
30 menit berlalu, usai mereka semua menyantap sarapan pagi bersama.
Mereka pun lantas melenggangkan kakinya bersamaan ke ruang tamu.
Namun..
“dimana Ahreum?!” seru Jeno yang tiba-tiba muncul dengan raut wajah paniknya.
Yang tentu saja membuat Ansell menaikan 1 alisnya kesal dan juga cemburu melihat sikap berlebihan Jeno yang mengkhawatirkan istrinya.
“apa yang kau lakukan dirumahku?!
PELAYAN!! PELAYAN!!” teriak Ansell hingga urat-urat lehernya terlihat.
“Iyaaa tuan..” sahut salah satu pelayan muda yang bergegas menghampirinya.
“USIR LELAKI ITU DARI SINI!” perintah Ansell.
“Tenanglah Ansell. Tidak perlu nona B, lelaki itu adalah teman nona Ahreum. Kau bisa pergi.” Timbrung Abi yang membuat langkah B terhenti dan tidak jadi menghampiri Jeno, melainkan hanya berdiam ditempat dengan memasang muka bingungnya.
“SI**ALL!! DIMANA AHREUM!! APA DIA BAIK-BAIK SAJA?” balas Jeno yang tak kalah ngegasnya.
“cukup Jen.. Ahreum baik-baik aja. Gak perlu berlebihan seperti itu. Hargai suaminya.” Celoteh Rihanna yang ikut angkat suara untuk meredam suasana menegangkan itu.
Sementara Nayeon hanya terdiam sembari menahan rasa sakit yang terus menusuk hatinya lantaran sikap berlebihan Jeno pada Ahreum yang selalu membuatnya iri.
“aku tak percaya dimana dia sekarang?
Lantai 2 kah?” kekeuh Jeno yang langsung saja berlari ngacir menaiki tangga.
Hingga membuat Ansell pun mengejarnya begitu juga Abi yang tak bisa membiarkan huru hara terjadi antara Ansell dan Jeno.
Sementara Rihanna masih berdiam ditempat seraya menghela nafas dan menggeleng kepalanya. Sekilas ia melihat raut wajah Nayeon yang tampak murung, membuat dirinya pun ikut emosional. Kemudian memberikan pelukan hangat pada karibnya itu yang tengah memandangi Jeno yang berlarian dilantai 2 mencoba mencari keberadaan Ahreum.
Karena sudah tidak dibutuhkan pelayan B pun undur diri diam-diam tanpa ada yang tahu.
“mereka sudah berteman sejak kecil, tentu saja Jeno akan sekhawatir itu Nay..” ucap Hanna yang kemudian melepas pelukannya lalu beralih memegangi kedua pipi Nayeon yang sudah basah oleh air mata pilunya.
“dengar.. hari ini aku mau ketemuan dengan beberapa teman SMA ku, mereka juga gak kalah tampannya kok dari Jeno. Dan tentunya karakternya lebih baik 100% dari anak mami itu. Kau ikut ya.” Sambung Hanna yang langsung direspon anggukan pelan oleh Nayeon yang masih bergulat dengan air mata sedihnya.
“oke. Setelah kita memastikan keadaan Ahreum. Kita langsung belanja dan ke salon. Tapi kau yang bayar yaa. Hehee!!” imbuh Hanna lagi disertai senyum jahilnya sembari menyeka air mata Nayeon dengan ibu jarinya.
“aisssh.. Kau tidak berniat menghiburku, kau hanya ingin memanfaatkan aku!” gerutu Nayeon yang langsung disambut gelak tawa renyah oleh Rihanna.
Rihanna merangkul Nayeon kemudian menggiringnya berjalan menuju keberadaan kamar Ahreum.
“sepertinya aku harus mencari pekerjaan, karena uangku hampir habis.” Cerita Hanna ditengah perjalanannya.
“alih-alih tinggal diaparteman, kau bisa tinggal bersamaku Hanna.” Sahut Nayeon disela sibuknya menyedot ingus yang masih berkumpul dirongga hidungnya.
