Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 55


__ADS_3

Selang beberapa menit setelah kepergian Ahreum.


Masih dengan posisi yang sama, Hanna terduduk dikursi disamping ranjang seraya menikmati buah yang sudah dikupas olehnya dan sesekali memberikan potongan kecil pada Enzy yang telah selesai menyantap makan siangnya.


Sementara itu Seno duduk disudut ranjang dengan kedua kaki menjuntai ke bawah seraya memandangi sang istri dan karib putrinya itu tengah berbagi cemilan buah.


“maafkan ayah ya mah, ayah tidak bermaksud menyalahkan mamah atas apa yang terjadi pada nasib pernikahan Ahreum, hanya saja..”


“iya gak apa-apa yah, aku mengerti kok, jika memang harus berpisah nantinya, ku serahakan saja semuanya padamu yah. Mungkin itu memang yang terbaik untuk Ahreum dan Ansell, maafkan aku juga ya sudah melibatkan putrimu ke dalam pernjanjian kedua orang tuaku dahulu.” Respon Enzy seraya menatap wajah suaminya itu dengan tatapan lembutnya.


“amm.. maaf menyela, bukannya Hanna mau ikut campur..” timbrung Hanna seraya mengangkat kepalan tangannya untuk meminta ijin ikut ke dalam pembicaraan antara Enzy dan Seno.


“iyaudah tidak usah ikut campur kalau begitu.” Timpal Seno dengan nada sedikit ngegas.


“aahhhhh oommmmm!!” rajuk Hanna lengkap dengan nada manjanya dan menurunkan kembali kepalan tangannya.


“ayah..” ucap sang istri seraya menggeleng kepala.


“iya sayang kenapa?” lanjut Enzy yang beralih menatap kedua mata Hanna.


“memangnya om yakin mau meminta Ahreum berpisah dengan Ansell?


Kasihan sekali Ahreum baru setahun menikah, masa udah jadi janda.” Celetuk Hanna disela mengunyah potongan buah apel yang sudah ia iris-iris dalam sebuah piring kecil.


“amm.. iya sih, kalau difikir-fikir benar juga kata Hanna yah, mamah jadi bingung harus bagaimana.” Sahut Enzy yang kembali memikirkan keputusan dari suaminya tersebut, apakah hal itu benar-benar jalan yang terbaik untuk putrinya atau malah sebaliknya.


“tidak, keputusan ayah sudah bulat, ayah tidak mau mempunyai menantu yang kasar dan tidak memiliki tata krama seperti Ansell, ditambah saat Ansell berkata jika pernjanjian itu dibuat hanya untuk pernikahan bukan untuk bersama selamanya, lancang sekali anak itu!”


***


Sementara itu dibalik pintu ruangan Enzy, tampak Carrisa tengah berdiri tepat didepan pintu ruangan seraya mencoba mendengarkan percakapan yang tengah berlangsung didalam ruangan tersebut.


Masih dengan jas dokter yang masih menempel ditubuhnya ia berniat untuk mengunjungi karibnya itu ditengah jadwal padatnya dirumah sakit. Namun ketika ia sampai dan hendak menarik handle pintu, ia dikejutkan oleh dumelan Seno yang tengah membicarakan nasib dari pernikahan putra putrinya yang bahkan baru seumur jagung itu.


Hingga ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk mendengarkan sedikit mengenai pandangan Seno terhadap putra semata wayangnya.


Sampai ia merasakan adanya getaran dari dalam saku jas nya yang membuat dirinya kini teralihkan, ia pun merogoh ponselnya untuk mengecek darimana panggilan itu berasal, ia pun terdiam sesaat ketika membaca sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya.


Sebuah panggilan yang tak boleh ia abaikan, untuk sejenak ia merasa dilemma karena disisi lain ia masih ingin mendengarkan percakapan besannya namun ia juga tak bisa mengabaikan panggilan yang masuk tersebut, hingga membuat dirinya beberapa kali menatap layar ponsel dan pintu ruangan secara bergantian.

__ADS_1


Ia pun menghembuskan nafasnya kemudian beranjak dari posisinya seraya mendekatkan ponselnya ke telinga, tanda ia lebih memilih untuk menerima panggilan tersebut dan pergi dari depan ruangan temannya.


***


Kembali ke dalam ruangan Enzy.


“eeyyy, omm tidak boleh menilai seseorang hanya dengan beberapa kali bertemu, setidaknya om harus lebih mengenalnya dulu baru bisa menilai dengan baik, benarkan tante.” Timpal Hanna seraya kembali memberikan potongan buah pada Enzy.


“iya sih benar juga, kalau begitu, bagaimana kalau kita sering-sering pergi makan malam bersama, atau bisa juga berwisata ke mana gitu..” sahut Enzy.


“sekali tidak tetap tidak!


Lagipula Ahreum tidak akan lama-lama sendiri kok, mungkin setelah sebulan perpisahannya dengan Ansell, ayah akan mencoba menjodohkannya dengan seseorang.”


“ooh, om sudah punya calon juga rupanya, siapa memangnya om?” tanya Hanna yang penasaran dengan pilihan Seno.


“adalah kau tak akan tahu.” Ketus Seno.


“eeeyyy, apa Ahreum mengenalnya? Jika Ahreum mengenalnya aku juga pasti tahulah, ayo dong sebutkan saja siapa namanya ooommm?!” bujuk Hanna ditambah dengan goyangan bahunya layaknya seorang bocah yang tengah meminta sesuatu dari ayahnya.


