
_Aparteman Bougenville_
Lebih tepatnya dikamar Ansell, tampak Ansell masih terlelap dalam tidurnya sampai saat dirinya memutar tubuhnya ke sisi lain kemudian meraba area yang sebelumnya ditiduri oleh Ahreum, sontak kedua matanya terbuka lebar seiring dengan nyawanya yang sudah berkumpul dalam tubuhnya yang kini terbangun dari tidurnya.
Matanya menelusuri setiap sudut ruangan lalu berhenti dipintu kamar mandi. ‘mungkinkah dia ada dikamar mandi?’ fikirnya yang kemudian langsung beranjak dari ranjang dan mulai menarik langkah menuju kamar mandi untuk mencari sosok istri mungilnya yang sudah menghilang dipagi hari.
Ia tampak gusar karena memang sebelumnya Ahreum tidak pernah bangun sepagi ini jika tidak sedang kuliah.
“Ahreum, kau didalam?” ucap Ansell seraya membuka pintu kamar mandi perlahan yang memang tidak terkunci.
Ia membuka pintu kamar mandi itu lebar-lebar disusul dengan kernyitan dikeningnya mendapati kamar mandinya kosong dan tampak kering, seperti belum ada yang menggunakannya.
“mungkinkah dikamarnya..” gumam Ansell yang lantas memutar tubuhnya dan mulai berjalan keluar dari kamarnya.
“bibi..” panggil Ansell begitu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan melihat bi Ijah yang tengah mengiris bahan-bahan masakan didapur lengkap dengan celemek yang sudah menyelimuti tubuh gempalnya.
Bi Ijah pun mengangkat wajahnya dan membalas sapaan Ansell dengan senyum ramahnya.
“iya tuan.. sreeekk.. ada apa?” sahut bi Ijah ditengah tarikan ingus yang hendak mengalir keluar dari kedua lubang hidungnya, begitupun dengan sudut matanya yang kini sudah membentuk jalanan panjang dari air matanya, membuat Ansell mengangkat 1 alisnya dan berjalan santai menuju keberadaan bi Ijah.
“ada apa? kenapa bi Ijah menangis?” tanya Ansell yang terlihat khawatir pada ART nya itu.
“ahh ini.. tidak apa-apa tuan, hanya aroma bawang merah dan bawang Bombay ini begitu menyengat hehe.” Timpal bi Ijah dengan diiringi tawa renyah diakhir kalimatnya.
“hmm..
Bibi melihat Ahreum?” tanya Ansell yang kembali pada tujuannya.
“nona Ahreum..
Ahh iya.. nona Ahreum sedang mengambil paket dibawah tuan, tadinya mau bibi yang ambilkan cuma nona Ahreum bersikeras untuk mengambilnya sendiri.
Tapi kenapa nona Ahreum belum kembali juga ya, sudah 20 menitan sejak kepergian nona Ahreum. Apa paketnya sangat banyak ya.” Papar bi Ijah seraya mencoba berfikir keras.
Setelah mendengar keseluruhan informasi dari bi Ijah mengenai istri mungilnya, Ansell pun lantas kembali ke kamar dengan langkah panjangnya.
Ansell berjalan menuju bupet disamping ranjang untuk meraih ponselnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi jemarinya sibuk mengutak-atik sebuah aplikasi yang ada didalam ponselnya kemudian muncullah sebuah video yang tampak seperti rekaman CCTV dari loby apartemannya.
Lelaki yang masih memakai piyama kotak-kotak itu tiba-tiba mengernyitkan keningnya, disusul dengan suara tawa kecil setelah beberapa menit menonton sebuah video yang menampilkan seorang gadis mungil yang tengah melakukan hal konyol di loby aparteman.
“apa sih yang dia lakukan..” celetuk Ansell ditengah tawa gelinya dan pandangan yang tak bisa lepas dari layar ponselnya.
Sementara itu diloby aparteman.
“gimana pak Rudy? Bagus ngga helmnya?” seru Ahreum dengan memposekan beberapa gaya bak model yang tengah mempromosikan sebuah barang dari sebuah brand.
Pak Rudy sang penjaga aparteman pun hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan dari salah satu penghuni apartemen Bougenville itu seraya mengangguk-anggukan kepala dan memberikan 2 jempol miliknya.
“hehehe.. bagus-bagus nona. Hijau warna favorite nona Ahreum?” komen pak Rudy masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajah keriputnya.
“engga juga hehe.. aku hanya suka mematching-matching kan warna pak Rudy, karena motor temanku berwarna hijau jadi aku juga beli helmnya warna hijau hehee. Dan kopernya bagaimana pak Rudy?
Lucu ngga? Daripada gambar kartun yang sudah banyak orang punya, aku minta penjualnya untuk melukis wajahku aja disini hehehe.” Ceritanya lagi seraya menunjukan kopernya yang bergambarkan wajahnya sendiri dengan pose se imut mungkin membuat pak Rudy pun kembali tertawa renyah.
“iya.. iya.. bagus nona, apa ya istilahnya buat barang yang langka, atau yang hanya ada 1 didunia..” celoteh pak Rudy seraya terus memperhatikan lukisan wajah dikoper milik Ahreum.
“limited edition! Hehehee.” seru Ahreum yang kemudian diakhiri dengan tawa renyah bersama dengan pak Rudy.
Ingin ikut memastikan, pak Rudy pun berjongkok seraya memperhatikan apa yang dilakukan gadis mungil yang berada disampingnya itu dengan tatapan seriusnya.
