
Rumah sakit Haneul Jakarta.
Lebih tepatnya dikafetaria rumah sakit Haneul, begitu selesai menyuapi sang istri, Seno pun berniat untuk mengisi perutnya dengan membeli makan siangnya dikafetaria.
Karena tak ingin terlalu lama meninggalkan istrinya sendirian dikamar, ia pun memilih untuk membungkus makan siangnya dan juga es kopi dinginnya untuk membuatnya terus terjaga saat menamani sang istri.
Begitu selesai membeli makan siangnya, ia pun langsung berjalan kembali keluar dari kafetaria seraya menenteng sebuah keresek yang cukup besar disalah satu tangannya, dan tangannya yang lain menggengam 1 cup kopi dingin.
“mas Seno..” panggil seseorang, saat Seno baru saja melewati pintu, Seno membalikan tubuhnya untuk menanggapi panggilan yang berasal dari arah belakang.
“bisa kita bicara sebentar.” Ucap seseorang tadi yang ternyata adalah Carrisa, ibu dari menantunya.
“dengan saya?” tanya Seno memastikan lengkap dengan raut wajah bingungnya, karena tiba-tiba saja besannya itu ingin berbincang dengannya.
“Iya, ini tentang putraku, mas.” Lanjut Enzy.
Karena banyak orang yang berlalu lalang hendak memasuki kafetaria, membuat Seno melangkahkan kakinya untuk berjalan ke tempat lain agar tidak menghalangi jalan masuk.
“hmm, apa ga sebaiknya kita bicara diruangan Enzy saja.” Saran Seno yang tidak ingin terlalu lama meninggalkan istrinya.
“aku hanya ingin bicara dengan mas Seno aja, karena saat ini mba Enzy masih dalam kondisi tidak stabil aku takut ini hanya akan menambah beban difikirannya.” Papar Carrisa yang mencoba untuk memberikan penjelasan pada lelaki paruh bay aitu.
“oke, baiklah, kita bicara dimana?” tanya Seno yang akhirnya bersedia meluangkan waktunya untuk berbincang dengan Carrisa.
“dikafetaria aja mas, sekalian mas juga sepertinya hendak makan kan, kebetulan aku juga belum sempat makan dari kemarin.” Ucap Carrisa yang kemudian langsung direspon sebuah anggukan oleh Seno, lalu keduanya pun menarik langkah memasuki pintu kafetaria secara bergantian.
***
__ADS_1
Kembali ke hotel XXX.
Tempat dimana Ahreum disekap oleh suaminya, begitu sih yang difikirkan Ahreum. Padahalkan sebenarnya mereka berdua sudah menikah ya, jadi sah-sah aja jika Ansell ingin meminta hal itu dari istrinya.
Tapi kembali lagi, karena pernikahan mereka bukanlah berdasarkan keinginan keduanya, melainkan paksaan ataupun perjodohan yang kedua orang tuanya putuskan. Ditambah Ahreum pun merasa sebenarnya dia masih belum siap untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Selain karena ia masih kuliah, ia juga tak pernah membayangkan akan menikah di usia muda sebelumnya.
Seakan tak kehilangan akal Ahreum yang kala itu masih berada diatas ranjang, ia memutuskan untuk mencoba sebuah ide gila yang tiba-tiba saja melintas dalam benaknya. Meski ia sedikit meragu namun nyatanya itu adalah pilihan terbaik yang ia miliki saat ini.
Dengan langakah yang tergesa-gesa ia berjalan menuju jas milik suaminya yang sebelumnya dilempar ke atas sofa, dilanjut dengan merogoh salah satu saku jas tersebut untuk mengeluarkan sebuah kunci, iyaa kunci mobil yang nantinya akan ia gunakan untuk membuka pintu mobil dan mengambil ponsel miliknya yang terjatuh dimobil.
Karena tidak memungkinkan keluar melalui pintu, iya, pintu tersebut terkunci rapat dan tentu saja Ansell membawa card key bersamanya ke dalam kamar mandi. Membuat Ahreum terpaksa harus melakukan hal ekstrem yang sebelumnya juga tak pernah ia bayangkan akan melakukan hal gila ini.
