Abi yang mengerti dengan sikap Bennedict yang merasa terganggu dengan kehadirannya.


“tunggu,” cegah Bennedict.


“Hanna, belikan kakak minum,” perintah Bennedict yang sebenarnya hanya alasan untuk membuat Rihanna pergi sejenak, selagi dirinya ingin mengobrol dengan Abi.


Namun Hanna malah menatapnya dengan tatapan sinis, “minuman kakak masih banyak tuh, kenapa aku merasa seperti berada dalam sebuah drama, ketika kau menyuruhku pergi, kau akan mengintimidasi kekasihku kan?!” tebak Hanna seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“Hanna,” ucap Abi lembut seraya memegang tangan Hanna dan menggeleng kepalanya, seakan memberikan signal jika dirinya tidak boleh bersikap kasar pada kakaknya sendiri.


“yak! Apa yang kau pegang?!” pekik Bennedict seraya menatap tajam tangan Abi yang menggenggam lengan Hanna, buru-buru Abi menurunkan tangannya kemudian menautkan kedua tangannya didepan tubuhnya sebagai bentuk permintaan maafnya.


“Aughh!! Kakak kenapa sih, cuma pegang tangan doang, ga seperti dia menciumku kan?!” bela Hanna yang tak terima jika kekasihnya diintimidasi oleh kakak nya.


“Apa?! Ciuman?! Kauu!!” pekik Bennedict yang mulai geram kemudian bangkit dan menatap tajam adiknya yang berjiwa bebas itu.


“Sudah Hanna,” kata Abi yang hendak kembali menyentuh Rihanna, namun buru-buru menarik tangannya lagi kala menyadari Bennedict masih memberikan tatapan tajamnya setajam silet.


“Cepat sana, belikan kakak minum, air mineral!


Jangan membantah,” tegas Bennedict kembali yang langsung dibalas dengusan kesal oleh Hanna.


“Ciiihh!!


Awas aja kalau sampai kakak menindas kak Abi, dengar yaa kak Abi itu…,”


“Ya.. ya.. ya.. sudah sana pergi! Pergi!” usir Bennedict seraya mendorong tubuh Rihanna untuk membuatnya pergi.


“Aishhhh!!


Kak Abi, telfon aku jika kak Benn menindasmu ya! Aku akan cepat datang menyelamatkanmu!” seru Rihanna seraya berjalan mundur untuk beberapa langkah sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan normal menjauh dari keberadaan Bennedict juga Abi.


Suasana tampak canggung begitu Rihanna pergi, sampai…,


“ada yang mau mas Bennedict bicarakan?” Abi pun berinisiatif untuk memulai percakapan diantara keduanya.


“I.. iya, duduk,” kata Bennedict dengan nada kikuknya ia pun duduk terlebih dahulu.


Keduanya pun duduk dibangku yang sama dengan pandangan lurus ke depan, baik Abi maupun Bennedict hanya terdiam membisu, Abi yang mencoba menunggu Bennedict menyampaikan maksud dan tujuannya, sementara Bennedict tampak canggung dan bingung dengan situasi yang awkward baginya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2