
Beberapa hari setelah kepergian Ansell dirgantara ke Amerika, bertepatan dengan hari terakhir pelaksanaan UAS dikampus Royal collage.
Terlihat Rihanna sudah nangkring dikursi yang berada dipekarangan toko serba ada sembari menikmati cemilan yang sebelumnya ia beli.
Sementara diseberang tampak Ahreum, Jeno, dan Nayeon yang tengah menunggu saat yang tepat untuk bisa menyebrangi jalan raya didepannya lengkap dengan raut wajah lelahnya karena telah berusaha keras selama beberapa hari ini mengikuti ujian akhir semester yang begitu menguras otaknya.
“hey, kau sudah lama disini?” sapa Ahreum begitu sampai didepan toko serba ada kemudian duduk dikursi yang berada disebelah Hanna, sedangkan Jeno dan Nayeon duduk dikursi yang bersebrangan.
Hanna pun hany membalas sapaan Ahreum dengan lambaian tangannya.
“bisa tolong belikan aku beberapa minuman dingin Jeno.” Pinta Ahreum seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi serta mengangkat kedua kakinya ke atas kursi untuk menyamankan posisi duduknya.
“aku juga mau dong, migi-migi rasa strawberry ya 1. Aku haus banget.” Tambah Nayeon yang kemudian membaringkan setengah tubuhnya ke atas meja untuk sekedar melepas penat yang ada.
“hmm baiklah.” Sahut Jeno dengan nada malasnya, kemudian bangkit dari kursinya dan mulai menarik langkah masuk ke dalam toko serba ada.
“sudah selesai ujiannya? Besok jadi dong kita liburan ke Yogyakarta.” Ucap Hanna yang mengingatkan kembali rencana mereka untuk liburan dikampung halaman mendiang ibunya setelah selesai UAS.
“hmm.. ayoo, aku juga sudah ijin pada ibu dan ayah. Bagaimana denganmu Nay?” tanya Ahreum seraya mengarahkan pandangannya pada Nayeon yang masih terbaring dimeja.
“oke. Aku bahkan sudah menyiapkan kaos couple untuk kita bertiga hehe.” Seru Nayeon yang bangkit dari tidur-tiduran sesaatnya kemudian tersenyum lebar pada Ahreum.
“cihh! Kenapa kau tidak coupelan dengan Jeno aja.” Ketus Rihanna sebelum meneguk air mineralnya.
“aughh **** yak! aku sudah membelikan mu motor loh! Dan sekarang cuma tinggal kau pakai aja, ribet banget sih.” gerutu Nayeon yang kesal karena sikap judes Hanna.
“bukannya ribet..”
“ssstt berisik..” sela Ahreum seraya menajamkan pandangannya ke suatu tempat yang membuat kedua temannya mengerutkan dahi secara bersamaan karena tidak mengerti apa yang sedang Ahreum lakukan.
“ada apa?” tanya Nayeon seraya memutar kepalanya dan mencoba mencari hal apa yang kini karibnya lihat.
__ADS_1
“lihat arah jam 15:00, wanita yang memakai gaun hitam, dan heels merah.” Kata Ahreum menjelaskan sembari terus mengamati pergerakan wanita tersebut dari jauh.
“memangnya kenapa dengan wanita itu?” tanya Rihanna seraya melirik ke arah Ahreum.
“dia seperti Ilona.” Lanjut Ahreum seraya bangkit dari kursinya, begitu wanita tersebut berjalan menuju sebuah mobil hitam yang berada dihadapannya dengan beberapa lelaki berperawakan tinggi besar seakan tengah mengawalnya dari belakang.
“mantan kekasih Ansell? bukannya dia sudah meninggal, bahkan kita pernah mengunjunginya dirumah abu.” Ujar Nayeon yang ikut bangkit dari kursinya.
“tenanglah mungkin wanita itu hanya mirip aja.” Timbrung Hanna seraya mencoba menarik lengan Ahreum untuk kembali duduk dikursinya.
“tidak, aku harus memastikannya. Sepertinya ada yang tidak beres.” Gumam Ahreum seraya menepis tangan Hanna.
“apa kunci mobil Jeno ada bersamamu?” tanya Ahreum pada Nayeon.
“he’em.” Sahut Nayeon seraya menarik tali ranselnya untuk menunjukan kunci mobil yang berada disaku depan ransel kecilnya.
“ayo kita ikuti wanita itu.” seru Ahreum yang kemudian menarik langkah setelah memastikan kunci mobil Jeno ada bersama Nayeon.
Mereka berdua pun bergegas menyusul Ahreum yang kini semakin mempercepat langkahnya menyebrangi jalan raya kemudian berlarian menuju parkiran kampusnya.
Sementara itu setelah beberapa menit kepergian ketiga gadis tersebut, Jeno pun keluar dengan 1 kantong kresek penuh cemilan.
“kemana mereka pergi?” gumam Jeno lengkap dengan raut wajah bingungnya memandangi tempat yang sebelumnya diisi oleh kedua teman dan 1 kekasihnya kini telah kosong, hanya tertinggal beberapa sisa cemilan dan juga botol kosong milik Hanna yang belum dibersihkan diatas meja.