“aku pernah melakukan simulasi panjat tebing, seharusnya ini tidak jauh berbedakan?” gumam Ahreum seraya terus berjalan menuju balkon kamarnya.
“aiissh!! Ahh bodo ahh, yang penting aku bisa keluar dari kamar ini.” gumamnya kembali seraya mulai mencoba menaiki pagar pembatas untuk memulai aksinya bergelantungan kesana kemari, layaknya seekor kera yang sangat lincah bergelantungan pada apapun yang bisa menjadi tempatnya berpegangan dan berpindah-pindah.
Akhirnya Ansell pun keluar dari kamar mandi masih dengan jubbah mandinya dan juga rambut yang sepenuh nya basah, membuat dirinya semakin terlihat seksi.
Dahinya mengerut kala mendapati Ahreum sudah tidak berada diranjang, ia pun mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari istri mungilnya itu. Sampai kedua matanya pun berhenti pada sebuah pintu yang terbuka lebar, membuat hembusan angin berlomba untuk masuk ke dalam kamar, hingga mampu menerbangkan gorden besar yang berada disampingnya.
Meski dirinya tak yakin, namun Ansell tetap ingin memastikan jika dugaannya itu salah, ia pun langsung menarik langkah menuju balkon, lalu kembali mengedarkan pandangannya kearah pekarangan hotel tersebut.
Senyum lebarnya pun merekah kala ia melihat istri mungilnya itu tengah berjalan sembari sesekali meloncat riang seolah telah berhasil keluar dari kandang harimau. Entah kenapa bukannya kesal dengan kelakuan absurd istrinya, ia malah dibuat semakin tertarik pada keanehan istrinya itu.
“diluar sana banyak sekali yang mengejarku, bahkan sampai ada wanita gila yang hampir membiusku hanya untuk bisa tidur denganku. Dan tidak terkecuali juga dengan Ilona.” Gumamnya yang masih asyik memperhatikan Ahreum yang berjalan menuju baseman.
__ADS_1
***
Flashback,
2 tahun lalu, yang bertempat diaparteman Bougenville.
Kala itu Ansell tengah dibopong oleh Ilona menuju sebuah kamar utama, meski keduanya sama-sama minum namun tampaknya hanya Ansell yang hampir kehilangan kesadarannya.
Sementara Ilona masih bisa menjaga kesadaran dirinya, ia terlihat sangat bahagia seraya menatap tubuh kekasihnya itu yang telah ia baringkan diatas ranjang. Tak ingin membuang waktunya lagi Ilona pun berniat untuk melancarkan aksinya, yaitu menelanjangi tubuh kekasihnya kemudian menidurinya.
Setelah berhasil melepas jas, juga kemeja Ansell, ia pun menarik nafas terlebih dahulu karena merasa jantungnya mulai berdegup tak karuan, alih-alih melanjutkan melucuti pakaian bagian bawah Ansell, Ilona memilih untuk menciumi tubuh kekasihnya itu sebagai permulaan sebelum melangkah ke tahap yang lebih ekstrim.
Namun tiba-tiba saja Ilona merasakan perutnya seperti melilit, mules yang tidak tertahankan, hingga membuatnya terpaksa menghentikan aktifitas mencumbu kekasihnya itu sejenak, kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya.
20 menit berlalu.
Begitu Ilona terbebas dari rasa mules diperutnya, kini ia dihadapkan oleh seorang pria yang tengah terduduk diatas sofa lengkap dengan tatapan tajam yang tentu saja mengarah pada dirinya.
“kau memasukan obat lagi ke dalam minumanku?” tanya Ansell yang kemudian memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, akibat pengaruh obat bius yang dicampurkan ke dalam minumannya.
“aku.. aku..” jawab Illona terbata seraya menautkan kedua lengannya didepan tubuhnya dan menundukan pandangannya.
“maafkan aku, aku hanya…”
“bukankah sudah ku bilang, aku tidak ingin melakukannya sebelum kita menikah Ilona! Aku tidak ingin sembarangan melakukan hal itu…”
“jika kau bilang seperti itu, itu artinya kita tidak akan pernah bisa melakukannya, karena kita tidak bisa menikah!” potong Ilona seraya mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap kedua mata tajam Ansell yang tengah mengarah padanya.
__ADS_1
Bersambung…
***