Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 240


__ADS_3

“baiklah, ayah tidak akan mencampuri pernikahanmu, kau sudah dewasa, ayah percaya padamu untuk menyelesaikan masalah dengan caramu sendiri, nak.


Tapi ingat, meski sebesar apapun rasa cintamu pada Ansell, kau harus lebih mengutamakan dirimu sendiri, nak. Sebelum kau mencintai orang lain, kau harus mencintai dirimu lebih dulu, oke.” Ucap Ayahnya yang kemudian mengecup kening putrinya itu.


“ayah pulang dulu ya, nanti malam ibumu akan kemari,” pamit Seno sebelum pergi meninggalkan kedua putra putrinya yang masih tampak saling berdiam diri.



“ciihh!!” Bennedict mendengus kala ayahnya telah meninggalkan ruangan dan kini hanya tinggal mereka berdua.


Bennedict bangkit dari sofa kemudian berjalan mendekati ranjang Ahreum dengan tatapan smirk juga kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celananya.


“Kau mungkin bisa menipu ayahmu dengan air mata dan bualan omong kosongmu itu, tapi…, jangan mengira kakak akan memberikan respon yang sama seperti ayah,” pekik Bennedict  yang membaut Ahreum menghela nafas kasar dan memutar kedua bola matanya, ia pun menyeka air matanya sebelum membalas perkataan kakaknya.


“tapi yaa memang begitu faktanya, semua ini hanya karena kesalahpahaman, jadi tolong jangan membuatnya menjadi rumit kak. Dan berikan Ansell kesempatan kedua untuk memperbaikinya, bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua.” Bela Ahreum.


“ciihh!!


Ku yakin kau sangat tahu jika kepribadian suamimu itu seperti bom, yang bisa meledak kapan saja. Kau ingin dia melakukan hal semacam ini lagi padamu?


Tidak, maksud kakak, cinta boleh Ahreum, tapi bego jangan!


Kau…, sangat berharga bagi kakak Ahreum, kami semua merawatmu dengan baik, memberikan cinta dan kasih sayang. Meski seringkali kau membuat kakak kesal atau marah, tapi kakak tak pernah sekalipun memukul, mendorong, mencubit atau melakukan kekerasan padamu.


Tak sampai hati kakak melakukannya padamu sebesar apapun kemarahan kakak terhadapmu, tapi.. tapi bagaimana mungkin lelaki yang baru saja kau kenal bisa melakukan hal sebrengsek ini padamu hah?!


Dan kau bilang semua ini hanyalah kesalahpahaman lalu meminta kami memahamimu dan menghargai segala keputusanmu?!


Apa kau bercanda?!


Itu.., tidak akan pernah terjadi, jika kau tidak menyetujui perceraian. Terpaksa kakak akan membawamu pergi dari sini!” tegas Bennedict seakan sudah harga mati tak ada penawaran sama sekali.


“tidak kak, kenapa kakak sangat egois, bagaimana mungkin kakak tega membuatku menjadi janda, pernikahanku bahkan belum genap 1 tahun.


Dan juga aku sudah dewasa kak, kenapa aku tak bisa mengambil keputusan sendiri?!


Aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua untuk suamiku, apa aku salah? Bukankah dia juga sudah meminta maaf dengan tulus, kenapa kakak gak bisa melihat ketulusan dan rasa penyesalannya?


Aku ingin mempertahankan pernikahanku sampai batas sanggupku, bukankah kakak sendiri yang bilang jika kita harus berjuang sampai akhir.” kekeh Ahreun yang juga tak mau mengalah.



“Jadi, kau rela terluka seperti ini demi bisa mempertahankan pernikahanmu, huh?!

__ADS_1


Kakak jadi semakin membenci lelaki itu, setelah melihatmu berani membantah perintah kakak sekarang.


Apa hebatnya dia dimatamu, sampai kau lebih memilih mempertahankannya dibanding mendengar perkataan kakakmu sendiri Ahreum!” balas Bennedict lagi.


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


“karena aku mencintainya kak, aku sangat mencintainya…, Hikkssss!!” tangis Ahreum pecah kala dinding pertahanannya mulai runtuh, menghadapi kakaknya memang lebih sulit daripada memohon pada ayahnya.


“cinta?


Kau yakin dia juga mencintaimu, huh?!


Bagaimana jika dalam ingatannya hanya ada mantan kekasihnya saja, mau sampai kapan kau hanya menjadi bayangan mantan kekasihnya, Ahreum! kau harus berhenti.


Setelah kau pulih dan keluar dari rumah sakit, kakak akan membawamu pergi ke kota xxx. Kakak juga sudah mengajukan pindah tugas. Untuk kuliahmu kau bisa meneruskannya dikota xxx.


