
“terimaksih salep dan obatnya, nona.” Tambah Abi lengkap dengan senyum tipisnya.
“aku.. belum pernah berpacaran dengan siapapun, tapi seringkali di permainkan oleh lelaki. Jeno adalah cinta pertamaku, dia selalu baik dan terkadang memperlakukanku seperti aku bukan hanya sekedar teman baginya. Hal itu selalu membuatku merasa dia memiliki perasaan yang sama terhadapku, aku menunggu dan terus menunggu seperti orang bodoh.
Lalu suatu hari aku mendengar kabar jika dirinya sudah berkencan dengan Rihanna, apa boleh buat aku pun hanya bisa merelakannya dan berbesar hati menerima kebahagiaan mereka.
Tak lama mereka menjalin hubungan, Hanna pun pergi meninggalkan kita semua tanpa ada salam perpisahan hingga membuat Jeno down, pada akhirnya aku pun kembali mendekat pada Jeno melihat dia yang seperti itu membuat hatiku ikut terluka.
Aku menghiburnya dan mencoba membuat dirinya kembali bangkit, hingga tanpa sadar aku mulai berharap kembali, apakah ini saatnya?
Kufikir jika aku yang mengungkapkannya terlebih dahulu itu lebih baik daripada hanya menunggu dalam ketidakpastian.
Namun kau tahu, dia datang lebih dulu padaku saat itu dengan senyuman merekah seolah ia telah mendapatkan kebahagiaannya kembali. Dia tampak bersemangat sekali ingin membagikan cerita bahagianya padaku.”
“mas Jeno menjalin hubungan dengan nona Nayeon.” Tebak Abi saat Ahreum mengarahkan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Ahreum hanya mengangguk disertai tetesan air mata yang mulai berderai dan senyum getirnya.
“aku tau, aku juga salah, aku tidak membenarkan perbuatanku kak Abi. Hanya saja.. ini pertama kalinya aku mendapat pengakuan cinta dari seorang lelaki yang tampak tulus menyukaiku. Dokter Elios mengungkapkan rasa sukanya padaku tepat sehari sebelum pernikahanku, meski sebenarnya aku sempat goyah namun aku tetap berusaha untuk kembali memikirkan Ansell.
Lalu mengakhiri pertemuanku dengan dokter Elios saat itu, dan berharap jika kita tidak akan pernah dipertemukan kembali.
Namun.. sepertinya Tuhan memiliki rencana lain.” Lanjut Ahreum masih dengan senyum getir yang membuat dirinya kini tampak menyedihkan.
“maaf nonaa..” ucap Abi dengan nada penuh penyesalannya.
“kenapa kak Abi meminta maaf?
Hmm.. baiklah hanya itu aja yang ingin kukatakan pada kak Abi, sebaiknya kak Abi pulang dan beristirahat jangan kembali ke kantor.” Pungkas Ahreum yang hendak mengakhiri percakapannya dengan Abi sore itu.
“aku juga masih..”
__ADS_1
“tapi nona, saya juga masih tak ingin menyerah, tujuan saya kesini untuk membawa nona Ahreum pulang. Saya kesini bukan atas dasar perintah dari pak Ansell, tapi saya sendiri yang mengajukan diri untuk menjemput nona.” Ucap Abi yang dapat menghentikan gerak tubuh Ahreum yang hendak bangkit dari tempat duduknya.
Ahreum pun mengerutkan dahinya karena sikap keras kepala Abi tersebut.
“hmm.. sudah ku bilang kan kak Abi, jika Ansell benar-benar menyesal atas perbuatannya, aku hanya ingin Ansell sendiri yang datang padaku.
Aku percaya pada Ansell, kurasa dia sebenarnya bisa menyelesaikan masalah pribadinya sendiri, tapi karena kak Abi yang selalu maju terlebih dahulu membuat Ansell kembali diam ditempat dan tak melakukan apapun.
Aku tau kak Abi adalah asisten pribadinya dan tugas kak Abi adalah membantu pekerjaan Ansell. Hanya saja, tolong bedakan masalah pekerjaan dan pribadinya. Karena tidak semua masalah Ansell harus ditanggung oleh kak Abi bukan?
biarkan Ansell memegang tanggung jawabnya sebagai layaknya seorang suami pada umumnya.” Papar Ahreum yang kemudian bangkit dari tempat duduknya kemudian disusul dengan Abi yang juga ikut bangkit dan memandangi wajah Ahreum yang dihiasi senyum tipis.