“pengennya sih begitu cuma, engga ahh.. aku sudah nyaman kok diapartemanku yang sekarang, aku hanya tinggal cari pekerjaan aja untuk membiayai hidupku. Dan juga membantu kak Yuri membayar tagihan rumah sakit.” Tuturnya lagi.
__ADS_1
“hmm.. kapan-kapan ajak aku jika kau mau mengunjungi ibumu. Aku juga ingin menyapa ibumu.” Ucap Nayeon yang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
“oke.” Sahut Hanna lengkap dengan senyum lebar dan beralih mengenggam lengan karibnya itu dibanding merangkul bahunya.
***
Dikamar Ahreum.
Begitu Rihanna menarik handle pintu, keduanya terkejut kala melihat Ansell dan Jeno hendak melakukan aksi saling jotos dengan Abi yang berada ditengah mereka mencoba menengahi, namun karena pintu kamar tiba-tiba terbuka keduanya pun sontak terdiam mematung dengan posisi saling menunjukan kepalan tangannya dan pandangan mengarah ke arah pintu kamar.
“astaga!! Apa kalian anak-anak hah?!
Kenapa malah berkelahi disini.” Seru Hanna yang tak habis fikir dengan kelakuan 2 pria dewasa tersebut.
Ceklek..
Pintu kamar mandi pun terbuka disusul dengan kemunculan Ahreum dari balik pintu dengan baju piyama bermotifkan kartun Patrick star dan handuk kecil yang melilit dirambut panjang ikalnya.
“Apa yang kalian lakukan disini?” celetuk Ahreum lengkap dengan raut wajah bingungnya.
“AHREUMMMMM!!!” seru Jeno yang kemudian langsung berlari dan memeluk Ahreum.
Tentu saja hal itu malah semakin membaut Ansell murka dan hendak menyerang Jeno namun dengan cepat Abi menahan tubuh Ansell dengan cara memeluknya erat.
“YAK!! BAJI**NGAN!! LEPASKAN ISTRIKU!!” teriak Ansell penuh amarah seraya mengacungkan jarinya ke arah Jeno yang sebenarnya gak akan ngeliat juga sih kan posisinya Jeno membelakangi Ansell.
“tenanglah Ansell..
Itu hanya pelukan seorang teman.” Ucap Abi yang mencoba meredam emosi Ansell sembari terus mengeratkan pelukannya.
“kau ga apa-apa kan? kau baik-baik aja kan Ahreum!” racau Jeno yang kemudian melepas pelukannya dan beralih memegangi kedua pipi Ahreum seraya memindai keseluruhan kondisi tubuh karib perempuannya itu.
“Iya aku baik-baik aja. Lepaskan.” Timpal Ahreum seraya melepaskan kedua tangan Jeno yang menempel dipipinya.
“Yak! Jeno, kau benar-benar tidak menghargai Ansell sebagai suaminya.” Timbrung Rihanna yang berjalan menghampiri kedua karibnya lalu mencoba menjauhkan tubuh Jeno dari Ahreum.
“Apa matamu buta?
Kau tak lihat disini juga ada Nayeon.” Lanjut Rihanna setengah berbisik seraya mencubit pinggang Jeno karena kesal.
“aarggghh!! Sakit.. sakit..” rengek Jeno seraya mencoba melepas cubitan mematikan Hanna dari pinggangnya.
Jeno pun perlahan menoleh ke belakang begitu ia terlepas dari rasa sakit cubitan Rihanna.
Dilihatnya Nayeon tengah menatapnya sendu dalam senyum tipis yang menggambarkan sekali rasa sakitnya yang mendalam.
Ia benar-benar tidak menyadari keberadaan Nayeon sedari tadi. Karena fokusnya dari awal adalah Ahreum membuatnya lupa pada segalanya. Meskipun memang hubungan mereka sudah berakhir tapi setidaknya Jeno bisa menghargai mantan kekasihnya yang masih sangat mencintainya itu.
