Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 38


__ADS_3

Rumah sakit Haneul.


Lebih tepatnya diruangan Nayeon, terlihat gadis itu tengah bersiap-siap untuk kembali pulang, bahkan ia sudah mengganti seragam rumah sakitnya dengan gaun pendek berwarna putih dan jas semi formal yang berwarna hitam sebab gaun yang dipakainya tidak memiliki lengan.


Ceklek.. suara pintu terbuka membuat Nayeon reflex menolehkan wajahnya ke arah pintu.


“kau sudah datang?” sapa Nayeon kala karibnya tersebut mulai memasuki ruangannya.


“kau sendiri? Dimana ayahmu.” Respon Ahreum seraya berjalan mendekat ke arah Nayeon yang tengah terduduk disofa dengan 1 tas yang cukup besar yang ia taruh disampingnya.


“sudah kembali ke solo, dia tidak bisa tinggal lama-lama disini, karena anak buahnya masih mencarinya sampai saat ini.” ungkapnya dengan helaan nafas panjangnya diakhir kalimatnya.


“bahkan sudah bertahun-tahun yang lalu pun?” sahut Ahreum yang lebih memilih berdiri dihadapan Nayeon dibanding duduk disampingnya, sebab ia tak ingin sempit-sempitan dengan tas besar milik Nayeon.


“hmm, sungguh ironi bukan?


Sekali kau masuk ke dalam sebuah organisasi yang seperti itu, kau tak akan pernah bisa berhenti sampai kapan pun, meski kau ingin, kecuali kau mati.” Paparnya, kemudian bangkit dari tempat duduknya tanda jika ia sudah siap untuk pergi sekarang.


“waah..” respon Ahreum seraya mengambil alih tas besar Nayeon yang berisikan perlengkapan dirinya selama dirawat beberapa hari di rumah sakit.


“hanya waah?” ucap Nayeon seraya menatap wajah Ahreum sebelum memulai melangkah.


“lalu kau ingin aku berkomentar apa lagi?” sahut Ahreum yang kemudian membalikan tubuhnya dan berjalan lebih dahulu dari Nayeon.


“ciih!!” Nayeon mendengus kesal mendengar respon karibnya yang hanya melontarkan 1 kata yang tak berarti apa-apa.


Ahreum pun hanya menanggapinya dengan tawa renyahnya seraya menarik handle pintu kamar Nayeon, dan mempersilahkan karibnya tersebut untuk berjalan lebih dahulu keluar dari ruangannya.


Namun baru saja ia melangkahkan 1 kakinya keluar, ia begitu terkejut mendapati Jeno sudah berada dihadapannya seolah ia memang hendak datang mengunjungi Nayeon.


Meski tampak sedikit canggung lelaki itu tetap mencoba tersenyum dengan bucket bunga yang berada dalam genggamannya.


__ADS_1


“apa ini?!” ketus Nayeon lengkap dengan tatapan sinisnya.



“hey.. Nayeon.. aku akan mengantarmu pulang.” sapa Jeno terbata-bata sebab ia merasa rasa canggung itu benar-benar telah menjalar dalam tubuhnya bahkan bunga yang tadinya akan langsung ia berikan pada Nayeon namun kini masih saja berada dalam genggamannya.


“ada apa sih?! apa kau bisa keluar dulu Nay, aku juga ingin keluar.” Keluh Ahreum seraya mendorong Nayeon dari ambang pintu.


“hey Jeno, haaaciiww!!” Sapa Ahreum yang muncul dari balik tubuh Nayeon yang lebih pendek 5 cm darinya bersamaan dengan bersin yang tak tertahankan.


“hey Ahreum, augh maaf ya.” Timpal Jeno seraya menjauhkan bunga yang tengah digenggamnya tersebut ke belakang tubuhnya.


“sepertinya aku yang akan mengantar Nayeon pulang, gak apa-apa ya?


Aku juga ingin bicara dengan Nayeon.” Lanjut Jeno yang kemudian mencoba meraih tas yang tengah dibawa Ahreum, sementara Ahreum masih sibuk menahan gatal yang tiba-tiba menjalar ke lubang hidungnya membuat hidungnya kini tampak memerah juga kedua mata yang mulai berair.


“yak! Siapa bilang aku akan ikut denganmu!” pekik Nayeon masih dengan tatapan sinisnya serta melipat kedua tangannya diatas dadanya dan mengabaikan karibnya yang tengah berjuang melawan gatal yang disebabkan oleh bunga yang dibawa Jeno.


