
“karena aku sudah mencintaimu. Ansell.” sambung Ahreum diiringi senyuman merekah yang membuat Ansell hendak kembali menyerang bibir mungil Ahreum, namun..
Tok.. tok..
Gerakannya terhenti kala pintu kembali berbunyi, disusul dengan dorongan pintu yang perlahan terbuka, sebelum akhirnya munculah sosok pria tinggi yang terpaku melihat kedekatan Ansell dan Ahreum disudut ranjang.
Bersamaan dengan membulatnya pupil Elios, Ahreum pun ikut terkejut mendapati kehadiran Elios yang secara tiba-tiba.
Sementara Ansell memberikan tatapan tajamnya pada Elios karena merasa kesal pamannya hadir disaat yang tidak tepat.
“amm.. sory, apa aku mengganggu kalian berdua hehe.” Ucapnya dengan raut wajah penuh kepalsuan.
“tunggu 15 menit lagi, aku akan memanggil paman.” Titah Ansell saat Elios hendak melangkahkan kakinya ke dalam.
“eyyy.. tidak baik membiarkan istrimu seperti itu.” kekeh Elios yang langsung nyelonong masuk meski belum diberi ijin.
“dia harus mendapatkan perawatan segera.
Bisa kau minggir sedikit.” Lanjut Elios yang hendak menaruh tas kerjanya disamping tubuh Ahreum
Ansell mendengus kesal bersamaan dengan gerakan bokongnya yang mundur sedikit ke belakang untuk memberikan ruang bagi peralatan Elios.
“aku akan..” lanjut Elios seraya mengambil stetoskop miliknya dan hendak mendekati tubuh Ahreum yang masih terdiam membeku, karena tak tahu apa yang mesti ia lakukan disaat seperti ini.
“apa yang kau lakukan?!” pekik Ansell begitu 1 tangan Elios hendak mendarat didada Ahreum.
“kau cerewet sekali. Aku hanya ingin memeriksanya.” Sahut Elios yang kemudian berdiri tegak seraya memberikan tatapan sinis pada Ansell.
“tidak perlu. Berikan dia suntikan vitamin saja.” Tegas Ansell yang tak ingin kalah dan membalas tatapan julid pamannya itu.
“oke.. oke.. baiklah.” Ucap Elios menyerah dan menuruti apa yang diinginkan keponakannya.
Elios kembali menaruh alat stetoskopnya ke dalam tas kerjanya kemudian beralih mengambil 1 botol infusan dan peralatan lainnya yang ia butuhkan.
“aku baik-baik saja. Kurasa aku hanya butuh istirahat yang cukup.” Gumam Ahreum seraya menatap suaminya dan mencoba mengabaikan pria lainnya yang tengah sibuk mempersiapkan peralatan medisnya.
“Jangan keras kepala Ahreum. Aku tak ingin kau pingsan lagi seperti tadi.” Ucap Ansell seraya mencoba memiringkan kepalanya, karena kini wajah istrinya terhalang oleh tubuh besar Elios yang sengaja menutupinya seakan tengah membuat sebuah benteng diantara keduanya.
“Yak! Bisa minggir sedikit ga sih.” protes Ansell yang tak tahan dengan sikap aneh Elios yang terus saja mencoba menghalangi pandangannya.
“diam! Aku sedang menyuntik, kau tak ingin membuat luka ditangan mungil istrimu kan.” ancam Elios yang kini tengah mencoba melakukan prosedur infus.
“aiisssh!! Seharusnya tadi aku tak perlu memanggilmu.” Dengus Ansell.
Tok.. tok..
“MASUK!” kata Ansell penuh emosi, lantaran mood nya memang sedang tidak baik saat ini.
Ceklek.. pintu terbuka bersamaan dengan munculnya pelayan dari balik pintu sembari membawa baki berisikan bubur dan teh hangat pesanan Ansell sebelumnya.
__ADS_1
“dimana mama?” tanya Ansell seraya bangkit dari kursinya begitu pelayan tersebut melangkah masuk dan meletakan makan malam Ahreum diatas meja kecil yang berada disudut ruangan.
“nyonya Carrisa mendadak mendapat panggilan darurat dari rumah sakit tuan. Jadi begitu selesai membuatkan bubur dan teh chamomile ini, nyonya langsung bergegas pergi kembali.” Jelasnya seraya membungkukan sedikit tubuhnya karena tak berani menegakan wajahnya dihadapan Ansell.
“Selalu seperti itu.” dumel Ansell yang kemudian berjalan ke arah meja kecil tempat dimana ia meletakan ponselnya.
Pelayan tersebut pun pamit undur diri begitu tenaganya sudah tidak dibutuhkan lagi.
“Sudah selesaikan?
Kau boleh keluar!” ketus Ansell seraya meraih ponsel miliknya lalu melirik ke arah Elios yang tengah mengatur tingkat kecepatan tetesan infusnya.
“Ansell..” panggil Ahreum seraya mengarahkan pandangan lemahnya pada suaminya yang kini hendak menelfon seseorang.
“Iya.
Sebentar ya, ada yang harus ku selesaikan. Aku akan kembali sebelum buburnya mendingin.” Ucap Ansell seraya berjalan mendekat ke tepi ranjang kemudian mengusap bagian atas kepala Ahreum lembut sebelum pergi meninggalkannya.
Namun dengan cepat Ahreum menggenggam lengan Ansell erat seakan ia tidak ingin suaminya pergi meninggalkannya. Membuat Ansell kebingungan dan menatapnya dalam selagi menunggu telfonnya tersambung.
“ada apa?
Kau perlu sesuatu?” tanya Ansell khawatir.