“bagaimana kabarmu Jeno?” tanya Nayeon yang mencoba sekuat tenaga menahan rasa sakitnya dalam senyuman palsunya.
Karena Jeno sudah tak lagi terfokus pada Ahreum, membuat Ansell pun akhirnya lebih tenang sembari tetap memperhatikan kalau-kalau lelaki itu kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
“kau benar, baik-baik aja kan Ahreum?” tanya Hanna seraya menarik tubuh Ahreum dan memposisikannya didepan dirinya sembari memindai keseluruhan tubuh karibnya itu.
“Seperti yang kau lihat Hanna, aku baik-baik saja.” Sahut Ahreum lengkap dengan senyum manisnya.
Hanna pun menarik tubuh Ahreum dan memeluknya erat seraya mengusap punggung Ahreum lembut.
“syukurlah kalau begitu, aku khawatir sekali padamu. Saat tahu kau ternyata diculik, aku bersikeras untuk mencarimu, tapi kak Ben malah mengurungku dan Nayeon dipenjara. Maafkan aku..” ujar Rihanna.
“Aku baik-baik aja Hannaa..
Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku juga tak ingin kau terlibat situasi berbahaya bersamaku makanya aku meminta Franky untuk menjaga kalian berdua.” Tutur Ahreum seraya melepas pelukannya dan beralih memegangi kedua tangan Hanna lengkap dengan senyuman manisnya.
“bisa kita bicara sebentar Jeno..” pinta Nayeon.
Jeno pun hanya mengangguk lalu berjalan menghampiri Nayeon. Mereka berdua pun meninggalkan kamar lebih dulu.
“ekhm.. Hanna.” Panggil Ansell dengan nada canggungnya.
“apa?” sahut Hanna seraya melirik ke arah suami karibnya.
“bisa.. kita bicara sebentar.” Katanya masih dengan nada yang sama seraya melirik ke arah pintu kamar, tanda ia ingin bicara diluar kamar.
“gak mau tuh.” Timpal Hanna.
“aughh si**al!! Yak!...”
“oke.. oke.. hanya bercanda. Ayoo!” sela Hanna yang kemudian pergi lebih dulu untuk mentukan dimana tempat mereka akan berbicang.
Begitu Hanna sudah keluar kamar diikuti dengan langkah Ansell yang berada 2 langkah dibelakangnya, Ansell pun kembali berbalik saat sudah sampai diambang pintu dan menatap Abi sinis.
“apa yang kau lakukan disitu?! Kau tak akan keluar Abi!” pekik Ansell kala menyadari jika Abi masih terdiam diposisinya disamping ranjang besar tempat Ansell dan Ahreum tidur semalam.
“Iya.. iya... kukira kau hanya ingin bicara dengan Rihanna aja.” timpal Abi yang kemudian bergegas keluar dari kamar.
“Aku memang hanya ingin berbicara dengan Rihanna, tapi bukan berarti kau lantas terdiam dikamarku dengan istriku! Aughhh!!” dengus Ansell kesal kala Abi berjalan melewati dirinya.
“yak! bisa ga sih gausah teriak-teriak dan membentak orang seenaknya!” dumel Rihanna yang tak suka Abi dikasarin oleh atasannya sendiri.
“DIAM KAU!” bentak Ansell.
***
Sementara itu kembali ke kamar Ahreum.
Ahreum berjalan kemudian duduk ditepi ranjang dengan lengan yang mencoba meraih ponselnya yang terletak diatas nakas.
“huufft.. lelah sekali rasanya.” Keluh Ahreum seraya memainkan ponselnya.
“dia tak akan menyerah begitu saja. Pasti dia akan kembali dengan rencana yang lebih gila.” Ahreum bergumam sembari terus terfokus pada layar ponselnya.
“Kau salah memilih lawan Ilona. Aku.. tidak semudah itu bisa kau hancurkan. Akan ku tunjukan padamu seberapa gila aku sebenarnya!” oceh Ahreum kembali seraya tersenyum penuh arti.
__ADS_1
***
Bersambung…