
Selang beberapa menit kemudian setelah dirasa lebih baik, Ahreum pun keluar dari mobil. Dilihatnya Ansell tengah berdiri dibagian belakang mobilnya seraya sibuk mengutak-atik layar ponselnya entah apa yang dilakukannya, namun keyakinan terbesar Ahreum, suaminya itu tengah sibuk dengan pekerjaannya.
“ayo.” Ajak Ahreum dengan nada lemah seraya berjalan melewati suaminya.
Ansell kembali memasukan ponsel ke dalam tas yang diselempangkannya sebelum menyusul langkah istrinya yang tampak tidak bergairah.
“sebaiknya kau tinggal dimobil saja.” Ucap Ansell seraya menahan lengan Ahreum agar menghentikan langkahnya sejenak.
“tidak.. aku baik-baik aja. Ayoo..” timpal Ahreum sembari menurunkan tangan Ansell dari bagian sikutnya lalu beralih menggenggamnya kemudian menariknya bersamaan dengan senyumnya yang merekah dan kedua kakinya yang kembali melangkah untuk memasuki pintu bagian belakang rumah sakit.
“hmm..” Ansell hanya menghela nafas seraya kembali melanjutkan perjalanannya dengan saling berpegangan tangan.
“tadi itu.. kak Winter, kakak perempuannya Jeno dan sekaligus kakak iparku.” Cerita Ahreum ditengah perjalanannya menuju meja receipcionist.
“mereka berdua sudah menjalin hubungan sejak SMA, meski selalu mendapat penolakan keras dari keluarga kak Winter tapi kak Ben gak pernah menyerah untuk menunjukan kesungguhannya, hmm.. aku iri sekali dengan kisah cinta mereka.” lanjut Ahreum seraya mengayunkan genggaman tangannya dan sesekali melirik kearah Ansell.
“bagian mana yang membuatmu iri? Bukankah katamu mereka tidak direstui.” Celetuk Ansell lengkap dengan lirikan tajamnya.
“aissh.. maksudku..” belum sempat Ahreum menjelaskan secara mendetail, Ansell keburu memotongnya, karena mereka sudah sampai didepan meja recepcionist.
“panggilkan dokter jaga sekarang juga, untuk menjahit luka ditelapak tanganku!” perintah Ansell pada salah seorang perawat yang tengah berdiri membelakanginya, refleks perawat itu pun membalikan tubuhnya kala mendengar suara yang tak asing tersebut dan meninggalkan pekerjaannya sejenak yang sedang memeriksa data pasien.
“ahh, pak Ansell..” gugupnya. “ba.. ik pak, sebentar saya panggilkan.” Lanjutnya terbata-bata kemudian bergegas pergi untuk menjalankan perintah dari putra pemilik rumah sakit tersebut.
“bukankah lebih bagus jika kalimatmu seperti ini ‘maaf suster, bisa tolong..”
Alih-alih mendengarkan perkataan Ahreum, Ansell malah melepas genggaman tangannya kemudian beralih merogoh ponsel yang berada dalam tas selempangnya seakan tidak perduli apa yang akan Ahreum katakan padanya.
Ia lebih memilih terfokus pada layar ponselnya, entah apa yang dilakukannya yang jelas wajahnya kini tampak serius sekali. Layaknya seseorang tengah mengamati sesuatu yang penting. ‘mungkin pekerjaannya.’ Fikir Ahreum, yang akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah dengan sikap angkuh suaminya tersebut.
Sementara suaminya disibukan dengan ponselnya, mendadak Ahreum pun merasa haus, kedua matanya mencoba berkeliling mencari sesuatu yang bisa menyegarkan kerongkongannya saat ini.
__ADS_1
Dan sampailah ia pada mesin minuman otomatis yang terletak diujung koridor.
“aku mau minum, kau mau minum apa?” tanya Ahreum seraya memandangi wajah Ansell lekat yang bahkan tidak meliriknya sama sekali karena saking fokusnya dengan ponsel miliknya.
“engga.” Sahut Ansell singkat.
“hmm..” respon Ahreum yang kemudian pergi menuju mesin minuman otomatis.
Meski tampak acuh dan tak perduli, ternyata saat Ahreum telah melewatinya, Ansell diam-diam memperhatikan langkah kecil Ahreum seakan tengah mengawasinya dari jauh.
“pak Ansell.” panggil sang dokter yang telah tiba membuat pandangan Ansell teralihkan sesaat.
“ada yang bisa saya bantu pak?” sambungnya lengkap dengan senyum ramah yang menghiasi wajah cantiknya.
“tanganku perlu jahitan.” Kata Ansell yang langsung pada intinya seraya membuka balutan kain kassa ditelapak tangannya.
Namun karena perasaannya tidak nyaman, ia pun kembali mengecek istri mungilnya yang hendak membeli minuman dari mesin minuman otomatis.
