
Villa keluarga Dirgantara yang terletak dipinggiran kota Jakarta.
Mobil pun terparkir diarea pekarangan Villa, disusul dengan turunnya Ansell, Ahreum, Nayeon, Hanna dan terakhir Abi sang pengemudi setelah mematikan mesin mobil, ia pun lantas bergabung dengan teman-temannya yang masih berdiri dalam 1 baris seraya memandangi keseluruhan Villa yang telah lama tak berpenghuni.
Sampai..
“sore tuan Ansell, ini pasti nona Ahreum ya. Saya hanya bisa melihat wajah nona dari foto pernikahan yang dikirimkan oleh nyonya Risaa. Ternyata nona Ahreum lebih cantik aslinya hehe. Perkenalkan saya Jimmi, nona. Kepala pelayan yang bertugas menjaga Villa keluarga Dirgantara.” Ucap pak Jimmi seraya menundukan kepalanya sebagai tanda hormatnya pada istri dari putra majikannya tersebut.
“ahh iya, halo pak Jimmi. Senang bisa bertemu dengan pak Jimmi kembali.” Balas Ahreum seraya mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Jimmi, namun tentu saja Jimmi malah mengernyitkan keningnya lantaran merasa canggung dengan situasinya.
Dengan cepat Ansell pun meraih lengan Ahreum dan menurunkannya. “sudah cukup basa-basinya, apa semua sudah siap?” sela Ansell yang menyudahi interaksi antara istri dan kepala pelayannya tersebut.
“semua yang diminta sudah kami persiapkan. Mari masuk..” ujar pak Jimmi seraya mempersilahkan yang lainnya untuk berjalan lebih dulu.
“apa kabar pak Jimmi?” sapa Abi seraya berjalan disamping pria paruh baya tersebut lalu merangkulnya, tak keberatan dengan rangkulan tersebut pria yang bernama Jimmi itu pun merespon rangkulan Abi dengan menepuk bokong Abi beberapa kali dengan lembut.
“baik den Abi, hehe. Bagaimana dengan Den Abi?” sahut Jimmi dengan tawa renyahnya.
“syukur kalau begitu, Abi juga baik pak Jimmi. Sudah lama ya, sepertinya terakhir kali kita bertemu saat kelulusan SMA Abi.” Timpal Abi lagi.
Begitu semuanya telah sampai didepan pintu, tiba-tiba kedua pintu pun terbuka secara bersamaan.
“selamat sore tuan muda Ansell..” sapa 2 pelayan wanita muda lengkap dengan seragam hitam putih yang biasa dikenakan oleh para pelayan pada umumnya.
Mereka berdua membuka pintu secara bersamaan untuk menyambut kedatangan putra majikannya tersebut seraya merendahkan tubuhnya dan mempersilahkan mereka masuk dengan kedua tangan yang mengarah masuk ke dalam.
“hufftt.. sudah lama aku tidak merasakan kehidupan mewah seperti ini hehe.” Gumam Hanna seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Mereka pun lantas mulai menarik langkah masuk ke dalam.
“hidangan sudah siap tuan, jika tuan dan yang lainnya ingin makan terlebih dahulu.” Imbuh salah satu pelayan ditengah perjalanannya.
“Tapi jika tuan dan yang lainnya ingin beristirahat lebih dulu, kamar sudah siap tuan. 3 kamar sudah kami persiapkan seperti perintah tuan muda sebelumnya.” Tambah pelayan yang lain.
“3 kamar?
Maksudnya, kau dengan Ahreum, aku dengan Abi lalu Nayeon sendiri gitu?” celetuk Hanna yang membuat pak Jimmi sang kepala pelayan mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“den Abi sudah menikah?” tanya pak Jimmi.
“sepertinya kau harus berhati-hati Abi.” Celoteh Ansell seraya menggelang kepala kemudian merangkul Ahreum dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
“hehehe..” Hanna pun hanya bisa nyengir sebab malu dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Mereka pun berpisah dengan masing-masing pelayan yang mengantarkan mereka ke kamar masing-masing yang sudah ditentukan oleh Ansell sang pemilik Villa.
Kamar utama yang luasnya berkali-kali lipat dari kamar-kamar yang lain, tentunya ditempati oleh Ansell dan Ahreum. Kamar kedua yang letaknya dilantai dasar akan ditempati oleh Rihanna dan Nayeon. Dan kamar terakhir yang berada diujung lorong ditempati oleh Abi sendirian.
Dikamar Hanna dan Nayeon.
Selang beberapa menit mereka beristirahat sejenak diatas ranjang, tiba-tiba ada yang kembali mengetuk pintuk kamarnya membuat kedua nya yang tengah berbaring diranjang pun terhentak dan saling melempar tatapan.
“Iya masuk.” Seru Hanna seraya bangun dari tidurnya dan menunggu seseorang yang akan masuk ke dalam kamarnya.