Jangan harap kau bisa kembali padanya!” Bennedict kembali menegaskan jika keputusannya sudah benar-benar saklek.


“tidak, aku tidak mau kak Bennnn, aku tidak mau berpisah dengan Ansell…, hikssss.. hikssss..”


“Kakak melakukan ini untukmu Ahreum, kenapa kau tak bisa melihat rasa sayang kakak melebihi siapapun yang ada di DUNIA INI!!” sentak Bennedict karena saking kesalnya menghadapi adiknya yang keras kepala, sampai ia tak menyadari jika teriakannya itu sudah membuat deraian air mata adik perempuannya kian deras membasahi kedua pipinya.


“lantas apa kakak juga merasa pantas kembali bersanding dengan kak Winter hah?! Hiksss… (balas Ahreum yang mulai meninggikan nada suaranya, lantaran merasa sia-sia saja jika hanya bicara baik-baik dengan Bennedict)


Tapi kakak mendapatkannya, kakak mendapatkan kesempatan kedua, kenapa Ansell tidak?!” oceh Ahreum panjang lebar.


“Apa?


Pintar sekali sekarang kau membantah perkataan kakak Ahreum, kau sudah tak membutuhkan kakak lagi?” sahut Bennedict yang mulai tak kuasa menahan emosionalnya, ia pun akhirnya pergi meninggalkan adik perempuannya daripada harus meneruskan perdebatan yang hanya akan membuat hatinya terluka, sebab adiknya kini sudah lebih mencintai lelaki lain dibanding dirinya.


“tidak, bukan begitu maksudku, kak…, kakak!! Hikksss.. hiksssss..” teriak Ahreum begitu Bennedict menarik langkah panjangnya keluar dari ruangannya.


Sadar telah menyakiti hati kakaknya ia pun hanya bisa menangis sejadi-jadinya.


...****************...



“kak Benn…,” panggil Hanna begitu Bennedict muncul dari balik pintu, ternyata sedari tadi dia mendengarkan percakapan antara Bennedict dan Ahreum dari balik pintu kamar.


“kau, habis darimana, keluyuran aja kerjaanmu,” ketus Benn yang kemudian pergi berlalu.


“eyyy.. kau kan yang menyuruhku beli makan,” kata Rihanna yang ikut menyusul langkah Bennedict seraya menunjukan lunch bag nya.

__ADS_1


“aku sudah tak nafsu makan,” timpal Benn dingin ditengah perjalanannya menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


“kau tidak menemani Ahreum?” tanya Bennedict kala Rihanna malah ikut-ikutan masuk ke dalam lift.


“kakak pasti belum makan kan, sebaiknya kita makan dulu oke,” seru Rihanna yang langsung mengambil alih memencet tombol lantai yang ia hendaki, iya, alih-alih turun ke bawah, Rihanna malah membawa kakaknya itu ke lantai paling atas.


“mau ngapain ke atap?” kata Bennedict seraya mengerutkan dahinya.


“makan dong, katanya atap rumah sakit Haneul cukup bagus pemandangannya, kita bisa makan bersama disana, hehee.” Sahut Rihanna lengkap dengan senyum merekahnya yang membuat Bennedict hanya bisa menghela nafas panjangnya.


Setelah hening beberapa saat, Rihanna kembali melirik kakaknya dan mencoba membuka percakapan diantara keduanya.


“ammm, kak Benn…,” panggil Hanna yang baru sampai memanggilnya Bennedict sudah meresponnya dengan tatapan tajam.


“Jika kau ingin membantu Ahreum untuk membujuk kakak, sebaiknya tidak perlu katakan apapun,” tegas Bennedict lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


“eeyyy.. eyyy.. eeyyy.. aku hanya ingin cerita, aku sudah ke terima kerja, mulai pekan depan aku bukan pengangguran lagi dong, beri aku hadiah!” pinta Rihanna lengkap dengan wajah berbinarnya.



“hahhaaa, oke..oke..


Apa yang kau inginkan?” tanya Bennedict.


“Jangan membuat Ahreum berpisah,” pinta Rihanna yang langsung saja dibalas bentakan oleh Bennedict yang membuat Rihanna malah cengengesan, karena sudah berhasil mengisengi kakaknya.


“YAK!!”



“hihihihiiii!!”


...****************...


VVIP no 2, ruangan yang bersebelahan dengan kamar Ahreum.


"kenapa aku tak bisa mendengar apapun?" gerutu Ansell seraya menempelkan telinganya ke dinding yang bersebelahan dengan dinding ruangan istrinya.


"tentu saja ga kedengeran, kau fikir dinding rumah sakit setipis kesabaranmu?" celetuk Abi yang membuat Ansell langsung memberikan tatapan mematikannya.



"Sial!!"

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2