
Keesokan harinya.
Ahreum terbangun dalam tidur singkatnya, karena tak memiliki tenaga untuk bangkit, ia pun akhirnya ketiduran dengan posisi terduduk dipinggiran ranjang.
Meski masih terasa lemas disekujur tubuhnya, ia tetap berusaha bangkit untuk meraih ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja riasnya.
Namun begitu telapak kakinya berpijak seakan ada yang menyengat tubuhnya ia pun kembali terjatuh. Dirinya kembali teringat akan serpihan kaca lampu yang masih menancap ditelapak kaki mungilnya.
Alih-alih berjalan normal, ia merangkak menuju meja rias untuk menemukan 1 benda yang dapat mengeluarkan serpihan kaca lampu dari kedua kakinya yang kini terlihat begitu mengkhwatirkan lantaran diselimuti warna merah pekat yang berasal dari luka tancapan kaca lampu.
Begitu berhasil meraih sebuah benda kecil yang terlihat seperti pinset yang berada di laci meja riasnya. Ia pun lantas duduk menyilangkan kakinya lalu mulai mencabut 1 per 1 serpihan kaca lampu yang menyebabkan rembesan darah mengalih menutupi kulit pucatnya.
“tahan Ahreum tahan.. lukamu tak seberapa dengan luka yang dimiliki Ansell saat ini. Kau pasti bisa melaluinya.” Gumam Ahreum ditengah aktivitasnya terus mencabut serpihan kaca lampu yang sesekali membuatnya meringis kesakitan.
Selang beberapa menit kemudian, setelah dirasa kakinya cukup bersih dan sudah tidak ada lagi kaca yang menancap. Ia pun kembali bangkit lalu duduk dikursi, walau masih terasa menyakitkan namun setidaknya kini sudah tidak ada lagi yang menusuk kakinya ketika berjalan, hanya tinggal luka goresan saja.
“Halo.” Sapa Ahreum begitu telfonnya tersambung.
“Iya bi Ijah, aku dan Ansell kembali ke aparteman.”
“tidak, tidak perlu bi, untuk sementara waktu bibi tolong jangan kemari dulu. Tugas rumah dan memasak, aku yang akan melakukannya.”
“baik bi.” Tutup Ahreum yang kemudian kembali meletakan ponselnya diatas meja.
Untuk sejenak ia memandangi wajahnya yang kacau melalui pantulan cermin yang berada dihadapannya. Rambut berantakan, kedua mata yang sembab, dan pipinya yang juga ikut tergores serpihan kaca. Membuatnya kembali emosional, dan tak tahan untuk tidak menderaikan air mata penyesalannya. Lantaran sudah membuat suaminya kembali terjatuh dilubang yang sama.
“Maafkan aku Ansell.. hiksss.. maafkan aku.” Lirihnya seraya mengepalkan kedua tangan dan menumpahkan air mata pedihnya.
***
Ahreum melangkah keluar dari kamar usai merasa lebih baik, mencoba mengecek keadaan suaminya.
“Apa Ansell belum bangun.” Gumam Ahreum begitu keluar dari kamarnya ia tak mendapati suaminya tengah melakukan aktivitas diruang tengah ataupaun dapur.
Ia pun lantaas membawa langkah lemahnya menuju kamar utama yang ditempati suaminya.
__ADS_1
Ceklek..
Ahreum membuka pintu kamar Ansell perlahan, kemudian menarik langkah masuk ke dalam kamarnya dengan harap-harap cemas, takut jika suaminya itu kembali emosional kala melihat wajahnya muncul.
Dilihatnya Ansell masih tertidur tenang diatas ranjang besarnya dengan selimut tebal yang menutupi sampai area dada bidangnya.
Ahreum kembali melangkahkan kakinya menuju tepi ranjang untuk melihat lebih jelas keadaan suaminya saat ini.
“dia bahkan tidak membersihkan tubuhnya lebih dulu, dan langsung tertidur begitu saja dengan pakaian kotornya.” Gumam Ahreum pelan yang kemudian duduk ditepi ranjang masih sembari memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak pucat pasi serta banyak buliran bening yang bercucuran membasahi wajahnya.
Ingin lebih memastikan Ahreum pun menaruh telapak tangannya diatas kening suaminya.
“panas sekali.” Ahreum kembali bergumam sendiri begitu merasakan suhu tubuh suaminya yang tidak normal.
Tiba-tiba kedua mata Ansell terjaga hingga membuat Ahreum terkejut kemudian menarik cepat tangannya yang menempel di jidat Ansell.