“ini kopernya nona, saya taruh dimana ya?” tanya sang pelayan begitu membuka pintu kamar.
“ahh itu. Taruh disana aja. Terimakasih ya.” Ucap Hanna yang kemudian turun dari ranjang untuk menghampiri kopernya setelah pelayan tersebut pergi meninggalkan kamar.
“hmm.. aku gerah sekali. Udah gak tahan pengen nyebur ke kolam.” kata Nayeon seraya bangun dari tidur-tidurannya kemudian turun dari ranjang dan berjalan mendekati keberadaan karibnya.
“dasar cabul.” Celetuk Nayeon yang kemudian ikut berjongkok didepan koper untuk mengambil pakaian dan barang-barang miliknya.
“ahh iya.. apa kau baik-baik aja?” Hanna kembali mengoceh ditengah aktivitasnya memisahkan barang miliknya dengan barang milik Nayeon.
“kenapa?” sahut Nayeon yang tak paham dengan arah pembicaraan karibnya itu.
“karena hanya kau yang tidak memiliki pasangan disini hehee.” Goda Hanna diiringi tawa meledeknya diakhir kalimat yang membuat Nayeon langsung menatapnya kesal.
“ciihhh…
Lihat saja, hubunganmu pun pasti tidak akan lama dengan kak Abi. Setelah kak Abi tahu karakter aslimu yang bar bar itu, lambat laun dia akan menyerah dan meninggalkanmu.”
“cukup, berhenti memprovokasiku. Ayoo cepat, kita tidak memiliki banyak waktu hari sudah mulai gelap. Kau yakin akan memakai bikini hitam ini?” ucap Hanna seraya membeberkan bikini milik Nayeon.
“Iya tentu, memangnya kenapa? cocok dengan tubuhku yang sexy.” Sombongnya.
__ADS_1
“bukankah ini terlalu terbuka.” Komen Hanna seraya mengamati bikini hitam milik karibnya itu.
“memangnya kenapa, sini kemarikan!” ketusnya seraya menyambar bikini tersebut dalam genggaman Hanna kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Hanna hanya bisa menggeleng kepalanya seraya memperhatikan punggung Nayeon yang menghilang setelah masuk ke dalam kamar mandi.
30 menit kemudian.
Di area kolam berenang Villa.
“waaah apa ini?” seru Hanna yang baru saja sampai diarea kolam berenang dengan salah 1 pelayan yang masih berdiri dibelakangnya.
“tuan muda Ansell mengatakan untuk menyiapkan semua ini nona. Sepertinya tuan muda Ansell berniat untuk memainkan volley air bersama dengan teman-temannya.” Jelas sang pelayan tersebut.
“dan.. apa itu, kenapa ada tenda besar besar disana?” tambah Nayeon yang tengah membuka ikatan jubbah mandinya untuk bersiap nyebur ke kolam.
“Iya, itu dipersiapkan untuk makan malam nanti nona. Tuan muda Ansell meminta makan malamnya disiapkan dipekarangan belakang Villa.” Paparnya lagi, sementara itu keduanya hanya mengangguk untuk menanggapi penjelasan dari pelayan tersebut.
“ada minuman atau makanan ringan yang nona inginkan? Biar saya siapkan.” Imbuh sang pelayan tersebut sebelum pamit undur diri setelah mengantar 2 tamunya ke area kolam berenang.
“amm.. aku mau jus strawberry ya. Terimakasih.” Ucap Nayeon yang kemudian melepaskan jubbah mandinya dan melemparnya ke atas kursi.
“aku ingin Mocacino cofe.” Tambah Hanna yang juga ikut melepas jubbah mandinya dan melemparnya ke kursi yang berada disebelah jubbah mandi Nayeon.
“baik nona.” Tutupnya kemudian undur diri.
Tak lama setelah kepergian pelayan tersebut, Nayeon pun mencoba duduk perlahan ditepian seraya merasakan segarnya air yang kini membasahi kedua kakinya.
Sementara itu Hanna hanya berdiri disamping Nayeon dengan pandangan yang sibuk menelusuri area sekitarannya seraya menaruh 1 lengannya dipinggangnya.
Sampai..
“kalian sudah disini rupanya.” Ucap seseorang dari belakang yang sontak membuat keduanya memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang kini bergabung diantara mereka.
Keduanya tertegun kala melihat Abi hanya mengenakan celana kolor berwarna hitam, dan membiarkan bagian atas tubuhnya tereskpos.
Menyadari karibnya juga ikut memperhatikan dada bidang kekasihnya, Hanna pun lantas menggeser tubuhnya tepat ke arah wajah Nayeon, sebagai peringatan padanya untuk berhenti menatap kekasihku begitulah bunyinya.
__ADS_1
“yak! bokongmu mengotori kedua mataku!” pekik Nayeon kala pemandangan indah dari tubuh sixpack Abi kini berubah menjadi 2 gunung besar yang hampir menghantam wajahnya.
***