Begitu pandangan Jeno beralih ke arah pintu masuk utama kampus Royal, sekilas ia melihat mobil miliknya tengah melaju keluar dari area kampus. Membuat kedua matanya pun membulat dan lantas bergegas menuju pinggiran trotoar untuk memanggil taxi yang hendak melintas ke arahnya.
“ikuti mobil hitam itu pak, plat nomor Bxxxx, cepat ya. Aku akan membayar 3 kali lipat jika bapak bisa menyusulnya.” Ujar Jeno begitu mendudukan bokongnya dikursi penumpang, ia pun meletakan kresek cemilan disampingnya dan memfokuskan pandangannya pada mobil miliknya yang berada cukup jauh didepan.
“baik tuan.” Sahut sang sopir seraya menancapkan gas nya untuk memenuhi permintaan kliennya tersebut.
“sebenarnya apa yang ketiga gadis itu rencanakan sih! Sampai harus meninggalkanku.” Gumam Jeno yang tak hentinya mengamati pergerakan mobil hitam miliknya yang terus melaju dengan kecepatan penuh seolah tengah berada diarena balap, mobil tersebut selalu saja menyalip mobil-mobil lainnya yang berada didepannya membuat Jeno semakin curiga jika ada yang tidak beres.
__ADS_1
Sementara itu didalam mobil yang dikendarai oleh Nayeon.
“aughh shitt!! Yak! bisa pelan-pelan aja ga sih! gue mual nih.” Dumel Hanna yang duduk dibelakang kursi pengemudi sembari memegangi pegangan tangan mobil karena sedari tadi Nayeon terus saja menyalip mobil-mobil yang berada didepannya membuat para penumpang pun ikut terombang-ambing ke berbagai sisi.
“jika aku melambatkan sedikit aja, mungkin aku akan kehilangan mobilnya. Kau tak lihat! Sepertinya mereka menyadari jika sedang dibuntuti.” Balas Nayeon lengkap dengan sorot mata tajamnya yang terus mengarah pada pergerakan mobil yang tengah diikutinya tersebut.
“itu terlihat semakin mencurigakan.” Tambah Ahrreum yang juga tak ingin menyerah begitu saja pada misinya yang ingin memastikan siapakan gerangan wanita yang mirip sekali dengan mantan kekasih suaminya itu.
“apa kau benar-benar yakin Ahreum? Kurasa ini akan berbahaya jika terus mengikutinya, 2 lelaki berbadan besar itu terlihat seperti anggota gangster.” ujar Hanna seakan ia memiliki firasat buruk.
“ahh iya aku baru ingat! Kau benar Hanna, aku juga pernah melihat lelaki itu sedang berkelahi dengan anak buah ayahku dulu. Pantas saja wajahnya terasa familiar bagiku.” Timpal Nayeon ditengah fokusnya mengikuti mobil yang berada didepannya.
“sebaiknya aku hubungi kak Abi untuk berjaga-jaga. Kau juga cepat hubungi kak Ben!” perintah Hanna seraya mengarahkan pandangannya sejenak pada Ahreum sebelum mengetik sebuah pesan untuk Abi.
“tunggu, sepertinya aku kehilangan mobil itu Ahreum. Dia menghilang setelah menyalip truck didepan, bagaimana ini?” ucap Nayeon seraya menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan mobil hitam yang sedari tadi diikutinya.
“mungkinkah dia belok ke kanan setelah menyalip truck?" respon Ahreum setelah selesai mengirimkan sebuah pesan pada Bennedict. Ia pun ikut memikirkan berbagai kemungkinan kemana mobil tersebut pergi.
Disaat keduanya sibuk mencari mobil yang menjadi target pembuntutannya, Hanna tampak mengernyitkan keningnya seraya melihat pantulan kaca didepan mobil yang memantulkan sebuah taxi yang berada ditikungan jalanan yang sudah dilaluinya sebelumnya.
Ia pun menoleh ke belakang karena merasa curiga dengan taxi tersebut, sebab sedari tadi taxi itu tidak pernah jauh dari keberadaan mobilnya.
“Jeno.” Ucap Hanna dalam hati.
Bersamaan dengan menengoknya Hanna ke belakang, mobil yang dikendarai oleh Nayeon pun tiba-tiba saja berhenti hingga membuat kepala Hanna membentur kursi pengemudi cukup keras.
“astaga! Yak!” belum sempat Hanna menumpahkan sumpah serapahnya, kedua matanya membulat saat mendapati gerombolan bapak-bapak berbadan besar yang berdiri didepan mobilnya, dan mengarahkan sorot mata tajamnya pada mobil yang kendarai oleh Nayeon. Seakan mereka semua telah menantikan kedatangan ketiga gadis itu, mereka pun tampak tersenyum penuh arti kemudian melenggangkan kakinya serempak untuk mendekati keberadaan mobil Nayeon.
“Si***al! apa kau bisa memutar mobilnya sekaligus Nay?!"
***
__ADS_1
Bersambung...