“kau masih marah padaku?” ucap Jeno selembut mungkin lengkap dengan tatapan hangatnya, ia mencoba membujuk Nayeon yang tampak masih kesal sekali padanya.


“marah?!


Ya jelaslah, apa aku lelucon bagimu Jeno! Sekarang kau tiba-tiba muncul seolah tidak ada yang terjadi, kemarin-kemarin kau kemana saja hah?!” bentak Nayeon.


“bukannya kau yang memintaku untuk tidak datang?” sanggah Jeno yang membuat Nayeon naik pitam.


“augh sial!!


YAK! Jika ingin seperti itu, maka lakukanlah sampai akhir, jangan pernah menemuiku lagi!” tukasnya lengkap dengan kedua bola mata yang hampir keluar dari cangkangnya.


“tidak, mak..”


“astaga sial!! Kenapa aku selalu saja berada ditengah-tengah keributan.” Celetuk Ahreum yang membuat keduanya kini berhenti berdebat dan beralih menatap dirinya.

__ADS_1


“APA?!” bentak Ahreum lengkap dengan tatapan yang tak kalah tajamnya, ia pun pergi berlalu meninggalkan kedua karibnya tersebut yang masih menatap bagian belakang tubuhnya dengan kernyitan dikening.


***


Dirumah sakit jiwa XXX.


Tampak seorang gadis yang tengah terduduk disebuah kursi panjang dibawah pohon yang cukup rindang hingga membuatnya tidak terkena terik sinar matahari pagi. ia terlihat duduk sendirian dibangku tersebut hingga 20 menit berlalu.


“Rihanna..” panggil seseorang dari belakang dengan nada ragu-ragu, sebab ia masih belum yakin identitas dari gadis tersebut.


Rihanna pun menoleh kala mendengar panggilan tersebut, dilihatnya seorang wanita muda yang masih mengenakan seragam kerjanya, ia berdiri disamping kursi Hanna dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku baju seragamnya.


Senyuman lebar pun menghiasi wajah cantik Hanna, seolah ia benar-benar bahagia bertemu dengan wanita tersebut, yang tak lain adalah adik dari ibunya yang kini tengah dirawat dirumah sakit jiwa.


“tante..” ucap Hanna seraya menghambur ke pelukan wanita muda tersebut, dan dengan senang hati ia pun membalas pelukan Hanna dengan ukiran senyum hangat yang melengkapi pertemuan haru di pagi itu.


“maafkan Hanna ya, karena datang begitu terlambat.” Lanjut Hanna ditengah isak tangisnya yang sudah tak dapat lagi ia kendalikan.


“iya tidak apa-apa, tante mengerti, kau juga masih terlalu muda saat itu, sangat sulit pasti jika terus bertahan disini. Keputusan yang kau ambil memang sudah benar Hanna.” Sahut tantenya seraya mengusap lembut punggung keponakannya.


“lalu kenapa sekarang kau kembali?” tambah sang tante seraya melepas pelukannya untuk melihat lebih jelas wajah keponakannya itu yang sudah dibanjiri air mata pilunya.


“aku tidak mungkin terus melarikan diri bukan?


Bagaimana pun juga aku harus menghadapinya, tante.” Respon Hanna seraya menyeka air matanya.


“hmm..” tantenya yang bernama Yuri itu hanya mendehem sembari membantu Hanna menyeka air matanya yang masih saja terus mengalir membasahi kedua pipinya yang mulus.


“baiklah, apapun keputusanmu, tante akan selalu mendukungmu, karena kau sudah dewasa sekarang tante percaya padamu, Hanna.” Ucapnya seraya kembali memeluk Hanna yang masih belum bisa menghentikan tangisan pilunya.


Kepergian Rihanna beberapa tahun yang lalu memanglah bukan tanpa alasan, selain agar kehidupannya terjamin baik dari segi pendidikan atau kebutuhan lainnya yang ia perlukan, nyatanya ada alasan lain yang lebih mempengaruhi dirinya untuk memutuskan meninggalkan Indonesia dan menetap cukup lama di Inggris.


Dengan keputusannya itu dirinya harus meninggalkan karibnya Ahreum, kekasihnya Jeno, dan juga ibunya. Sangat sulit, namun jalan itulah yang pada akhirnya ia ambil karena menurutnya hal itu adalah pilihan terbaik yang ia miliki saat itu.

__ADS_1


***


bersambung...


__ADS_2