
Kembali ke aparteman.
Setelah menatap sosok gadis misterius itu cukup lama, rasa sakit yang amat sangat pun tiba-tiba saja menyerang kepalanya, bahkan kini untuk bernafas pun terasa cukup sulit, hingga ia pun memutuskan untuk kembali ke aparteman tanpa memperdulikan istrinya yang menghilang entah kemana.
Begitu sampai diaparteman langkahnya langsung menuju area dapur, ia pun menarik handle lemari pendingin lalu mengeluarkan 1 botol wine dan membawanya sampai ke meja tempat dimana gelas khusus untuk minum alcohol berada.
Tanpa membuang waktu lagi Ansell pun membuka penutup botol wine tersebut dan hendak menuangkannya dalam gelas yang berada dihadapannya, namun belum sempat air itu mengenai gelas, lengan pria yang tengah dilanda kecemasan itu pun menarik botol wine tersebut sampai ke mulutnya.
Iya, pria malang itu memutuskan untuk meminumnya langsung dari botolnya, alih-alih minum perlahan dari gelas kecil ia ingin langsung mengaliri tubuhnya dengan 1 botol wine. Agar ia bisa cepat tak sadarkan diri dan berhenti memikirkan sosok gadis misterius yang terus saja memenuhi fikirannya saat ini.
Setelah meneguknya beberapa kali ia pun menghentikan aktifitas minumnya sesaat dan menaruh botol wine tersebut diatas meja, ia pun mengambil nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan aktifitas yang akan memabukan dirinya.
“apa kau sedang menghukumku Ilona!” gumam Ansell lengkap dengan senyuman penuh arti dan tetesan alcohol yang mengalir disela sudut bibirnya.
Ia pun kembali meneguk minuman yang masih berada dalam genggamannya itu dengan ganas, seolah ingin benar-benar menghabiskannya dalam waktu singkat. Meski tubuhnya sudah merasa kelelahan hingga ia beberapa kali hampir ambruk, namun dengan tenaga yang tersisa ia mencoba untuk tetap berdiri kokoh seraya terus meneguk minuman alcohol tersebut.
***
Dirumah sakit Haneul Jakarta.
Tampak Ahreum dan Rihanna tengah berjalan beriringan dilorong rumah sakit.
“ahh iya, kurasa aku tak melihat pamanmu kemarin?” ucap Hanna dalam perjalanan menuju ruang inap Enzy.
“dia memang tidak datang.” Sahut Ahreum.
“waaah itu keterlaluan sekali sih, masa disaat penting keponakannya sendiri dia tidak datang, paman macam apa itu.” Celetuknya.
“kata kakek sih, kondisi mental paman masih belum stabil sejak perceraiannya beberapa tahun yang lalu.” Papar Ahreum yang membuat Hanna mengangguk-anggukan kepalanya.
“memang apapun yang terlalu berlebihan itu pasti tidak baik.” Komen nya.
“maksudmu?” tanya Ahreum karena tidak mengerti apa yang dimaksud dari perkataan karibnya tersebut.
“iya, pamanmu itu sangat mencintai istrinya pasti, bahkan sudah beberapa tahun berlalu pun tidak bisa mengobati hatinya yang merasa kehilangan.” Timpalnya lagi.
__ADS_1
“itu kau tahu, makanya kau juga berhenti mengejar Jeno!” balas Ahreum sebelum menarik handle pintu ruangan ibunya.
“aku tidak benar-benar ingin kembali padanya kok, hanya ingin merebut sesuatu yang berharga saja dari Nayeon, hahaha!” celetuknya yang membuat Ahreum spontan menoleh ke arah Hanna dan membulatkan kedua matanya, karena benar-benar terkejut dengan respon karibnya tersebut.
“astaga..” respon Ahreum seraya menggelangkan kepalanya kemudian kembali mendorong pintu ruangan lebih lebar lagi dan masuk secara bergiliran dengan Hanna.
Dilihatnya sang ibu tengah makan siang bersama dengan sang ayah yang juga ikut makan bersama dimeja kecil diatas ranjang istrinya.
“kau sudah datang?” sapa ibunya seraya mengunyah makanannya, Ahreum pun meresponnya dengan senyuman hangatnya seraya terus melangkah mendekati sisi ranjang.
“hei Rihanna, kau juga ikut rupanya.” Setelah menyapa putrinya Enzy pun beralih menyapa teman putrinya tersebut.
“iya dong tante, aku juga ingin melihat adik kecilnya Ahreum, hehee. Waaahh so sweet banget sih tante sama om, makan semeja berdua sambil suap-suapan.” Goda Hanna, begitu membalas sapaan Enzy lengkap dengan senyumannya ia pun tak tahan untuk tidak menggoda kedua orang tua karibnya itu.
“inilah namanya kekuatan cinta.” Sahut Seno seraya kembali menyuapi istrinya ditambah dengan senyum terlebarnya yang menghiasi wajah gempalnya.
“uuuhhhh, aku iriii syeuukaliii!!” goda Hanna kembali yang kemudian terduduk diatas kursi yang berada disamping ranjang, iya biasanya kursi itu dipakai untuk Seno duduk, karena sekarang Seno tengah duduk diatas ranjang jadi kursi tersebut tidak bertuan dan bebas untuk diduduki siapa pun.
