Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 24


__ADS_3

Tiba-tiba saja Nayeon membanting stir ke arah kiri dengan sekuat tenaga bersamaan dengan berakhirnya cuplikan masa lalu antara dirinya dengan Ahreum, hingga membuat mobil yang dikendarainya kala itu menghantam tiang pembatas dengan cukup keras sampai kap mobilnya pun terbuka.



Tak jauh berbeda, kondisi didalam mobil pun sangat mengkhawitirkan, akibat hantaman yang cukup keras tersebut kepala Nayeon sampai menghantam stir mobilnya hingga membuat tetesan darah mulai mengalir dari dahinya.


“Nay.. Nayeon!!” panggil Jeno yang lebih dulu tiba dari Ahreum dan Ansell yang masih berlarian dari arah lain.


“Nayeonnn!!” panggil Jeno kembali seraya mencoba membuka pintu mobilnya yang terkunci dari dalam.


Dilihatnya Nayeon sudah tak sadarkan diri dengan darah segar yang terus mengalir dari pelipis kepalanya dan juga kedua tubuhnya yang sudah terkulai lemah tak berdaya, beruntung karena ia memakai safety belt tubuhnya tidak terbanting ke sisi lainnya.


“Nayeonn!!” seru Ahreum yang baru saja tiba bersamaan dengan Ansell yang berada dibelakangnya.


“YAK!! Apa yang terjadi pada kalian berdua?! Kenapa Nayeon bisa melakukan hal seperti ini.” lanjut Ahreum yang melihat Jeno tengah melepaskan safety belt yang dikenakan Nayeon dengan kedua lengan gemetarnya.



“aku akan membawa Nayeon ke rumah sakit Haneul.” ujar Jeno seraya mengangkat tubuh Nayeon dari mobil yang sudah dipenuhi asap yang keluar dari bagian mesin depan mobil.


“dimana mobilmu?” imbuh Jeno seraya menatap ke arah Ansell yang berada dibelakang Ahreum.


“kau tunggu disini saja, aku yang akan membawa mobilnya.” timpal Ansell yang kemudian pergi berlari menuju keberadaan mobilnya.


***



Rumah sakit Haneul Jakarta selatan.

__ADS_1


Tepatnya diruang UGD, tempat dimana Nayeon tengah berjuang antara hidup dan mati, iya sesampainya di rumah sakit, gadis malang itu langsung dilarikan ke UGD, karena kerja jantungnya pun terhenti membuat para medis harus melakukan tindakan CPR pada tubuh Nayeon.


Ahreum tak dapat membendung kembali tangisannya kala suara alat pacu jantung tersebut dinyalakan, kedua kakinya pun melemah seolah tak ada lagi tenaga yang tersisa didalam tubuhnya, melihat karibnya terbaring tak sadarkan diri seperti itu membuat hatinya merasakan rasa sakit yang cukup mendalam.


Sampai Ansell yang tengah berada disisinya pun dengan sigap memegangi bahu Ahreum yang hampir saja terjatuh. Sama hal nya dengan Jeno, meski tak bersuara nyaring seperti Ahreum, air mata Jeno pun terus saja berurai membasahi kedua pipi mulusnya.


“ku mohon kembali Nay, jangan pergi..” gumam Ahreum disela isak tangisnya yang terdengar memilukan.


Setelah percobaan terakhir sang dokter akhirnya tubuh Nayeon pun merespon, meski denyut nadinya masih cukup lemah namun setidaknya dia sudah berusaha untuk keluar dari ambang kematiannya.


Baik Jeno maupun Ahreum, kini keduanya bisa bernafas lega dan mengucap syukur pada Tuhan yang masih memberikan Nayeon kesempatan untuk hidup, dan kembali pada teman, kekasih juga keluarganya.


Ahreum tersenyum bahagia dengan air mata yang masih terus saja mengalir dari pelupuk matanya, ia pun memandang Ansell sejenak lengkap dengan senyumannya sebelum akhirnya memeluk Ansell yang juga memberikannya senyum hangat, seolah lelaki tersebut mengerti apa yang kini Ahreum butuhkan.


“sudah, jangan nangis lagi, nanti matamu bengkak.” Ucap Ansell seraya membelai lembut bagian kepala belakang calon istrinya tersebut.