Dengan perasaan canggung ia pun bangkit dari tepi ranjang sembari menautkan kedua tangannya lengkap dengan raut wajah kebingungannya, menyadari Ansell kini tengah menatapnya tajam.
“kemasi barang-barangmu, aku akan mengantarmu ke kediaman orang tuaku hari ini.” titah Ansell seraya bangkit dari tidurnya kemudian menurunkan kedua kakinya.
“cepat lakukan, selagi aku masih bicara baik denganmu!” lanjut Ansell dengan nada meninggi, serta bersiap bangkit dari ranjang dengan tubuh lemahnya.
Namun karena kondisi tubuhnya yang benar-benar drop membuatnya terhuyung, dengan sigap Ahreum menangkap tubuh suaminya dan membantunya berdiri tegap.
“Apa kau tak dengar ucapanku semalam?
Aku tak ingin melihat wajahmu.” Pekik Ansell yang lalu mendorong tubuh mungil istrinya ke sembarang arah hingga tak pelak Ahreum pun terhempas lalu mendarat kasar diatas lantai yang keras.
Bersamaan dengan jatuhnya Ansell karena sudah tidak memiliki tempat untuk bersandar.
Melihat suaminya jatuh terkulai, buru-buru Ahreum bangun dan hendak kembali menghampiri suaminya.
“Aku sudah janji bukan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ujar Ahreum seraya mencoba membantu Ansell kembali berdiri.
Namun lagi-lagi Ansell mendorongnya kasar.
__ADS_1
“BERHENTI MENGUCAP JANJI!! Aku muak dengan semua omong kosongmu!” teriak Ansell seraya berusaha bangkit sendiri dengan tenaga yang tersisa.
Ansell melangkah pergi meninggalkan Ahreum yang berusaha kembali terbangun disisi lainnya.
Tak ingin membuat Ansell kembali emosional, Ahreum hanya mengikutinya dari belakang dan terus memperhatikan apa yang hendak dilakukan suaminya.
Begitu langkahnya sampai diarea dapur, Ansell langsung meraih gelas yang berada diatas meja kemudian membalikannya.
Setelah itu ia kembali berjalan menuju lemari dan mengambil 1 kantong teh kemudian diletakannya ke dalam gelas, dilanjut dengan meraih tempat gula, ia mengambil 1 sendok teh penuh kemudian ditaburkannya ke dalam gelas.
Saat dirinya hendak mengucurkan air panas ke dalam gelasnya dari dispenser, dengan cepat Ahreum mencoba mengambil alih gelas yang tengah digenggam Ansell.
“biar aku saja.” Ucap Ahreum seraya mengambil paksa gelas yang saat itu tengah diisi air panas, dan membuat Ansell mundur 1 langkah.
“BISAKAH KAU PERGI!!” bentak Ansell lagi yang membuat Ahreum terkejut dan menjatuhkan gelasnya.
Beruntung kali ini serpihan gelas itu tidak ada yang menggores tubuhnya hanya berserakan dihadapannya, hanya saja air panas itu telah membakar kedua tangan mungilnya.
Tak perduli dengan apa yang terjadi, dengan kekesalan yang sudah tak terbendung lagi Ansell pun memilih pergi meninggalkan Ahreum yang masih membeku ditempatnya dengan deraian air mata yang kini menjadi saksi rasa sakit disekujur tubuhnya.
Ansell kembali ke kamarnya setelah tak bisa menikmati teh hangat yang hendak dibuatnya, lantaran Ahreum malah mengacaukannya.
Ia terdiam sejenak begitu matanya sekilas melihat jejak noda darah yang menempel dilantai kamarnya. Ingatannya kembali membawa pada insiden yang terjadi tadi malam, saat ia tak sengaja menepis kasar tangan Ahreum, gadis malang itu terhempas cukup jauh hingga melewati serpihan kaca lampu yang sebelumnya ia pecahkan.
Meski bagian terdalamnya merasa kasihan pada gadis malang itu, namun akal sehatnya kembali menguasai dirinya dan menepis rasa iba pada istrinya yang kini juga tengah kesakitan karena tersiram air panas didapur.
Ansell kembali melenggangkan kakinya menuju kamar mandi dengan linangan air mata yang tak terhankan.
Sementara itu Ahreum tengah berjongkok didepan serpihan gelas sembari meratapi nasib pernikahannya yang hancur berkeping-keping seperti gelas tersebut.
“hiksss.. hiksss.. maafkan aku Ansell. Maafkan aku..” rintihnya dengan kedua tangan yang terus bergetar dan kian memerah lantaran tak sengaja tersiram air panas beberapa saat lalu.
***
Bersambung..
__ADS_1