Karena tak kunjung diberitahu juga, Hanna pun memutuskan untuk meminum sejenak untuk mengaliri kerongkongannya sebelum kembali menyemil buah.


“Elios..” ucap Seno yang membuat Hanna tersedak dan batuk-batuk sebab terkejut mendengar nama itu disebut oleh Seno.


“aduuh pelan-pelan dong sayang, masa cuma minum aja sampai tersedak gitu.” Ucap Enzy lengkap dengan raut wajah khawatirnya.


“siapa Elios, yah?” tanya sang istri yang baru pertama kali mendengar nama itu disebut.


“jadi.. uhuuk.. om juga.. sudah mengenal dokter Elios.” Ucap Hanna seraya menaruh kembali gelas yang berisikan air ke atas meja kecil disampingnya dan mencoba menepuk dadanya pelan dengan tangan yang satunya untuk membuat air itu cepat mengalir.


“teman Ahreum yang pernah mengantarnya pulang beberapa hari yang lalu, aku merasa pria itu lebih cocok dengan Ahreum, dia sangat sopan sekali berbanding terbalik dengan Ansell.” Ucap Seno yang lebih dulu merespon pertanyaan istrinya lalu kembali beralih pada Rihanna.


“memangnya kau kenal?” tanya Seno seraya memandangi Rihanna dengan tatapan seriusnya.


“tentu, aku bertemu beberapa kali dengannya, bahkan pagi ini pun aku bertemu dengannya di depan kampus Ahreum.” tutur Hanna.


“tunggu, kau bilang dokter?” tanya Seno kembali yang baru menyadari jika ada kata dokter didepan nama pria tersebut.


“hmm, Elios adalah seorang dokter, memangnya om tidak tahu?” lanjut Hanna kembali yang membuat percakapan mengenai identitas Elios pun semakin berkembang.

__ADS_1


“waaah, bagaimana kau bisa mengenalnya?”


“iyaa nih, apa Ahreum sudah banyak cerita padamu? padahal kau baru saja datang, tapi sudah banyak informasi yang kau ketahui.” Timbrung Enzy.


“dokter Elios ada dipernikahan Ahreum, ommm, tanteee! masa om dan tante ga lihat sih, saat melihat Ahreum pingsan dokter Elios sampai mencarinya.” Paparnya dengan menatap Enzy dan Seno secara bergiliran.


“pernikahan Ahreum?” ulang Seno yang tampak kebingungan sekali seraya melirik ke arah istrinya, namun karena Enzy pun tidak tahu seperti apa wajah dari pria yang tengah diceritakan tersebut ia hanya bisa mengangkat bahunya.


“ahh iya, memangnya om gak apa-apa gitu punya menantu seorang duda?” kata Hanna lagi.


“maksudmu, duda?” ulang Seno.


“ya ampuunn! Omm juga ngga tahu ya, dokter Elios itu duda om, punya anak 1 lagi kurasa sudah masuk SD, tadi pagi aku dan Ahreum bertemu dengannya.” Jelasnya lagi yang membuat Seno tampak berusaha keras untuk mencerna semua fakta mengenai calon menantu idamannya itu.


“tunggu-tunggu, banyak sekali yang kau tahu Hanna, kau yakin sedang tidak mengarang cerita?” respon Seno lengkap dengan sorot mata tajamnya seolah ia tengah mencurigai seorang penipu.


“astaga!! Ooommmmm!! Auughh, sudahlah, tadinya aku ingin memberitahu 1 fakta lagi tentang dokter Elios, tapi tidak jadi ah.” Hanna merajuk.


“jadi benar, Elios seorang dokter dan juga duda beranak 1?” ucap Seno kembali yang mencoba memastikan kebenarannya.


“iyaa benar ommm iissh!! jika tidak percaya tanya saja nanti pada Ahreum, huhh.” Dumel Hanna sebab Seno masih saja meragukan informasi akuratnya.


“begitu yaa..” sahut Seno seraya menganggukan kepalanya.


“kenapa? apa karena kenyataan dokter Elios seorang duda, om jadi ingin berubah fikiran? Seharusnya sih tidak menjadi masalah, karena nanti juga kan Ahreum seorang janda.” Celetuknya lagi.


“astaga! Om heran, dimana sebenarnya Ahreum memungutmu.” Sahut Seno seraya menggeleng kepalanya.


“ciih!! Asal om tahu yak! Ahreum dulu yang mengikuti kemana pun aku pergi dan akhirnya aku memutuskan bersedia berteman dengannya karena semakin aku mengenalnya ternyata dia memiliki karakter yang sama sepertiku.” Ungkapnya, yang membuat Seno langsung mengangkat 1 alisnya, sebab tidak percaya dengan omong kosong yang dibicarakan oleh gadis tersebut.


***


Di aparteman.


Sesampainya Ahreum di depan pintu aparteman, ia pun langsung memasukan sebuah kode sandi yang dikirimkan oleh Abi sewaktu diperjalanannya menuju aparteman.


Perlahan ia pun mendorong handle pintu tersebut lalu masuk ke dalam seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan untuk menemukan seseorang yang dicarinya tersebut, tak tampak di sekitaran ruang tengah ia pun memutuskan untuk mendatangi kamar utama lebih dahulu.


Namun saat ia hendak melewati dapur, samar-samar telinganya menangkap suara erangan yang diduga berasal dari dapur. Ia pun langsung membalikan tubuhnya dengan hati-hati, kedua matanya langsung membulat kala melihat percikan darah dan pecahan botol minuman keras yang berserakan dilantai dapur.

__ADS_1


bersambung...


***


__ADS_2