Dilihatnya seorang lelaki kisaran umur 40 tahunan yang duduk dikursi panjang tengah asyik memperhatikan gerak-gerik istrinya tersebut, lebih tepatnya pandangan itu mengarah ke bagian bokong Ahreum yang hendak membungkukan tubuhnya karena mau mengambil minuman yang sudah berhasil keluar dari mesin tersebut.
Tentu saja hal itu membuat Ansell emosional dan langsung bergegas menuju keberadaan istrinya yang masih belum menyadari jika ada seseorang yang tengah memperhatikan tubuhnya dengan tatapan mesum.
“Ahreum!!” panggil Ansell dengan nada tingginya yang membuat tubuh Ahreum refleks kembali tegap dan tidak jadi mengambil minuman kalengnya.
“apa sih, aku gak tuli, bisa ga gausah teriak-teriak.” Protes Ahreum lengkap dengan raut wajah merajuknya.
Ansell pun mengambilkan minuman kaleng milik Ahreum, kemudian membukanya sebelum memberikannya pada Ahreum yang masih tampak kebingungan dengan sikap Ansell saat ini.
“sudah ku bilangkan untuk memakai pakaian yang normal!” kata Ansell seraya memegang kedua bahu Ahreum kemudian meremasnya untuk memberikan peringatan pada istrinya yang keras kepala itu.
“uuhuukk.. uhuukk..” Ahreum yang tengah menikmati segarnya minuman pun dibuat terkejut oleh tindakan kasar Ansell hingga membuatnya terbatuk.
__ADS_1
Setelah memberikan peringatan pada istrinya, dan juga lirikan tajamnya pada lelaki yang berada dihadapannya ia pun lantas pergi untuk kembali pada sang dokter yang telah menunggu di depan meja recepcionist sedari tadi.
“astaga.. entah kenapa sekasar apapun perbuatannya, aku tidak pernah bisa membalasnya.” Gumamnya ditengah perjanalannya menyusul suaminya yang kini tengah berjalan menuju ruang UGG bersama dengan seorang dokter muda disampingnya.
“Ahreum..” panggil seseorang yang membuat langkahnya pun terhenti kemudian menoleh ke sumber suara.
“dokter Elios.” Ucap Ahreum seraya menyunggingkan senyum tipisnya.
“sedang apa kau disini?” tanya Elios yang semakin mendekatkan langkahnya pada Ahreum.
“amm, menemani Ansell, tangan Ansell terluka dan sekarang sedang dijahit oleh dokter.” Jelasnya.
“terluka? Kok bisa.” Respon Elios yang mencoba memperhatikan bagian sekitar bibir Ahreum yang tampak basah karena sebelumnya dirinya tampak tersedak.
“jadi..” saat Ahreum hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, lengan Elios keburu menyeka area sekitaran bibir Ahreum yang basah dengan ibu jarinya. Membuat Ahreum sontak membulatkan kedua bola matanya sejenak karena sentuhan mendadak tersebut.
“kenapa wajahmu basah seperti ini, ada yang mengejutkanmu saat minum?” lanjut Elios setelah selesai menyeka area wajah Ahreum yang basah kemudian menatapnya lekat yang semakin membuat Ahreum salah tingkah.
“ahh ini, iya tadi aku sempat tersedak.” Papar Ahreum seraya meremas kaleng minumannya dan mengarahkan pandangannya ke tempat lain karena tak berani menatap langsung kedua mata Elios saat ini.
“hmm.. lain kali hati-hati Ahreum, pelan-pelan aja.” Kata Elios seraya mengusap lembut bagian kepala atas Ahreum lengkap denagn tatapan lembutnya yang terus mengarah pada kedua manik Ahreum.
Karena kembali terkejut mendapat sentuhan yang tak terduga dari Elios, Ahreum pun mengarahkan pandangannya pada wajah Elios yang kini tengah tersenyum ramah padanya.
“oke, aku tinggal ya, ada praktek sebentar lagi. Sampai jumpa.” Pamit Elios yang kemudian pergi setelah mendapat anggukan pelan dari Ahreum seraya melambaikan tangannya beberapa kali sebelum akhirnya menghilang dari pandangan gadis mungil tersebut.
“apa ini.. kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini.” gumam Ahreum yang terus saja memandangi jalanan yang tadi dilewati oleh dokter Elios.
“yak Ahreum! Bukankah kau sudah bertekad untuk melupakannya tapi kenapa hatiku masih bereaksi ketika bertemu dengannya. Ini gak boleh terjadi! Dasar bodoh!” hardiknya pada diri sendiri seraya memukul kepalanya sekali dengan kepalan tangannya untuk menyadarkan dirinya yang kembali terhipnotis dengan perlakukan lembut dan penuh kasih dari Elios yang selalu membuat hatinya meleleh.
“sedang apa kau?! Ingin mengeluarkan otakmu yang secuil itu.” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul disamping Ahreum yang tak lain adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
***
Bersambung..