Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 27


__ADS_3

Keesokan harinya.


Masih dikediaman Andrew dirgantara, lebih tepatnya diruang makan keluarga, sudah ada kedua orang tua Ansell yang menempati kursi yang biasa mereka duduki, sementara putranya baru saja menuruni tangga sembari mengaitkan kancing yang berada dipergelangan tangannya.


“kau sudah bangun sayang, ayo kita sarapan dulu.” Ajak sang mama yang menyadari kehadiran putranya tersebut.


Ansell hanya melirik sesaat untuk menanggapi perkataan mamanya kemudian kembali memalingkan wajahnya, membuat Carrisa yang saat itu tengah mengoleskan selai diatas rotinya hanya menggelengkan kepala menghadapi sikap angkuh putranya tersebut.


Bersamaan dengan berakhirnya langkah kaki Ansell menuruni anak tangga, Ahreum pun muncul dengan sedikit tergesa-gesa, hingga membuatnya harus berpegangan pada besi tangga agar ia tidak tergelincir disaat mengambil langkah cepat menuruni tangga.


Hari ini Ahreum mengurai rambut panjang ikalnya kembali, bukan tanpa alasan ia tidak menguncir rambutnya kali ini, melainkan ada sesuatu yang harus ia sembunyikan dari pandangan Ansell, dengan setelan casual kaos oversize berwarna putih juga rok jins pendek diatas lutut yang membuatnya semakin terlihat imut.


Begitu Ansell mendudukan bokongnya diatas kursi yang biasa ia duduki, Ahreum pun menyusulnya dengan duduk diseberangnya.


“pagi om, tante.” Sapa Ahreum lengkap dengan senyuman cerahnya sebelum memulai sarapan paginya berasama keluarga Dirgantara.


“iya pagi juga sayang, kau mau ke kampus? Atau kemana?” tanya Carrisa seraya memberikan sepotong roti yang sudah diolesinya dengan selai, sedangkan Andrew hanya tersenyum menanggapi sapaan calon menantunya tersebut.


“aku mau ke kampus tante, tapi sebelum itu aku mau menjenguk Nayeon dulu dirumah sakit.” Jawab Ahreum sebelum menyantap roti pemberian dari calon ibu mertuanya.


“rumah sakit?” ulang Carrisa lengkap dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya.


“iya tante, ada sesuatu terjadi kemarin, hehe.” Respon Ahreum seraya menutup mulutnya yang penuh dengan roti isi selai menggunakan telapak tangannya.


“aah begitu, tante minta pak ujang untuk mengantarmu ya.” Ucap Carrisa seraya kembali mengambil sepotong roti dan berlanjut mengolesinya selai seperti yang dilakukannya sebelumnya.


“tidak usah tante, aku bisa sendiri kok.” tolak Ahreum dengan nada yang seramah mungkin.


“kok begitu?


Kau ingin membawa mobil sendiri?” timbrung Andrew seraya menatap ke arah Ahreum yang masih mencoba mengunyah roti didalm mulut mungilnya.


“bukan, maksudku, aku ingin pergi naik busway aja om tante, lagipula aku tidak bisa mengendarai mobil hehe.” Sahutnya lagi lengkap dengan senyuman manisnya.


“busway?


Jangan begitu dong sayang, nanti apa kata ayah dan ibumu kalau tahu putrinya naik busway, bukankah kedua orang tuamu nanti berfikir jika kami tidak benar-benar menjagamu disini.” Timpal Carrisa kembali lengkap dengan raut wajah khawatirnya layaknya seorang ibu pada umumnya.

__ADS_1


Sementara kedua orang tuanya dan Ahreum berdebat soal kendaraan, Ansell hanya terdiam menikmati sarapan paginya, seolah tak perduli dengan pembicaraan yang tengah berlangsung di meja makan tersebut.


“aku biasa pakai busway kok tante, jadi tante dan om tidak pelu khawatir, kedua orang tuaku juga tahu hal ini, karena biasanya jika Nayeon atau Jeno tidak menjemputku, aku akan naik busway ke kampus.” Paparnya yang membuat pembahasan kendaraan diantara ketiganya pun berakhir.


***


Rumah sakit Haneul Jakarta.


Lebih tepatnya di ruangan Nayeon, ketika dirinya membuka kedua matanya ia sudah mendapati wajah kekasihnya Jeno tengah tertidur disampinganya dengan tubuhnya yang terduduk dikursi disamping ranjangnya.


“berhenti menatapku atau matamu akan copot.” Gumam Jeno yang menyadari jika sedari tadi Nayeon sudah memandanginya cukup lama, ia pun bangun dari tidurnya dengan diselingi peregangan pada tubuhnya sejenak.


Nayeon pun langsung memalingkan wajahnya ke arah lain bersamaan dengan bangkitnya Jeno dari ranjangnya.


“aku..


Sudah mengutarakan perasaanku yang sebenarnya pada Ahreum tadi malam.” Lanjut Jeno yang membuat Nayeon kembali menatapnya.


“dia tidak menjawab apapun, dia hanya menangis kencang dihadapanku, selama ini ku kira dia hanya nyaman dengan status persahabatan yang kita miliki, hingga tak pernah sekali pun berfikir jika dia memiliki perasaan yang sama sepertiku.


