Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 110


__ADS_3

“oke, aku tinggal ya, ada praktek sebentar lagi. Sampai jumpa.” Pamit Elios yang kemudian pergi setelah mendapat anggukan pelan dari Ahreum seraya melambaikan tangannya beberapa kali sebelum akhirnya menghilang dari pandangan gadis mungil tersebut.


“apa ini.. kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini.” gumam Ahreum yang terus saja memandangi jalanan yang tadi dilewati oleh dokter Elios.


“yak Ahreum! Bukankah kau sudah bertekad untuk melupakannya tapi kenapa hatiku masih bereaksi ketika bertemu dengannya. Ini gak boleh terjadi! Dasar bodoh!” pekiknya pada diri sendiri seraya memukul kepalanya sekali dengan kepalan tangannya untuk menyadarkan dirinya yang kembali terhipnotis dengan perlakukan lembut dan penuh kasih dari Elios yang selalu membuat hatinya meleleh.


“sedang apa kau?! Ingin mengeluarkan otakmu yang secuil itu.” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul disamping Ahreum yang tak lain adalah suaminya sendiri.


“astaga.. bagaimana mungkin aku malah berakhir dengan lelaki kasar ini.” gumam Ahreum sepelan mungkin lengkap dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Ansell.


“apa kau bilang?” sahut Ansell saat dirinya menyadari jika Ahreum sebenarnya tengah mengoceh dengan mulut yang hampir tertutup.


“ahh.. engga, hehee, ayo sayang!” seru Ahreum dengan perubah drastic dari raut wajahnya, yang tadinya tampak cemberut kini malah tersenyum merekah seraya menautkan tangannya ke tangan Ansell kemudian mengajaknya berjalan.


Ansell hanya mengangkat 1 alisnya kala melihat reaksi Ahreum yang seperti itu.


“bagaimana tanganmu?” sambung Ahreum ditengah perjalanannya menuju pintu belakang rumah sakit.


“sudah selesai dijahit.” Sahut Ansell seraya menunjukan telapak tangannya yang terbalut plaster besar untuk menutupi jahitannya.


“tadi kau kemana?! Katanya mau nemenin, malah bengong sendirian disini.” Protes Ansell.


“ahh itu.. tadi ada yang memanggil, kenalanku, dia bekerja disini.” Responnya lengkap dengan senyuman lebarnya.


“berhenti tersenyum nanti gigimu kering.” Ketus Ansell.


“cihh..” dengus Ahreum kesal karena sikap dingin Ansell.


-----


Sesampainya didepan mobil.


Alih-alih membukakan pintu mobil untuk Ahreum, Ansell memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkan istrinya membuka pintu mobil sendiri.


Sebenarnya memang ga ada kewajiban sih seorang pria membukakan pintu untuk wanitanya, hanya saja apa salahnya memperlakukan wanitanya sebagai layaknya seorang ratu, bukankah hal itu juga bisa menjadikan pria sebagai pria sejati.


Ahreum hanya menghela nafasnya kemudian menarik handle pintu dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“masukan alamat apartemannya ke gps.” Ucap Ansell yang terdengar seperti sebuah perintah sesaat sebelum menyalakan mesin mobilnya.


Tanpa membantah Ahreum pun langsung mengetikan alamat dari aparteman Rihanna seperti yang diperintahkan suaminya.


“kedua orang tuamu sudah pulang?” Ansell mengawali pembicaraan begitu mobil mereka melesat keluar dari area pekarangan rumah sakit.


“iya, hari ini ibu sudah boleh pulang. Kenapa?


Kau mau mengunjungi kedua orang tuaku.” Kata Ahreum seraya melirik ke arah Ansell.


“tidak sekarang, nanti setelah kepulanganku dari Amerika.” Timpalnya sembari sesekali menengok kaca spion untuk memantau area sekitar mobilnya.


“ahh, begitu. Oke.” Sahut Ahreum, yang kembali membuat keduanya berada pada mode hening.


***


Kita beralih ke aparteman Rihanna sejenak oke.


Terlihat Nayeon yang tengah terduduk dilantai dengan sebuah kerdus besar dihadapannya yang berisikan peralatan makan seperti mangkuk, piring, gelas, wajan, panci dan sebagainya.


“disini udah banyak perabotan kenapa kau malah beli lagi?” ucap Nayeon ditengah aktivitasnya mengelap perabotan dapur seraya melirik sesaat kearah Hanna yang tengah mengamati seluruh ruangan untuk mengatur bagaimana tata letak perabotan nya nanti.


