
“setelah berbincang dan bertemu dirimu seperti ini, kurasa penilaian Elish terhadap mu itu salah besar. Kau berbeda dengan Ilona.” Ucap Rene yang akhirnya mengarahkan pandangannya pada Ahreum lengkap dengan senyum hangatnya.
“tidak.. temanmu benar!
Aku tak lebih sama hal nya dengan Ilona, bahkan mungkin lebih mengerikan darinya. Kau.. hanya melihat apa yang ingin ku tunjukan saja.
Sebenarnya jika bukan karena aku membutuhkan informasi mengenai Ilona, aku sudah membiarkanmu terjatuh ke jurang.” Tegas Ahreum yang kemudian bangkit dan hendak pergi tanpa salam terakhir pada gadis yang bernama Rene itu.
“Tidak! Kau berbeda dengannya Ahreum.” seru Rene yang tetap percaya pada pandangannya ia pun bangkit seraya memandangi punggung Ahreum.
Sementara itu Rihanna pun ikut bangkit ditengah perseteruan yang terjadi antara karibnya Ahreum dan Rene.
“karena setidaknya kau masih bisa mengendalikan dirimu dengan baik. Kehangatanmu, rasa kasih yang kau tunjukan lebih besar dibanding sisi jahatmu. Kau harus tahu itu!” kekeh Rene yang membuat Ahreum kini berbalik dan menatapnya dalam.
“Iya, tentu kau berbeda dengan gadis gila itu Ahreum. Kau lebih baik darinya, karena kau memiliki kami yang akan terus memberikan cinta yang luar biasa untukmu, hingga kau tidak akan merasa kesepian.” Timpal Rihanna yang lalu memeluk Ahreum, bersamaan dengan itu juga, tangis Ahreum pun pecah dikeheningan malam kala itu.
Rene ikut bahagia kala melihat suasana penuh kasih dihadapannya hingga membuat senyuman mengembang menghiasi pipi gembilnya yang kini ikut basah karena derai air mata harunya.
Usai bergumul dengan perasaan emosional yang menguras air mata, ketiganya pun berjalan beriringan sembari saling menautkan tangan ditengah gelapnya mlam yang hanya diterangi oleh lampu senter yang berasal dari ke 2 ponsel Rene dan Rihanna.
“setelah masuk ke dalam berasa banget gelapnya. Padahal tadi ditepi tebing tidak terlalu gelap seperti ini.” celetuk Rihanna seraya menyenter jalanan yang dilalui.
“Iya karena lokasi itu masih bisa tersorot terangnya bulan, tidak dengan disini, banyak pohon-pohon besar dan rindang yang menghalangi cahaya bulan.” Timpal Rene.
Sreekk..sreekkk.. terdengar suara sayup seseorang tengah berlarian seraya membelah semak-semak atau dedaunan yang menghalangi jalanannya. Membuat ketiganya pun lantas menghentikan langkahnya sesaat seraya menajamkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.
“Franky?!” ucap Ahreum kala teman lelakinya itu muncul dari balik dedaunan yang rimbun dengan raut wajah paniknya seakan menandakan jika ada sesuatu yang buruk terjadi.
“kenapa kau sendiri? dimana Nayeon?!” tambah Hanna yang ikut panik kala mendapati Franky hanya seorang diri.
“huhh.. haahh.. huuuhh.. Nay.. hahh.. Nayeon menghilang!” katanya masih dengan nafas yang tidak beraturan.
__ADS_1
“apa?! bagaimana bisa?” seru Hanna lagi yang mulai emosi sebab Franky tidak bisa menjaga karibnya itu dengan baik.
“tadi.. saat aku mencoba mencari gadis itu, ahha iya! Dia sudah ketangkap!” seru Franky yang baru menyadari jika ada sosok lain diantara kedua temannya itu.
“dimana Nayeon?” tambah Ahreum yang kembali mencoba mengalihkan pembahasannya pada insiden yang menyebabkan hilangnya Nayeon.
“ahh iya! Saat aku mencoba mencari dia.” Lanjut Franky seraya menunjuk ke arah rene.
“tiba-tiba ada segerombol babi hutan yang muncul dari berbagai sisi, aku pun berlari sekuat tenaga untuk menghindarinya sampai saat aku sadar Nayeon sudah tidak ada, kurasa dia berlari ke arah yang berbeda.
Aku sudah mencoba mencarinya, tapi sepertinya dia sudah dibawa oleh babi hutan itu.” racaunya penuh dengan pemikiran negative.
“yak! Jangan asal bicara!” pekik Hanna yang kemudian langsung menggeplak kepala Franky tanpa ampun.
“arrgh..” ringis Franky seraya mengelus bagian kepala yang digeplak oleh Hanna sebelumnya.