“nona Ahreum..” panggil seseorang dari belakang yang sontak membuat keduanya pun langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
“kak Abi.” Balas Ahreum yang kemudian bangkit bersamaan dengan pak Rudy yang lalu memberikan sapaan pada lelaki yang baru saja bergabung diantara mereka berdua.
“pagi mas Abi.” Sapa pak Rudy ramah seraya menurunkan kepalanya sedikit, yang kemudian dibalas hal yang sama oleh Abi.
“Iya pagi juga pak Rudy. Bagaimana kabar bapak, baik pak?” sapa Abi setelah menurunkan kepalanya pada pak Rudy ia pun langsung menepuk lembut bahu pak Rudy yang telah lama bekerja menjaga aparteman Bougenville.
“baik mas Abi. Mas Abi sendiri bagaimana, baik? Sudah dapat calonnya mas?
Kalau masih belum ketemu juga, gimana kalau bapak kenalin sama putri sulung bapak aja. Hahaa.” timpal pak Rudy dengan diiringi tawa renyahnya.
“hahaa.. Iya saya juga baik pak Rudy. Terimakasih pak Rudy, bapak bisa aja.” Sahut Abi yang juga tak bisa menahan tawa renyahnya kala pak Rudy melontarkan candaannya.
“ahh iya.. nona Ahreum sedang apa disini?” tanya Abi yang kembali tersadar jika ada Ahreum yang tengah menunggu interaksi mereka berdua berakhir.
__ADS_1
“abis ambil paket, aku pesan helm dan koper, karena ga sabar jadi aku langsung buka aja disini dibantuin sama pak Rudy barusan.” Katanya seraya menunjukan sampah dari bungkusan paketnya tersebut yang tergeletak diatas meja pak Rudy dengan sorot matanya.
“pak Rudy makasih ya, biar aku buang sampah kardusnya.” Lanjut Ahreum yang kemudian hendak berjalan menuju meja pak Rudy dan mengambil sampah kardus dari paketannya.
“tidak nona.. gak apa-apa, biar saya aja yang buang, kebetulan banyak sampah kardus didalam kantor saya. Jadi ini nanti sekalian saya saja yang membuangnya.” Cegah pak Rudy yang membuat Ahreum kembali memutar tubuhnya dan mencoba menimbang tawaran bantuan dari pak Rudy tersebut.
“hmm.. baiklah kalau begitu, terimakasih banyak ya pak Rudy.” ucap Ahreum yang akhirnya menyetujui pertolongan yang diajukan pak Rudy seraya membungkukan tubuhnya sedikit lengkap dengan senyum manisnya yang membuat pak Rudy membalas senyumanya dengan yang lebih lebar karena merasa begitu dihargai atau dihormati oleh gadis mungil tersebut.
Ahreum pun pamit undur diri bersama dengan Abi yang mengikutinya dari belakang.
“biar saya aja nona.” Tawar Abi seraya menahan koper yang kini tengah diseret oleh istri bosnya tersebut.
“ahh tidak perlu, ini ringan kok. Kan tidak ada isinya.” Tolak Ahreum tegas seraya kembali berjalan menuju lift.
“nona tidak mau melepaskan helm nya dulu. Tidak akan ada polisi yang menilang disini nona.” Sambung Abi ketika mereka berdua telah memasuki lift yang akan membawanya ke lantai tujuan.
“kurasa helmnya terlalu sempit jadi lebih baik aku pakai terus kan helmnya biar longgaran sedikit, hehee.” Celetuknya semberi cengengesan yang membuat Abi hanya bisa menggeleng kepala ditengah tawa kecilnya.
“ahh.. aku tahu bagaimana cara untuk memastikan kokoh tidaknya roda koperku. Hihii..” Seru Ahreum lengkap dengan tawa anehnya diakhir kalimat yang membuat Abi lantas menolehkan wajahnya pada gadis yang tengah mengoceh sendiri itu.
Beberapa saat sebelum pintu lift terbuka Ahreum pun sudah bersiap dengan posisi yang tidak biasa, ia memposisikan koper menyamping kemudian membungkukan tubuhnya dibelakang koper dengan kedua tangan yang sudah berada diatas permukaan koper seolah siap untuk menaikinya.
Abi yag bediri tepat disampingnya hanya bisa mengerutkan dahinya dengan segudang pertanyaan yang tak bisa ia lontarkan pada gadis yang tengah berperilaku aneh itu.
Sampai ketika pintu lift pun akhirnya terbuka dan…
Whosssshhhh!! Benar saja begitu pintu lift terbuka Ahreum pun melancarkan aksinya dengan menaiki koper baru miliknya kemudian mendorongnya layaknya mobil-mobilan bocah yang melaju cukup cepat melewati koridor aparteman.
Tepat saat Ahreum hendak melewati pintu apartemannya Ansell pun muncul dari balik pintu dengan 2 mata bulatnya, lantaran sangat terkejut mendapat sambutan yang tak biasa dari istri mungilnya yang tengah bermain-main dengan koper barunya yang ia alih fungsikan sebagai mobil-mobilan.
Sampai…
Bruuggghhhh!!!
Karena tak bisa mengontrol laju roda kopernya yang melaju dengan kecepatan tinggi, akhirnya ia pun menghantam dinding dan terjatuh mengenaskan bersama dengan koper yang rodanya sudah terlepas dan menggelinding ke berbagai arah.
“astaga!! NONA AHREUM!!” kaget Abi yang langsung bergegas berlari menuju tempat kejadian perkara.
Begitupun dengan Ansell yang buru-buru menghampiri istrinya yang kini sudah terbaring tak berdaya dilantai.
__ADS_1
Bersambung...