“baiklah kalau begitu, tapi tolong nona jangan pergi dahulu, saya akan membawa pak Ansell sekarang juga kesini.” kekeuh Abi.
“memangnya harus sekarang banget ya? Aku ada..”
“kalau begitu dimana nona akan menginap hari ini? apa nona akan pulang ke rumah, atau tinggal dengan teman nona?” tanya Abi yang membuat kening Ahreum lagi-lagi mengerut dan mulai berfikir keras akan maksud dari perkataan Abi.
“amm.. sebaikanya jangan sekarang kak Abi, aku harus mengatur fikiranku terlebih dahulu, oke bye.” Pungkas Ahreum dengan diiringi senyuman jahilnya ia pun bergegas pergi meninggalkan Abi yang masih menatap kepergiannya dengan raut wajah kecewanya.
“apa aku anak-anak? Kenapa juga harus kabur-kaburan segala. Huhh.” Gumam Ahreum dalam perjalanannya menuju toko serba ada kembali untuk mengambil ransel dan melanjutkan aktivitasnya hari ini.
Di toko serba ada.
“kau sudah kembali?” sapa Franky yang tengah mengelap salah satu meja didepan toko.
“hmm, tolong ranselku dong.” Pinta Ahreum yang kemudian langsung dilaksanakan oleh Franky.
__ADS_1
“kau tetap akan melanjutkan kemping?” tanya Frankya yang telah kembali dengan ransel Ahreum dalam genggamannya, lalu menyerahkannya pada Ahreum.
“he'mm, kenapa tidak? Huhh!! Aku jadi melewatkan kelas siang gara-gara tadi.” Dumel Ahreum seraya menggendong ransel besarnya itu, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya untuk mengecek beberapa notifikasi yang masuk.
“kakakku sudah pergi?” tanya Ahreum kembali dengan pandangan yang masih terfokus pada layar ponselnya.
“iya, katanya sih orang mesum itu sudah pindah lokasi lagi, lebih baik kau berhati-hati karena dia sering berkeliaran disekitar sini. Kurasa dia seorang professional, sampai kakakmu pun kesulitan menangkapnya.” Kata Franky panjang lebar seraya kembali menyemprotkan cairan biru ke atas meja lalu mengelapnya.
“dia memang gesit sekali, dan pandai bersembunyi. Seolah dia sudah tinggal lama disini jadi dia tahu tempat mana saja yang bisa menjadi tempat persembunyiannya.” Timpal Ahreum yang kemudian menghentikan aktivitas mentouch-touch ponselnya dan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana.
“hmm.. sudah ah, aku pergi ya.” Pamit Ahreum kemudian menarik langkah meninggalkan Franky yang masih sibuk dengan aktivitas bersih-bersihnya.
Tanpa ada yang menyadari, tampak seseorang yang tengah bersembunyi dibalik pohon besar menyunggingkan senyum mencurigakan seolah ia tengah mengawasi seseorang yang berada di area pekarangan toko serba ada.
😏
Dalam perjalan Ahreum menuju lokasi pertemuan dengan teman-teman 1 jurusannya, ia merasakan adanya getaran disaku celananya hingga ia pun menghentikan langkahnya sejenak kemudian merogoh saku celananya dan mendekatkan ponselnya ke telinga untuk menerima panggilan tersebut.
“iya.” Ucap Ahreum sebagai kata pembukanya seraya kembali melanjutkan perjalanannya.
“kau baik-baik saja?” tanya seseorang dalam telfon.
“iya aku baik-baik aja kak, kakak gausah khawatir. Ini ga seserius yang kakak bayangkan kok, kakak juga pernah bilang kan adanya masalah didalam sebuah hubungan itu wajar aja. Aku pasti bisa melewatinya kok, kakak percaya padaku kan?” ucap Ahreum yang mencoba meyakinkan Bennedict jika dirinya baik-baik saja.
“baiklah kalau begitu, kau masih memakai jam tangan yang Jeno berikan waktu itu kan?
Ingat untuk mengkliknya jika kau bertemu dengan lelaki mesum itu, dan jangan pergi-pergi sendiri tetap bersama dengan temanmu disana, mengerti!” perintah Bennedict.
“iya.. iya.. aku mengerti kakak.”
Bersambung…
__ADS_1
***