
“Ahreum!!” panggil Franky seraya menyentuh bahu Ahreum, yang tentu saja membuat Ahreum terkejut hingga ia pun refleks memutar tubuhnya dan langsung meninju wajah Franky dengan sekuat tenaga.
Begitu pun ketiga pelayan yang ikut memutar tubuhnya serempak serta terkejut dengan kehadiran Franky yang tiba-tiba muncul ditengah situasi mencekam tersebut.
Brrukkkkk!!! “AAaaaaaaaa!!” teriak ketiga pelayan bersamaan dengan hantaman tinju Ahreum yang mendarat tepat di hidung Franky, alhasil kini Franky pun terkapar tak berdaya dilantai dengan rembesan darah yang mulai mengalir keluar dari 2 lubang hidungnya.
“astaga mas Franky..” seru Laras yang menyadari lebih dulu jika seseorang yang memanggil Ahreum adalah manusia bukanlah makhluk jejadian.
Ketiga pelayan tersebut pun lantas berhamburan mendakati Franky yang masih tak sadarkan diri dilantai. Sementara Ahreum masih mencoba menstabilkan detak jantungnya dengan menarik nafas dalam-dalam, tak terlalu perduli dengan kondisi tragis karibnya tersebut.
Mendengar teriakan tak hentinya dari area dapur membuat yang lain pun ikut bermunculan, seperti pak Jimmi, Abi dan juga Rihanna yang berlarian menuju area dapur, lengkap dengan raut wajah paniknya takut sesuatu yang buruk terjadi.
“APA!! APA!! ADA APA?!!” seru Rihanna begitu dirinya telah sampai di area dapur dan langsung saja mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari apapun yang menjadi penyebab teriakan histeris dari para pelayan sebelumnya.
“dibawah..” ucap Abi seraya mendudukan kepala Rihanna ke arah dimana Franky tergeletak bersama ketiga pelayan yang duduk mengelilinginya seraya mencoba membangunkan Franky dengan berbagai cara.
Arini mencoba mencipratkan air yang berada dibaskom ke wajah Franky, Bona yang menggoyang-goyangkan kaki Franky, sedangkan Laras menepuk-nepuk pipi Franky seraya memanggil namanya tanpa henti.
“saya ambilkan kotak P3K dan minyak kayu putih dulu.” Ucap Pak Jimmi yang kemudian berlari pergi meninggalkan area dapur begitu melihat darah yang terus mengalir dari lubang hidung Franky.
“apa?! apa yang sebenarnya terjadi?” pekik Hanna yang ikut bergabung dengan para pelayan untuk mengecek keadaan karibnya itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Hanna, ketiga pelayan itu malah kompak mengarahkan pandangannya pada Ahreum yang tengah berdiri dibelakang mereka.
Membuat Rihanna dan Abi langsung mengerti isyarat yang diberikan oleh ketiga pelayan tanpa harus bersuara.
“hmm..” Abi hanya bisa menghela nafas seraya menggeleng kepalanya.
__ADS_1
“kalian bisa membantuku, mengangkat Franky ke sofa ruang tamu? Atau bisa tolong panggilkan pria lainnya, sepertinya aku belum melihat pak Dadan sedari tadi.” Sambung Abi yang mulai bergabung diantara para pelayan yang mengelilingi pria yang malang tersebut.
“ahh.. pak Dadan, tadi pagi sih bilangnya mau mengambil buah-buahan dari kebun belakang. Cuma memang sampai sekarang pak Dadan masih belum kembali. Kurasa pak Dadan langsung pulang ke rumahnya, karena pak Dadan juga tidak tahu mengenai kedatangan tuan Ansell kemari. Mungkin itu yang membuat pak Dadan tidak kembali lagi ke Villa.” Tutur Laras.
“ahh begitu.” Respon Abi yang kemudian mengarahkan pandangannya kembali pada Franky yang masih berada dialam bawah sadarnya.
“ayo gak apa-apa kita coba aja angkat mas Franky, lagipula mas Franky tidak terlalu besar.” Ucap Arini yang hendak bersiap mengangkat bagian tengkuk dan punggung Franky.
Mendengar ajakan Arini, yang lainnya pun lantas mengangguk setuju kemudian bersiap mengambil posisi masing-masing untuk memulai pengangkatan tubuh Franky yang memang tidak terlalu besar dibanding dengan Ansell dan Abi.
“yak! kau tak ingin membantu?
