Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 75


__ADS_3

“apa kau sedang berkampanye sampai ada janji-janji segala?! Kuberi waktu kalian 3 hari untuk memperbaikinya, jika masih tidak ada kemajuan, kalian tidak perlu datang kemari lagi! MENGERTI!!” sentak Ansell seraya menatap tajam kearah ketiganya dan meninju meja kerjanya dengan 2 kepalan tangannya untuk memberikan tekanan penuh pada bawahannya.


“mengerti pak.” Jawab ketiganya serempak yang kemudian langsung pamit undur diri dari hadapan Ansell.


Begitu ketiganya keluar dari ruangan Ansell, disaat itu juga Abi muncul dari arah lain seraya menggelengkan kepalanya, melihat ketiga bawahannya keluar dengan raut wajah masam usai dimarahi habis-habisan oleh atasannya.


Ia pun melenggang masuk ke dalam ruangan Ansell seperti biasa lengkap dengan tablet yang tak pernah lepas dari genggamannya, tablet baru ya, karena kan yang lama sudah dihancurkan oleh Ansell waktu malam kemarin, hehe.


“seharusnya kau tidak melampiaskan kekesalanmu pada bawahanmu yang tidak bersalah, kurasa persentasi mereka tidak terlalu buruk sampai harus mendapat reaksi kasar darimu seperti tadi.” Ucap Abi seraya berjalan kemudian duduk disofa didepan meja Ansell.


“diamlah!!” sahut Ansell yang kini tengah menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya, dan kedua kaki yang diletakannya diatas meja seraya memejamkan kedua matanya untuk mencari ketenangan sejenak setelah beberapa waktu lalu melampiaskan emosinya.


“amm, tentang lelaki yang semalam kau lihat..” ucap Abi kembali seraya mengarahkan pandangannya pada Ansell yang masih bersantai diatas kursinya.


“yak! akhir-akhir ini kau selalu membantah omongonku, Abi! Sudah ku bilang berhenti membicarakan gadis itu.”  seru Ansell yang masih berada dalam posisinya.


“hmm.. baiklah kalau kau tak mau dengar, padahal aku hanya ingin bilang jika lelaki yang tadi malam kau lihat itu adalah kakak angkat Ahreum.” Papar Abi seraya menatap layar ponselnya dan pura-pura mengoperasikannya padahal kedua matanya tengah melirik menantikan reaksi dari atasannya itu.


“apa maksdumu?” tanya Ansell yang mulai penasran kemudin menurunkan kedua kakinya dari meja dan menarik langkah mendekati keberadaan asistennya.


“sudah kubilang bukan untuk menjaga emosimu, jangan langsung menyimpulkan menurut versimu sendiri.” Tambah Abi.


“tunggu-tunggu, kakak angkat kau bilang?” sela Ansell yang tak menghiraukan nasihat dari karib yang juga sekaligus asistennya itu.


“kemarin malam saat kau membawa nona Ahreum secara kasar ke atap gedung, aku pergi ke ruang cctv untuk melihat siapa pria yang bersama dengan nona Ahreum, lalu mencari tahu tentangnya, pria itu bernama Bennedict **** dia seorang detective yang bekerja dikantor polisi XXX.” Jelas Abi seraya memberikan tabletnya pada Ansell yang tengah berdiri dihadapannya.


Ansell pun menerima tablet tersebut lalu dilihatnya secara seksama layar tablet yang tengah menampilkan sebuah biografi dari Bennedict ****.


“Seno baghaskara.” Gumam Ansell saat matanya telah sampai dibagian nama ayah dari Bennedict.


“iya, pak Seno mengangkat Bennedict sebagai anak lelakinya saat kedua orang tua Bennedict meninggal dalam kecelakaan, dan hanya dirinya yang selamat saat itu. Bennedict tinggal dikediaman keluarga Baghaskara hanya sampai dirinya lulus SMA, setelah itu Bennedict memutuskan untuk pindah dan mencoba hidup mandiri. Dan..” Abi menghentikan penjelasan panjangnya mengenai history perjalanan hidup seorang Bennedict untuk membuat Ansell semakin penasaran.

__ADS_1


“dan apa?!” sentak Ansell yang sudah tidak sabar menanti keseluruhan kalimat asistennya itu.


“sebagai catatan tambahan, pria itu sudah menikah 5 tahun yang lalu, istrinya adalah kakak dari teman nona Ahreum.” Lanjutnya seraya bangkit dari sofa kemudian mengambil alih kembali tablet miliknya yang kini tengah digenggam oleh atasannya.


“kalau kau memang pria sejati, sebaiknya kau meminta maaf secara tulus pada nona Ahreum, jangan sampai kau menyesal untuk yang kedua kalinya, aku berkata seperti ini sebagai temanmu.” Tambah Abi seraya menepuk pelan bahu Ansell kemudian pergi berlalu meninggalkan Ansell yang masih terdiam merenungi perbuatan kasarnya tadi malam pada Ahreum.


