
Dilain tempat, lebih tepatnya ditoserba yang berada diseberang kampus Royal collage.
Terlihat Jeno tengah berdiri di depan rak mie instan cepat saji, sembari memasukan salah satu tangannya ke dalam saku sweaternya.
“kau ada kelas pagi?” sapa Hanna yang baru saja muncul dari arah belakang dan membuyarkan lamunan Jeno seketika.
“ahh, engga. Kenapa kau ada disini pagi-pagi?” sahut Jeno yang tengah memilih mie instan untuk sarapannya. Sejenis po* mie ya, mie cepat saji.
“ahh iya, aku belum memberitahumu ya kalau aku pindah ke daerah sini. Aparteman xxx.” Jelas Hanna yang juga ikut mengambil mie instan cepat saji untuk menu sarapannya pagi ini.
“ohh, kau mau sosis?” tanya Jeno yang beralih ke showcase yang berada dibelakangnya, ia pun membuka pintu showcase sembari menunggu jawaban dari karibnya tersebut.
“boleh, yang pedas.” Kata Hanna sembari menunjuk varian sosis yang diinginkannya.
“kalau ga ada kelas, kenapa kau ada disini?” sambung Hanna.
“amm, aku merasa bosan aja dirumah.” Sahutnya.
“amm.. tadi malam, kenapa kau membiarkan kak Ben terus menyudutkan Nayeon, bukankah seharusnya kau ikut bicara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, atau setidaknya kau harus tampak berada dipihak kekasihmu, bukannya diam terus seperti pengecut disaat wanitamu sedang dicecer oleh lelaki lain.” Kata Hanna panjang lebar yang membuat Jeno tiba-tiba saja terdiam seraya memegangi 2 sosis ditangan kanan dan 1 mie instan ditangan kirinya.
“hmm.. aku tak ingin ikut campur ke dalam hubungan kalian, tapi aku benar-benar tak tahan melihat sikapmu yang masih tetap sama seperti dulu, Jen. Aku tahu, aku sangat tau Nayeon memang bersalah, tapi.. jika semua orang menyudutkannya termasuk dirimu kekasihnya sendiri, itu tidak benarkan?” lanjut Hanna seraya mengambil satu sosis yang berada dalam genggaman Jeno.
“aku tidak membenarkan tindakan Nayeon pada Ahreum, hanya saja berhenti menjadi pengecut dan lindungilah kekasihmu dengan benar kali ini, Jen. Dia melakukan tindakan jahat seperti itu kan karena kau sendiri yang tidak benar-benar perduli padanya.” Tandas Hanna kemudian pergi meninggalkan Jeno yang tampak menghela nafas beratnya.
Hanna pun berjalan menuju meja kasir untuk membayar makanan yang dibawanya.
“sama ini juga ya.” Ucap Hanna seraya mengambil botol air mineral yang berada disudut meja kasir.
“biar aku aja yang bayar.” Ucap seseorang dari belakang sembari menyodorkan kartu debitnya, kemudian menaruh beberapa cemilan yang dibawanya dan didekatkan dengan belanjaan Hanna.
“Nay..” ucap Hanna yang sedikit terkejut mendapati kehadiran karibnya tersebut.
😁
Nayeon pun tersenyum lebar setelah Hanna menyapanya.
__ADS_1
“aku gak terlambatkan? Dimana truck yang membawa perabotanmu?” kata Nayeon.
“truck? Ahh.. Cuma mobil kol buntung kok, karena perabotanku juga ga sebanyak itu sampe mesti pake truck segala. Sedang dalam perjalanan mungkin 20 menit lagi juga sampai.” Timpalnya seraya melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
“jadi 56.000 ya, pin nya.” Timbrung Frank yang setelah menggesek kartu debit Nayeon ke mesin EDC.
Nayeon pun langsung mengetikan beberapa angka dimesin EDC seperti perintah Franky.
“kau disini Nay?” timbrung Jeno yang baru saja hadir diantara keduanya sembari memegangi mie instan, sosis dan juga botol air mineral dingin.
“heem, mau membantu Hanna bebenah diapartemannya.” Sahut Nayeon lengkap dengan senyum lebar yang tampak sekali dipaksakan.
😬
“tumben.” Kata Jeno yang kemudian menaruh belanjaannya diatas meja kasir.
“ini kartunya.” Ucap Franky sembari menyodorkan kartu debit milik Nayeon serta 1 kantung kresek yang berisikan belanjaan Nayeon dan Hanna barusan.