“mereka hanya menyediakan sofa, ranjang dan lemari pakaian. Tidak mesin cuci, lemari pendingin, microwave, mesin kopi..”


“yak! jadi kau menjual mobilmu untuk membeli perabotan ini semua?!” sela Nayeon seraya mengedarkan pandangannya pada perabotan yang masih berada didalam kardus-kardus besar yang mengelilinginya.


“yupss. Mobil mah gampang, aku bisa pinjam punyamu 1 hahaha!” celetuk Hanna seraya berjalan mendekati keberadaan Nayaon.


“aku cuma punya 1 mobil tau!” timpalnya dengan lengkap dengan nada ngegasnya.


“ciihh pelit sekali sih. Yaudah motor mu deh.” balas Hanna yang tak ingin menyerah sembari menyilangkan tangan didepan dadanya.


“aku ga bisa mengendarai motor, jadi aku tak pernah membelinya.” Sahut Nayeon lagi yang kembali pada aktivitas mengelapnya.


“astaga! dijaman seperti ini masih ada aja orang yang gak bisa ngendarain motor.” Timpal Hanna seraya memutar bola matanya.


“kau tidak duduk? Dari tadi berdiri terus, bisulan.” Julid Nayeon lengkap dengan tatapan sebalnya karena sedari tadi Hanna hanya berdiri didepannya selama mereka melakukan percakapan.

__ADS_1


“ciihhh! aku lapar, kau mau bakso ga?


Kayaknya tukang bakso didepan udah buka.” Kata Hanna seraya berjalan menuju pintu.


“gak nunggu Ahreum aja, nanti kita makan sama-sama.” Sanggah Nayeon yang masih belum beranjak dari posisinya. “lagipula bukannya tadi kau udah makan mie instan.” Tambahnya lagi.


“eyyy, mie tadi cuma sampai kerongkonganku saja. Gampang kalau ada Ahreum nanti kita delivery makanan aja.” Sahut Hanna seraya menarik handle pintu, namun karena ia belum mendapat respon apapun dari Nayeon, ia pun lantas menengok ke arah Nayeon yang tampaknya masih berfikir akan tawaran Hanna tersebut.


“gak mau nih?! Bakso mang Uus enak loh, ada tetelannya, terus ada banyak macemnya juga..” bujuk Hanna.


Karena tak tahan dengan godaan tersebut akhirnya Nayeon pun bangkit kemudian berjalan menuju sofa untuk mengambil tas mungilnya sebelum mengahmpiri Hanna yang masih menunggunya diambang pintu.


“ngapain bawa tas sih, cuma bakso doang mah aku juga bisa bayarin..” oceh Hanna saat Nayeon berjalan melewati dirinya.


Mendengar hal itu Nayeon hanya mendengus tanpa membalasnya dengan perkataan.


***


Beberapa menit kemudian yang bertempat ditempat bakso. Setelah perut mereka terisi sepenuhnya, keduanya pun beranjak dari tempat duduknya masing-masing, lain halnya dengan Nayeon yang langsung keluar Hanna mampir dulu dikasir untuk melakukan pembayaran.


Diluar tempat bakso, karena merasa masih haus, Nayeon pun mencoba membuka botol air mineralnya kemudian meneguknya beberapa kali sampai dirasa cukup untuk mengaliri kerongkongannya.


Namun naas saat Nayeon menikmati segarnya air mineral yang tengah diteguknya, ada sebuah sepeda motor yang tiba-tiba saja melaju kencang dari arah belakang kemudian dengan gesit salah seorang yang berada dikursi belakang menarik paksa tas kecil Nayeon hingga terputus dan membuat Nayeon terjatuh bersamaan dengan botol mineral yang tumpah hingga membasahi wajah dan pakaiannya.


“uuuuukk .. uhuukk!!” Nayeon malang pun terbatuk hingga wajahnya memerah karena banyak air yang


“apa yang terjadi?” tanya Hanna yang baru saja muncul dari dalam sembari mengantongi kembalian ke saku celana belakangnya.


“uuhuukk.. jam.. jambrettt!!” teriak Nayeon seraya menunjuk sebuah sepeda motor yang telah merampas tas mungil miliknya.


Tanpa berfikir panjang lagi Hanna pun berlari sekuat tenaga untuk mengejar para jambret yang masih belum jauh dari pandangannya.


Kemudian disusul Nayeon yang berusaha bangkit dan ikut mengejar para jambret meski kedu lututnya masih terasa nyeri akibat hantaman keras ke aspal.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2