Sementara Ahreum hanya berdiri sembari memandangi kedua orang tua dan karibnya yang tengah berbincang-bincang.
“kalian sudah makan?” tanya Enzy seraya memandang secara bergantian ke arah putrinya juga Hanna.
“kau habis olahraga Ahreum? Tumben sekali, biasanya kalau ayah ajak jogging pagi suka gak mau tuh.” Timbrung Seno, setelah menyuapi dirinya ia pun beralih menatap putrinya dari bawah sampai atas.
“jika tidak dipaksa, aku pun tidak mau.” Gumamnya sepelan mungkin, hingga hanya terdengar seperti berkomat-kamit tidak jelas.
“hmm, kenapa?” tanya ayahnya kembali.
“ahh tidak, ayah, hanya ingin menemani Ansell aja, aku tidak benar-benar berolahraga.” Sahut Ahreum kembali namun kali ini dengan ucapan yang jelas ditambah senyuman palsu yang dibuat-buat.
“tante mau buah apa, biar ku kupas?” tanya Hanna seraya melirik ke arah sekumpulan buah yang berada diatas mangkuk besar lengkap dengan pisau kecil yang tertancap disalah satu buah.
“daripada makan buah, lebih baik kau beli nasi aja sayang, di kafetaria rumah sakit makanannya enak-enak kok.” Respon Enzy, sebab dirinya tahu sekali jika Hanna sedang berpura-pura menawarkan mengupas buah untuk dirinya, karena sebenarnya gadis itu ingin mengupas buah untuk dirinya makan sendiri.
“hehehee, nanti aja deh tante, aku belum begitu ingin makan nasi, mau apel?” tanya Hanna kembali yang kekeuh ingin Enzy yang memilihkan buahnya.
__ADS_1
“hmm, apa saja yang kau suka.” Sahut Enzy lagi sebelum menerima suapan dari suaminya.
“ohh iya, kakek kemana yah?” tanya Ahreum yang tiba-tiba saja teringat akan kakeknya, merasa lelah berdiri ia pun memutuskan untuk duduk saja disofa sembari menunggu jawaban dari sang ayah atas pertanyaannya.
“sedang menerima telfon diluar, kalian makan dulu sana, udah siang gini, tadi pagi juga sarapan ga?” tanya ayahnya.
“sarapan kok, roti dengan susu.” Sahut Ahreum seraya mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar di saku celana trainningnya.
“semalam Ansell membawamu kemana?
Kediaman kedua orang tuanya?” tanya Seno kembali seraya menatap putrinya tersebut yang kini tengah focus pada layar ponselnya.
“tidak, Ansell membawaku ke aparteman nya, yah.” Jawab Ahreum, sebelum ia mendekatkan ponsel ke telingnya, tanda ia hendak menelfon seseorang, membuat Seno berhenti mengajaknya berbicara dan beralih pada makanannya kembali.
“halo, kak Abi, ada apa? Sampai menelfonku berkali-kali.” Sapa Ahreum yang langsung ke intinya.
Mendengar nama Abi terucap dari mulut Ahreum, kedua orang tua Ahreum dan juga Hanna pun reflex langsung memandangi dirinya yang tengah bertelfon dengan asisten suaminya tersebut, seakan penasaran dengan pembicaraan mereka berdua.
“Ansell? Tadi pagi memang aku bersamanya, tapi sudah lama kita berpisah, sekarang aku sedang dirumah sakit diruangan ibuku, dan juga kurasa Ansell sudah di aparteman dari tadi, kak.” Paparnya begitu orang diseberang sana menyelesaikan kalimatnya.
“aah begitu ya, oke baik kak, aku ke aparteman sekarang.” Pungkas Ahreum yang kemudian mematikan ponselnya lebih dulu, lalu memasukannya kembali ke saku celana trainningnya.
“ada apa dengan Ansell?” tanya Ayahnya dengan nada meninggi.
“ponselnya tidak bisa dihubungi, kak Abi khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ansell karena tidak biasanya Ansell mematikan ponselnya, ditambah ia juga harus menghadiri rapat bersama koleganya 30 menit lagi.” Jelas Ahreum kemudian bangkit dari sofa dan hendak menarik langkah pertamanya.
“anak itu selalu saja membuat masalah, benar kata Ansell karena perjanjian itu bertujuan hanya untuk menikah, jadi kau hanya perlu menjalani pernikahan selama 1 tahun saja, setelah itu sebaiknya kau berpisah dengannya.” Tegas ayahnya seraya turun dari ranjang dan menatap lekat wajah putrinya yang berada dihadapannya.
“baik, akan ku pertimbangkan ayah, tapi saat ini sebaiknya ayah hanya focus pada ibu saja ya, aku pergi dulu ayah, ibu.” Pamit Ahreum yang menatap wajah ayah dan ibunya secara bergiliran.
“kau tak mau ikut, Hanna?” tanya Ahreum sebelum benar-benar pergi.
“tidak, aku mau disini aja.” Sahut Hanna yang masih anteng mengupas beberapa buah.
“oke.” Respon Ahreum yang kemudian pergi meninggalkan ruangan setelah sekali lagi menatap ke kedua orang tuanya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan hangat layaknya orang tua pada umumnya yang sangat mengasihi putrinya.
__ADS_1
Bersambung...
***