Tapi mendengar tangisan itu tadi malam, membuatku tersadar jika Ahreum pun memiliki perasaan yang sama besarnya seprerti perasaan yang ku miliki untuknya.” Ceritanya lagi panjang lebar.


Sekarang kau ingin merebutnya dari Ansell.” Sahut Nayeon dengan suara paraunya seolah ia tengah berusaha menahan tangis pedihnya.


“tidak,


Aku terlalu pengecut untuk melakukan hal itu, Nay.” Respon Jeno seraya mengarahkan pandangannya pada Nayeon.


“apa kau sudah lebih baik, sekarang?” tanya Jeno mengubah topik pembicaraan.


“seperti yang kau lihat, aku tidak baik-baik saja.” Respon Nayeon yang kemudian memalingkan wajahnya kembali.


“maafkan aku ya, Nay, memang aku yang salah, hingga kau..”


“bisa kau berhenti bicara, aku tak ingin mendengar suara atau pun wajahmu saat ini, jadi tolong keluar daria ruanganku.” Potong Nayeon yang masih memalingkan wajahnya dari Jeno.


“oke baiklah, aku sudah mengabari ayahmu, tapi sepertinya ayahmu masih terjebak dibandara, pesawatnya delay kemungkinan ayahmu akan sampai nanti malam.” Ucap Jeno seraya bangkit dari kursinya dan menatap Nayeon sejenak sebelum akhirnya mengambil langkah pertama untuk meninggalkan ruangan kekasihnya tersebut.

__ADS_1


“augh sial!” umpat Nayeon sesaat setelah Jeno menutup kembali pintu ruangan Nayeon.


“saat Ahreum menyuruhmu pergi kau bahkan tak mendengarkannya, tapi giliran aku yang meminta, kau pergi begitu saja seolah aku benar-benar tidak ada artinya sama sekali bagimu.” Gumam Nayeon seraya menyeka air matanya yang mulai menetes mewakili rasa sakit yang kini tengah ia rasakan.


***


Dalam perjalanan Ahreum menuju rumah sakit, lebih tepatnya kini Ahreum tengah berdiri seraya memegangi tiang yang berada dibusway, karena seluruh kurs didalam busway telah terisi penuh membuat dirinya mau tak mau berdiri di sepanjang perjalanannya menuju tujuan utamanya yaitu rumah sakit Haneul, tempat dimana karibnya dirawat.


Namun dirinya merasa yang aneh, sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari kediaman keluarga Dirgantara ia seolah tengah dibuntuti oleh seseorang yang berperawakan tinggi besar, dengan setelan jas hitam juga masker dan topi yang menambah kecurigaan Ahreum pada lelaki tersebut.


Meski terasa ada yang janggal, namun ia mencoba untuk tetap berfikir positif, mungkin saja itu hanya perasaannya saja, karena ia masih belum bisa terlepas sepenuhnya pada trauma yang pernah dialamai malam itu.


Iya tragedy saat dirinya dibuntuti oleh orang suruhan Ilona yang membuat dirinya akhirnya dirawat dirumah sakit karena mendapat luka tusakan benda tajam di bagian samping perutnya.


Sampai saat ia turun dari busway, ia berharap sekali jika itu hanya kekhawatiran yang berlebihan saja, dan betapa terkejutnya saat ia mendapati jika lelaki tersebut pun ikut turun sesaat setelah dirinya melangkahkan kakinya menjauh dari busway.


‘apa ini! Seperti de ja vu’ Ahreum membatin lengkap dengan raut wajah cemasnya.


Merasa dirinya terancam dengan kehadiran lelaki tersebut yang ternyata masih mengikutinya dari kejauhan, Ahreum pun memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnya menuju rumah sakit Haneul yang tak jauh dari tempat pemberhentian busway.


Kekhawatirannya pun kini menjadi kenyataan, sebab lelaki tersebut yang tadinya hanya mengawasinya dari kejauhan kini malah ikut berlari mengejar Ahreum, kala gadis tersebut mengambil langkah seribu untuk menjauhinya.


“astaga, ada apa lagi sih ini..” panik Ahreum ditengah aksi kejar-kejarannya dengan lelaki tersebut.


Awalnya Ahreum hendak masuk lewat jalur pintu utama namun karena ia melihat banyak sekali pengunjung dan juga pasien yang baru saja datang dari mobil ambulan, membuat langkah kakinya langsung berbelok ke arah belakang rumah sakit.


Hal itu juga yang membuat dirinya memiliki kesempatan untuk menghilang sesaat dari pandangan lelaki kekar tersebut, karena banyaknya orang yang berlalu lalang membuatnya sulit untuk tetap focus mengarahkan pandangannya pada gadis mungil itu, sampai akhirnya dirinya pun kehilangan jejak dari gadis tersebut.


***


10 menit kemudian.


Karena merasa keadaan sudah aman dan juga tidak ada tanda-tanda lelaki tadi mengikutinya, Ahreum pun perlahan memunculkan kepalanya terlebih dahulu dari ruangan yang menjadi tempat persembunyiannya tersebut.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk memastikan jika dirinya kini sudah benar-benar aman dan terlepas dari lelaki yang mencurigakan itu.


“apa yang kau lakukan disini?” ucap seseorang dari belakang.

__ADS_1


"ASTAGA!!" kaget Ahreum hingga membuat jantungnya hampir copot.


***


__ADS_2