Bukankah kau harus bertanggung jawab atas perbuatan kejimu terhadap karibmu sendiri!” pekik Hanna saat mereka telah berhasil mengangkat tubuh Franky, Hanna melirik sejenak ke arah Ahreum yang masih terdiam seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
“hufftt.. Iya maaf.. maaf.. aku tak bermaksud meninjunya.” Ungkap Ahreum seraya menarik langkah berjalan mendekati mereka kemudian mengambil posisi dibagian kaki bersama dengan Rihanna.
…
Sesampainya diruang tamu, mereka pun lantas membaringkan tubuh Franky diatas sofa, sementara yang lainnya langsung mundur ke belakang. Abi tetap berada diposisinya, ia mendudukan bokongnya ditepi sofa lalu meletakan bantal kursi dibawah kepala Franky.
“ini minyak kayu putihnya tuan, barangkali aja dengan aroma minyak kayu putih mas Franky terbangun.” Ucap pak Jimmi yang kembali bergabung diantara mereka, dengan senang hati Abi menerima minyak kayu putih yang diberikan oleh pak Jimmi, ia pun membuka tutup botolnya kemudian didekatkannya ke lubang hidung Franky.
“YAK!!! FRANKY!! KENAPA KAU MENINGGALKANKU SENDIRIAN HAH!! KAU MAU KABUR DARIKU?!!” teriak seorang gadis yang tengah berjalan sempoyongan dari arah pintu yang terhubung ke area pekarangan belakang Villa.
Iya, gadis tersebut adalah Nayeon Christine, dengan mata teller ia terus berjalan menuju keberadaan orang-orang yang kini tengah berkumpul diruang tamu dengan sesekali terdengar suara tawa melengking yang memekakan telinga, ya layaknya orang mabuk pada umumnya sih.
“siapa yang membiarkannya minum sebanyak itu?” gumam Ahreum seraya memperhatikan karibnya yang berjalan terhuyung kesana kemari.
__ADS_1
“kurasa dia minum dengan Franky, aku juga mencium aroma alcohol dari nafasnya tadi.” Sahut Hanna seraya melirik sesaat ke arah Franky yang tengah mengerjapkan matanya setelah aroma minyak kayu putih yang menyengat menusuk indra penciumannya memberikan signal pada otaknya, hingga kini ia pun akhirnya tersadar.
“akhirnya mas Franky sadar juga.” Ucap syukur pak Jimmi lengkap dengan senyuman teduhnya.
“bisa tolong pegangi temanku, beri dia minum yang banyak agar bisa sadaar kembali.” pinta Ahreum pada ketiga pelayan tersebut, yang langsung direspon anggukan oleh ketiganya, Laras dan Bonna berjalan cepat menghampiri Nayeon, sedangkan Arini membawa langkahnya ke dapur untuk mengambil air mineral.
“AIISSHHH!!! Lepaskan aku!! Aku mau mencari Jenoku..
Yuhuuuu.. Sayangku kau bersembunyi dimana eheehe, aku datang!!” racau Nayeon kembali begitu Laras dan Bona memegangi tubuh Nayeon.
Dengan keras ia memberontak kemudian kembali berjalan terhuyung sembari bersiul mencoba memanggil Jeno hingga membuat kedua pelayan tersebut kewalahan.
“Nay..” ucap Franky lemas seraya bangkit dari tidurnya kemudian memperhatikan Nayeon yang tengah berlarian kesana kemari untuk mencari Jeno, dengan diikuti oleh 2 pelayan yang berusaha keras menangkap tubuh Nayeon yang gesit seperti belut.
Sementara Ahreum dan Hanna kompak menggeleng kepala melihat kelakuan karibnya yang selalu saja diluar nalar ketika alcohol menguasai dirinya.
“ahh iya, nona Hanna, saya belum menemukan pak Ansell.” Ucap pak Jimmi yang membuat semuanya mengarahkan pandangannya pada pak Jimmi.
“benar juga, aku hampir lupa. Karena kak Abi yang terus berfikiran negative tentang Ansell, kita pun naik ke lantai atas mencoba mengecek Ansell dikamar. Dan.. dia tidak ada disana, hanya ada ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja rias.” Tutur Hanna seraya memberikan ponsel Ansell pada istrinya yang kini berdiri disampingnya.
“dipekarangan depan ataupun belakang Villa juga tidak ada nona.” Tambah pak Jimmi yang semakin membuat Ahreum tidak bisa berfikir positif selagi memandangi layar ponsel suaminya yang kini berada dalam genggamannya.
Sampai…
***
Bersambung...
__ADS_1