 


Dibalik pintu ruangan Ansell dirgantara, untuk sejenak Abi menghentikan langkahnya setelah menutup kembali pintu ruangan Ansell. Seolah ada hal yang mengusik fikirannya.


“hmm.. untuk kasus pria yang bernama Bennedict memang bukan kesalahan dari nona Ahreum, tapi bagaimana dengan dokter Elios? Sebenarnya gadis seperti apa nona Ahreum ini.” gumamnya dengan diiringi tarikan nafas kasar sebelum menarik langkah menjauhi ruangan Ansell.


***


Oke, kita kembali ke toko serba ada yang berada diseberang kampus Royal collage of music.


Rihanna yang sedari terduduk dikursi yang berada didepan toko serba ada, ia pun bangkit kala melihat karibnya yang berjalan santai seraya memandanginya dari kejauhan dengan senyuman lebarnya.


“dan apa ini, kau masih memakai baju yang kemarin? kau tidak pulang.” Lanjutnya lagi sembari menatap Ahreum dari atas sampai bawah dengan tatapan aneh.


“diamlah kau ini berisik sekali, aku lelah, sebelum mencari rumah ikut aku pulang dulu, aku mau mandi dan ganti pakaian.” Ucap Ahreum seraya menarik lengan Hanna kemudian bergegas pergi menuju arah halte bus yang tidak jauh dari toko serba ada.


“yak! jadi benar kau tidak pulang tadi malam?


Kau berkeliaran kemana aja gadis nakal!” dumel Hanna kembali ditengah perjalanannya menuju halte bus.


“saat aku mau menemui orang tuaku dirumah sakit, Ansell mendatangiku lalu memarahiku habis-habisan karena dia melihat aku bersama dengan kak Ben.” Ungkapnya.


“apa?” pekik Hanna seraya menghentikan langkahnya kemudian menepis genggaman jemari mungil Ahreum yang melingkar dipergelangan tangannya, sontak saja Ahreum langsung meringis kesakitan sebab tangannya yang lebam mendapat kejutan yang tak terduga dari karibnya yang tidak mengetahui keadaan pergelangan tangan itu.


Melihat reaksi Ahreum yang seperti itu membuat kedua mata Hanna terhentak karena ikut terkejut mendapati reaksi Ahreum yang berlebihan.

__ADS_1


“ada apa?” tanya Hanna penuh dengan tatapan kecurigaan. “apa ini, Ansell menyakitimu, Ahreum?” tebak Hanna seraya menarik lengan Ahreum untuk dilihatnya lebih dekat lagi.


“sudahlah ini memang salahku juga, tidak perlu bereaksi berlebihan, ayo bus nya udah datang tuh, bayarin ya ponselku mati dan aku juga ga bawa dompet.” Timpal Ahreum seraya menarik lengannya kembali dari genggaman Hanna, kemudian menarik langkah untuk menaiki bus yang kini berhenti tepat disampingnya.


Rihanna menarik nafas kasar kala Ahreum pergi begitu saja seolah tak ingin melanjutkan pembahasan yang terjadi diantara keduanya.


Tak puas mendengar jawaban Ahreum, begitu keduanya duduk dikursi paling pojok bis, bersamaan dengan itu juga wajah Hanna menengok pada Ahreum untuk kembali memulai percakapan yang terjadi sebelumnya.


Namun, nyatanya Ahreum lebih dulu menghentikan niatnya dengan meletakan kepalanya dibahu Hanna, seolah memberikan tanda pada Hanna untuk berhenti membicarakannya.


“terimakasih, karena kau sudah kembali.” Gumam Ahreum seraya menggenggam erat lengan Hanna yang masih menatap bagian kepala Ahreum, ia pun akhirnya menuruti keinginan Ahreum untuk tidak meneruskan pembicaraan mengenai keadaan rumah tangganya bersama Ansell.


“ Hanna.” Guma Ahreum, setelah beberapa menit hening.


“hmm..” respon Hanna.


“apa kau ingat bagaimana pertemuan pertama kita?” lanjut Ahreum dengan diiringi suara tawa renyah.


Mendengar hal itu sontak membuat Hanna ikut tertawa kecil, dengan fikiran yang ikut melayang menjelajahi masa remajanya bersama dengan Ahreum.


“insiden pangsit?


Sampai sekarang pun aku masih tak mengerti bagaimana mungkin hanya karena pangsit kau memakiku seperti orang kerasukan.” Respon Hanna yang langsung disambut cekikikan oleh keduanya, seolah tengah sama-sama bernostalgia. 


Bersambung...


***


Note: untuk nama belakang Bennedict masih belum ditentukan ya, masih nyari nama belakang yang cocok, kalau ada saran, boleh dikomen aja.


Trimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2