“mas, wali dari nona Nayeon?


karena nona Nayeon sudah berhasil keluar dari masa kritisnya, kami akan mulai tindakan operasi, sebelum itu wali dari nona Nayeon harus melengkapi data terlebih dahulu mengenai persetujuan tindakan operasi pada nona Nayeon, dibagain administrasi.” Papar sang dokter, ia berjalan menghampiri keberadaan Jeno, Ahreum dan Ansell untuk memberitahukan kondisi terkini sang pasien yang baru saja ia tangani.


“baik dok, saya yang akan mengurus administrasinya sekarang juga, dan tolong lakukan yang terbaik untuk Nayeon.” Sahut Jeno yang kemudian pergi menuju meja administrasi seperti yang sang dokter minta.


***


Selang 90 menit kemudian, ketiganya masih menunggu dengan harap-harap cemas di depan ruangan tempat dimana operasi Nayeon berlangsung, dengan posisi Ahreum yang duduk diantara Jeno dan Ansell.


“sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya, Jeno?


Apa hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja.” Ujar Ahreum tanpa menoleh ke arah Jeno yang berada disampingnya, melainkan ia hanya menatap dinding kokoh rumah sakit yang berada dihadapannya.

__ADS_1


Dering telfon dari ponsel Ansell tiba-tiba berbunyi sebelum Jeno membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Ahreum. Membuat pembicaraan antara Jeno dan Ahreum tertunda sejenak.


“aku jawab telfon dulu.” Pamit Ansell yang kemudian bangkit dan pergi menjauh dari Ahreum dan Jeno untuk menjawab telfonnya.


“aku.. mencoba mengakhiri hubunganku dengan Nayeon.” Papar Jeno dengan suara paraunya, ia tampak mencoba untuk terlihat tegar dihadapan Ahreum.


“apa? Kenapa?” tanya Ahreum seraya menoleh dan menatap bagian samping wajah Jeno.


“aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri, terlebih lagi ternyata Nayeon menyadari jika..” Jeno menghentikan kalimatnya sejenaka lalu membalas tatapan Ahreum sebelum kembali melanjutkan apa yang ingin ia katakan pada karibnya tersebut.


“aku menyukaimu.”


2 kata yang benar-benar bisa membuat Ahreum membelalakan kedua matanya seketika, gadis itu tak menyangka jika sebenarnya Jeno memiliki perasaan yang sama terhadapnya sedari dulu, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan seperti yang difikirkannya selama ini.


Namun entah mengapa baru hari ini Jeno mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada dirinya yang telah menunggunya sejak lama. Karena kini semuanya sudah terlambat, iya.. sudah sangat terlambat.


Meski hatinya merasa bahagia bisa mendengar pengakuan cinta Jeno padanya, namun kenapa pengakuan itu juga bisa membuat dirinya sakit dalam waktu yang bersamaan. Karena ia harus dipaksa mundur atau menyerah akan cinta pertamanya bahkan sebelum ia mencoba untuk memulainya.


“aku tahu, aku sudah sangat terlambat mengakuinya padamu, tapi setidaknya aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya, sebelum kau benar-benar pergi dariku.” lanjut Jeno yang masih menatap kedua bola mata Ahreum yang berkaca-kaca akibat pengakuan cintanya beberapa menit yang lalu.


“semoga kau bahagia bersama dengan Ansell, aku tulus mendoakanmu, Ahreum.” Tambahnya lagi lengkap dengan senyuman getirnya, meski berusaha terlihat tegar namun tetap saja rasa sakit itu tampak begitu nyata dan tak bisa ia sembunyikan dihadapan Ahreum.


Mendengar hal itu Ahreum hanya bisa menatap Jeno dengan air matanya yang kembali berurai mengiringi kesedihannya kala itu, tak ada 1 kalimat pun yang keluar dari bibir Ahreum sejak pengakuan cinta dari Jeno.


Sebab ia sendiri tak tahu apa yang harus ia katakan pada Jeno, dan akhirnya ia hanya menangis sejadi-jadinya disamping Jeno yang masih menatapnya dengan tatapan sedihnya.


***


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2