Seakan tidak mengerti dengan situasinya, Elios lagi-lagi dengan sengaja masuk diantara keduanya.
“aissshh!! Apa sih yang kau lakukan!!
Kau yakin melakukan ini pada semua pasienmu.” Ketus Ansell karena tak suka dengan sikap Elios yang terlihat berlebihan baginya.
Tak ingin memperdulikan ocehan keponakannya Elios pun pergi berjalan menuju meja tempat dimana pelayan sebelumnya menaruh bubur dan teh milik Ahreum.
Elios meraih teh tersebut lalu membawanya pada Ahreum.
“kau harus cepat meminumnya selagi hangat. Teh ini akan membantu memulihkan kondisi tubuhmu.” Katanya lagi seraya memberikan teh chamomile hangatnya pada Ahreum bersamaan dengan senyuman yang mengembang menghiasi wajah tampannya.
“Ap…” belum sempat Ansell menyemburkan kata-kata kasarnya, seseorang dalam telfon keburu memanggilnya dan membuat fokusnya kini beralih.
“tunggu sebentar ya, aku tidak akan lama.” Pamit Ansell yang kembali pada tujuannya.
Namun sepertinya Ahreum masih belum ingin melepaskan genggaman tangannya, ia hanya menatap Ansell dengan gelengan kepala seolah benar-benar memohon agar dirinya tidak pergi.
__ADS_1
“Aku janji, tidak akan lama. Oke.
Aku tidak bisa mengabaikannya. Maafkan aku. Hanya sebentar.” Kekeh Ansell yang berusah melepaskan tangannya dari genggaman erat istrinya, yang menurut pemikirannya saat ini, Ahreum hanya ingin bermanja-manja dengannya.
Begitu tangannya terlepas, Ansell bergegas pergi menuju balkon kamarnya diluar seraya membalas sapaan telfon yang baru saja tersambung.
Sementara ia meninggalkan istrinya bersama dengan pamannya dikamar.
“Terimaksih dokter, dokter boleh pergi.” Ucap Ahreum begitu suaminya sudah berada dibalkon dengan posisi tubuh yang membelakangi kamar.
“Kenapa kau bisa pingsan Ahreum?” tanya Elios yang perlahan mendudukan bokongnya ditepi ranjang seperti yang dilakukan Ansell sebelumnya seraya menatap dalam kedua manik Ahreum.
“Apa kau yakin sudah benar-benar melupakanku?” lanjutnya lagi seraya mencoba meraih lengan Ahreum, namun dengan cepat Ahreum menariknya dan memasukkannya ke balik selimutnya.
“Iya. Perasaan yang ku miliki untukmu, sekarang sudah tidak ada lagi dokter El.. jadi..”
“tidak..
Jika kau sudah melupakanku seharusnya kau bisa bersikap biasa saja ketika melihat wajahku Ahreum, tapi.. kau masih tampak tidak baik-baik saja.
Kau hanya berusaha mengingkari hatimu sendiri dengan terus mendorongku pergi. Karena jika aku terus muncul dihadapanmu, pertahanan hatimu kembali runtuh.
Aku.. masih ada didalam hatimu.” Sanggah Elios seraya mencoba menyeka air mata yang kembali mengalir membuat jalanan lurus dipipi mulus gadis yang tengah bergumul dengan emosionalnya.
“lantas kau ingin aku bagaimana?!” pekik Ahreum seraya menepis keras lengan Elios dari pipinya.
“kau ingin aku mengkhianati suamiku sendiri, huh? Sepupumu sendiri Elios?!
Itu tidak benar bukan! Tak ada yang bisa kita lakukan selain menerima takdir yang telah terjadi.” geram Ahreum lantaran Elios masih saja bersikukuh tak ingin pergi dari kehidupannya.
Sementara mereka berdua berdebat dengan perasaan emosional yang cukup menguras tenaga, mereka berdua tak sadar jika kini Ansell tengah menyaksikan interaksi yang tampak mencurigakan baginya dari balik jendela kaca besar dibalkon sembari memegangi ponsel miliknya.
Kedua matanya menyiratkan kecurigaan yang sangat mendalam pada istri dan pamannya kini. Seakan ingatannya dibawa pada hari dimana Ahreum pernah menceritakan pertemuannya dengan seorang lelaki tepat 1 hari sebelum pernikahannya.
Flashback…
“aku akan jujur padamu, memang ada seorang pria yang mencoba mendekatiku, dia pria yang baik, dan penuh kelembutan dalam setiap tutur kata maupun tindakannya.”
“Aku mengenalnya sehari sebelum pernikahan kita, ku akui aku memang menyukainya, tapi akal sehatku terus berkata jika itu tidak benar. Meskipun pernikahan kita berlandaskan perjodohan bukan berarti aku bisa mengkhianatimu. Bukan?
Aku sudah berusaha mengontrol perasaanku sejauh ini Ansell dan tetap melihat ke arahmu. Tapi jika kau terus mendorongku pergi seolah tak membutuhkanku, apa yang harus aku lakukan?”
Tak hanya itu, ingatannya terus mundur pada hari dimana ia memergoki Ahreum melalui CCTV rumah sakit tengah berjalan beriringan dikoridor menuju ruangan karibnya saat itu dirawat.
‘mungkinkah lelaki itu adalah Elios. Dan itu adalah hari pertama mereka bertemu?’
Fikirannya benar-benar kacau saat ini, hatinya ingin sekali mempercayai Ahreum namun dirinya yang lain dengan keras menentangnya dan terus mendoktrin otaknya jika istrinya telah berselingkuh dengan pamannya sendiri sejak lama.
Pergulatan didalam hatinya terus terjadi sampai…
__ADS_1
***
Bersambung...