“makasih ya.” Ucap Hanna sembari mengambil kantung kresek sementara Nayeon mengambil kembali kartu debit miliknya dan memasukannya ke dalam tas kecilnya.
“aku tunggu diluar ya.” Imbuh Hanna pada Nayeon yang tampak masih ingin berbicara dengan Jeno, Hanna pun pergi setelah dapat respon anggukan dari Nayeon.
“tumben kalian berdua akur, biasanya kan ribut terus.” Celetuk Jeno sembari menunggu Franky memproses belanjaannya.
“hehehe, setelah ku fikir-fikir Hanna gadis yang baik kok, aku nyaman bersamanya.” Responnya masih dengan senyuman palsunya.
“begitu ya, kau tidak pergi? Sepertinya Hanna sudah lama menunggu diluar.” ujar Jeno seraya melirik sejenak ke arah Hanna yang tengah duduk menunggu dikursi luar.
“amm, kau mau ikut juga ngga?” tanya Nayeon.
“semuanya 25.000 bang.” Sela Franky ditengah obrolan keduanya.
“amm, ayok, tapi kau duluan aja nanti aku nyusul, kirimkan lokasinya aja.” Kata Jeno lagi seraya merogoh dompetnya dari saku belakang celana jins nya kemudian mengeluarkan 1 lembar uang kertas berwarna biru dan diberikannya pada Franky yang sudah siap menerima pembayaran dari Jeno.
“memangnya kau mau kemana, bukannya ga ada kelas pagi ini?” tanya Nayeon lagi.
“aku mau menemui Riska dulu sebentar diperpus.” Jawab Jeno.
__ADS_1
“ini kembalinya bang.” Kata Franky seraya memberikan beberapa lembar uang kertas pada Jeno.
“oke, makasih ya.” Ucap Jeno lengkap dengan senyum ramhanya kemudian memasukan kembali uang kembalian ke dalam dompet hitam tebalnya.
“mau mendiskusikan tugas kelompok.” Jelasnya lagi sembari memasukan dompetnya ke dalam saku celana jinsnya kemudian mengambil kresek kecil yang masih berada diatas meja kasir. Dan menarik langkah keluar dari toko serba ada diikuti dengan Nayeon yang berjalan disampingnya.
“ohh gitu. Oke, kalau sudah selesai langsung kabari aku ya.” Ucap Nayeon.
“oke.” Respon Jeno sebelum benar-benar pergi meninggalkan Nayeon kemudian melambaikan tangannya sejenak pada Nayeon.
“bukannya dia ga ada kelas?” tanya Hanna seraya berjalan mendekati Nayeon yang masih memperhatikan langkah kekasihnya.
“mau ketemu sama teman 1 kelompoknya dulu, nanti dia nyusul.” Jelas Nayeon yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Hanna yang berada disampingnya.
“ahh gitu, Btw.. apa itu yang kau bawa?” tanya Hanna sembari melirik ke arah tote bag yang digenggam Nayeon.
“ahh ini.. ini piyama, buatmu, aku beli 3 untukku, Ahreum dan kau.” Seru Nayeon sembari memberikan tote bag yang berisikan piyama pada Hanna.
Dengan senang hati Hanna pun menerimanya. “waaahh..” respon Hanna seraya membuka tote bagnya agar bisa melihat dengan jelas piyama yang diberikan oleh Nayeon padanya.
“thank’s. Aku gak tahu kau bisa baik juga padaku, Nay.” Celetuk Hanna yang membuat raut wajah Nayeon mendadak sinis padanya.
“hehehe, bercanda.. ayook.” Ajak Hanna sembari merangkul Nayeon dan berjalan menuju apartemannya.
“kukira kau mau makan mie instan di depan toserba tadi.” Ucap Nayeon ditengah perjalanannya.
“iya tadinya, cuma ga jadi ahh.” Sahut Hanna yang beralih mengenggam lengan Nayeon kemudian diayun-ayunkannya seirama dengan langkah kakinya.
“kenapa?” tanya Nayeon seraya melirik sejenak ke arah Hanna.
“soalnya kau memberikan aku piyama.” Katanya yang juga melirik ke arah Nayeon lengkap dengan senyuman lebarnya.
“diihh!! Apa siih hahahaa.. gak nyambung tau! Kau ini aneh sekali.” Celetuk Nayeon disela tawa renyahnya.
***
__ADS_1
Bersambung...