“kau sudah mencoba menghubunginya?” timpal Ahreum yang mencoba tetap tenang ditengah situasi panik yang terjadi.
“ponsel tak berfungsi disini, tidak ada signal.” Sahut Franky seraya merogoh ponselnya kemudian menunjukan layar ponselnya yang tidak ada signal pada Ahreum.
“apaan tuh!” pekik Rene seraya celingak celinguk.
“itu babi hutannya.” Bisik Franky yang ikut menelusuri area sekitar mencari keberadaan sang hewan buas tersebut.
“ssstt.. Jangan berisik. Dengar.. jika babi hutan itu mengejarmu, kau hanya perlu berlari zig zag, dengan begitu dia tidak akan mampu menangkapmu. Siapapun yang berhasil keluar dari hutan ini duluan, cepat panggil bantuan. Mengerti!” Perintah Hanna yang langsung dibalas anggukan setuju oleh ketiga temannya.
Grrookkk.. grrookkk.. grrokkkk!!
Suara itu semakin nyaring terdengar seiring dengan kemunculan para babi hutan yang kini sudah mengelilingi ke empatnya. Refleks ke empatnya pun memutar tubuh dan saling membelakangi untuk bersiaga kalau-kalau babi hutan itu menerkam mereka dari belakang.
“tidak sulit untuk mencari jalan keluar, kau cukup mengikuti kain merah yang terikat di salah satu cabang pohon.” Ujad Rene selagi matanya penuh kewaspadaan terhadap babi hutan itu yang masih tampai berdiri diposisinya dengan tatapan tajam seolah ingin melahap mereka hidup-hidup.
__ADS_1
“ba.. bagaimana kau bisa tahu?” sahut Franky dengan nada gemetar dan pandangan yang tidak berkedip sekalipun memperhatikan para babi gemoy yang tampaknya mulai bersiap melancarkan aksinya untuk menyerbu ke empat sekawan yang tengah berkumpul ditengah itu.
Langsung saja mereka berempat pun berlari kocar-kacir ke sembarang arah tanpa memperdulikan yang lain. Karena memang situasi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk berlari beriringan, alhasil kini mereka pun terpisah satu sama lain.
Seperti yang dikatakan Hanna sebelumnya jika ingin menghindari babi hutan mereka harus berlari zig zag dengan begitu sang babi pasti akan kesulitan mengejar dan kita pun akan terbebas dari amukan hewan buas tersebut.
Melihat babi yang sudah menghilang dari belakangnya, Ahreum pun menghentikan laju larinya sejenak sembari mencoba menstabilkan pernafasannya.
“huhhh.. haahhh.. capek banget, tadi lari ngejar Rene, sekarang malah aku yang dikejar sama babi.” Dumel Ahreum kesal seraya mendekatkan layar ponsel ke wajahnya untuk mengecek pukul berapa saat ini.
“astaga sudah jam 20:00, Omma dan Oppa pasti khawatir dirumah jam segini aku belum pulang.” Sambungnya lagi.
Grokkk.. groookkk..
Suara babi hutan menghentakan dirinya, ia pun kembali mengambil seribu langkah dari tempatnya begitu melihat seekor babi muncul dari semak-semak.
Sudah kehabisan tenaga untuk terus berlari, Ahreum pun memutuskan untuk memanjat sebuah pohon besar dengan kemampuan monyet yang dimilikinya saattttt.. siiitttt.. seettt.. tak butuh waktu lama ia pun berhasil nangkring diatas ranting pohon, setidaknya ia bisa kembali beristirahat sejenak tanpa takut diseruduk oleh sang babi yang masih mengintai dirinya dari bawah.
“aughhh.. Apa aku akan mati jika diseruduk oleh tanduknya yang runcing itu.” gumam Ahreum seraya mengamati pergerakan sang babi yang masih berkeliaran dibawah pohon sembari sesekali membunyikan suara khasnya grookk.. grookk..
“yak! Ahreum.” panggil seseorang yang membuat Ahreum terhentak dan langsung saja mengedarkan pandangannya ke area sekitar mencoba mencari seseorang yang memanggilnya barusan.
“aku disini.. diatasmu!” panggilnya lagi seraya menjatuhkan beberapa buah yang dihasilkan oleh pohon yang mereka singgahi saat ini.
“aduhh..” ringis Ahreum yang kemudian menengadahkan kepalanya.
“Nay!!
Sejak kapan kau ada disitu?” seru Ahreum kala melihat sosok karibnya yang tak lain Nayeon Christine tengah duduk santai tepat dicabang pohon yang berada diatasnya.
“ehehee..” cengir Nayeon.
__ADS_1
***
Bersambung...